“Sejarah Pembentukan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA)”

ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) merupakan perjanjian perdagangan antara negara yang tergabung dalam anggota ASEAN dengan negara China yang memiliki tujuan yaitu mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan dan mengurangi hambatan perdagangan barang baik tarif maupun non tarif, meningkatkan akses pasar jasa, dan peningkatan aspek kerjasama ekonomi untuk memajukan hubungan perekonomian anggota ACFTA yang ingin mensejahterakan masyarakat ASEAN dan China. Menurut Wibowo (2009) pada tahun 1997 hubungan ASEAN dengan China menemukan momentum setelah terjadinya krisis ekonomi di Asia. Saat krisis berlangsung negara China mendapatkan kesan yang positif, karena China tidak melakukan penurunan nilai mata uangnya atau yang disebut devaluasi yang jika dilakukan bisa menjatuhkan daya saing produk dari negara anggota ASEAN. Hubungan antara ASEAN dan China juga kembali diperkuat ketika para pemimpim dari kedua belah pihak bertemu dalam informal meeting ASEAN+3 yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1997. Pertemuan para pemimpin ASEAN-China diadakan di samping informal meeting ASEAN+3. Dalam kesempatan itu, pemimpin China yaitu Jiang Zemin membacakan suatu pernyataan tentang membangun kemitraan yang bertetangga baik dan saling percaya menghadapi abad ke-21 (Pambudi, 2006). ASEAN-China pada akhirnya sepakat untuk melaksanakan puncak ASEAN-China yang diadakan pada setiap tahunnya. Oleh karena pertemuan setiap tahunnya, hubungan ASEAN-China semakin erat pada dekade 1990-an.

Pada tahun 1991 ini awal mula dibentuknya ACFTA dengan dimulainya negara China bergabung dalam ASEAN Ministerial Meeting (AMM) yang merupakan salah satu mitra dialog ASEAN. Pada tahun 1996, China kembali menjadi mitra dialog ASEAN pada AMM ke 29 yang bertempat di Jakarta. AMM ini membahas tentang berbagai isu seperti isu ekonomi, isu politik dan isu keamanan. Pada tahun 1997, China mulai berperan aktif untuk terlibat dalam hubungan kerjasama antara ASEAN dan tiga negara Asia Timur yaitu Jepang, China, dan Korea Selatan yang disebut ASEAN+3. Tujuan dari ASEAN+3 ini untuk mendorong pertumbuhan perekonomian ASEAN yang dimana pada tahun 1997 terjadi krisis ekonomi. Selan itu, motivasi pembentukan ASEAN+3 ini untuk mengikuti cepatnya laju globalisasi dan agar setiap negara anggota yang bergabung bisa mendapatkan keuntungan dari perkembangan wilayah ekonomi. Hubungan ASEAN dan China mulai lebih ditingkatkan lagi yaitu dengan cara membentuk kerjasama yang lebih ekstensif dalam bidang ekonomi yaitu membuat sebuah kerjasama perdagangan bebas yang bernama ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area).  

Gagasan pembentukan ACFTA ini berasal dari Perdana Menteri China yaitu Zhu Rongji yang disampaikan pada KTT ASEAN-China yang berlangsung pada bulan November 2000. Hingga pada bulan Oktober 2001, dikeluarkannya sebuah laporan oleh China-ASEAN expert Group on Economic Cooperation, untuk mengajukan rekomendasi “WTO-consistent ASEAN-China FTA within ten years”. Selanjutnya, para pemimpin negara anggota ASEAN dan China menyetujui ide yang diberikan oleh Expert Group dan menyetujui untuk memulai negoisasi perjanjian perdagangan bebas (Kwan, & Larry, 2010). Pembentukan ACFTA ini juga diawali dengan adanya penandatanganan ASEAN-China Comprehensive Economic Coopertion yang dilakukan oleh perwakilan kepala negara dari anggota negara ASEAN dan China yang berlangsung pada tanggal 6 November 2001 di Brunei Darussalam. Tahap selanjutnya yaitu pada 4 November 2002 dilakukan penandatanganan Framework Cooperation between the ASEAN and people’s republic of China yang ditandatangani oleh Kamboja, penandatanganan ini berisi tentang kerangka dasar isi perjanjian ACFTA. Pada tahun 2003 sampai 2006 telah dilakukan dua kali perubahan protokol Framework Agreement ACFTA. Perubahan pertama terjadi pada 6 Oktober 2003 dan perubahan kedua ditandatangani pada 8 Desember 2006. Pada akhirnya dilakukan sebuah negoisasi oleh ASEAN dan China untuk persetujuan dan pengesahan Trade in Goods Dispute Settlement Mechanism Agreement yang ditandatangi pada 29 November 2004 di Viantine, Laos. Sedangkan, untuk jasa ditandatangi di Cebu, Filipina tahun 2007 pada saat KTT ASEAN yang ke 12. Pada 15 Agustus 2009 dilakukan investasi saat pertemuan ke 41 tingkat Menteri Ekonomi ASEAN di Bangkok. Pada tahun 2010, pengimplementasian ACFTA resmi diberlakukan di kawasan Asia Tenggara dan negara China. Pada November tahun 2015, China dan ASEAN menandatangani perubahan Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-operation untuk membawa ACFTA kelevel yang lebih tinggi. ASEAN-China juga membentuk kesepakatan yang saling menguntungkan dan melakukan kerjasama ekonomi dalam berbagai bidang yakni Perdagangan, Pertanian, Perikanan, Kehutanan, Infromasi dan Komunikasi Teknologi. Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pariwisata, Industri dan bidang lainnya yang berhubungan dengan kerjasama ekonomi. Pembentukkan ACFTA ini juga merupakan sebuah batu loncatan bagi ASEAN untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, serta ACFTA ini pun merupakan upaya negara China untuk mengurangi rasa ketakutan negara ASEAN terhadap China yang merasa takut untuk menghadapi kekuatan ekonomi China yang semakin hari semakin kuat. Sehingga, China menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak atau yang disebut “win-win solution”. Selain itu, hal ini menjadi bentuk usaha China untuk memperoleh kepercayaan dari negara-negara ASEAN bahwa dengan adanya kerjasama ACFTA ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi ASEAN.

Daftar Pustaka:

Pambudi, D. (2006). Garuda Terbelit Naga. Institute for Global Justice (IGJ).

Kwan, Y., & Qiu, L. (2010). The ASEAN+3 Trading Bloc . Journal of Economic Integration. 25(1). 1-31. https://www.jstor.org/stable/23000964

Wibowo, I. (2009). Merangkul Cina. PT Gramedia Pustaka Utama. 

 

Author: Tatiek Dwi Pangesti

Hubungan Internasional di Asia Tenggara dan Asia Timur (A)

56 thoughts on ““Sejarah Pembentukan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *