Adakah Pengaruh Jepang Dalam Pembangunan Negara Pada Bidang Transisi Energi di Taiwan?

Kolonialisme Jepang di Taiwan dimulai pada tahun 1895, setelah China menyerahkan Taiwan kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Shimonoseki dan kolonialisme Jepang berakhir pada tahun 1945 (Christianty et al., 2019). Kolonialisme tersebut meninggalkan banyak warisan yang bernilai material dan immaterial. Warisan semasa kolonialisme Jepang yang bernilai material berupa kuil, artefak, dan sistem tenaga listrik (Taipower), sedangkan warisan yang bernilai immaterial berupa pengetahuan pada bidang industrialisasi. Pada bidang industrialisasi, Jepang memberikan pengetahuan dan ilmu agar Taiwan dapat menciptakan produk-produk yang dapat memasok kebutuhan industri Jepang. Industrialisasi tersebut membantu Taiwan untuk merealisasikan pembangunan negaranya dan mendorong transisi energi (Ker-hsuan, 2019).

Transisi energi di Taiwan bermula saat Taiwan mendapatkan permintaan untuk meninggalkan penggunaan sumber daya alam (SDA) tak terbarukan. SDA tak terbarukan sewaktu-waktu akan habis dan sangat membahayakan lingkungan karena output yang dihasilkan oleh SDA tersebut berupa zat berbahaya untuk lingkungan dan mengancam kehidupan manusia. Ancaman non-kontemporer tersebut menggerakkan Taiwan untuk melakukan transisi energi dengan alasan dua faktor. Faktor pertama, Taiwan memiliki tujuan untuk menghentikan semua pembangkit listrik tenaga nuklir di negaranya pada tahun 2025 akibat terjadinya bencana nuklir Fukushima Daiichi pada tahun 2011. Faktor kedua adalah ekonomi, sebagai negara pemasok elektronik yang dalam perindustriannya menggunakan tenaga listrik sehingga Taiwan harus memastikan tenaga listrik alternatif sudah mencukupi agar produk-produk Taiwan tetap bersaing di pasar Eropa (Ker-hsuan, 2019). Transisi energi ini dilakukan untuk mendapatkan SDA alternatif dengan membangun turbin angin lepas pantai. Kedua faktor tersebut menjadi acuan bagi Taiwan untuk melakukan pembangunan negara dengan konsep Ekonomi Hijau. Ekonomi hijau tersebut dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan investasi pada teknologi atau tenaga listrik alternatif.

Proyek transisi energi melibatkan perusahaan internasional namun pemerintah Taiwan tetap melibatkan perusahaan atau pemasok lokal. Tujuan melibatkan perusahaan atau pemasok lokal guna memberikan pengetahuan yang akan digunakan para pemasok lokal untuk menciptakan pasokan tenaga angin lepas pantainya secara mandiri dan dapat bersaing di pasar global dengan perusahaan internasional seperti Siemens Gamesa, Goldwind dan Vestas. Guna memperlancar strategi tersebut, pemerintah Taiwan menetapkan Feed-in Tariff (FiT) dan Local Content Requierment (LCR). FiT merupakan kebijakan sisi penawaran untuk menciptakan pasar khusus bagi energi alternatif sehingga memberikan keuntungan yang nyata. Penerapan FiT yang tinggi akan mendorong perusahaan internasional seperti Ørsted (Denmark), Northland Power (Kanada), dan Yushan Energy (Singapura) untuk terlibat dalam lelang lahan angin lepas pantai di Taiwan pada tahun 2018 yang akan menciptakan investasi pada proyek transisi energi ini. Sedangkan LCR ditetapkan untuk menjadi syarat mutlak atau kebijakan umum dalam kerjasama proyek transisi energi antara perusahaan internasional dan permasok lokal sehingga pada akhirnya LCR dapat memastikan bahwa pemasok lokal pasti diuntungkan dalam proyek ini (Ker-hsuan, 2019).

Keterlibatan pemasok lokal di Taiwan serupa dengan hal yang dilakukan Jepang pada Restorasi Meiji, Jepang mengedepankan kepentingan nasionalnya dengan menggandeng para perusahaan atau pemasok lokal (Zaibatsu) untuk ikut terlibat dalam setiap proyek yang berkaitan dengan pembangunan negara sehingga pemasok lokal menjadi dominan di dalam negerinya sendiri (Rahardi et al., 2018). Strategi yang dilakukan Taiwan akan memberikan peluang besar pada ketenagakerjaan, meningkatkan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan distribusi produk-produk lokal sehingga akan menumbuhkan kekuatan ekonomi yang baik untuk pembangunan negaranya.

Pembangunan negara melalui transisi energi mencerminkan hal tersebut sudah direncanakan secara matang oleh negara. Negara sebagai aktor utama dalam pembangunan negara menetapkan berbagai syarat mutlak atau kebijakan umum untuk perusahaan internasional dan pemasok lokal yang terlibat. Keterlibatan pemasok lokal sebagai startegi dan intervensi dari negara mencerminkan konsep Developmental State sangat kental dalam pembangunan negara di Taiwan. Konsep Developmental State beranggapan bahwa pembangunan ekonomi merupakan tujuan utama pemerintah, pembangunan ekonomi sebagai plan-rational development, pembangunan ekonomi memberikan peran besar kepada negara untuk mengintervensi lebih dalam, negara memiliki peran untuk mengontrol swasta serta intervensi dan peran yang dimiliki negara dapat berjalan dengan baik atas dorongan dari rasional, birokrasi yang bersih dan meritokrasi (Winanti, 2003). Intervensi yang dilakukan oleh pemerintah Taiwan dengan menggandeng Taipower dalam kerjasama dengan perusahaan internasional. Taipower sudah sejak lama memonopoli perusahaan listrik di Taiwan. Taipower memiliki tugas dalam perencanaan tenaga listrik yang sesuai dengan kebutuhan jangka panjang Taiwan dan merealisasikan permintaan tenaga listrik tersebut. Taipower yang berada dibawah kendali negara harus selalu memberikan laporan kepada Kementerian Urusan Ekonomi Taiwan (Ker-hsuan, 2019).

Intervensi pada pembangunan negara di Taiwan menyelaraskan antara pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Negara menjadi penggerak pembangunan berkelanjutan pada transisi energi dan mengedepankan konsep ekonomi hijau yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Negara harus intervensi dalam sisi penawaran dan permintaan dan harus mengontrol apakah kinerja perusahaan lokal dalam memproduksi tenaga listrik alternatif sudah berdampingan dengan ekonomi hijau yang berkembang (Ker-hsuan, 2019). Dengan itu, negara dapat menekan kerugian atau kesalahan dalam pelaksanaan pembangunan negara dan langsung memberikan kebijakan atau solusi jika kesalahan sudah terjadi.

Pembangunan negara pada bidang transisi energi di Taiwan mendapat pengaruh dari Jepang yang berasal sejak masa kolonialisme. Pada masa kolonialisme, Jepang memberikan warisan immaterial berupa ilmu pengetahuan pada bidang industrialisasi untuk memasok kebutuhan Jepang. Ilmu tersebut menjadi cikal bakal atau bekal Taiwan sebagai negara industri hingga sekarang. Menjadi negara industri yang memproduksi berbagai produk, mendorong Taiwan untuk melakukan transisi energi dengan menerapkan ekonomi Hijau. Warisan material semasa kolonial Jepang yaitu Taipower sangat dimanfaatkan dengan kekuasaan dominan yang dimiliki Taipower pada proyek turbin angin lepas pantai guna menciptakan SDA alternatif demi meningkatkan perekonomian negara (Ker-hsuan, 2019).

Daftar Pustaka

Christianty, D., Jonathan, G., Simamora, L., Helena, R., Rebecca, R. D., & Wacanno, S. R. (2019). Geopolitik China dan Jepang di Asia Timur: Sengketa Kepulauan Diayou/Senkaku. Jurnal Asia Pasific Studies, 3(1), 98-108. https://doi.org/10.33541/japs.v3i1.1072

Ker-hsuan, C. (2019). Pacing for Renewable Energy Development: The Development State in Taiwan’s Offshore Wind Power. Annals of The American Association of Geographers, 110(3), 1-15. https://doi.org/10.1080/24694452.2019.1630246

Rahardi, B., Handayani, S., & Sumarjono. (2018). Zaibatsu’s Role in Development of Japan in Meiji’s Emperor Period of Year 1868-1912. Jurnal Historica, 2(1), 65-80. https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JHIS/article/view/7908/5566

Winanti, S. P. (2003). Developmental State dan Tantangan Globalisasi: Pengalaman Korea Selatan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 7(2), 175-204. https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/11071

Author:

53 thoughts on “Adakah Pengaruh Jepang Dalam Pembangunan Negara Pada Bidang Transisi Energi di Taiwan?

  1. This article is worth reading, bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami, sangat informative! Good job Cia, ditunggu artikel selanjutnya.

  2. Pingback:Scott Schulte

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *