ASEAN Sebagai Mitra Kerja Sama Keamanan yang Strategis Bagi Jepang

Setiap negara pastinya akan mencari sebuah mitra untuk melakukan kerja sama karena pada dasarnya tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri dalam melakukan kegiatannya. Salah satu contohnya adalah negara Jepang. Di Asia Tenggara, Jepang aktif bekerja sama dengan organisasi kawasan Asia Tenggara yaitu Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Kerja sama Jepang dan ASEAN sudah dimulai sejak tahun 1973 yang pada saat itu Jepang dan ASEAN masih melakukan sebuah dialog informal. Kerja sama antara Jepang dan ASEAN pada akhirnya semakin ditingkatkan sehingga di tahun 1977 muncul sebuah hubungan formal dengan dibentuknya sebuah mekanisme ASEAN-Japan Forum (Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, n.d). Pada tahun 1970-an hingga 1990-an, hubungan keduanya masih berfokus pada satu persatu dan belum memasuki tahap sampai melakukan perdagangan bebas (Free Trade Area/FTA). Setelah diluncurkan sebuah kawasan perdagangan bebas ASEAN pada tahun 1992, Jepang mulai aktif mengikuti perkembangan terhadap pelaksanaan perdagangan bebas tersebut di awal tahun 2003 (“Kerja Sama Ekonomi China dan Jepang dengan ASEAN”, 2010). Pemerintah Jepang juga memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan ASEAN Regional Forum (ARF). Sebenarnya ketertarikan Jepang untuk melakukan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sudah muncul sejak pasca-perang dunia (Shoji, 2015). Dalam melanjutkan kerja samanya dengan ASEAN, Jepang menawarkan rencana yang dibuat oleh Miyazawa untuk membuat pertemuan puncak antara Jepang-ASEAN yang mengarah kepada pembentukan ASEAN Plus Three (APT) (Sudo, 2009). Kebijakan Jepang semakin terlihat sangat proaktif saat Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menguatkan kemitraan strategis Jepang dengan ASEAN (Sudo, 2009).

Kerja sama antara Jepang dengan ASEAN tidak hanya dalam bidang ekonomi saja. Kerja sama keduanya secara bertahap mengalami sebuah kemajuan sehingga Jepang dan ASEAN juga menjalin kerja sama dalam bidang keamanan. Perdana Menteri Jepang yaitu Shinzo Abe melakukan sebuah tawaran diplomatik untuk menjalin hubungan keamanan bersama ASEAN dengan mengunjungi sepuluh negara ASEAN dan juga membahasnya pada saat KTT Peringatan Jepang-ASEAN bulan Desember 2013. Tindakan Shinzo Abe ini mencerminkan sebuah pandangan pribadi tentang keadaan serta rencana masa depan lingkungan Jepang dan kerja sama keamanan internasional (Shoji, 2015). Dalam melakukan penguatan kerja sama keamanan dengan ASEAN, Jepang pastinya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pertama, Jepang ingin memiliki hubungan yang lebih luas lagi dengan ASEAN dengan tidak hanya berfokus pada bidang ekonomi dan politik yang sudah dilaksanakan sejak lama. Kedua, Jepang ingin berperan lebih besar di Asia Tenggara karena latar belakang persaingan dengan China (Shoji, 2015). Singkatnya tujuan Jepang yang ingin melawan kebangkitan China membuat Jepang terus mengupayakan dan meningkatkan perannya di Asia Tenggara dengan melakukan kerja sama dengan ASEAN.

Pada tujuan untuk memperluas hubungan dengan ASEAN, Jepang melalui ASEAN Defence Minister’s Meeting Plus (ADMM-Plus) mempromosikan sebuah kerja sama militer yang praktis dengan cara multilateralisme. ADMM yang dikeluarkan pada tahun 2006 telah menjadi sebuah sarana bagi para menteri pertahanan negara-negara ASEAN untuk membicarakan dan bekerja sama dalam isu-isu keamanan. Lalu pada tahun 2010, ADMM dikembangkan menjadi lebih besar lagi dengan nama ADMM-Plus yang terdiri dari negara anggota ASEAN serta delapan mitra bicara termasuk negara Jepang itu sendiri (Shoji, 2015). ADMM-Plus rutinnya dilaksanakan setiap dua tahun. Kementerian Pertahanan Jepang sangat memberikan dukungan yang aktif agar ADMM-Plus dapat menjadi pilar utama dalam kerja sama di kawasan agar menangani berbagai masalah keamanan. Tidak hanya aktif melakukan upaya multilateral, Jepang juga aktif melakukan tindakannya dengan menggunakan pendekatan bilateral. Dapat dilihat dari Jepang yang telah menjalankan proyek peningkatan kapasitas kepada lima negara di ASEAN (Shoji, 2015).

Semakin pentingnya kerja sama antara Jepang dan ASEAN membuat Jepang mengeluarkan The National Security Strategy (NSS) pada tahun 2013. NSS merupakan sebuah dokumen yang berisi penjelasan mengenai prinsip-prinsip dasar keamanan yang dihadapi oleh Jepang dan menetapkan sebuah pendekatan yang strategis agar Jepang dapat mengatasi permasalahan keamanan tersebut (Shoji, 2015). Jepang menganggap bahwa ASEAN merupakan sebuah mitra yang strategis dan sebuah kunci utama agar dapat mengimplementasikan NSS karena untuk menciptakan lingkungan strategis yang aman, damai, dan stabil diperlukan peran yang lebih proaktif dalam menangani masalah keamanan di ranah regional maupun global (Shoji, 2015). Keamanan maritim menjadi sebuah hal yang khusus dalam kerja sama keamanan Jepang dengan ASEAN. Jepang yang merupakan negara maritim harus mengupayakan jalur perdagangan di laut agar ekonomi negara tersebut dapat terus berkembang. Jepang juga ikut campur tangan terhadap permasalahan sengketa Laut China Selatan kerena kawasan Laut China Selatan merupakan jalur yang strategis untuk pasokan energi utama (Shoji, 2015).

Dalam mengupayakan keamanan maritim di kawasan Asia Tenggara, Jepang berpartisipasi aktif dalam forum multilateral dan bilateral. Jepang harus bekerja sama dengan ASEAN agar dapat melawan keagresifan China sehingga kegiatan ekonomi Jepang serta stabilitas di Asia Tenggara dapat tetap terjaga. Jepang sangat menyarankan agar permasalahan di Laut China Selatan dapat dilakukan dengan cara yang damai dan mengamankan navigasi yang sesuai dengan aturan hukum sebagai aturan universal yang harus dipatuhi (Shoji, 2015). Upaya bilateral Jepang dalam keamanan maritim terlihat pada dukungan Jepang yang berpusat pada Vietnam dan Filipina. Dalam menghadapi masalah Laut China Selatan dukungan Jepang kepada Vietnam dilaksanakan dalam bentuk penyediaan peralatan dan pengembangan kapasitas untuk negara Vietnam. Jepang membantu Vietnam dengan menyediakan sebuah kapal patroli dan mengirim enam kapal bekas serta peralatan keselamatan maritim (Shoji, 2015). Dukungan Jepang terhadap keamanan miritim Filipina juga sangat positif. Jepang mendukung upaya Filipina untuk semakin meningkatkan kemampuan pertahanan pesisir pantai dalam berbagai aspek (Shoji, 2015).

Daftar Pustaka

Shoji, T. (2015). Japan’s Security Cooperation with ASEAN: Pursuit of a status as a “Relevant” Partner. NIDS Journal of Defense and Security, 16. 97-111. http://www.nids.mod.go.jp/english/publication/kiyo/pdf/2015/bulletin_e2015_5.pdf

Sudo, S. (2009). Japan’s ASEAN Policy: Reactive or Proactive in the Face of a Rising China in East Asia? Asian Perspective, 33(1), 137-158. https://doi.org/10.1353/apr.2009.0028

Kerja Sama Ekonomi China dan Jepang dengan ASEAN. (2010, 15 Mei). Antara News. https://www.antaranews.com/berita/186931/kerjasama-ekonomi-china-dan-jepang-dengan-asean#:~:text=Kerjasama%20Jepang%20antara%201970an%20sampai,Free%20Trade%20Area%2FFTA.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (n.d). Sinopsis Hubungan Kemitraan Jepang-ASEAN. https://kemlu.go.id/ptri-asean/en/pages/jepang/974/etc-menu

5 thoughts on “ASEAN Sebagai Mitra Kerja Sama Keamanan yang Strategis Bagi Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *