Kebijakan Energi Jepang Setelah Terjadinya Kebocoran Reaktor Nuklir di Fukushima tahun 2011

Energi bagi negara merupakan komoditas penting untuk dapat menjalankan kegiatan ekonomi, politik, dan pembangunan. Permintaan energi yang semakin meningkat, mampu membuat persediaan energi itu menjadi terbatas dan semakin mengalami kelangkaan. Perbedaan hasil alam inilah yang akan menuntut suatu Negara untuk menjaga ketahanan energinya. Negara importir seperti Jepang, yang tidak memilki sumber energi alami di dalam negeri, harus bergantung terhadap pasokan dari luar negeri yang tidak dapat diperkirakan stabilitasnya.

Perhatian Jepang terhadap ketahanan energi kembali meningkat akibat krisis minyak di Timur Tengah. Dampak dari embargo tersebut menyebabkan perubahan pada bidang industri, lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan meningkatnya harga listrik di Jepang. Peningkatan harga listrik yang terjadi di Jepang merupakan bagian dari kebijakan energi Jepang untuk mendorong masyarakatnya agar lebih efisien dalam menggunakan energi, terutama listrik.

Peristiwa tersebut mampu mengajarkan pemerintahan Jepang sehingga mulai membentuk undang-undang terkait energi demi mengatur kebijakan energi yang lebih baik lagi. Ketergantungan Jepang terhadap penggunaan energi nuklir berlangsung sejak lama. Terus meningkatnya ketergantungan Jepang terhadap energi nuklir karena penggunaannya berkontribusi dengan sangat baik bagi upaya Jepang untuk mengatasi pemanasan global. Pada Strategic Energy Plan 2010, pemerintah Jepang bahkan menetapkan target yang cukup ambisius perihal penggunaan energi nuklir, yaitu pembangunan sembilan pembangkit listrik tenaga nuklir tambahan dengan kapasitas penggunaan 85% pada tahun 2020 dan membangun lebih dari 14 pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas penggunaan 90% pada tahun 2030. Namun ketergantungan Jepang terhadap energi nuklir harus dihentikan akibat terjadinya bencana kebocoran reaktor nuklir yang terjadi di Fukushima, kurang dari satu tahun sejak ditetapkan target-target terkait pembangunan reaktor nuklir tersebut. Bencana nuklir Fukushima bermula pada 11 Maret 2011 diakibatkan oleh gempa bumi berkuatan 9.0 skala richter yang mempunyai episentrum di Samudera Pasifik dan melanda daerah pesisir timur laut Jepang.

Dengan keamanan energi yang menjadi tema menonjol, Jepang telah terlibat dalam diplomasi energi regional yang semakin tegas sejak akhir Perang Dingin. Pemerintah dalam menentukan arah kebijakan energinya telah berupaya untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, dengan meminimalkan biaya energi; ketahanan energi nasional (dengan mengurangi ketergantungan pada energi impor); dan keamanan lingkungan (dengan mendukung solusi energi berkelanjutan yang tidak merugikan lingkungan) (METI, 2011). Kebijakan-kebijakan ini secara konseptual disusun kembali sebagai 3E: (1) pertumbuhan ekonomi; (2) ketahanan energi; dan (3) perlindungan lingkungan (IEA, 2013). Akibat dari bencana yang terjadi di Fukushima, masyarakat Jepang kini membayar lebih untuk energi yang pasokannya kurang terjamin dan meningkatnya biaya dari bauran energi yang semakin bergantung pada bahan bakar fosil.

Setelah peristiwa Fukushima, terdapat sentimen publik yang menginginkan perpindahan dari tenaga nuklir ke sumber energi lain dan inilah yang membentuk persepsi publik Jepang tentang tantangan kebijakan energi negara dan dalam mencapai keselarasaan antara persepsi publik dan tujuan kebijakan. Beragam cara pemerintah pusat Jepang untuk membentuk persepsi publik yaitu menggunakan kisha kurabu (yang membatasi akses informasi pers). Jepang membuat beberapa jurnalis mengeluh bahwa debat publik dibungkam. Upaya untuk memarjinalkan opini publik terlihat dari beberapa kebijakan perkembangan selama tahun itu. Pada 14 September 2012, bekas Kabinet Noda tampaknya mendukung penghapusan bertahap tenaga nuklir pada akhir 2030-an (METI:2011). Namun, di bawah tekanan berat dari kelompok lobi bisnis, kabinet tersebut menyerah hanya satu hari setelah tiga kelompok bisnis terbesar negara – Keidanren, Keizai Doyukai (Asosiasi Eksekutif Perusahaan Jepang) dan Badan Perdagangan dan Industri Jepang, mengeluarkan pernyataan bersama yang mana organisasi menyuarakan keprihatinan tentang niat pemerintah untuk menghentikan tenaga nuklir. Komunitas bisnis Jepang tetap menentang keras pengabaian tenaga nuklir dan percaya bahwa tindakan seperti itu akan menghasilkan kenaikan harga listrik dan ipso facto, biaya produksi, yang pada akhirnya akan menyebabkan penutupan industri dan relokasi perusahaan ke luar negeri.

Semua monopoli utilitas listrik Jepang, kecuali Perusahaan Okinawa Electric Power, memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir dan sebelum kejadian Fukushima. Meningkatnya biaya energi karena penutupan nuklir dan peningkatan biaya impor bahan bakar fosil telah merugikan profitabilitas perusahaan. Di Jepang, pemerintah harus menyetujui kenaikan harga listrik, dan setelah kejadian Fukushima, pemerintah enggan melakukan kenaikan harga lisrik tersebut, karena akan dipandang tidak menguntungkan di kalangan pemilih dan pada kunci sektor industri. Pemerintah juga mengharapkan untuk bisa memangkas biaya utilitas sebelum mengusulkan kenaikan tarif. Sebagai Akibatnya, utilitas listrik mengalami kerugian untuk tahun anggaran 2011–2012, dengan kerugian serupa yang dilaporkan untuk tahun fiskal 2012–2013. Kegagalan dalam sistem regulasi nuklir yang disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan industri dapat dibilang sebagai sebagian penyebab dari bencana nuklir Fukushima (Wang dan Chen 2012). Sebagai tanggapan atas tekanan publik, Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA) dan Nasional Security Council (NSC) dibubarkan pada September 2012, digantikan oleh Nuclear Regulation Authority (NRA) yang bersifat independen, dimana kekuasaan untuk membuat keputusan tentang reaktor terletak pada NRA. Selain NRA, pemerintah daerah juga memiliki hak veto yang efektif atas pengaktifan kembali reaktor. Namun, menurut survei Januari 2013, hanya 54% dari 135 walikota Jepang yang berada di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir yang menyatakan akan menerima pengaktifkan kembali reactor. Selain hak veto atas pengaktifkan kembali reaktor yang dipegang oleh NRA dan pemerintah daerah, survei opini publik terus menunjukkan dukungan mengenai penghapusan nuklir secara permanen. Meskipun reaktor nuklir penting bagi perekonomian lokal, banyak pemerintah daerah tidak dapat mengabaikan banyaknya sentimen publik anti-nuklir. Penentangan publik terhadap tenaga nuklir telah mempengaruhi lanskap politik Jepang, mengurangi ambisi perluasan tenaga nuklir dalam jangka pendek dan menghambat perkembangan masa depan tenaga nuklir di negara tersebut.

Daftar Pustaka

METI. 2011. Annual Report on Energy (Energy White Paper 2011). METI. https://www.meti.go.jp/english/report/downloadfiles/2011_outline.pdf

Tatsujiro, S. (2017, 15 Maret). 6 Years after Fukushima, Japan’s Energy Plans Remain Murky. Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/6-years-after-fukushima-japans-energy-plans-remain-murky1/.

Yeo, S. (2016, 10 Maret). Analysis: The Legacy of the Fukushima Disaster. Carbon Brief. https://www.carbonbrief.org/analysis-the-legacy-of-the-fukushima-nuclear-disaster.

IEA. (2020, 20 Juni). Tracking Report Japan. IEA. http://www.iea.org/stats/surveys/elec_archives.asp

Nippon Communications Foundation. (2018, 05 Juli ). The Next Big One: Government Map Forecasts Likely Future Japanese Earthquakes. Nippon Communications Foundation. https://www.nippon.com/en/features/h00234/

World Nuclear Association. (2020, Mei). Fukushima Daiichi Accident. Worl Nuclear Association. https://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/fukushima-daiichi-accident.aspx

Author: Anselmus Lagudo

35 thoughts on “Kebijakan Energi Jepang Setelah Terjadinya Kebocoran Reaktor Nuklir di Fukushima tahun 2011

  1. Dengan ini aku mengetahui mengenai tenaga nuklir telah mempengaruhi lanskap politik Jepang, mengurangi ambisi perluasan tenaga nuklir dalam jangka pendek dan menghambat perkembangan masa depan tenaga nuklir di negara tersebut.Thanks prof dodo, ditunggu artikel berikutnya…..

    1. Artikel menarik yang sangat menambah wawasan, mungkin Jepang bisa belajar dari kesalahan sebelumnya karena mendirikan Reaktor Nuklir di negara yang wilayahnya sangat kecil beresiko tinggi.

  2. Cukup menarik, mungkin bisa ditambahkan kebijakan2 yg dihasilkan dan penentuan kebijakan tersebut. Seperti dengan membandingkan tenaga nuklir yg digunakan Jepang. Author menulis dengan cukup baik, dan paparan yg menarik.

  3. artikelnya sangat menambah wawasan, tentu tidak mudah bagi Jepang untuk bangkit setelah tragedi Fukushima ini, Indonesia harus banyak belajar dari negara2 maju seperti ini agar menjadi negara yang kuat dan hebat. hebaatπŸ‘πŸ»

  4. Artikel yang sangat informatif. Isi nya mudah dipahami dan dimengertii. Sekaligus menambah wawasan juga. Bahasa yg dipergunakan sangat jelas dan mudah dipahami. Very good!!

  5. Artikelnya sangat bermanfaat, secara tidak langsung kita menambah dan memperluas pengetahuan kita saat membaca artikel ini. Good job!!

  6. Artikelnya sangat bermanfaat, secara tidak langsung kita menambah dan memperluas pengetahuan kita saat membaca artikel ini. Good job!! Thank you udh sharing.

  7. Pingback:lenovo servis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *