Problematika Hubungan Internasional antara Jepang dan Korea Utara Pasca Perang Dingin

Problematika Hubungan Internasional di kawasan Jepang dan Asia Timur pasca perang dingin sampai detik ini masih menjadi kawasan yang belum kondusif. Kondisi yang tidak kondusif ini dikarenakan adanya sensitifitas masalah politik yang sudah lama adanya, mengikut persoalan-persoalan baru yang muncul ke permukaan pada kawasan tersebut (Abdul, 2007).

Pasca perang dingin, hubungan antara Jepang dan Korea Utara masih mengalami banyak problematika dikarenakan banyaknya hal-hal yang menjadi persoalan untuk dibahas oleh kedua negara tersebut. Jepang dan Korea Utara berusaha untuk melakukan normalisasi tetapi terhalang oleh banyaknya problematika yang terjadi, pada saat melakukan normalisasi, Jepang diwajibkan untuk mengeluarkan permohonan maaf dan membayar kompensasi atas kerugian yang telah ditimbulkan sejak perang dunia II.

Pada tahun 1991 Jepang terbukti bersalah sejak awal peperangan dan pada tahun itu juga kedua negara tersebut memulai normalisasi melalui jalur diplomasi, dikarenakan Jepang bersalah maka Jepang diharuskan mengikuti arahan dari Korea Utara untuk menebus kesalahan Jepang, isi dari perintah Korea Utara terhadap jepang adalah diharuskannya Jepang membayar USD 10 miliar kepada Korea Utara, tetapi hubungan antara Jepang dan Korea Utara semakin berkurang dikarenakan Jepang melakukan struktural internasional terhadap negara Jepang sendiri.

Pada tahun 1997 Jepang mempunyai kesempatan bernegosiasi dengan Korea Utara, dalam hal ini Jepang akhirnya sepakat mengganti kerugian dengan memberi bantuan pangan senilai USD 27 juta, dengan adanya tanggung jawab dari Jepang akhirnya Korea Utara menyepakati, sebelumnya juga Jepang ingin berkunjung ke Korea Utara dikarenakan Jepang mendengar kabar jika ada warga Jepang yang menjadi korban penculikan dan menghilang di Korea Utara semasa perang dingin, dikarenakan sebelumnya Jepang sudah memberi bantuan kepada Korea Utara akhirnya Korea Utara mengizinkan Jepang untuk berkunjung ke Korea Utara demi menyelidiki kasus warga Jepang yang diculik oleh Korea Utara, namun Korea Utara sudah membantah bahwa tidak ada warga negara Jepang yang diculik dan ditahan atau menghilang di Korea Utara, setelah penyelidikan berlanjut ternyata terbukti bahwa ada tigabelas warga negara Jepang yang ditahan di Korea Utara dan delapan dari dari jumlah warga Jepang yang ditahan telah meninggal tanpa ada alasan yang jelas, dari masalah tersebut maka muncul persoalan lagi dalam hubungan antara Jepang dan Korea Utara, bahkan kabar ini membuat warga Jepang berpikir bahwa tidak akan mungkin untuk melakukan hubungan antara Jepang dan Korea Utara.

Lalu pada tahun 2001 Korea Utara melakukan pertemuan penting dengan Jepang dengan maksud untuk membahas masalah-masalah yang terjadi secara diplomatis, pertemuan diplomatis ini diikuti oleh beberapa tokoh penting seperti perdana menteri Jepang Koizumi dan juga dihadiri oleh Kim Jong-II. Pada pertemuan ini Korea Utara mengakui kesalahannya terhadap kasus penculikan warga Jepang yang ditutup-tutupi oleh Korea Utara dan juga Korea Utara mencabut kompensasi yang harus dibayarkan Jepang terhadap Korea Utara pada kasus sebelumnya, Korea Utara meminta maaf kepada Jepang atas kejadian penculikan tigabelas orang warga jepang. Tim dari Jepang yang dikirimkan ke Korea Utara untuk menyelidiki kasus penculikan sudah menemui lima orang warga Jepang yang selamat, lima orang tersebut dibawa kembali ke Jepang dan ditanyakan apa yang terjadi sebenarnya, korban penculikan yang ditahan di Korea Utara kebanyakan sudah menikah dengan warga Korea Utara, atas dari kejadian penculikan ini warga Jepang yang selamat diperbolehkan untuk tinggal kembali di Jepang bersama keluarga yang ada di Korea Utara.

Problematika hubungan Jepang dan korea Utara berlanjut, Korea Utara melalukan pembekuan program nuklir dan menghentikan sementara pengujian rudal, dan juga Korea Utara sudah mengakui dan meminta maaf atas kejadian penculikan tigabelas warga Jepang dan juga Korea Utara sudah menyatakan delapan dari total korban penculikan telah meninggal. Lalu Jepang dan Korea Utara melanjutkan diplomasinya untuk melanjutkan program normalisasi dan hubungan bilateral, tetapi diplomasi tersebut sempat terhenti karena adanya kesalahpahaman, Korea Utara menganggap kasus penculikan tersebut selalu dibawa dan di ungkit terus-menereus didalam program normalisasi tersebut. Pada akhirnya memang diplomasi antara Jepang dan Korea Utara sulit untuk dimengerti karena sering adanya problematika yang terjadi antara kedua negara tersebut, bisa dilihat sekarang-sekarang ini, yang seharusnya banyak hal bisa dilakukan antara Jepang dan Korea Utara melalui jalur diplomasi tetapi sering terhambat dikarenakan juga adanya hambatan struktural domestik dan internasional, oleh sebab ini makanya Jepang dan Korea Utara lebih cenderung untuk memisahkan diri satu sama lain atau sepihak, akibat dari masalah ini juga Korea Utara dengan Jepang tidak pernah mengurusi hubungan diplomatik mereka, dan permasalahan kolonial belum juga terselesaikan (Hook et.al, 2005).

Daftar Pustaka

Hook, G. D., Gilson, J., Hughes, C. W., & Dobson, H. (2005). Japan’s International Relations: Politics, Economics and Security. Routledge.

Abdul, Irsan. (2007). Budaya dan Perilaku Politik Jepang di Asia. Grafindo Khasanah Ilmu.

Author: Muhammad Akbar

just a basic writer | HI IISIP Jakarta

17 thoughts on “Problematika Hubungan Internasional antara Jepang dan Korea Utara Pasca Perang Dingin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *