Dampak perekonomian Jepang setelah Meletusnya Bubble Economy Jepang

Jepang yang merupakan sebuah negara kepulauan terbesar ketiga di dunia. Jepang Negara sebagai tujuan ekspor impor berbagai Negara, ekspor produksi berteknologi tinggi yang merupakan sumber perekonomian Jepang. Komoditi ekspor Jepang yang utama adalah peralatan transportasi, mesin, mesin elektronik, produk kimia dan manufaktur. Jepang juga sebagai Negara pemodal investasi bagi Negara Negara berkembang sebagai investor.(IndonesiaOsaka, 2016)

Namun keberhasilan Jepang yang sekarang tidak luput dari sejarah kelam yang pernah dialami Jepang dalam perekonomiannya. Jepang sebagai Negara yang pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat pada masa kejayaan Jepang pada tahun 1960-1989 yang dikenal dengan istilah Bubble Economy atau ekonomi gelembung. Pada tahun 1960 Jepang dalam keadaan yang stagnan setelah meletusnya Bubble Economy berdampak pada perekonomian Jepang dan harus melakukan berbagai cara untuk bertahan di dunia global hingga terjadinya tuntunan reformasi yang harus segera dilaksanakan untuk membenahi perekonomian Jepang setelah ekonomi gelembung. Dampak yang dirasakan Jepang setelah ekonomi gelembung adalah pada tahun 2001 di mana kondisi perekonomian Jepang masih melakukan penyesuaian (Triananda, 2018).

Ekonomi gelembung atau bubble economy merupakan suatu fenomena pasar yang mana ditandai dengan gelombang dorongan harga aset ke tingkat yang jauh diatas dari nilai aset tersebut. Dimulai ketika perjanjian yang ada antara Jepang dan Negara G7 untuk me harga yen terhadap dolar AS dan mata uang lainnya, langkah ini diambil untuk membuat ekspor Jepang lebih mahal dan mendorong kegiatan Impor Jepang yang berdampak pada perusahaan Jepang membeli aset luar negeri dengan harga murah dan mengalami kenaikan harga baik barang, saham, bahkan property yang sangat tinggi. Perubahan atau dampak yang terjadi ekonomi gelembung terjadinya Bubble economy dilaksanakan

 pada pertengahan 1980 pada saat pemerintah  Jepang menetapkan untuk mempermudah jumlah uang yang beredar dan mempermudah izin kredit rumah dalam artian pinjaman uang yang diberikan oleh bank kepada masyarakat. Ketika ekonomi gelembung mengalami kehancurannya keadaan finansial yang sangat buruk di Jepang tahun 1990an The Bubble Effect atau efek dampak yang di timbulkan dari ekonomi gelembung di Jepang mengalami penurunan drastis di sektor finansial dan harga properti serta nilai saham yang turun drastis.

Jepang pada masa dekade yang hilang tahun 1990 akibat runtuhnya gelembung ekonomi atau yang disebut Bubble economy berdampak juga pada krisis yang dimulai dipasar keuangan Jepang tingkat pertumbuhan menurun drastis pada 1991 tingkat pertumbuhan nya 3,1 % , tahun 1992 menurun menjadi 0,4%, kemudian tahun 1993 turun lagi menjadi 0,2%. Dampak dari dekade yang hilang ini Jepang mengalami pertumbuhan yang negative. Perusahaan  Jepang banyak mengadakan PHK dan banyak merumahkan para pekerja serta memotong biaya yang dikeluarkan oleh Jepang yang menyebabkan meningkatnya pengangguran pada masa tersebut. Dampak  juga di rasakan oleh sektor perbankan Jepang  lembaga keuangan yang dibebani Jepang dalam jumlah besar berupa pinjaman tak tertagih serta berdampak juga bagi pekerja dengan melepaskan para pekerja hingga memindahkannya produksi biaya ke luar negeri terutama China dan Negara Asia Tenggara dalam sektor ekspor industri dan elektronik mobil dan mesin. Ketika perekonomian Jepang mengalami kemunduran Jepang tidak mundur dan tetap mencari solusi fiskal serta moneter yang harus dilakukan Jepang untuk menarik ekonominya untuk keluar dari resesi tersebut.(Tsutsui & Mazzotta,2014)

Kemudian pada maret 2011 Jepang mengalami bencana alam yaitu gempa bumi dan tsunami yang sangat dahsyat yang melanda Jepang Timur laut. Keadaan tersebut membuat Jepang membutuhkan stimulus dalam perekonomiannya yang berguna untuk mengeluarkan Jepang dari pola pertumbuhan ekonomi yang lemah dan berjangka panjang karena dampak dari ekonomi gelembung. Kemudian bulan desember 2012 terjadi pemilihan dan partai Demokrat Liberal Jepang memenangkan pemilihan umum yang terpilih Shinzo Abe sebagai perdana meterinya dan kemudian Abe harus melakukan berbagai cara untuk mengurangi dampak dari efek ekonomi gelembung Jepang yang dirancang untuk menghidupkan kembali perekonomian Jepang dengan cara membenahi kebijakan fiskal negara Jepang, perenggangan  moneter dan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing serta pertumbuhan ekonomi Negara Jepang. Kemudian solusi lebih lanjut dari deflasi jangka panjang ini adalah seperti mengadakan dana investasi kampung halaman, adanya penundaan usia pensiun dengan memberikan tingkat upah yang fleksibel serta mengurangi bantuan dana pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.(Yoshino & Taghizadeh-Hesary, 2015)

Daftar Pustaka

Indonesiaosaka. (2016). Profil Negara Jepang. https://www.indonesia-osaka.org/wp-content/uploads/2016/11/Profil-Negara-Jepang,pdf

Triananda, D (2018) Koizumi Jun’ichiro sebuah ambisi revolusi. Jurnal Ilmiah Ilmu-IlmuBudaya, 13(1). 62-63. https://journal.unhas.ac.id/index.php/jlb/article/download/4149/4346

Tsutsui,W,M & Mazzotta, S. (2015) The Bubble Economy and The Lost Decade Learning From Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogym Perspective, 9(1). 67-68. https://digitalcommons.kennesaw,edu/cgi/viewcontent.cgi?articel=1164&context=jgi

Yoshino, N & Taghizadeh-Hesary, F. (2015) An Analysis of Challenges Faced by Japan’s Economy and Abenomic. The Japanese Political Economy, 40(3-4). 1-26. https://www.researchgate.net/publication/276110826_An_Analysis_of_Challenges_Faced_by_Japan’s_Economy_and_Abenomics

Author:

49 thoughts on “Dampak perekonomian Jepang setelah Meletusnya Bubble Economy Jepang

    1. Bagus sekali Artikelnya, bisa memberikan wawasan yg sebelumnya kita tidak ketahui. Dan yang paling penting mudah dipahami.

  1. Informatif sekali, semoga terus bisa menulis artikel-artikel penting seperti ini, sukses terus untuk penulis dengan karya karyanya

  2. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *