Penyelesaian Sengketa Thailand Kamboja melalui Mekanisme ASEAN

Sengketa yang terjadi antara Thailand dan Kamboja terjadi akibat sebuah candi yang terletak diperbatasan antara kedua belah negara yaitu candi Preah Vihear, Kuil ini terletak di kawasan Preah Vihear Kamboja dan Provinsi Kantharalak Thailand. Awal mula terjadinya konflik ini sudah ada sejak dahulu kala ketika otoritas Perancis dan Amerika Serikat meneliti dan mengobervasi kawasan ini, menurut otoritas Perancis yang saat itu menajajah kawasan Indochina termasuk Kamboja didalam nya menyatakan bahwa kawasan ini sebagian berada di kawasan Indochina (Kamboja) sedangkan Amerika Serikat menyampaikan hasil yang berbanding terbalik dengan Prancis yaitu kawasan Preah Vihear berada di kawasan Thailand. Akan tetapi, konflik ini sebetulnya telah diselesaikan oleh pihak ICJ. Menurut keputusan ICJ pada tahun 1962 bahwa kuil Preah Vihear merupakan bagian daripada kedaulatan Kamboja. Namun tidak meliputi kawasan 4.6 kilometer persegi yang mengelilingi kuil Preah Vihear tersebut sampai saat ini belum ditentukan.

Permasalahan ini menjadi sebuah tantangan bagi integritas ASEAN yang mewadahi negara-negara yang ada dikawasan Asia Tenggara. Mengingat bahwa permasalahan yang terjadi antara kedua negara ini dapat memicu ketidakstabilan regional yang dapat mencoreng nama ASEAN itu sendiri ditambah beberapa ribu tentara dari pihak Thailand dan Kamboja mulai berjaga-jaga di kawasan kuil Preah Vihear itu, Thailand dalam penempatan militernya di kawasan tersebut berjumlah 2.000 prajurit sedangkan dari pihak Kamboja berjumlah lebih dari 3.000 prajurit (Chachavalpongpung, 2013, hlm.73-74). Akibat dari konflik yang dilakukan oleh kedua negara ini berdampak pada lenyapnya nyama dari tentara kedua belah pihak yang bersengketa serta menewaskan masyarakat sipil,pengungsian manusia serta penghancuran harta benda dari masyarakat yang tinggal disepanjang daerah kuil Preah Vihear, bentrokan itu juga mengakibatkan kerusakan material pada kuil Preah Vihear (Tun, 2011, hlm.26).

Konflik yang terjadi antara kedua negara bertetangga ini menjadi sebuah tantangan bagi Indonesia selaku ketua ASEAN pada tahun 2011 yang tugas nya berperan aktif untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di kawasan ASEAN tersebut. Indonesia juga meminta agar kedua pihak bersengketa untuk menyelesaikan nya secara damai tanpa membawa kasus ini ke DK PBB. Pada tahun yang sama ASEAN menggelar pertemuan dengan para menteri luar negeri yang ada di negara kawasan, dan membahas mengenai sengketa yang terjadi antara kedua negara. Hal ini dilakukan sebagai lanjutan hasil dari DK PBB yang meminta negara yang bersengketa untuk menuntaskan persoalan mereka dengan segera. Pertemuan para menteri luar negeri ini menjadi jembatan bagi negara-negara ASEAN agar bisa menyelesaikan permasalahan nya dengan cara yang damai dan diplomatis dan menjaga perdamaian di kawasan ASEAN. Indonesia yang menjadi ketua ASEAN dan mendapatkan kepercayaan oleh DK-PBB untuk menyelesaikan permsalahan yang terjadi di internal ASEAN berusaha untuk mencari solusi perdamaian yang damai dan diplomatis tanpa adanya kekerasan dan intervensi militer.

Hal ini dilakukan oleh Indonesia ketika menteri luar negeri Indonesia Marty Natalegawa melakukan shuttle diplomacy dengan mengunjungi kedua negara secara terpisah terlebih dahulu untuk membicarakan misi perdamaian di perbatasan yang disengketakan oleh kedua negara serta mengirimkan tim pemantau yaang berasal dari Indonesia di perbatasan Preah Vihear. Kemudian karena proses pengiriman tim observer dan penarikan personel militer telah disetujui oleh kedua belah pihak yang bersengketa maka proses tersebut mulai diawasi oleh Menteri Pertahanan Kamboja Sukompol Suwanatat dan panglima militer Thailnad Prayuth Chanocha. Penarikan tersebut meliputi zona yang yang mencangkup wilayah Candi Preah Vihear dan area sebesar 4.6 kilometer persegi yang kepemilikan nya diklaim oleh kedua negara (“Troops pulled from Preah Vihear”,2012). Selain itu, Indonesia yang menjadi mediator menginisiasi pertemuan ketiga negara di Bogor Jawa Barat pada bulan Mei 2011 meskipun kenyataan nya hanya pihak Kamboja yang datang ke pertemuan ini sedangkan pihak Thailand enggan untuk hadir kedalam perteuan ini dikarenakan pihak garis keras dari partai demokrat yang didukung militer beranggapan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan oleh cara yang diplomatis.

Kehadiran Indonesia sebagai mediator bagi kedua negara membawa dampak yang kondusif dan dapat meredakan konflik yang terjadi antara mereka. Dan kedua negara sepakat untuk melakukan genjatan senjata walaupun tim dari TNI belum diterjunkan dikarenakan masih menunggu pembahasan yang dilakukan oleh team of reference yang belum selesai sepenuhnya. Pada 18 Juli 2012 baik Thailand dan Kamboja sama-sama menarik pasukan militernya dari wilayah yang disengketakan oleh mereka selama hampir berpuluh-puluh tahun lamanya dan menggantikan nya dengan pihak kepolisian. Serta penarikan pasukan yang dilakukan oleh kedua negara ditujukan untuk memastikan wilayah demiliterisasi yang akan ditempati oleh team observer dari Indonesia dan kedua negara juga masih membentuk team observer masing masing negara yang kelak akan bekerja sama dengan team dari Indonesia untuk menempati wilayah demiliterisasi tersebut dalam rangka memantau proses perdamaian melalui gencatan senjata dan penarikan pasukan militer serta memastikan bahwa kondisi wilayah yang disengketakan benar benar aman dan damai yang akan mendukung kedua negara dalam mencapai kesepakatan yang mengikat berupa solusi terkahir bagi keduanya.

Daftar Pustaka

Pavin, C. (2013) Thai-Cambodia Conflict: The Failure of ASEAN’s Dispute Settlement Mechanism. Asian Journal of Peace building 1(1), hlm. 65-87. https://sspace.snu.ac.kr/bitstream/10371/83422/1/04_Pavin%20Chachavalpongpun_4th.pdf

Tun, K. M. (2011) Towards a Peaceful Settlement of the Preah Vihear Temple Dispute (Asia Paper). Institute for Security and Development Policy. https://isdp.eu/content/uploads/images/stories/isdp-main-pdf/2011_kyaw-moe-tun_temple-dispute.pdf

Troops pulled from Preah Vihear. (2012, 19 Juli). Bangkok Post: https://www.bangkokpost.com/news/local/303154/troops-pulled-from-preah-vihear

Author:

46 thoughts on “Penyelesaian Sengketa Thailand Kamboja melalui Mekanisme ASEAN

  1. Jadi tahu apa yang dilakukan oleh ASEAN untuk menyelesaikan sengketa antara Thailand dan Kamboja. Terima kasih banyak untuk artikel yang memberikan informasi ini.

  2. Bagus artikenyal dimana peran Indonesia dibutuhkan oleh beberapa negara khususnya ASEAN karena Indonesia sudah terbukti dalam melobi dan menuntaskan permasalahan yang ada.Peran politik bebas aktip tetap menjadi prioritas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *