Strategi Kekuatan Ekonomi China Melalui Rezim Internasional Asian Infrastructure Investment Bank

Dinamika Politik di kawasan Asia Timur merupakan kajian yang menarik untuk dibahas, mengingat bahwa negara-negara di kawasan Asia Timur mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Dengan tidak melupakan perkembangan sistem politik domestik dan sistem pemerintahan negara-negara di Asia Timur yang pada awalnya berhaluan pada sistem pemerintahan otoriter lalu negara-negara di Asia Timur berkembang sistem pemerintahannya menjadi lebih demokratis, di Asia Timur lebih dikenal sebagai developmentalism. Politik internasional antar negara di Asia Timur juga dipengaruhi pekembangannya oleh sistem pemerintahan domestik tiap-tiap negara. Keberhasilan ekonomi Asia Timur sebagian besar disebabkan oleh adopsi developmentalism, yaitu ideologi yang menempatkan prioritas tertinggi pada perkembangan ekonomi. Banyak yang menyatakan bahwa sistem pemerintahan otoriter sudah tidak bisa diandalkan lagi. Pada akhir 1980-an dan pada awal 1990-an sistem otoriter sudah kehilangan kredibilitasnya, sudah banyak negara berkembang yang maju dengan menjalankan sistem demokrasi, sehingga mereka jadi jauh lebih mapan , negara berkembang di Asia Timur dapat berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Ohno, 2013, Chapter 2).

Di kawasan Asia Timur pada masa lalu mayoritas negara-negaranya pun masih otoriter, namun lama kelamaan hal ini mendorong negara-negara tersebut untuk terus berkembang dan berproses menjadi negara yang demokratis di mana pembangunan diwujudkan dalam konteks politik, yaitu dengan tujuan untuk mencerminkan citra yang baik bagi masing-masing negara, setiap pihak mendapatkan kebebasan dalam mencapai kemajuan, setiap keputusan dan kebijakan-kebijakan untuk kepentingan nasional yang diambil menjadi lebih terbuka, partisipasi juga semakin luas diperbolehkan dan agenda yang mendukung untuk memajukan kalangan masyarakat miskin diprioritaskan. Di Asia Timur perkembangan ekonomi tidak langsung dimulai dengan keterbukaan secara bebas dan luas, dikarenakan tindakan yang tegas masih sangat diperlukan. Mayoritas  negara di kawasan Asia Timur dalam perkembangan ekonomi dibuka dengan perkembangan demokrasi secara perlahan dan bertahap (Ohno, 2013, Chapter 2).

Perekonomian yang tumbuh dapat menjadi kekuatan politik yang tangguh, karena akan mengurangi ketergantungan dari dampak dalam sistem internasional itu sendiri. Kekuatan politik lazimnya terpengaruh perkembangannya ketika tingkat industrialisasi tertentu tercapai. Hal ini merupakan sebuah kemajuan apabila dilihat dari segi perkembangan ekonomi, dengan sistem pemerintahan yang demokratis tentu saja akan mempengaruhi kebijakan setiap negara, terutama mengenai ekonomi dan pasar akan jadi lebih terbuka demi masuknya foreign direct investment hasil liberalisasi ekonomi yang akan membangun negara. Sistem pemerintahan dan kebijakan luar negeri negara jelas akan mempengaruhi perkembangan ekonominya.

Salah satu negara dikawasan Asia Timur yang mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat dan menjadi pusat perhatian dunia internasional saat ini adalah China, berbeda dengan negara di kawasan Asia Timur yang lain, yang perkembangan ekonomi dimulai dengan peran pemerintah dalam perencanaan industri secara konkret, China dimulai dengan pengaruh dinamisme individu yang kuat. Maksudnya adalah bahwa ideologi komunis yang telah diterapkan dalam sistem pemerintahan China, mulai bergeser secara perlahan. Ketika China dibawah kepemimpinan Mao Zedong kebijakan Lompatan Jauh Kedepan atau Great Leap Forward yang melalui industrialisasi secara besar-besaran dan memanfaatkan jumlah tenaga kerja murah yang berlangsung selama 10-15 tahun pada tahun 1950-an terbukti mengalami kegagalan, tenaga kerja produktif di bidang agraris ditransfer seluruhnya ke bidang industri. Hal ini menjadikan Deng Xiaoping pemimpin Republik Rakyat Tiongkok setelah Mao Zedong melakukan reformasi ekonomi China. Di mana reformasi ini transparan dan pragmatis, yang bertujuan untuk menghapuskan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi, ideologi tidak bisa dijalankan secara dogmatis dan kaku, tetapi harus fleksibel dan mengalir. Dari sinilah cikal bakal bagaimana perekonomian China mulai lebih terbuka pada pasar dunia.

Deng Xiaoping menjalankan paradigma sosialisme pragmatis, ada peran pasar dan kepemilikan swasta di samping kepemilikan oleh negara, China berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia baru. Namun sebelum posisi ekonominya seperti sekarang, China sudah melalui masa-masa krisis domestik, baik ekonomi dan sistem pemerintahan. Di mana dulu China merupakan negara yang murni komunis. Era pemerintahan Mao Zedong misalnya, banyak kebijakan Mao yang revolusioner, radikal, conflictual antara pertanian dan industri. Pemikiran Mao sendiri berkonsep pada falsafah dan konflik, karena konflik bersifat absolut, konsep pengetahuan berdasarkan teori Marx, serta konsep percaya pada diri sendiri.

Perkembangan ekonomi China dimulai ketika masa pemerintahan Deng Xiaoping. Di mana di masa pemerintahannya Deng Xiaoping memulai dengan kebijakan pintu terbuka yang telah merubah posisi kekuatan ekonomi China, arus investasi dari luar negeri  telah menjadikan China sebagai negara yang berpengaruh kuat dalam perkembangan ekonomi dunia. Peran penting proses transformasi ekonomi ini adalah  peranan pertanian industri dan pertanian yang berskala kecil, peranan bantuan asing, bantuan asing merupakan dasar dari kebijakan pintu terbuka sendiri, melalui bantuan dari negara asing dapat menciptakan pekerja kreatif dan gerak cepat. Negara tidak bisa mengisolasi diri dari globalisasi. Lalu, peranan semangat dan kompetisi, peranan swasta dan pasar dan yang terakhir adalah nilai budaya dan agama. Keberhasilan yang dicapai dengan kebijakan pintu terbuka ini adalah, tersedianya suatu landasan untuk pembangunan dan industri, dan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat yang diawali oleh kebijakan pintu terbuka Deng Xiaoping, saat ini China berhasil menjadi kekuatan Ekonomi dunia. Hal ini juga dipengaruhi oleh gagasan dan inisiatif yang inovatif dari China. Salah satunya China juga memberikan bantuan untuk pembangunan infrastruktur kepada negara-negara di kawasan Asia, di mana bantuan ini dilaksanakan melalui dibentuknya rezim internasional Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), melalui rezim AIIB Cina semakin menunjukan posisi dan kekuatannya yang dapat menggeser hegemoni Amerika Serikat, terutama di kawasan Asia.

AIIB merupakan sebuah institusi finansial baru yang di prakarsai oleh pemerintah China sejak tahun 2010 dan resmi beroperasi pada tahun 2016. Berbeda dengan bank-bank pembangunan sebelumnya, AIIB muncul sebagai sebuah bank pembangunan baru bagi kawasan Asia yang bergerak khusus di bidang infrastruktur. Lembaga ini diprakarsai oleh China, juga merupakan lembaga keuangan multilateral pertama China. Tujuan AIIB dirancang untuk membiayai infrastruktur di kawasan Asia, yang sejalan juga dengan kebijakan Belt and Road Initiative China. Untuk negara di kawasan ASEAN, infrastruktur yang diutamakan adalah pembangunan pelabuhan, bandara, dan pembangkit listrik. China berusaha menciptakan situasi win-win solution bagi China dan negara kawasan Asia Timur. Pembentukan AIIB juga merupakan upaya China untuk membangun multilateralisme dengan China sebagai prakarsa (Feng, 2020). Melalui rezim AIIB, China mencoba untuk mulai menghilangkan ketergantungan ekonomi negara-negara kawasan Asia Timur kepada rezim negara-negara barat, dalam hal ini International Monetary Fund (IMF). Karena rezim AIIB gagasan China memberikan sistem pinjaman yang jauh lebih mudah, mengingat tujuan China yaitu distribusi power dan menghilangkan ketergantungan.

Daftar Pustaka                                                                                                         

Feng, Y. (2020). China and Multilateralism: From Estrangement to Competition. Routledge.

Ohno, K. (2013). The East Asian Growth Regime and Political Development . Dalam K. Ohno & I. Ohno (Eds.), Eastern and Western Ideas for African Growth: Diversity and Complementarity in Development Aid (eds. 1, 37-61). Routledge.

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi kelas HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

54 thoughts on “Strategi Kekuatan Ekonomi China Melalui Rezim Internasional Asian Infrastructure Investment Bank

  1. Artikel nya sangat informative sekali Mudhy, penggunaan bahasanya pun mudah dipahami serta terstruktur dengan baik. Good Job Mudhy!

  2. Kajian kawasan Asia Timur memang menarik untuk dibahas. Latar belakang yang digambarkan sudah cukup baik, namun keterkaitan antara paragraf satu dengan yang lainnya belum ada. Bagaimana strateginya belum terlihat jelas, ditambah penulisan body note mungkin harus diperbaiki.

    Hwaiting!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *