Strategi Jepang Dalam Menangani Masalah Aging Population

Negara Jepang sekarang  memasuki era menurunya populasi penduduk. Dimana tingkat kelahiran orang Jepang menurun dengan drastis. Karena masalah menurunnya angka kelahiran di Jepang pemerintah Shinzo Abe membuat program penting untuk meningkatkan angka kelahiran dijepang. selama pemerintahannya perdana menteri Abe berjanji akan membuat solusi untuk meningkatkan angka kelahiran ini. Pemerintah Jepang menggunakan konsep yang terbilang ekstrim dengan menggunakan kekkon katsudo (perjodohan) sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan angka kelahiran dijepang. Perdana  menteri Jepang sudah mengangagarkan dana ratusan juta yen untuk mendukung program ini. Meskipun begitu hampir seluruh warga Jepang tidak setuju dengan program ini karena terkesan memaksa, dan pemerintah Jepang harus mencari solusi lain untuk mengatasi permasalah menurunnya angka kelahiran dijepang ini. Penduduk Jepang mempunyai keunikan tersendiri di antara negara maju di dunia. Sejak berakhirnya perang dunia ke 2 Jepang mengalami pasang surut pertumbuhan penduduk yang drastis. Setelah berakhirnya perang dunia ke 2 ekonomi negara Jepang berangsur pulih sehingga meningkatkan taraf hidup warga Jepang, karena membaiknya ekonomi pertumbuhan penduduk dijepang juga meningkat sebesar 1% per tahunnya. Meningkatnya angka kelahiran dijepang membuat pemerintah saat itu membuat aturan atau undang-undang untuk membatasi hal tersebut, yang tercantum dalam Undang-Undang Eugenika Nasional 1940 yang kemudian  diubah menjadi Undang-Undang Perlindungan Eugenika 1948.

Karena pemerintah Jepang menerbitkan undang-undang eugenika tersebut bukan membuat solusi malah membuat masalah baru yaitu menurunnya angka kelahiran dijepang. Karena angka kelahiran menurun membuat efek langsung ke ekonomi nasional Jepang, yang disebabkan oleh banyaknya usia lanjut dan berkurangnya usia produktif kerja, sehingga hal ini menjadi isu penting yang harus diselesaikan oleh pemerintah Jepang. Di jaman modern ini negara Jepang mulai mengurangi membentuk sebuah hubungan keluarga suami istri dan memiliki anak, jika hal ini terus berlangsung maka diperkirakan pada tahun 2050 akan berkurang sepertiga penduduk Jepang dari jumlah populasi yang sekarang. Hal ini disebabkan repotnya biaya kepengurusan anak, seperti biaya pendidikan, makanan, dan mahalnya akses kesehatan menjadi salah satu faktor orang Jepang enggan berkeluarga dan memiliki anak lebih dari satu. Hal ini menjadi penyebab yang cukup berpengaruh bagi menurunnya minat untuk memiliki anak. Pemerintah Jepang sudah pernah membuat kebijakan yang membuat pertumbuhan ekonomi Jepang meningkat yang saat itu ekonominya berjalan lambat selama kurang lebih dua dekade terakhir. Kebijakan yang dibuat itu berhubungan dengan program meningkatkan angka kelahiran yang menurun dan kurangnya dukungan untuk ibu yang berkerja. Pemerintah memberikan beberapa solusi yaitu dukungan pemeliharaan anak (parental support) yang direalisasikan pada program peningkatan akses terhadap kesehatan, kemudian mendorong pengambilan cuti bagi ayah yang membesarkan anaknya, serta membangun pusat penanganan kesuburan. Selain program itu pemerintah Jepang juga mensupport wanita dalam dunia kerja (womenomics) dengan semboyan “subete nojosei ga kagayaku nihon e” yang mempunyai arti semua wanita memiliki hak untuk bersinar (all women can shine). Untuk melancarkan program tersebut pemerintah Jepang memberikan berbagai fasilitas seperti mother and child serta membuat penitipan anak berupa day care agar para orang tua yang berkerja dapat tenang menitipkan anaknya. Pada intinya pemerintah Jepang sudah memberikan berbagai fasilitas dukungan untuk mengurangi krisis tingkat kelahiran tersebut dengan membuat berbagai program dukungan dan juga telah memberikan dana yang besar kurang lebih sekitar 300 juta ¥ untuk menangani krisis ini, dan hal ini akan balik lagi ke warga Jepang akankah mereka juga ingin mendukung program pemerintahnya atau tidak.

Jepang juga menggunakan strategi pengendalian imigrasi untuk menghadapi fenomena aging population ini, dari strategi ini ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, dalam bukunya Meyers menjelaskan beberapa elemen yang mempengaruhinya ada elemen ekonomi, literatur hubungan internasional dan budaya. Pada faktor ekonomi, Meyers (2004)  memiliki peryataan bahwa pada masa resesi, negara akan cenderung menerima sedikit imigran atau membatasinya. Sedangkan kalo ekonominya lagi maju atau naik akan membuat negara tersebut menerima lebih banyak imigran atau meliberalisasikan  kebijakan pengendalian imigrasi. Hipotesis ini bisa digunakanan pada kondisi jepang terkait dengan kebijakan imigrasi. Terkait dengan faktor budaya “insiders” dan “outsiders” adalah tema yang diwujudkan dalam budaya masyarakat dan politik Jepang. Jepang adalah salah satu negara yang memegang gagasan tentang keunikan, homogenitas dan harmoni dari negara ini. Pada awal tahun 1600-an, mitos tentang homogenitas dan keunikan Jepang telah tertanam dan berkontribusi pada isolasi Jepang dalam jangka waktu yang cukup lama, kelahiran nasionalisme kultural  dan indentitas nasional berdasarkan ide “one language, one race”. Hal ini masih dipegang oleh masyarakat Jepang sampai saat ini, contoh pada tahun 2005, menteri luar negeri Taro Aso menggambarkan Jepang sebagai, “satu bangsa, satu perdaban, satu budaya dan satu ras” (Burgess, 2007).

Daftar Pustaka

Meyers, E. (2004). International immigration policy: A theoretical and comparative analysis. Springer.

Burgess, C. (2007). Multicultural Japan? Discourse and the’Myth’of Homogeneity (D. Siahaan, Trans). The Asia-Pacific Journal,  5(3).
http://japanfocus.org/data/indo.multiculturaljapan.pdf


Author:

59 thoughts on “Strategi Jepang Dalam Menangani Masalah Aging Population

  1. Tingkat populasi yang rendah menjadi kekhawatiran Shinzo Abe akan bagaimana Jepang di masa depan. Tulisan ini berhasil membedah bagaimana kekhawatiran tersebut menjadi sebuah strategi demi kestabilan Jepang di masa depan. Bravo, Wafa!

    1. Artikel kedua yang saya baca dari author, mudah di mengerti dan menambah pengetahuan baru untuk outsider seperti saya. keep up the good work.

  2. Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yg penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah pada khususnya. Karna disamping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah/negara maupun dunia.

  3. Setelah saya baca hingga selesai, saya sangat ingin memberikan komentar yang berkesan tapi bingung kolom komentarnya di sebelah mana. Ternyata harus scroll kebawah dan kebawah saking banyaknya komentar, berarti banyak yg sependapat dengan saya jika artikel ini menarik.

  4. Pingback:website
  5. Pingback:ASAP Market
  6. Pingback:HP Servis
  7. Pingback:mega888

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *