Upaya ASEAN dalam Menangani Konflik Sengketa Laut China Selatan

Konflik Laut China Selatan merupakan  konflik sengketa yang melibatkan China, Amerika Serikat dan secara tidak langsung juga melibatkan beberapa negara anggota ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). LCS merupakan suatu wilayah strategis yang berbatasan dengan beberapa negara, diantaranya Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Singapura, Indonesia, Vietnam dan juga China. Konflik ini pada awalnya terjadi ketika China membuat pernyataan jika pihaknya mempunyai kedaulatan atas Laut China Selatan, pihaknya beralasan jika nelayan tradisional mereka sudah mengeksplorasi kepulauan Spartly dan juga kepulauan Paracel sedari tahun 200 SM. Terlebih China menyatakan jika di kepulauan tersebut sudah terdapat pemukiman sejak dinasti – dinasti nya terdahulu, lalu mereka menemukan peninggalan berupa mata uang kuno dan  tempayan dari kepulauan tersebut, dan menurut China nama Laut China Selatan itu juga berasal dari nenek moyang mereka dan catatan dari dinasti Song dan Yuan yang mencantumkan kepulauan tersebut dalam wilayah kekuasaannya (Santoso, 2017).

Tahun 2011, China melakukan pertemuan dengan negara anggota ASEAN dan juga sepakat untuk membahas cara untuk menyelesaikan konflik Laut China Selatan ini. Ditahun 2013 China juga menyuarakan Jalur Sutra Maritim sebagai solusi dari perekonomian diAsia dan juga menawarkan ASEAN untuk bekerja sama dalam proyek Jalur Sutra Maritim. Tapi China tidak pernah memberi kejelasan atas posisi kedaulatannya di Laut China Selatan secara hukum internasional, sedangkan China sudah meratifikasi konvensi tentang Hukum Laut. Konflik ini menjadi semakin rumit ketika Amerika hadir dan mendukung klaim dari pihak Filipina pada Laut China Selatan secara diam – diam. Setelah itu China menjadi agresif dengan menguasai kepulauan spartly dan kepulauan paracel, juga mendirikan pangkalan laut dikedua kepulauan itu. China juga mengusir nelayan asal Filipina dari beting Scarborough yang memiliki jarak 200 mil dari pesisir pantai Palawan dan China memperkuat juga armada nya dengan kapal induk Liaoning dan secara sengaja menggunakan para nelayan China sebagai proxy war mereka. Tindakan yang dilakukan China ini tentu saja mendapatkan protes dari beberapa negara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, Brunei Darussalam dan juga Amerika. China juga berusaha untuk memecah kosensus antara negara ASEAN, tidak hanya dari kekuatan militer seperti yang dijelaskan tadi, tetapi juga melalui bantuan ekonomi, hal ini dapat dilihat dari berhasilnya China untuk membujuk Laos dan Kamboja untuk tidak memperbincangkan isu tersebut. Dari semua negara anggota ASEAN, hanya Filipina yang membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Internasional di tahun 2013 dan menang pada tahun 2016. Menang nya Filipina dari China ini disambut dengan suka cita oleh Vietnam dan Amerika, sedangkan China masih tetap tidak mengakui keputusan itu dan tetap saja mengatakan bahwa Laut China Selatan itu adalah perairan mereka berdasarkan dengan sejarahnya yang ada. Konflik sengketa ini akan terus berlanjut terus sampai masing – masing negara yang terlibat bersedia duduk bersama untuk menyelesaikan konflik ini. Agar konflik ini berakhir, semua pihak yang terlibat khususnya China, harus menumbuhkan rasa percaya dan bisa mengedepankan kerja sama dengan masing – masing negara (Junef, 2018).

Secara sepihak melalui kebijakannya China telah mendeklarasikan nine dash line yang ditandai dengan sembilan garis putus – putus. Brunei Darussalam dan Taiwan mengklaim bahwa mereka mempunyai hak dalam nine dash line tersebut. Secara global, sebenarnya wilayah yang diklaim oleh China ini juga merupakan wilayah yang diklaim oleh 5 negara lainnya. Dalam kerangka sovereignty disputes yang sangat menentang nine dash line China adalah negara Filipina dan Vietnam. China mengklaim bahwa semua pulau yang ada di wilayah perairan itu mutlak miliknya dan mengklaim bahwa perairan yang di wilayah itu miliknya termasuk muatan laut ataupun tanah yang berada di bawahnya. Vietnam mengatakan jika mereka telah menguasai kepulauan Spartly dan kepulauan Paracel sejak abad ke – 17 dan mereka memiliki dokumen yang bisa digunakan sebagai bukti dari klaim nya itu. Filipina juga mengklaim kepulauan Spartly, mereka membawa kedekatan secara geografis sebagai dasar atas klaimnya tersebut. Ada juga Malaysia dan juga Brunei Darussalam yang mengklaim sebagian dari kawasan LCS. Bagi kedua negara ini, sebagian wilayah LCS itu masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang ditetapkan konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982. Sebetulnya  Brunei Darussalam tidak mengklaim kedua kepulauan itu, tetapi Malaysia mengatakan jika sebagian kawasan dari kepulauan Spartly merupakan milik mereka berdua. Begitu juga dengan klaim tentang sumber daya alam. Perama, kekayaan sumber daya alam yang berada di kawasan LCS berupa cadangan gas dan minyak yang besar sehingga bisa menjadi modal bagi ekonomi negara – negara yang berbatasan langsung dengan kawasan itu untuk masa depan. Kedua, LCS ini juga menjadi jalur maritim yang strategis untuk mengirimkan sumber energy dan juga barang. Jadi latar dari Laut China Selatan ini, ada beberapa negara yang mempunyai kepentingan dalam permasalahan batas territorial Laut China Selatan seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam dan Filipina. Keempat negara ini melawan China yang mengklaim hampir semua wilayah LCS.

Dalam konflik ini ASEAN menyusun kebijakan bersama dengan China untuk menjaga persatuan yang didasarkan dengan klaim China atas wilayah Laut China Selatan ini dapat dinegosiasikan dan juga China akan menyelesaikan sengketa dimana klaim territorial akan disesuaikan dan cadangan gas serta minyak akan dibagi. Strategi ASEAN adalah untuk membujuk China agar menerima norma yang akan mengatur perilaku dan mencegah segala upaya dalam menggunakan kekerasan (Buszynski, 2012). Declaration on Conduct of the Parties in the South China Sea (DOC) ditandatangani oleh China pada 2 November 2002 yang berisikan komitmen dari negara anggota ASEAN dan juga China untuk mematuhi hukum internasional, menghormati freedom of navigation di Laut China Selatan, dan menyelesaikan sengketa dengan cara yang damai (Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, 2013).

Saat ini, fokus ASEAN mengarah pada Code of Conduct dan politik penyelamatan ASEAN yang memberi pandangan bahwa jaminan apa pun yang diberikan oleh China akan disambut baik karena memberikan asosiasi yang membuahkan hasil dimana tujuan telah tercapai. ASEAN mengejar tujuan CoC dan telah meninggalkan kesan yang berbeda bahwa alih – alih menjadi alat untuk mecapai tujuan, kita bisa melihat CoC sebagai tujuan. Wang Yi yang merupakan Menteri Luar Negeri China, berusaha menenangkan ASEAN dengan memberi pernyataan bahwa China siap untuk memulai upaya bersama dengan ASEAN menuju “kode etik di Laut China Selatan” (Li dalam Robert, 2018). Seperti yang dikatakan oleh diplomat ASEAN, dua putaran negosiasi ini telah memberikan kesan adanya kemajuan, tapi pada dasar rincian nya sama dengan DOC.

Daftar Pustaka

Buszynski, L. (2012). Chinese Naval Strategy, the United States, ASEAN and the South China Sea. Security Challenges, 8(2), 19-32. https://www.jstor.org/stable/26468950

Junef, M. (2018). Sengketa Wilayah Maritim di Laut China Selatan. Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 18(2). 219. http://dx.doi.org/10.30641/dejure.2018.V18.219-240

Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. (2013, 28 Februari). Laut China Selatan. https://kemlu.go.id/portal/id/read/101/halaman_list_lainnya/laut-china-selatan

Robert, C.B. (2018). Asean, the “South China Sea” Arbitral Award, and the Code of Conduct : New Challenges, New Approache. Asian Politics & Policy, 10. 190-218. https://doi.org/10.1111/aspp.12391

Santoso, A. (2017, 27 Januari). Asal Usul Sengketa Laut Tiongkok Selatan Membedah Klaim Tiongkok (Bagian I). Seword. https://seword.com/luar-negeri/asal-usul-sengketa-laut-tiongkok-selatan-membedah-klaim-tiongkok-bagian-i

Author: Annisa Shiva

politik internasional

46 thoughts on “Upaya ASEAN dalam Menangani Konflik Sengketa Laut China Selatan

  1. Artikel yang sangat bagus. Terima kasih yaa sudah buat artikel sebagus ini. Ilmu akan dunia politik internasional jadi bisa bertambah.. ❤️❤️❤️

  2. Pingback:kardinal stick
  3. Pingback:great info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *