Pentingnya Peran Jepang Bagi ASEAN

ASEAN merupakan suatu organisasi regional di kawasan Asia tenggara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam atau pun sumber daya manusia yang melimpah, sebagian negara di kawasan ASEAN mempunyai sumber daya alam yang melimpah, seperti indonesia dengan kekayaan laut dan juga minyak bumi, Brunei Darussalam dengan sumber daya minyak bumi dan gas. Sumber daya manusia yang dimiliki ASEAN juga fantastis, karena ASEAN memiliki jumlah penduduk yang luar biasa, Indonesia salah satu negara di ASEAN yang mempunyai jumlah penduduk yang luar biasa yaitu sekitar 260 juta jiwa. Tidak hanya sumber daya yang melimpah, ASEAN juga mempunyai letak geografis yang strategis dengan diapitnya dua samudera yaitu samudera Pasifik dan samudera Hindia. Hal tersebut menjadikan kawasan ASEAN sebagai jalur perdagangan  internasional. Hal tersebut menjadikan sebuah ketertarikan negara-negara maju untuk menjalin hubungan kerja sama dengan ASEAN dalam berbagai bidang.

Jepang adalah salah satu negara yang menjalin hubungan baik dengan kawasan ASEAN. Bermula ketika Perdana Menteri Jepang Takeo Fukuda pada tahun 1977 dengan kebijakannya Fukuda Doktrin. Menurut Sudo (1992) dalam bukunya menuliskan tiga alasan keterlibatan aktif Jepang di Asia Tenggara sejak berlakunya doktrin Fukuda: (1) melemahnya security role Amerika di wilayah Asia Tenggara. Lebih lanjut, Jepang sebagai sekutu Amerika mencoba memainkan peran sebagai mediator dengan membawa misi perdamaian antara negara-negara ASEAN dengan blok Indo-China; (2) Sejak berlakunya doktrin Fukuda, secara aktif Pemerintah Jepang mencoba membangun hubungan dengan ASEAN untuk menjadikan Jepang sebagai mitra utama. Hal ini dibuktikan dengan cara Jepang mendukung proyek-proyek di kawasan ASEAN, pendanaan untuk pertukaran budaya, dan konferensi yang dilakukan antara menteri luar negeri Jepang dengan anggota ASEAN;  (3) Kebijakan Jepang terhadap masalah Utara-Selatan, hal itu menjadikan lebih konstruktif sejak 1978 dengan adanya peningkatan tekanan politik dari ASEAN dan pendekatan UNCTAD yang kelima di Manila.

Baik semasa Perang dingin ataupun sesudahnya, Jepang menganggap ASEAN penting. Setelah kebijakan Doktrin Fukuda Jepang dan ASEAN memasuki fase baru dalam hubungannya. Menurut Yuhuda (1996) kebijakan tersebut merupakan sesuatu hal yang inovatif setelah berakhirnya Perang Dunia II. Jepang tidak hanya menganggap ASEAN sebagai kawasan yang penting, Jepang juga menganggap ASEAN sebagai kawasan yang tepat untuknya dalam memaikan peran sebagai pemimpin Asia.

Konflik Indo-China menjadikan awalan Jepang untuk memainkan peran politiknya. Jepang berperan aktif dalam membantu permasalahan negara-negara Indo-China, diantaranya: pertama, mengirimkan 1800 pasukannya untuk bergabung dalam pasukan perdamaian PBB untuk ditempatkan di daerah konflik. Kedua, Jepang menjadi mediator dalam penarikan tentara Vietnam yang ada di Kamboja. Konflik Indo-China memang cukup menyita perhatian Jepang. Jepang sebagai aliansi AS ikut berperan dalam melawan komunisme yang ada di kawasan. Untuk itu peranan Jepang dalam mencegah masuknya ajaran komunisme yang dilakukan vietnam di kawasan ASEAN sangat penting untuk menciptakan balance of power di kawasan ASEAN.

Seperti yang terdapat dalam salah satu isi Fukuda Doktrin yang menyatakan “Jepang akan bekerja sama dengan ASEAN dalam menyelesaikan masalah di Indo-China”. Jepang menjalankan perannya dalam permasalahan Indo-China untuk membebaskan pengaruh komunis sehingga menciptakan politik yang stabil di kawasan. Stabilnya politik regional membuat Jepang fokus untuk mengembangkan perekonomiannya yang bergantung pada ASEAN sebagai sumber bahan mentah untuk industrinya, sebagai pasar untuk produk, tempat berinvestasi, dan juga sebagai jalur perdagangan maritimnya. Dalam salah satu isi Fukuda Doktrin, juga terdapat poin ”heart-to-heart understanding”. Alasan Jepang mengeluarkan kebijakan tersebut karena adanya peristiwa demonstrasi “anti Jepang” di saat Perdana Mentri Kakuei Tanaka melakukan kunjungan ke negara-negara ASEAN pada tahun 1974. Penolakan masyarakan ASEAN terhadap dominasi ekonomi yang dilakukan Jepang tersebut berujung dengan kerusuhan yang ditumbulkan oleh demonstrasi.

Demonstran beranggapan Jepang melakukan penjajahan dalam bentuk baru yang dinilai hanya untuk mengeksploitasi sumber daya alam demi kepentingan industrinya. tanggapan buruk yang ditunjukan demonstran membuat Perdana Menteri Fukuda melakukan pendekatan heart-to-heart understanding. Fukuda mengambil langkah untuk memberi panduan perilaku (code of conduct) bagi perusahaan-perusahaan jepang yang ada di ASEAN agar dapat diterima di masyarakat setempat dengan cara memberi kontribusi dan juga berbagi kemakmuran. Tujuannya agar meredam emosi para demonstran untuk tidak melakukan pembakaran terhadap produk-produk jepang. Kerusuhan tersebut tidak hanya berdampak dalam hubungan Jepang dengan ASEAN, tetapi juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa maupun luka-luka.

Daftar Pustaka

Yuhuda, M. (1996). The International Politics of Asia-Pasific:1945-1955. Routledge.

Sudo, S. (1959). Japan-ASEAN Relations: New Dimensions in Japanese Foreign Policy, Far Eastern Survey, 28(5), 512515. https://doi.org/10.2307/2644640

Author: Adjie Lionel

Jepang dan negara industri(C)

33 thoughts on “Pentingnya Peran Jepang Bagi ASEAN

    1. Konten yang sangat informatif dalam hal penambahan pengetahuan tentang ilmu hubungan internasional yang meliputu organisasi supranasional dan negara lain di belahan dunia, terimakasih tulisan informatifnya mas adjie

  1. Artikel ini sangat membantu mengenai pemberiaan informasi tambahan yang dimana Jepang ternyata memiliki keterlibatan dan hubungan yang baik dengan negara ASEAN. Terima Kasih.

  2. Artikel menjelaskan mengenai Jepang yang sangat memiliki posisi penting dalam ASEAN. Terimakasih Author, sangat memberikan pengetahuan baru!

  3. Pingback:fresh cvv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *