Strategi Asia dalam Menghadapi Dampak dari COVID-19

Sejak Januari 2020, negara-negara di dunia telah dihadapkan pada situasi darurat akibat munculnya suatu virus baru yang penyebaran awalnya berasal dari salah satu kota di Tiongkok yaitu Wuhan. Virus ini akhirnya dikenal dengan nama “COVID-19” atau “Corona virus”. Banyak warga Wuhan yang terjangkit virus ini sehingga pemerintah harus mengambil langkah untuk mencegah terjadinya penyebaran yang lebih luas. Meskipun berbagai cara telah dilakukan, seperti salah satunya yaitu memberlakukan lockdown, penyebaran virus ini begitu cepat dan bahkan telah masuk ke negara-negara lain. Pada akhirnya, hampir seluruh negara di dunia memberlakukan social distancing dan lockdown agar jumlah penduduk yang terpapar virus ini tidak semakin bertambah.

Adanya kasus COVID-19 ini tentu saja telah merugikan negara. Tidak hanya dari sisi kesehatan, melainkan juga dari sisi ekonomi. Diberlakukannya social distancing dan lockdown telah membatasi kegiatan kerjasama antarnegara terutama di bidang ekonomi dan perdagangan. Tak heran hal ini menyebabkan terjadinya defisit negara. Tentu saja krisis ini dirasakan oleh seluruh negara di dunia termasuk negara-negara di Asia.

Asia harus memimpin pemulihan dari krisis ini, mengingat bobot dan potensinya dalam dunia perekonomian. Hal itu dapat memengaruhi multilateralisme yang dibentuk oleh koalisi yang berkemampuan dan bersedia. Negara-negara Asia harus mengambil tindakan segera untuk:

• Menyinggung permasalahan keuangan yang tampak. Bank-bank pusat dan kementerian keuangan harus memperluas perjanjian tukar-menukar mata uang bilateral dan setuju pada pengeluaran baru Special Drawing Rights (SDRs) untuk menciptakan jaringan keamanan keuangan regional yang lebih kuat.

• Mendukung pengembangan, produksi dan distribusi yang pantas terkait tes diagnosis, vaksin dan penanganan untuk COVID-19 di Asia melalui dana kolektif untuk World Health Organization’s COVID-19 Tools (ACT) Accelerator dan perluasan COVID-19 Association of South East Asian Nations (ASEAN) Response Fund yang termasuk negara-negara ASEAN+6 yaitu terdiri dari negara-negara ASEAN ditambah Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Australia dan Selandia Baru.

• Tetap membuka pasar medis dan makanan melalui perjanjian regional untuk mengurangi segala tindakan tarif dan non-tarif pada kebutuhan dan pelayanan medis serta pembatasan terhadap pasar makanan internasional.

• Memimpin pengembangan berbagai protokol untuk pergerakan orang-orang agar mempercepat jalur penerusan perdagangan internasional, perjalanan jauh untuk belajar, pertukaran ilmu pengetahuan, pergerakan para buruh sementara dan kepariwisataan, melalui pengenalan terkait sertifikat protokol keamanan untuk yang melakukan perjalanan jauh ke luar negeri.

• Memanfaatkan transformasi digital untuk manajemen kesehatan. Teknologi digital memberikan kesempatan untuk partisipasi, produktivitas lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi. Asia dapat menginisiasi agenda yang proaktif untuk penguasaan kolektif terkait infrastruktur digital termasuk hubungan yang berkaitan dengan peraturan, standar privasi dan pembagian data.

• Memutuskan perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dengan segera untuk memastikan solidaritas perdagangan regional sembari menjaga jalur terbuka untuk keanggotaan India (Asian Bureau of Economic Research Expert Group, 2020).

Tindakan atau langkah-langkah tersebut tentu harus mendapat dukungan dari banyak negara khususnya negara-negara yang memang telah tergabung dalam suatu kerjasama regional seperti ASEAN. Sebagai organisasi kawasan, ASEAN memiliki potensi untuk memimpin Asia dalam menindaklanjuti kasus COVID-19 ini agar situasi kembali pulih atau stabil. Ditambah lagi, tidak hanya kekuatan dari negara-negara anggota melainkan adanya kerjasama dengan negara luar anggota seperti ASEAN+3 dan ASEAN+6, dapat semakin meningkatkan potensi pemulihan lebih cepat.

Untuk memperkuat perekonomian dalam situasi seperti ini pun ASEAN sendiri telah memberikan berbagai upaya. Pada 10 Maret 2020, para Menteri Ekonomi ASEAN berkumpul di Da Nang, Vietnam, membuat pernyataan gabungan dan keputusan untuk tetap membuka pasar ASEAN khususnya terkait perdagangan dan investasi untuk mengurangi dampak dari COVID-19 terhadap perekonomian (Association of Southeast Asian Nations, 2020). Selain itu, ASEAN+3 juga mengadakan pertemuan secara virtual di mana Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Shinzo Abe, dan Presiden Moon Jae-in bergabung di dalamnya. Hasil yang diperoleh dari pertemuan tersebut adalah komitmen untuk mengatasi segala dampak dari COVID-19 ini dan menyiapkan berbagai langkah untuk pemulihan secara ekonomi maupun sosial pasca berakhirnya wabah virus ini.

Setelah penyebaran virus ini dapat terkontrol, berbagai komitmen harus ditempatkan di antara negara-negara untuk memudahkan pemulihan dengan cepat (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia, 2020). Dengan kata lain, strategi atau langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara di Asia ini harus didasari oleh komitmen antarnegara dan fokusnya lebih kepada meningkatkan kerjasama multilateral atau regional terutama ASEAN sebagai organisasi kawasan yang memiliki potensi untuk merangkul negara-negara Asia lainnya dalam mengatasi wabah COVID-19 serta memulihkan kembali situasi ekonomi dan sosial di masyarakat.

Daftar Pustaka

Association of Southeast Asian Nations. (2020, 10 Maret). Strengthening asean’s economic resilience in response to the outbreak of the coronavirus disease (covid-19) [Press release]. https://asean.org/strengthening-aseans-economic-resilience-response-outbreak-coronavirus-disease-covid-19/.

Asian Bureau of Economic Research Expert Group. (2020). An Asian Strategy for Recovery and Reconstruction. East Asia Forum, 12(2), 13-20. http://doi.org/10.22459/EAFQ.12.02.2020

Economic Research Institute for ASEAN and East Asia. (2020). Covid-19 and southeast and east asian economic integration: Understanding the consequences for the future (Policy Brief No. 2020-01). Economic Research Institute for ASEAN and East Asia. https://www.eria.org/publications/covid-19-and-southeast-and-east-asian-economic-integration-understanding-the-consequences-for-the-future/

11 thoughts on “Strategi Asia dalam Menghadapi Dampak dari COVID-19

  1. Pingback:Roxicodone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *