Upaya Presiden Correa dalam Mengatasi Ketidakstabilan Politik di Ekuador Pasca Transisi

Ekuador atau yang secara resmi bernama Republica del Ecuador merupakan salah satu negara kecil di kawasan Amerika Latin yang berbentuk Republik Konstitusional dengan seorang presiden sebagai pemimpin negaranya. Sistem pemerintahan yang sebagian besar dipengaruhi oleh sistem militer menyebabkan Ekuador sering mengalami berbagai ketegangan politik serta perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh para elit sipil dan militer. Masyarakat di Ekuador pun sudah sangat paham terkait eksklusifitas, di mana area politik menjadi wilayah persaingan antara para kaum elit politik dan elit ekonomi saja. Hal ini sekaligus menjadi penyebab adanya perpecahan dalam kehidupan internal negara Ekuador.

Pada masa transisi demokrasi, perubahan yang cukup besar terjadi dalam sistem politik Ekuador. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai partai politik dengan ideologi yang beragam. Partai politik dengan ideologi kanan banyak didominasi oleh para elit ekonomi, sementara masyarakat menengah dan orang-orang asli Indian mendominasi partai politik ideologi kiri. Padahal sejak awal perkembangan sistem politik di Ekuador, baik masyarakat menengah maupun warga asli Indian tidak diberikan kesempatan untuk muncul di ranah politik. Perubahan tersebut semakin diperkuat dengan dibentuknya Konstitusi 1978, di mana konstitusi ini memperbolehkan siapapun termasuk warga sipil untuk menjadi kandidat Presiden selama mereka didukung oleh salah satu Partai Politik Nasional. Selain itu, hak-hak politik bagi warga asli Indian pun diakui dalam konstitusi.

Namun, berbagai ide demokrasi yang telah ditanamkan tersebut ternyata tidak dapat membentuk integrasi masyarakat. Hak-hak politik bagi warga asli Indian yang ada dalam konstitusi pun masih belum terjamin dikarenakan mereka hanya dapat memilih calon kandidat Presiden, bukan mendaftarkan diri sebagai kandidat. Hal ini sekaligus menjadi awal dari munculnya desakan-desakan masyarakat Ekuador untuk kembali mereformasi negara, serta perpecahan antara pemerintah, masyarakat dan beberapa kelompok elit politik (“Presiden Ekuador Jatuh”, 2005). Gerakan sosial yang didasari oleh rasa tidak puas masyarakat Ekuador terhadap pemerintahan sudah cukup menjelaskan bahwa reformasi di Ekuador tidak dapat dihindari lagi. Selain itu, masyarakat pun menuntut pemecatan terhadap Presiden dikarenakan Ia telah gagal dalam menjalankan pemerintahannya. Menurut Hochstetler (2011), rasa ketidakpuasan masyarakat tersebut sangat erat kaitannya dengan banyaknya permasalahan ekonomi yang membuat negara tersebut terlilit hutang dan hampir mengalami kebangkrutan.

Pemberhentian Presiden akibat rasa tidak puas masyarakat Ekuador terus terjadi, bahkan ketika Presiden telah diberhentikan dan diganti secara paksa. Kondisi ini tentu sangat berdampak bagi politik Ekuador dan semakin diperkuat dengan munculnya krisis ekonomi yang hampir membuat Ekuador mengalami kebangkrutan. Namun, terpilihnya Rafael Correa sebagai Presiden Ekuador pada tahun 2007 telah membawa kemajuan bagi kestabilan politik dan perekonomian negara tersebut.

Rafael Correa mencalonkan diri sebagai Presiden Ekuador pada tahun 2007 dan terpilih kembali pada tahun 2013. Selama masa jabatan, Correa telah berhasil menurunkan 4,1 persen angka pengangguran dan 26 persen angka kemiskinan sejak tahun 2007. Padahal sebelumnya, Ekuador merupakan salah satu negara termiskin dan terbelakang di Amerika Latin dikarenakan hampir 80 persen masyarakatnya hidup di bawah US$ 2 per hari dan sebagian anggaran belanja nasionalnya dipakai untuk membayar utang luar negeri (Samuel, 2013).

Peningkatan yang terjadi selama dua periode Correa tentu bukan sesuatu yang didapatkan dengan mudah. Ekuador di bawah kepemimpinan Rafael Correa telah membuat kebijakan-kebijakan baru dalam berbagai sektor yang dapat memperbaiki ketidakstabilan negara. Dalam sektor ekonomi, Correa secara tegas menolak kebijakan Intenational Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia yang hampir membuat Ekuador mengalami kebangkrutan. Selain itu, Correa juga memaksa pihak Bank Sentral untuk memulangkan aset yang dimiliki di luar negeri dan membicarakan kembali kontrak minyak kepada beberapa perusahaan multinasional dengan persyaratan baru yang lebih menguntungkan. Keuntungan tersebut yang kemudian dapat diinvestasikan oleh pemerintah Ekuador dalam bentuk infrastruktur dan layanan publik. Diberlakukannya kebijakan upah yang layak juga turut membantu Ekuador dalam memberantas kemiskinan. Pada tahun 2007, upah minimun Ekuador meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi $ 375 per bulan.

Selama 10 tahun masa jabatannya, Correa juga fokus terhadap peningkatan pendidikan dan keterampilan penduduk. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas merupakan dasar dari demokrasi yang sebenarnya, serta kunci dalam mengembangkan perekonomian negara. Lebih dari $ 20 miliar diinvestasikan oleh pemerintah Ekuador dalam sektor pendidikan. Investasi tersebut tidak hanya dipakai untuk pendidikan gratis saja, tetapi juga untuk perlengkapan sekolah dan makanan gratis. Selain itu, Correa telah mengoperasikan sekolah bahasa Quechua dan Shuar yang berfokus pada pengajaran dan pelestarian berbagai bahasa etnis negara Ekuador. Berbagai proyek lain, seperti pembinaan stasiun TV dan radio yang mempromosikan program dalam bahasa Quechua dan bahasa-bahasa asli Ekuador pun dilakukan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan penggunaan bahasa asli yang hampir punah dan memperkuat identitas masyarakat asli Ekuador.

Rafael Correa yang menganut sistem anti-imperialisme pada masa jabatannya juga memutuskan untuk bergabung dalam Bolivarian Alternative for the Americas (ALBA). Smith (2017) menyatakan bahwa “Aliansi ini didirikan untuk melawan campur tangan AS di kawasan Amerika Latin dan membina hubungan dengan negara-negara lain untuk melawan kekuatan AS.” (hlm 6). Selain tergabung dalam beberapa organisasi, Ekuador juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai negara. Salah satunya yakni kerja sama dalam pembuatan pembangkit energi dengan Tiongkok.

Pasca transisi demokrasi merupakan masa yang paling sulit bagi negara-negara di kawasan Amerika Latin, salah satunya yakni Ekuador. Setelah mengalami banyak aksi protes dan pemberhentian paksa Presiden, negara tersebut mengalami apa yang disebut sebagai ketidakstabilan politik. Rasa tidak puas masyarakat terhadap pemerintahan yang ada saat itu hampir membawa Ekuador dalam keterpurukan ekonomi. Namun, kemunculan Rafael Correa sebagai Presiden Ekuador perlahan kembali memulihkan kondisi negara.

Selama 10 tahun menjabat menjadi presiden Ekuador, kebijakan-kebijakan seperti penolakan tegas terhadap IMF dan Bank Dunia, pemberian upah yang layak, peningkatan kualitas pendidikan, penghormatan bagi hak-hak masyarakat asli dan keputusan untuk bergabung di berbagai organisasi telah membantu negara tersebut dalam memulihkan ketidakstabilannya. Pencapaian tersebut juga telah menjadikan Rafael Correa sebagai salah satu presiden yang paling terkenal di Amerika Latin.

Daftar Pustaka

Hochstetler, K. (2011). The Fates of Presidents in Post-Transition Latin America: From Democratic Breakdown to Impeachment to Presidential Breakdown. Journal of Politics in Latin America, 3(1), 125–141. https://doi.org/10.1177/1866802×1100300105

Presiden Ekuador Jatuh. (2005, 23 April). Koran Tempo. https://koran.tempo.co/read/internasional/38690/presiden-ekuador-jatuh

Samuel, R. (2013, 18 Februari). Rafael Correa Kembali Terpilih Sebagai Presiden Ekuador. Berdikari Online. https://www.berdikarionline.com/rafael-correa-kembali-terpilih-sebagai-presiden-ekuador/

Smith, S. (2017, 17 April). Ecuador’s Accomplishments under the 10 Years of Rafael Correa’s Citizen’s Revolution. Council on Hemispheric Spheres. http://www.coha.org/ecuadors-accomplishments-under-the-10-years-of-rafael-correas-citizens-revolution/

Author: Iqlima Putri Chaerani

International relations student. //

55 thoughts on “Upaya Presiden Correa dalam Mengatasi Ketidakstabilan Politik di Ekuador Pasca Transisi

    1. Bagus banget artikel nya bisa buat bahan referensi kita . Negara yang tidak berrgantung dengan IMF dan Bank Dunia .
      Bagaimana dengan kita ???

  1. menarik, mungkin eksplorasi masyarakat asli Ekuadornya bisa diperluas karena masih umum dan masy yang mana?..
    karena indigineous people Ecuador cukup punya suara di dunia Int..

  2. Tema yg diambil cukup menarik. Menggambarkan sedikit bagaimana transisi Ekuador dan upaya yang dilakukan. Alur dari tulisan Iqlima sudah baik, ada keterkaitan antara paragraf satu dengan yang setelahnya. Hanya saja, penulisan body note dan beberapa ejaan mungkin harus diperbaiki.

    Hwaiting!

  3. Suatu negara akan maju jika terbebas dari para penjerat riba spt IMF dan Bank Dunia, serta kelompok elite yg mencari keuntungan utk dirinya sendiri. Kerjasama dg tiongkok dlm pembuatan pembangkit energi perlu dilihat isi perjanjiannya. Nice share, thankyou.

  4. Pingback:houses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *