Tantangan ASEAN Way dalam Dinamika Global Kontemporer

Pergeseran paradigma setelah Perang Dingin diwarnai dengan munculnya polarisasi yang mendorong kawasan dunia baik negara berkembang maupun negara maju mempertegas kembali keberadaannya. Menurut Green dan Gill (dalam Beeson, 2016) munculnya minat yang meningkat untuk mengembangkan lembaga-lembaga regional untuk dapat mengkoordinasikan setiap tindakan yang dilakukan negara-negara kawasan. Lahirnya peran dunia baru dalam bentuk integrasi regional yang menjadi dasar pembentukan kepentingan kelompok menjadi prioritas utama. Menurut Anwar (1996) regionalisme merupakan hubungan antar negara atau kelompok yang terlembaga dengan baik di dalam sebuah kawasan dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksudkan diantaranya untuk mempromosikan integrasi kawasan yang seringkali digunakan oleh suatu negara guna mengimplementasikan kepentingannya melalui suatu organisasi regional yang bergerak dibidang tertentu.

Dalam perkembangan sejarah modern, regionalisme di kawasan Asia Tenggara terjadi pada tahun 1954 yang ditandai dengan terbentuknya organisasi regional pertama yakni South East Asia Treaty Organization (SEATO). Organisasi ini merupakan suatu pakta pertahanan Amerika Serikat untuk membendung pengaruh dari komunisme. Diikuti dengan terbentuknya Association of Southeast Asia (ASA) pada tahun 1961, serta Maphilindo yang beranggotakan tiga negara yakni Malaysia, Filipina, dan Indonesia terbentuk pada tahun 1963. Akan tetapi, keberadaan organisasi-organisasi tersebut tidak dapat berumur panjang. Konflik bilateral antara Indonesia dan Malaysia membuat organisasi Maphilindo tidak dapat berjalan kembali. Setelah kegagalan demi kegagalan tersebut, pada akhirnya kawasan Asia Tenggara berhasil mendirikan sebuah organisasi yang dapat membantu serta menjaga stabilitas negara-negara di kawasan tersebut. Organisasi ini dikenal dengan Association South East Asia Nations (ASEAN) dengan lima negara pendiri yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Resmi berdiri pada tahun 1967 bertempat di Bangkok melalui Deklarasi Bangkok, kelima perwakilan dari masing-masing negara setuju atas pembentukan organisasi yang akan memayungi negara-negara di Kawasan Asia Tenggara. Tidak hanya sampai disitu, keanggotaan ASEAN semakin bertambah dengan bergabungnya lima anggota tambahan yakni Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Dengan bergabungnya kelima negara tersebut tidak hanya menambah jumlah keanggotaan serta keberagaman yang tercipta, tetapi juga potensi dinamika keamanan yang mungkin saja dapat menjadi salah satu permasalahan yang akan dihadapi oleh kawasan ini di kemudian hari karena suatu negara pasti mempunyai permasalahan baik secara internal maupun eksternal dengan negara lain.

Sejak berdirinya ASEAN pada tahun 1967, setiap negara anggota terus berusaha untuk dapat menentukan arah kebijakan yang ingin dicapai oleh ASEAN. Langkah utama yang perlu dilakukan adalah dengan menyelaraskan suara seluruh negara anggota terlebih dahulu agar terciptanya keseimbangan visi dan misi yang hendak diraih. Selama perkembangannya, dalam menjalankan tugasnya ASEAN memiliki fondasi fundamental guna menjaga keutuhan stabilitas kawasan. Salah satu pilar yang menjadi kekuatan integrasi kawasan di Asia Tenggara ini yaitu ASEAN Way. ASEAN Way merupakan sebuah norma atau nilai-nilai yang menekankan konsep keakraban, konsensus, konsultasi, non-intervention, dan diharapkan sebisa mungkin menghindari konflik atau peperangan. Pilar inilah yang menjadi ciri khas  pembeda dari ASEAN dengan organisasi regional lainnya.

Dalam perkembangan dinamika internasional yang terjadi saat ini, membuat ASEAN harus bekerja ekstra dalam menghadapi ancaman yang berasal dari luar kawasan. Seperti permasalahan sengketa laut yang melibatkan beberapa negara anggota ASEAN yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam, serta Indonesia dengan Tiongkok yang terjadi di Laut China Selatan (LCS). Tiongkok mendeklarasikan sembilan garis putus-putus atau nine dash line sebagai bagian dari wilayah mereka. Hal ini ternyata memunculkan dilema bagi ASEAN Way manakala kepentingan yang dibawa Tiongkok berbenturan dengan norma yang ada di dalamnya. Permasalahan yang memperebutkan daerah kedaulatan masing-masing negara nampaknya terlalu rumit jika diselesaikan dengan jalan kekeluargaan. Potensi sumber daya alam yang melimpah di LCS ini menjadi isu yang panas dan dapat muncul menjadi sebuah konflik. Oleh karena itu, dibutuhkannya kesatuan dari negara anggota ASEAN dalam menyelesaikan kasus ini karena perebutan wilayah bukanlah suatu kasus yang mudah.

Kedatangan Tiongkok dalam permasalahan LCS sangat mengguncang stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Sentralitas ASEAN juga dipertanyakan seiring dengan kegagalan para negara anggota dalam mengeluarkan pernyataan bersama (joint statement) untuk pertama kalinya karena disebabkan oleh fragmentasi kepentingan masing-masing anggota ASEAN dalam sengketa tersebut (Maksum, 2017). Dalam hal ini Tiongkok membuktikan kesuksesannya dalam memanfaatkan kelemahan diplomasi antar negara ASEAN dengan politik โ€œpecah belahโ€. Ditambah dengan meningkatnya kekuatan militer dan ekonomi Tiongkok semakin membuat negara anggota ASEAN kesulitan menghadapinya. Diperlukannya kesatuan dan persatuan antar negara anggota untuk menghadapi keagresifan Tiongkok yang sangat kuat tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permasalahan LCS ini menimbulkan sebuah tantangan baru bagi konsep regionalisme di kawasan Asia Tenggara dengan ASEAN sebagai aktor sentral dalam penyelesaian kasus ini. Tantangan ini tidak lain disebabkan oleh perbedaan kultur diplomasi antara ASEAN dengan Tiongkok. ASEAN Way sebagai pilar utama diplomasi ASEAN jelas sangat memegang teguh prinsip non-intervensi yang bertolak belakang dengan permasalahan kasus ini sehingga dapat dimanfaatkan baik oleh Tiongkok. Hal ini yang menjadi tantangan besar bagi ASEAN dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara di masa depan.

Daftar Pustaka

Anwar, D. F. (1996). Regionalism versus Globalism: A Southeast Asian Perspective. Korean Journal of Defense Analysis, 8(2), 29-52. https://doi.org/10.1080/10163279609464557

Beeson, M. (2016). Can ASEAN Cop with China?. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 5-28. https://doi.org/10.1177%2F186810341603500101

Maksum, A. (2017). Regionalisme dan Kompleksitas Laut China Selatan. Jurnal Saspol. 3(1), 1-25. https://doi.org/10.22219/sospol.v3i1.4398

Author:

47 thoughts on “Tantangan ASEAN Way dalam Dinamika Global Kontemporer

  1. Artikelnya sangat menarik dan menambah wawasan terutama tentang ASEAN, terima kasih Dhea ditunggu artikel selanjutnya ๐Ÿ‘๐Ÿป

  2. Pingback:game online
  3. Pingback:Trending

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *