Arah Kebijakan Luar Negeri Vietnam Pasca-Perang Dingin: Transformasi Ekonomi (Doi Moi)

Setelah berakhirnya Perang Dunia, terjadi pertikaian antara dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk menjadi kekuatan tunggal dalam ranah internasional melalui pertarungan ideologi, antara liberalisme dan komunisme. Keduanya mulai menyebarkan pengaruh ideologinya kepada negara negara lain tak terkecuali kawasan Asia Tenggara. Vietnam adalah salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang terimbas langsung Perang Dingin, terbukti dari pecahnya perang saudara antara Vietnam Utara yang diusung oleh Uni Soviet dan China dengan Vietnam Selatan yang diusung oleh AS. Peperangan ini akhirnya dimenangkan Vietnam Utara yang kemudian menyebabkan penyatuan Vietnam pada 1975. Berakhirnya perang dingin dan juga baru bersatunya Vietnam, diikuti oleh invasi Vietnam ke Kamboja dalam ambisinya untuk menjadi hegemoni kawasan, meninggalkan berbagai masalah yang perlu diatasi terutama ekonomi, dan harus merekonstruksi beberapa bidang pembangunan. Terlebih, dahulu pada masa periode perang Vietnam telah mengeluarkan biaya yang begitu besar (Dewi, 2018). Untuk mengatasinya, Vietnam perlu mengatur upaya kebijakan baik domestik maupun internasional untuk merekontruksi pembangunan demi kepulihan negaranya pada saat itu.

Faktor Faktor yang Melandasi Doi Moi

Dalam menjelaskan transformasi ekonomi Vietnam, yang didasarkan pada kondisi internal di mana situasi domestik saat itu sangat kacau diakibatkan oleh peperangan yang terjadi sebelumnya, serta biaya yang sudah dikerahkan terhadap perang, sehingga keadaan domestik Vietnam sangat lemah terutama pada sektor ekonomi dan sangat membutuhkan bantuan untuk pembangunan negaranya. Selama masa perang dingin perekonomian Vietnam bergantung kepada negara sekutunya yakni Uni Soviet dan China. Namun Pasca-Perang Dingin, bantuan sudah tidak lagi mengalir dari negara sekutu, diakibatkan oleh kekalahan Uni Soviet dalam Perang Dingin serta China yang semakin menjauh karena konflik di antara keduanya pada saat invasi Vietnam ke Kamboja. Kemudian keterpurukan ekonomi Vietnam diperparah oleh target yang tak terpenuhi pasca-rekonstruksi ekonominya, hal ini terkendala oleh sistem sosialis yang dianut Vietnam dalam upaya pertumbuhan ekonomi sebagai ciri dari komunisme. Mekanisme sosialis tidak mampu mendorong laju perekonomian Vietnam, hal ini lalu menyebabkan puncak krisis ekonomi Vietnam pada akhir 1970-an di mana PDB perkapitanya hanya USD 100 pertahun, dan produksi pertanian yang tidak bisa mencukupi kebutuhan nasional sehingga impor saat itu mencapai 1 juta ton.

Dari faktor eksternal, Pasca-Perang Dingin, di mana kemenangan diperoleh oleh AS, pengaruh liberalisme berjalan sangat cepat, bisa dilihat dari beberapa negara yang akhirnya terpengaruh dan berubah menjadi negara yang demokratis. Hal ini juga yang menyebabkan Vietnam mengalami dilema dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya. Hanya beberapa negara yang tersisa yang mempertahankan ideologi komunisme, termasuk diantaranya Rusia dan juga China. Keadaan internasional saat itu memaksa Vietnam untuk menentukan sikap, apakah mengisolasi diri dari dunia internasional agar tidak terimbas arus demokrasi atau ikut serta dengan arus yang ada. Ditambah keengganan negara lain untuk membantu Vietnam diakibatkan kedekatan Vietnam dengan Uni Soviet pada saat Perang Dingin, sehingga Vietnam mengalami inflasi hingga 700% (Dewi, 2018). Hal inilah yang mendorong Vietnam untuk melakukan reformasi ekonomi melalui liberalisasi ekonomi yang disebut dengan Doi Moi yang disahkan pada tahun 1986 saat kongres ke-6 partai komunis Vietnam.

Arah Kebijakan dan Implementasi Doi Moi

Doi moi termasuk pada model transformasi ekonomi gradual yang merupakan sebuah jawaban bagi negara negara komunis termasuk Vietnam untuk merespons perkembangan dan perekonomian global. Model ini menawarkan sebuah opsi bagi negara komunis untuk mempertahankan ideologi dan ikut serta dalam arus perekonomian global (Marangos, 2002, dalam Septiyaningrum, 2017). Dalam implementasi Doi Moi, pemerintah Vietnam melakukan penghapusan pembatasan tarif pada sektor pertanian dan juga perusahaan agar dilakukan deregulasi dan menarik investasi asing, melakukan kebijakan terhadap hukum tanah agar tanah tidak dikuasai oleh negara, serta reformasi institusi dan pemerataan ekonomi (Dewi, 2018). Pada kebijakan luar negeri, Vietnam memulai normalisasi hubungan dengan China pada tahun 1991, kemudian melakukan kerja sama ekonomi terutama perdagangan, investasi dan juga rekonstruksi pembangunan di perbatasan wilayah China dan Vietnam.

Kemudian pada ketentuan kebijakan luar negeri Vietnam diatur dalam amandemen Konstitusi 1992 untuk memperkuat Doi Moi. Didalam pasal 12 amandemen tersebut mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Vietnam dilakukan secara damai dan bersahabat melalui kerja sama internasional tanpa melihat sistem politik dan sosial negara, diusung atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan, serta menghormati kedaulatan dan non intervensi. Vietnam juga membentuk rencana ekonomi 5 tahun dari 1995-2000, di mana yang berisi rencana kebijakan ekonomi dalam 5 tahun ke depan, dan memutuskan untuk membuat sistem ekonomi yang terencana dan bukan terpusat. Setelah normalisasi hubungan dengan China, Vietnam juga memperbaiki hubungan dengan AS pada 1995. Selanjutnya Vietnam juga turut serta dalam kerja sama kawasan yakni ASEAN pada tahun 1995 setelah berbagai desakan ASEAN sebelumnya terhadap Vietnam terutama pada masa Perang Dingin (Ganesan, 2001). Vietnam juga melakukan kerja sama multilateral di antaranya bergabung dengan APEC dan menjadi anggota WTO pada 2006.

Adapun dampak dari kebijakan Doi Moi, berbagai investasi yang masuk dari negara lain seperti China, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Prancis, Taiwan dan Hongkong yang menyebabkan pertumbuhan perekonomian Vietnam mencapai 8% pertahunnya terutama pada periode 1990-1995 dan 7,6% pada periode 1976-2000. Pertumbuhan ekonomi berjalan secara linear dengan tingkat kemaslahatan rakyat, karena Doi Moi bisa dimaksimalkan oleh perkotaan dan pedesaan sekaligus. Hal ini diakibatkan karena pemerintah Vietnam saat itu memberikan ruang dan fasilitas ekonomi terhadap masyarakatnya (Asyatri, 2012). Perekonomian Vietnam sejak saat itu mulai membaik dan bahkan menuju industrialisasi dan modernisasi, investasi yang terus mengalir dari luar negara, pertumbuhan ekonomi yang stabil dan bahkan pada krisis global tahun 2008, perekonomian Vietnam terbilang masih aman, di mana PDB-nya saat itu adalah 6, 32% pertahun.

Daftar Pustaka

Asyatri, H. (2012). Perbandingan demokratisasi Vietnam dan China (Efek Doi Moi Vietnam 1987 dan Reformasi Ekonomi China 1978). Jurnal Studi Hubungan Internasional, 1(2), 115-130. http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jshi/article/view/1125

Dewi, N. R. (2018). Pendekatan Rational Choice pada Reformasi Ekonomi (Doi Moi) di Vietnam. Jurnal Pemikiran Politik Islam, 1(2), 137-149.
https://doi.org/10.21043/politea.v1i2.4327

Ganesan, N. (2001). Thailand’s Relations with Malaysia and Myanmar in Post-Cold War Southeast Asia. Japanese Journal of Political Science, 2(1), 127-146. https://doi.org/10.1017/S1468109901000160

Septiyaningrum, W. (2017). Perbandingan Reformasi Ekonomi Vietnam dan Laos: Pengaruh Relasi Mentor-Mentee dalam Progresivitas Reformasi Ekonomi Tahun 1986-2008 [Skripsi, Universitas Airlangga]. Perpustakaan Universitas Airlangga. http://repository.unair.ac.id/id/eprint/68003

Author:

57 thoughts on “Arah Kebijakan Luar Negeri Vietnam Pasca-Perang Dingin: Transformasi Ekonomi (Doi Moi)

  1. Thanks for augment our knowledge and sharing with us! Such a well-written article with a good topic!!! Keep up the good work, stay healthy, safe, sane, and God Bless 🌻

  2. Doi Moi langkah yang tepat banget, ya bagi Vietnam. Jadi tau mengapa negara2 Komunis tetep bisa tumbuh ekonominya, tapi tetep mempertahankan ideologinya. Ternyata nerapin Doi Moi ini, ya. Artikel yang sangat informatif. Terima kasih banyak, Kak

    1. This deserves to be everyone’s reading list! Clear facts spoiled, understandable for even non-IR scholars. Good work!

  3. Salah satu cara mengatasi dampak yg diakibatkan pasca perang adalah transformasi ekonomi. Langkah Vietnam tepat melihat bagaimana negara di kawasan Eropa juga melakukan hal yg sama. Jika artikel ini dikembangkan dengan melihat upaya dalam bidang lain, akan menjadi sangat menarik.

  4. Pingback:World Market URL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *