Kepentingan Nasional Dalam Konflik Suriah

Secara strategis Timur-Tengah sejak dulu telah menjadi kawasan yang paling penting, sehingga barang siapa yang menguasainya akan mempunyai kedudukan strategis di dunia, keunikannya geopolitik dan geostrateginya diakui oleh negara-negara besar (Leoczowski, 1952). Pasca Perang Dunia II, situasi global pada saat itu ditandai oleh adanya dominasi politik dan ekonomi negara-negara industri besar, serta perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kawasan Timur-Tengah muncul sebagai kekuatan baru dan berperan penting yang sudah diperhitungkan dalam politik dunia. Adapun beberapa alasan kawasan ini menjadi sangat penting, yaitu :

  1. Kawasan Timur Tengah berada di tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Secara otomatis menjadi penghubung ketiga benua tersebut dan menjadi penting bagi strategi ekonomi, perdagangan serta pertahanan global. Negara-Negara di Kawasan Timur-Tengah berbatasan dengan beberapa laut, selat, yang letaknya sangat strategis. Dimana jalur-jalur tersebut sebagai jalur perdagangan terkhusus minyak. Selain itu selat-selat tersebut memang jalur tersibuk di dunia karena merupakan jalan pendek perjalanan kapal-kapal dari Samudera Atlantik.
  2. Selain letak Timur-Tengah yang strategis, faktor geografis menjadikan kawasan ini sangat penting, karena adanya potensi ekonomi / SDA. Di Timur-Tengah mengandung mineral yang sangat berlimpah seperti tembaga, batu bara, besi dan tentu saja minyak yang merupakan aset terbesar kawasan ini. Seperti yang diketahui minyak adalah bahan bakar utama dan bahan mentah yang paling dibutuhkan dalam peradaban industri kontemporer di dunia hingga saat ini. Keretakan persekutuan Atlantik akibat embargo minyak Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi tersebut membuat Amerika terkejut bahwa ternyata minyak merupakan satu senjata efektif yang dapat menggoyahkan sendi-sendi perekonomian internasional. Minyak terbukti menjadi alat yang begitu ampuh untuk mengendalikan panggung politik internasional. Alasan ini cukup menjadikan kawasan Timur-Tengah senantiasa sebagai kawasan yang terus bergejolak dan menjadi rebutan oleh berbagai kepentingan, khususnya negara-negara maju.

Timur Tengah memiliki konflik yang rumit, ketidakpercayaan antar negara bagian di kawasan membuat ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah. Suriah adalah salah satu wilayah konflik  di Timur Tengah yang melibatkan banyak aktor. Mengkaji kepentingan aktor-aktor yang terlibat dalam konflik Suriah, maka akan ditemukan berbagai kepentingan sesuai dengan national interest masing-masing aktor. Kepentingan nasional sangat erat kaitannya dengan power negara sebagai tujuan maupun instrumen, khususnya yang bersifat destruktif (hard power). Kepentingan nasional harus dilihat dari kepentingan negara karena sejak 1648, “negara” adalah supremasi politik tertinggi di masyarakat (Burchill, 2005). Adapun beberapa kepentingan para aktor yang terlibat dalam konflik Suriah, seperti berikut:

  • Mempertahankan kekuasaan
  • Mengganti sistem yang telah berlaku dalam pemerintahan Suriah
  • Membangun negara Islam
  • Menjamin keamanan dalam negeri dari gangguan akibat perang sekaligus menjaga stabilitas politik dalam negeri
  • Memastikan kepentingan negara di kawasan terjaga dan terlaksana

Dari beragamnya kepentingan ini, maka dapat dirangkum menjadi ke dalam dua kepentingan besar yang sama-sama dimiliki oleh masing-masing aktor. Yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan perebutan pengaruh :

Kepentingan Ekonomi

Seperti pemaparan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa Timur Tengah kaya akan minyak dan gas yang menjadi objek rebutan negara-negara besar di dunia. Kekayaan ini pun mendorong hampir seluruh negara di dunia untuk ikut memanfaatkannya. Dengan itu bisa dikatakan bahwa tidak sedikit negara besar yang mengandalkan suplai migas dari kawasan Timur Tengah. Kebutuhan gas di negara-negara Eropa tergantung pada gas dari Rusia yang dianggap mahal. Pada tahun 2009, Qatar sebagai sekutu AS di Timur Tengah berencana untuk membangun jalur pipa gas melalui negara-negara seperti Arab Saudi, Yordania, Suriah dan Turki dengan nilai USD 10 Triliun. Maka Eropa akan mendapatkan gas yang lebih murah dari Timur Tengah jjika pembangunan berjalan dengan baik. Selain itu pembangunan ini akan menjadi alat tawar bagi mereka kepada Rusia terkait penentuan harga gas. Namun yang menajdi kendala, Suriah yang dipimpin oleh Bashar Al-Assad menolak proposal pembangunan jalur pipa gas yang melewati negaranya tersebut. Hal ini jelas memancing kemarahan dan kebencian yang menimbulkan ketegangan dan berujung pada tejadinya konflik. Pada kesempatan berikutkan tepat pada tahun 2015, dimana Iran, Irak dan Suriah menyepakati bersama pembangunan jalur pipa gas ke laut tengah dan diperkirakan akan mampu mencapai Eropa. Tentu saja hal ini bisa membuat ketegangan antara negara-negara sekutu AS dan sekutu Suriah bertambah panas.

Di bidang lain, Timur Tengah menjadi pasar besar untuk transaksi jual beli persenjataan mengingat memang kawasan ini merupakan kawasan berkonflik. Sehingga banyak negara Timur Tengah yang terlibat perjanjian jual beli senjata dengan AS atau Rusia. Salah satunya Suriah yang telah memiliki perjanjian jangka panjang dalam transaksi senjata dengan Rusia, sedangkan Arab Saudi dan sekutunya yang memiliki perjanjian jual beli dengan AS. Sudah menjadi hal yang terkenal bahwa AS dan Eropa merupakan pemasok utama senjata ke Timur Tengah. Ketika negara-negara pembeli senjata ini mengalami kehancuran, maka negara AS dan Rusia akan kehilangan pasar untuk penjualan senjatanya. Maka tidak heran jika kedua negara besar ini sangat berperan aktif mendukung pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini.

Perebutan Pengaruh

Timur Tengah adalah salah satu kawasan yang masih banyak dipengaruhi oleh kekuatan luar, khususnya dari negara-negara yang memiliki power dan pengaruh besar di dunia. Secara garis besar Timur Tengah terbagi ke dalam dua kelompok besar yang saling berebut pengaruh, sehingga hal inilah yang membuat Timur Tengah dijadikan sebagai arena perebutan kekuasaan dan perimbangan kekuatan-kekuatan besar di dunia. AS selalu aktif berusaha membendung arus pengaruh Rusia dan Iran. Yang menjadi kekhawatiran AS adalah eksistensinya sebagai negara super power dan yang memiliki penagruh besar di dunia akan terancam ketika ada negara yang terus menerus berkembang. Di sisi internal kawasan Timur Tengah, negara Iran dan Arab Saudi pernah dan masih bertikai dengan pemahaman Sunni-Syiahnya. Usul internasionalisasi Mekkah dan Madinah dari Iran ini membuat Arab Saudi geram, hingga Suriah tidak luput menjadi medan perebutan pengaruh keduanya. Jika salah satu dari keduanya menang, maka kekhawatiran yang muncul dari pihak yang kalah adalah tersebarnya pengaruh dari negara pemenang terhadap ruang lingkup yang lebih luas. Setiap pihak yang berebut pengaruh sudah tentu akan membangun kekuatan yang mampu mendorong eksistensi mereka.

Daftar Pustaka

Burchill, S. (2005). The National Interest in International Relations Theory. Palgrave.

Leoczowski, G. (1952). The Middle East In World Affair. The American Historical Review, 58(2), 23-25. https://doi.org/10.1086/ahr/58.2.333

Author:

19 thoughts on “Kepentingan Nasional Dalam Konflik Suriah

  1. Saya setuju dengan penulis, kemenangan salah satu negara akan menjadi kekuatan bagu negara tersebut. Terimakasih penulis, ditunggu artikel selanjutnya👍

  2. Pingback:deepweb links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *