Pengaruh Demografi Bagi Pembangunan Ekonomi di Negara Jepang dan Cina: Keajaiban atau Bencana ?

Dunia tanpa disadari selalu mengalami pergerakan populasi yang cukup cepat. Pengaruh ini khususnya sangat dirasakan bagi negara, yaitu bagaimana suatu negara akan menerima sebuah angka kelahiran, penurunan angka produktivitas (penuaan), serta angka kematian. Tentunya ini menyumbang dampak, pada sisi positif ataupun negatif di kehidupan sosial, politik, dan ekonomi suatu negara (Bakk, 2012). Keterkaitan ini biasa dipelajari dalam studi ilmu demografi. Menurut penjelasan Poston et al (2006) dalam Demographic Transition and Ageing in China and Japan, demografi merupakan ilmu yang mengkaji tingkat populasi manusia, struktur, ukuran, komposisi, distribusi serta dinamika yang seiring waktu akan melengkapi pengkajian tersebut (Bakk, 2012). Bagi negara Jepang dan Cina demografi menjadi hal yang serius untuk dibahas. Pasalnya dua negara tersebut sebagian besar pertumbuhan ekonominya disumbangsih oleh kualitas demografi SDM masyarakatnya. Tentunya aspek ini telah dikelola melalui pendidikan, pelatihan, serta nilai budaya patut diapresiasi dunia (Megani et al., 2019).

Segelintir fakta unik dari kebiasaan yang menjadi budaya hidup masyarakat Jepang dan Cina. Jepang dan Cina yang termasuk dalam wilayah regional Asia Timur, menjadikannya kedua negara tersebut mempunyai beberapa kesamaan dalam latar belakang sejarah (historical background) yaitu ajaran pandangan Konfusianisme. Menurut Yao (2000), Bell (2003), dan Hoobler (2010),  Konfusianisme dapat diartikan sebagai sebuah kehidupan tradisional yang didasarkan pada nilai moral dan tatanan hidup sosial. Sikap dari nilai moral dan tatanan sosial inilah yang membangun dasar karakter masyarakatnya. Menggantungkan dirinya bertolak ukur pada etika, kemanusiaan, kebajikan, keikhlasan, kejujuran, kesetiaan, serta menciptakan masyarakat yang tertib guna menjalin hubungan harmoni (Bakk, 2012). Nilai yang dibentuk dari budaya inilah menjadikan masyarakat, baik Jepang maupun Cina memiliki karakter yang kuat, tekun, giat, serta rasa pengorbanannya yang tinggi atas dasar nilai kesetiaannya dan kebajikannya. Sehingga rela bersusah payah demi dapat keluar dari jurang kesengsaraan. Sekaligus mewujudkan perkembangan ekonomi di  negaranya.

Kurang dari 4 dekade, Jepang yang didukung oleh kerja keras masyarakatnya masuk dalam kategori negara maju pertama di Asia Timur. Pertumbuhan ini dicapai melalui kebijakan Reformasi Restorasi Meiji, dimana Jepang berusaha membuka diri kepada barat melalui kerjasama ekonomi pasar. Jepang yang telah maju, telah menciptakan situasi sosial masyarakat baru yang sibuk mencapai kesempurnaan diri untuk mencapai karir yang maksimal. Berimplikasi pada penundaan usia perkawinan dan seiring waktu membuat keterlambatan memiliki keturunan. Gaya hidup bersih dan sehat di negaranya juga berkembang, membuat populasi tua meningkat. Hingga Jepang secara dramatis harus memaksakan angka populasi produktivitasnya dapat mempertahankan standar kehidupan (Sari & Waluyo, 2013).

Cina pada akhir abad 19 M hingga awal abad 20 M memiliki kepercayaan bahwa semakin meningkatnya populasi kerap nantinya akan mempunyai tenaga kerja yang melimpah. Dengan demikian faktor pertumbuhan ekonomi pasar akan cepat meningkat karena dapat menciptakan faktor produksi tinggi. Jepang sempat memberlakukan hal yang sama hingga akhirnya pandangan tersebut melemah pada pertengahan abad 20 M (Bakk, 2012). Pada awalnya, Cina merasakan manfaat dari banyaknya populasi usia produktif . Namun, secara bersamaan terdapat transisi demografi di usia belum produktif. Transisi demografi pada usia belum produktif bisa disebut sebagai keajaiban atau biasa dikenal dengan bonus demografi (demographic dividend). Periode bonus demografi yang langka ini, langsung dimanfaatkan oleh Cina untuk memberdayakan pertumbuhan dan pertahanan negaranya. Hanya butuh kurun waktu 35 tahun Cina telah menerima keajaiban dari negara menengah menjadi negara maju. Harus kita ketahui selain militerisasi, kekuatan sumber daya manusia (SDM) juga dapat diperhitungkan sebagai kekuatan pertahanan dalam hal manpower. Tidak hanya sekedar banyaknya populasi, namun juga kualitas SDM yang dikembangkan melalui pendidikan, pelatihan, serta keahlian yang mumpuni (Megani et al., 2019).

Seiring waktu ledakan populasi terjadi pada tahun 1949-1957. Pada era Deng Xiaoping,  bersamaan keluarnya Kebijakan Reformasi dan Keterbukaannya. Menyadari akan bahayanya percepatan pertumbuhan penduduk. Jika dibiarkan akan terjadi penumpukan populasi menua, yang dapat menjadi beban dan menekan aspek pembangunan ekonomi negara. Oleh karena itu, Cina mengambil tindakan dengan memfokuskan upaya pada empat modernisasi yaitu, Pertanian, Perindustrian, Pertahanan Negara, Iptek, serta pada tahun 1982 mengeluarkan Kebijakan Satu Anak  guna mengontrol stabilitas populasi Cina (Bakk, 2012). Cina memang dipercaya akan keunggulan perencanaan program nasionalnya yang terpusat (Voinea, 2019).

Demografi dan Pengaruhnya pada Pertumbuhan Ekonomi Pasar

Masyarakat Jepang yang pada masa itu, lebih fokus mengejar kemampuan diri demi menyesuaikan tingkat sosial kemajuan negaranya. Hingga pada tahun 1990-2003  menghadirkan suatu gejala yang dikenal sebagai periode “dekade yang hilang”. Periode ini terjadi di tahun 1990 yang menjadi periode akhir usia produktif bagi Jepang. Menyebabkan adanya tekanan hutang publik akibat jatuhnya realisasi pasar real estate. Penghambatan belanja oleh agen produktivitas terjadi secara signifikan, menjadikan faktor utama perlambatan laju ekonomi secara menyeluruh (Voinea, 2019).

Sedangkan di Cina, kemunculan masyarakat menua yang tidak bisa dihindari tersebut memberi dampak pada pergeseran ekonomi. Semula Cina mengandalkan investasi berubah menjadi gaya ekonomi konsumsi, permintaan luar negeri berpindah menjadi permintaan domestik, dari produksi beralih ke  jasa. Ketika investasi produktivitas menyusut, kedua negara ini akan menciptakan strategi baru dengan menginvestasikan uangnya pada hal lain, demi menyokong stabilitas pertumbuhan ekonominya. Namun, terdapat resiko beban hutang cukup besar, jika tidak dilakukan secara efektif. Begitupun yang dialami oleh Jepang. Investasi pada properti dan infrastruktur real estate misalnya, di tahun 2015 terjadi kenaikan harga properti residensial. Sehingga mempengaruhi harga perumahan yang tidak lagi terjangkau. Hal ini khususnya dirasakan bagi kota bagian Tier 1 seperti Beijing, Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou (Voinea, 2019)

Keajaiban atau Bencana ?

Bagi negara maju, angka penuaan dianggap sebagai tantangan yang tak dapat terelakan, menimbulkan rasa takut atas dampak yang dihasilkan pada krisis pembangunan ekonomi, sosial, politik, dan kesejahteraan negara (Bakk, 2012). Jepang telah memasuki periode populasi tertua dan Cina memiliki jumlah lansia terbanyak. Dengan posisi kependudukan Cina mencapai 1,3 milyar menuju pada penutupan akhir periode bonus demografinya (Megani et al., 2019).

Keajaiban atau bencana yang bisa disimpulkan disini adalah sebagai bentuk peluang dan risiko dari bonus demografi yang dialami antara Jepang dan Cina. Melalui sebuah pemberdayaan kualitas aspek SDM seperti, pendidikan, pelatihan, keahlian, serta didukung keajaiban dari nilai budaya, menjadi poin penting keunikan yang tidak dimiliki oleh negara manapun. Sehingga keajaiban yang dimaksudkan adalah sebagai hasil dari bonus demografi, yang sewaktu-waktu dapat menjadi bencana, jika masa periode bonus demografi tersebut telah mencapai target akhir periode perkiraan perhitungan.

Daftar Pustaka

Bakk, J. W. (2012). Demographic transition and ageing in China and Japan. [Master Thesis, Universität Wien]. Othes Univie. http://othes.univie.ac.at/22961/1/2012-09-11_0501174.pdf

Megani, A., Djati, S. P., & Supandi. (2019). Strategi pemanfaatan bonus demografi untuk membangun pertahanan negara. Jurnal Manajemen Pertahanan, 5(1), 73-88. http://jurnalprodi.idu.ac.id/index.php/MP/article/view/402/386

Sari, A. P., & Waluyo, T. J. (2013). Strategi Jepang dalam mempertahankan dominasi ekspor robot di China. Jurnal Hubungan Internasional, 1(1), 1-15. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/2148

Voinea, I. (2019). The role of Japan in the development of emerging markets in Asia. Key lessons learned for China. Associatia Generala a Economistilor din Romania – AGER, 2(619), 47-62. https://ideas.repec.org/a/agr/journl/vxxviy2019i2(619)p47-62.html

Author: Syifa Ramadhani

58 thoughts on “Pengaruh Demografi Bagi Pembangunan Ekonomi di Negara Jepang dan Cina: Keajaiban atau Bencana ?

  1. mengingat Jepang adalah suatu bangsa yang mengalami tingkat penuaan penduduk yang sangat tinggi, kinerja perekonomian yang dihasilkannya sangat mencengangkan. Kunci sukses Jepang adalah mendorong penduduk usia kerja untuk bekerja optimal dan semakin produktif. Nice article 👍🏻

  2. Pingback:canik guns
  3. Pingback:dark0de link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *