Keberadaan Tiongkok di Dalam Dinamika Politik Kawasan Asia Timur

Kawasan Asia Timur dapat dikatakan sebagai kawasan yang bersifat konfliktual karena kekuatan yang dimiliki masing-masing negara menimbulkan rasa ketidakpercayaan antar sesama negara kawasan. Rasa ketidakpercayaan ini menyebabkan hubungan antar negara di kawasan Asia Timur ini menjadi kurang harmonis sehingga terjadi dinamika didalam kawasan Asia Timur itu sendiri dan berdampak pada kesulitan dalam membangun sebuah institusi regional. Meskipun demikian, negara-negara di kawasan Asia Timur dapat dikatakan sebagai negara berkembang dimana memiliki kondisi perekonomian yang terbilang baik. Hal ini dibuktikan dengan kemandirian dari masing-masing negara dalam memperkuat perekonomiannya. Faktor ekonomi dinilai penting bagi negara kawasan Asia Timur dikarenakan menjadi tolak ukur untuk dikatakan sebagai negara kuat dalam menjaga persatuan dan kesatuan nasionalnya. Authoritorian developmentalism yang terdapat di berbagai negara kawasan Asia Timur telah memberikan dampak positif ketika negara terkena konflik sehingga dapat menuntaskan permasalahan yang ada. Rezim authoritarian developmentalism juga memiliki peran terhadap permasalahan lainnya seperti misalnya kesenjangan upah pendapatan masyarakat, persoalan urbanisasi, adanya kerusakan lingkungan, serta kemacetan yang terjadi di negara tersebut (Ohno, 2013, Chapter 2). Sehingga dapat diakui jika perkembangan ekonomi yang terjadi di negara-negara kawasan Asia Timur dengan dinamika politik yang ada telah membuat dunia kagum akan keberhasilan sebagai negara berkembang.

Dinamika Politik yang terjadi di Asia Timur erat kaitannya dengan sejarah terdahulu. Misalnya saat terjadi Perang Dingin yang membuat situasi memanas di Semenanjung Korea dan Indo-China hingga sampai ke kawasan Selat Taiwan telah memberikan dampak buruk bagi perekonomian dunia. Pada akhirnya harga minyak dunia naik drastis tahun 1970-an, terjadi resesi ASEAN pada tahun 1980-an, dan juga tercatat pada tahun 1997-1998 terjadi krisis ekonomi yang berdampak pada keunggulan yang dimiliki negara-negara Asia Timur karena disaat negara lain mengalami kegaduhan akibat kondisi global tetapi negara kawasan Asia Timur justru dapat mempercepat pertumbuhan perekonomiannya. Persoalan kemiskinan bukanlah menjadi suatu pokok permasalahan yang menjadi fokus permasalahan bagi negara-negara di kawasan Asia Timur. Pada hakikatnya, dengan kekuatan perekonomian yang telah dimiliki masing-masing negara menjadikan negara tersebut untuk memfokuskan kepada kemajuan teknologi, produksi daya saing serta taraf hidup agar dapat menyamakan standar dengan negara maju.

Latar belakang berbeda yang dimiliki negara-negara di kawasan Asia Timur juga memiliki persamaan dalam membuat orientasi kebijakan untuk kemajuan perekonomian. Orientasi kebijakan yang dianut ini memiliki dua komponen utama diantaranya yaitu kebijakan sosial dan kebijakan pembangunan (Ohno, 2013, Chapter 2). Kebijakan sosial merupakan serangakaian tindakan yang dilakukan dalam menanggapi permasalahan yang sedang berkembang seperti adanya persoalan biaya upah, kaum urbanisasi maupun urbanisasi, hingga korupsi. Sedangkan kebijakan pembangunan meliputi tindakan-tindakan yang dilakukan dalam mempertahankan keberadaan sektor swasta untuk tetap berinvestasi di negara tersebut sehingga keadaan ekonomi negara tetap positif. Angsa Timur atau nama lain dari Asia Timur merupakan sebagai lambang bahwa negara-negara Asia Timur memiliki kemajuan dalam perekonomiannya terutama bidang ekspor. Misalnya barang manafuktur untuk diekspor, baris pertama dihadapkan oleh negara Jepang, Taiwan, dan Korea, lalu ada baris kedua hingga baris ketiga yang mengartikan bahwa keadaan perekonomian kawasan Asia Timur dengan dinamika politik yang ada tidak menjadikan halangan bagi masing-masing negara untuk terus meningkatkan pertumbuhan perekonomiannya.

Dalam menjaga keamanan nasional suatu negara diperlukan kondisi yang stabil dalam negara tersebut. Kondisi stabil akan tercipta ketika perekonomian negara dapat dikatakan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Tiongkok yang berada di kawasan Asia Timur  dapat dikatakan sebagai negara yang mengalami pertumbuhan perekonomian yang pesat sejak 1990-an. Kala itu, Tiongkok melakukan perubahan dalam berdiplomasi keamanan baik secara regional maupun global. Perkembangan yang pesat pada Tiongkok ini telah memberikan kekhawatiran yang baru bagi negara-negara di kawasan Asia Timur lainnya. Terlebih lagi berdasarkan catatan Bank Dunia, Tiongkok mengalami peningkatan PDB sebesar 10% setiap tahunnya sejak tahun 1979. Dengan adanya kemajuan perekonomian yang dimiliki Tiongkok, Tiongkok juga telah memfokuskan kepada pasukan militernya dalam menjaga keamanan nasionalnya. Terlihat, Tiongkok dengan serius mengeluarkan peningkatan anggarannya untuk militer yang dimiliki setiap tahunnya. Menurut Fathun (2016), mengatakan terdapat beberapa alasan bagi negara untuk meningkatkan anggaran militernya. Pertama, penangkalan dimana negara berupaya untuk menjaga keamanan nasionalnya dalam mencegah masuknya ancaman. Kedua, pertahanan yaitu ketika negara memandang sifat dunia yang anarkis secara tidak langsung memberikan persepsi bahwa tidak ada jaminan keamanan nasionalnya selain negara itu sendiri sehingga diperlukan kekuatan militer dalam menjaga pertahanannya. Ketiga, pemaksaan bagi negara tersebut untuk meningkatkan kekuatan militernya berkaitan dengan balance of power. Keempat, balance of power dilakukan bagi negara yang berasumsi jika kekuatan dalam suatu kawasan menimbulkan kecurigaan sehingga keberadaan keamanan negara lain merasa terancam. Tiongkok yang terus meningkatkan anggaran militernya ingin memberikan persepsi bagi negara lain bahwa Tiongkok secara tegas menjaga keamanan nasionalnya dari ancaman eksteral sehingga negara lain yang melihatnya akan berpikir ulang jika ingin bertindak sesuatu terhadap Tiongkok.

Kekuatan Asia Timur erat kaitannya dengan dua negara kuat didalamnya yaitu Tiongkok dan Jepang. Rivalitas yang terbangun ini sudah terjadi sejak dahulu dimana Jepang berhasilkan menjajah Tiongkok. Berkembangnya waktu tidak lantas memudarkan aroma persaingan antara kedua negara ini. Persaingan dalam memperluas pengaruhnya antara Tiongkok dan Jepang justru saling terlihat dengan sikap yang diambil kedua negara dalam merespon suatu fenomena yang berkembang. Jepang secara masif meningkatkan keaktifannya pada institusi regional guna mencegah masuknya pengaruh Tiongkok dalam kebijakan yang diambil mengingat Tiongkok memiliki kemajuan pesat dalam hal bidang ekonomi, diplomasi, dan keamanan. Bagi Tiongkok, itu bukanlah suatu pengahalang karena Tiongkok memilih forum multilateral di kawasan sehingga dapat membentuk regional baru. Sikap yang dilakukan Tiongkok ini justru memberikan nilai positif  dimana Tiongkok dapat menjadi pemimpin dalam forum yang dibangunnya serta memberikan kemudahan bagi Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya sedikit demi sedikit. APT (ASEAN Plus Three) merupakan salah satu forum yang dibentuk Tiongkok dengan ASEAN pada 2001 dan menghasilkan FTA (Free Trade Area) yang berlaku sejak 2010. Dengan kemajuan perekonomian dan kekuatan militer yang dimiliki Tiongkok serta keahlian dalam soft diplomacy menjadikan Tiongkok memiliki citra yang baik dan merupakan tempat meminta bantuan bagi negara-negara yang membutuhkan. Hal ini dapat dilihat pada tahun 1997 saat terjadi krisis ekonomi Asia, Tiongkok menjadi salah satu negara yang memberikan bantuan pinjaman. Dengan demikian, keberadaan Tiongkok di kawasan Asia Timur yang memiliki dinamika dalam berpolitik bukan dipandang sebagai penghalang bagi Tiongkok memajukan negaranya serta menjaga keamanan nasionalnya.

Daftar Pustaka

Fathun, L. M. (2016). Pengaruh Peningkatan Kekuatan Militer Tiongkok Terhadap Keamanan Stabilitas Regional Asia Timur. The Politics: Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 2(2). 183-204 http://journal-old.unhas.ac.id/index.php/politics/article/view/3038

Ohno, K. (2013). The East Asian Growth Regime and Political Development. Dalam K. Ohno & I. Ohno (Eds.), Eastern and Western Ideas for African Growth: Diversity and Complementarity in Development Aid (eds. 1, 37-61). Routledge.

Author: Qisthy Vidia

56 thoughts on “Keberadaan Tiongkok di Dalam Dinamika Politik Kawasan Asia Timur

  1. Artikelnya yg sangat menambah wawasan tentang Keberadaan Tiongkok di Dalam Dinamika Politik Kawasan Asia Timur, terimakasih atas artikelnya semoga para pembaca semakin paham

  2. good job Qisthy!^^..penjelasannya mudah di pahami dan menambah pengetahuan …baru tau kalau jepang pernah berhasilkan menjajah Tiongkok dan Tiongkok mengalami peningkatan PDB sebesar 10% setiap tahunnya sejak tahun 1979….

  3. Wow tiongkok negara berpenghasilan besar ya PBD nya, sampai bisa memberi bantuan pinjaman disaat negara asia lainnya pailit. Thanks for sharing information good job.

  4. Artikel yang sangat bermanfaat dan informatif. Bahasa yang digunakan juga tidak berbelit-belit dan mudah dimengerti. Ditunggu artikel selanjutnya.

  5. China (sejak pemerintahan Presiden SBY kita sebut Tiongkok) keberadaannya ibarat ‘dua sisi mata uang’ di Asia Timur. Kekuatan sumber daya manusia yang sangat besar, serta kemampuan teknologi dan sains yang luar biasa, telah membuat China keluar dari kemiskinan- bahkan menjelma sebagai rival serius bagi negara-negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Saat ini produk apa yang tidak dilabeli Made in China? Perusahaan sekaliber Apple dan Google (untuk produk Pixel) mendirikan fasilitas produksi mereka di China. Baru tahun 2019 Google memindahkan sebagian pabrik mereka ke Vietnam untuk menghindari tarif akibat perang dagang China dengan AS yang strategi bisnisnya agresif ala Donald Trump. Di waktu yang sama, perusahaan-perusahaan teknologi milik China sendiri tumbuh sambil ‘mencuri ilmu’ kemudian membuat produk ‘generik’ dengan kualitas mirip dan harga yang jauh lebih murah (yang tentu sangat diminati masyarakat di Asia Tenggara khususnya di Indonesia). Oh iya, posisi China sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia juga unik, sebab menjadi ‘rebutan’ dalam pengaruh perang dagang Jepang dan Korea Selatan. Yang bikin lebih unik lagi, dari sisi keamanan, China bisa dibilang sebagai negara relatif paling aman di Asia Timur karena bersahabat secara ideologi politik dengan Korea Utara. Saya pikir China seharusnya lebih khawatir pada kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat ketimbang pada negara-negara tetangganya di Asia Timur.

  6. Pingback:relx
  7. Pingback:cvv dumps shop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *