Kebijakan Shinzo Abe Melalui Abenomic Policy Dalam Menangani Bubble Economy

Jepang merupakan negara sebagai contoh pertama yang merangkul industrialisasi, kapitalisme, serta  sosial dan budaya yang dianggap modern bagi Amerika dan Eropa. setelah  kalah dalam  perang dunia ke II Jepang menjadikan negaranya sebagai model demokrasi liberal dengan  pertumbuhan ekonomi berbasis pasar untuk  negara berkembang di seluruh dunia.  Jepang  setelah  terjadinya perang dunia ke II   keadaan mengalami negaranya menjadi luluh lantak dan hancur oleh serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat. selain itu Jepang juga mengalami kehilangan kapasitasnya sebagai salah satu negara adidaya di bidang militer, Jepang pun menjadi negara dengan Image buruk pasca terjadinya perang dikarenakan adanya  kolonialisme sehingga menyebabkan Jepang mengalami  kesulitan dalam    mengembalikan kondisi ekonominya yang hancur  pasca  perang. oleh karena itu Jepang sudah banyak mengalami berbagai fase perubahan Image negara, mulai dari image peace loving nation, yang didapat dari sanksi pasca perang dunia yang terjadi, dan menyebabkan Jepang harus membayar kompensasi dan diikuti  dalam misi perdamaian dunia , hingga image negara industri yang disebabkan perkembangan yang sangat pesat di bidang  ekonominya yang mampu  memanfaatkan industri baja, dan otomotif, sampai image negara eksportir budaya populer yang dimilikinya. (Mustaqim, 2018 )

Kebangkitan ekonomi jepang yang sangat pesat ini lah yang memuat orang-orang menyebutnya sebagai “Japanese Miracle”. hal ini terjadi dikarenakan Fenomena kesuksesan ekonomi Jepang tersebut dapat disebutkan tak tertandingi. hingga Jepang mampu memberikan bantuan dana.  kemajuan Jepang  ini tidak terlepas dari adanya peran pemerintah , Sektor pergerakan Jepang lebih banyak didominasi oleh sektor  jasa yang meliputi jasa perbankan, asuransi, real estate, bisnis eceran, transportasi dan telekomunikasi, kemudian di Industri kendaraan bermotor, peralatan elektronik mesin, baja, dan logam non-besi, kapal laut, industri kimia, tekstil dan industri makanan namun dikarenakan adanya  keterlibatan pemerintah yang terlalu berlebihan, sehingga hal ini menyebabkan Jepang  mengalami Bubble Economy. pada  awal tahun 1990 – an real  estate Jepang dan pasar saham jepang mengalami penggelembungan ekonomi atau terjadinya Bubble economy. sejak saat itu perekonomian Jepang menjadi lambat, kemudian diperparah dengan terjadinya krisis global tahun 2008 yang mengancam seluruh perekonomian dunia.  (Tsutsui, & Mazzota, 2015)

Pada awal tahun 2008 , kemudian  pertumbuhan ekonomi Jepang bergerak Lambat, Jepang mengalami penurunan GDP riil sebesar 0,7 % dan jepang Mengalami penurunan ekonomi sebanyak 5,2% pada tahun 2009 diakibatkan adanya krisis pada tahun 2008. krisis ini pada awalnya merupakan krisis ekonomi Amerika Serikat yang dimulai karena adanya kredit perumahan macet yang kemudian menyebar ke seluruh negara di dunia. sehingga membuat negara-negara pengekspor mengalami penurunan ekspor terutama negara-negara yang mengandalkan ekspor mereka ke pasar Amerika- Eropa seperti yang menimpa Jepang, selain penurunan ekonomi yang dialami Jepang juga memiliki masalah dalam hal ketenagakerjaan, dan angka pengangguran yang kian meningkat, dan juga adanya angka pensiun yang tinggi, sehingga pemerintah harus mengeluarkan sejumlah dana untuk para pensiun. kemudian dengan adanya bencana alam yang menimpa Jepang Seperti  terjadinya gempa bumi dan tsunami, serta adanya  kebocoran nuklir membuat kondisi Jepang saat itu semakin parah. Oleh sebab itu Jepang membutuhkan stimulus untuk dapat keluar dari lingkaran perlambatan pertumbuhan ekonomi yang ada, karena jika terus dibiarkan akan membuat Jepang menjadi hancur. 

The Lost Decade merupakan istilah yang menggambarkan keterpurukan Jepang selama satu dasawarsa. The lost decade ini bermula ketika mata uang Yen menguat tajam dan Jepang harus merelokasi industrinya ke luar negeri untuk mempertahankan daya saing dan eksistensi Jepang di Kancah Internasional. Di dalam negeri Jepang sendiri perbankan mereka terus memberikan pinjaman dalam jumlah besar dengan tingkat bunga sangat rendah, selain itu Jepang juga sangat aktif dalam dunia internasional yang mana Jepang ini memberikan bantuan pinjaman uang ke negara-negara berkembang untuk membangun infrastruktur negaranya. namun hal ini tidaklah baik untuk Jepang sendiri hal ini menyebabkan menurunnya laju konsumsi, dan meningkatnya harga tanah sehingga menghadirkan bubble asset dalam skala masif dalam perekonomian. selain itu hal ini diperburuk dengan Adanya nasabah yang menarik uangnya dari bank dan lebih memilih untuk menyimpan uang mereka sendiri di rumah,  sehingga hal itu membuat lembaga-lembaga keuangan Jepang kesulitan untuk mengatasi permasalahan ini.

Melihat permasalahan ini Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri jepang tidak tinggal diam maka Ia mengeluarkan kebijakan untuk menangani permasalahan ini. Kebijakan Shinzo Abe ini dikenal dengan Abenomic, yang merupakan gabungan dari dua  kata yaitu Abe dan  economics. kebijakan ini berfokus pada tiga hal penting yaitu Kebijakan  moneter, Kebijakan  fiskal, dan reformasi struktural.  

Kebijakan fiskal  merupakan kebijakan fiskal aktif atau diskresioner yang bersifat ekspansioner yaitu kebijakan fiskal yang dilakukan dengan cara  meningkatkan pengeluaran pemerintah dan atau dapat dengan melakukan penurunan penerimaan pajak yang melibatkan stimulus fiskal jangka pendek.  Hal ini bertujuan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi dengan secepatnya  melalui peningkatan konsumsi dan investasi pada sektor publik pemerintah.  

Kebijakan moneter  merupakan kebijakan moneter yang bersifat ekspansioner sekaligus bersifat kontraksioner yaitu kebijakan moneter dilakukan melalui peningkatan  jumlah  uang  yang beredar dan pengurangan tingkat bunga harapan dari kebijakan  moneter ini  yaitu tindakan tersebut diharapkan dapat menghasilkan pelemahan yen dan kenaikan tingkat harga dalam negeri.  

Kebijakan reformasi struktural yang dilakukan ini seperti  kebijakan program reformasi dengan adanya  keterbukaan terhadap orang asing dalam kehidupan sosial serta peningkatan partisipasi tenaga kerja wanita dan lain-lain. Kebijakan Reformasi Struktural yang dilakukan  yaitu reformasi dalam bidang  agriculture, reformasi bidang  energi, pajak, pekerja dan dalam bidang  womenomics, serta Cool Japan dan lain-lain.  Kebijakan Abenomic ditargetkan untuk pemulihan ekonomi domestik jepang dan untuk menjaga keseimangan ekonomi internasional dengan  meningkatkan permintaan domestik, meningkatkan pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) serta  meningkatkan inflasi, meningkatkan prospek negara dengan meningkatkan daya saing, reformasi pasar tenaga kerja, dan memperluas kemitraan perdagangan (Abas , 2018).

Namun kebijakan Abenomic ini tidak sepenuhnya berhasil karena terdapat beberapa hambatan yaitu adanya keberagaman perilaku dan sikap-sikap kelompok sasaran dan kondisi sosial, dan terdapat beberapa orang yang merasa bahwa kebijakan ini tidak dapat berhasil untuk diberlakukan. dari ketiga kebijakan Abenomic ini belum mampu  menampakan hasil yang diharapkan oleh pemerintah Jepang. hal ini terlihat dari tidak tercapainya target inflasi 2 % serta peningkatan pajak konsumsi 10% serta ekonomi Jepang yang masih fluktuatif. namun kebijakan Abenomic ini berhasil pada sektor reformasi pertanian dan reformasi pekerja. perlu penyesuaian untuk menerapkan ini. 

Daftar Pustaka

Abas, A. (2018). Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang Tahun 2012-2017. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2). 443-458. https://ejournal.hi.fisipunmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2018/02/ejurnal%20Adi%20Abas%20(02-12-18-05-30-19).pdf

Mustaqim, S .A. (2018). Upaya Jepang Dalam Mempopulerkan Program Cool Japan Sebagai Nation Branding. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(4). 1405-1418. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2018/10/eJournal%20COOL%20JAPAN%20(10-02-18-04-33-45).pdf.

Tsutsui, W. M.,  & Stefano, M. ( 2015). The Bubble Economy and the Lost Decade: Learning from the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives, 9(1).57-74. https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1164&context=jgi

Author:

37 thoughts on “Kebijakan Shinzo Abe Melalui Abenomic Policy Dalam Menangani Bubble Economy

  1. Artikelnya asik bgt, nambah wawasan tentang dunia internasional. Bahasanya sederhana jd lebih gampang paham gitu. Thankyouuu septi sudah menulis artikel ini!

  2. What a good topic you came up with and also well-written. Thank you for sharing with us Septi! Keep up the good work, stay healthy, safe, sane, and God Bless🌻

  3. Tulisannya menarik, jepang emang sangat kapitalisme namun emang benar kebijakan ini sangat kurang bijak kalau dalam segi sosial. Keep it up, good article!

  4. Pingback:CHEE TING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *