Bagaimana Tantangan Perkembangan Kebudayaan Jepang di Era Modern?

Anda pasti sering melihat mobil berseliweran di jalan, ada merk Toyota, Mazda, Honda, Suzuki dan lainnya. Dari mana merk-merk mobil itu berasal? Apakah buatan dalam negeri? Tentu saja bukan. Ialah negara Jepang yang mampu menguasai pangsa pasar otomotif di Asia bahkan di Dunia. Sering kali kita tidak menyadarinya Jepang telah menguasai dunia di era modern. Tidak hanya menguasai pasar otomotif dunia, bahkan Jepang juga mampu menguasai dunia dalam hal kebudayaan. Manga, Anime, Video Game, dan J-Pop adalah beberapa yang bisa kita sebut sebagai kebudayaan populer Jepang yang dikenal oleh dunia. Sejak tahun 1900-an, budaya populer Jepang menarik perhatian media yang cukup besar di Jepang dan luar negeri. Maka dari itu, beberapa dari kita setidaknya sudah pernah melihat Manga dan Anime, bahkan memainkan Video game yang berasal dari Jepang.

Dengan berkembangnya budaya populer Jepang di seluruh dunia, bukan berarti Jepang tidak memiliki tantangan dalam menyebarkan kebudayaannya. Jepang memiliki sebuah konsep yang dinamakan ‘Cool Japan’ yang merupakan sebuah konsep sebagai ekspresi status Jepang yang muncul sebagai negara adidaya budaya. Konsep ini dianggap sebagai soft power, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi perilaku atau kepentingan secara tidak langsung melalui cara-cara budaya dan ideologis. Hal ini membuat budaya populer Jepang semakin dikenal oleh masyarakat luas dan hal ini juga membuat masyarakat luar semakin penasaran dengan budaya Jepang dan membuat tingkat kunjungan ke Jepang semakin meningkat.

Sekitar tahun 2007, Intellectual Property Policy Headquarters mempunyai dua strategi dalam memperkenalkan daya tarik Jepang. Yang pertama, Inovation 25 adalah strategi yang dirancang untuk mempromosikan inovasi dalam industri sains dan informasi yang ditargetkan sampai tahun 2025. Yang kedua, Japanese Cultural Industry Strategi, dirancang untuk menyampaikan daya tarik Jepang secara global. Kedua strategi ini dibuat untuk menyampaikan ke seluruh dunia hal baik tentang Jepang. Karena dengan dilakukannya strategi ini, dapat membuat pertumbuhan ekonomi Jepang menjadi naik. Beberapa upaya dilakukan Jepang dalam menjalankan strategi ini, salah satunya adalah mensponsori Japan International Contest Festival.

Jepang juga memiliki strategi yang dinamakan Japanesse Brand Strategy. Strategi ini merupakan langkah maju dari pendekatan penjelasan dan informasi tradisional dari kebijakan budaya sebelumnya yang menargetkan arena internasional. Seperti contoh kartun Doraemon, Menteri Luar Negeri Jepang berharap agar dengan adanya kartun ini maka dapat memperdalam pemahaman orang tentang Jepang dan bisa lebih dekat dengan Jepang. Japanesse Brand Strategy juga sebagai strategi penyempurnaan budaya untuk membangun negara Jepang yang lebih baik, dapat dipercaya, dihormati dan dicintai oleh dunia, dan agar orang Jepang sendiri mengakui dan menghargai kembali daya tarik Jepang, sehingga kita harus meningkatkan kreativitas budaya negara kita agar menjadi bangsa yang kreatif.

Dari semua upaya yang dilakukan Jepang, yang paling menarik adalah pemberian penghargaan atas keunggulan seniman manga non-Jepang untuk mempromosikan gaya manga sebagai ekspresi artistik. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat luas dan mendorong masyarakat luar untuk mempelajari kebudayaan Jepang dan menuangnya ke dalam Manga. Pada awal Juli 2007, penghargaan manga internasional pertama, Penghargaan Nobel untuk seniman asing yang karyanya telah membantu menyebarkan bentuk manga secara internasional, diberikan kepada Lee Chi Ching, seorang seniman komik sejarah Hong Kong. (Daliot, 2009).

Ferguson (2016 dalam Bakry, 2017) dalam sebuah jurnalnya menyatakan bahwa kebudayaan merupakan elemen penting yang dapat mempengaruhi politik luar negeri suatu negara. Menurut Iriye (1997), kebudayaan dapat mempengaruhi politik luar negeri khususnya melalui cara para aktor mencapai keputusan dalam masalah luar negeri. Dengan begitu, muncullah satu konsep yang bernama cultural diplomacy. Konsep ini muncul untuk mendukung pelaksanaan politik luar negeri yang bisa dilakukan dengan promosi budaya dan pertukaran budaya. Jepang pun sudah melakukan pertukaran budaya sejak dekade 1980-an, hal ini dilakukan sebagai salah satu dari tiga pilar politik luar negerinya.

Sehingga cultural diplomacy ini dianggap sangat penting untuk perkembangan kebudayaan populer Jepang. Karena selain untuk meningkatkan politik-ekonomi dari negara Jepang, hal ini bisa menghidupkan kembali patriotik masyarakat Jepang. Hal ini karena masyarakat Jepang bangga dengan gaya hidup dan budaya latar belakangnya bahwa mereka bekerja keras untuk mempromosikan budaya mereka dan memberikan pendidikan budaya, serta terlibat secara aktif dalam mempromosikan, meningkatkan, dan mendorong, sehingga berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi Jepang (Bakry, 2017).

Daftar Pustaka

Bakry, U. S. (2017). Faktor Kebudayaan dalam Teori Hubungan Internasional, 9(7), 1-18. http://dx.doi.org/10.19166/verity.v9i17.574

Daliot, M. (2009). Japan Brand Strategy: The Taming of ‘Cool Japan’ and the Challenges of Cultural Planning in a Postmodern Age, 12(2), 247-266. https://doi.org/10.1093/ssjj/jyp037

Iriye, A. (1997). Cultural International and World Order. John Hopkins University Press.

39 thoughts on “Bagaimana Tantangan Perkembangan Kebudayaan Jepang di Era Modern?

  1. Artikel yang menarik. Menambah pengetahuan tentang negara matahari terbit. Perlu ditambahkan bahwa Jepang adalah negara yang dari dulu hingga sekarang berhasil menjaga dan melestarikan kebudayaan nenek moyang mereka ditengah derasnya arus modernisasi bahkan westernisasi.

    Bangsa Indonesia lebih besar dan lebih kaya budayanya. Seharusnya kita bisa belajar dari Jepang dalam hal mempertahankan budaya bangsa, sambil menciptakan budaya-budaya baru yang positif. Bukan “hanya menduplikasi tanpa berkreasi” seperti yang marak terjadi saat ini.

  2. Bagus, menambah wawasan, tapi ada pertanyaan sedikit, dalam artikel kak prisil menjelaskan bahwa kita harus meningkatkan kreativitas budaya negara kita agar menjadi bangsa yang kreatif. Dimana kurang kreatifnya negara kita? Menurut saya negara kita sudah kreatif, namun tidak memiliki alur/sistem yang jelas. Terima kasih.

    1. nah itu, karena belum punya sistem dan alur yang jelas, maka kita harus lebih kreatif lagi supaya kita bisa bikin alur dan sistem yg jelas. saya sendiri kurang paham, alur dan sistem yg dimaksud itu seperti apa ya? dan untuk apa fungsi dari alur dan sistem tsb? thx.

  3. Kalo pesatnya persebaran budaya anime & manga yang membuat masyarakat jepang memilih nikah sama karakter fiktif yang berbuntut jadi krisis sdm itu masuk jadi tantangan ga?

    1. itu bukan tantangan, itu adalah proses alterasi budaya yang mana manusia pada saat ini dapat menciptakan kepuasannya sendiri. budaya-budaya baru selalu muncul kapan saja seiring dengan perubahan dan perkembangan manusia sehingga pada dasarnya itu bukan tantangan melainkan perubahan manusia itu sendiri.

  4. Terima kasih kak ini bisa buat bahan studi kasus tugas tentang perkembangan ekonomi jepang , terutama di bidang ekonomi politik asia timur. Terima kasih kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *