Regionalisme dalam ASEAN dan China Free Trade Agreement

Dalam artikel kali ini saya ingin menjelaskan mengenai Regionalisme Asia Timur yang berdampak pada ASEAN dan China Free Trade Area. Sebelum saya memberikan penjabaran mengenai pembahasan ini saya ingin memberi tahu terlebih dahulu mengenai definisi Regionalisme itu sendiri. Apakah yang dimaksud dengan Regionalisme? Regionalisme sendiri berasal dari kata region. Dalam perspektif hubungan internasional, Region diartikan sebagai suatu wilayah yang memiliki satuan terkecil dari suatu negara, yaitu negara-bangsa. Pada saat yang sama, kawasan adalah dua atau lebih negara (negara-bangsa) yang secara geografis berdekatan satu sama lain. Menurut definisi ini, regionalisme secara sederhana dapat diartikan sebagai kerjasama regional.

Joseph Nye memiliki pendapat  mengenai definisi region atau kawasan Internasional, yaitu Kumpulan negara yang terhubung bersama berdasarkan kondisi geografis dan ketergantungan umum. Berdasarkan asumsi tersebut, Nye mengemukakan bahwa regionalisme didasarkan pada pembentukan daerah. Ide Nye menunjukkan bahwa metode fisik (seperti lokasi geografis negara anggotanya) dapat digunakan untuk memahami regionalisme. (Nye, 1972, chapter 3)

Menurut Fawcett (1995) dalam buku nya yang berjudul Regionalisme in World Politics menyatakan bahwa kerjasama regional dapat mengarah pada interdependensi, termasuk negosiasi bilateral untuk membentuk sistem yang bertujuan untuk menjaga kemakmuran, menambah nilai bersama dan menyelesaikan masalah bersama, terutama yang disebabkan oleh saling ketergantungan regional yang meningkat. Selain itu, kerjasama regional dapat mengarah pada pembentukan lembaga formal, tetapi strukturnya longgar, berupa pertemuan rutin, pembuatan aturan, mekanisme pelaksanaan dan penyiapan tindak lanjut kegiatan tersebut.

Regionalisme yang baru dalam ekonomi perdagangan internasional ditunjukan dengan adanya perilaku proteksionisme yang tujukan untuk mengatasi hambatan perdagangan antar negara dan menuju liberalisasi perdagangan multilateral. Hal ini ditandai dengan 3 gelombang regionalisme, gelombang yang pertama ialah Krisis ekonomi besar pertama di abad ke-20 menyebabkan politik dan gangguan ekonomi yang mengakibatkan gelombang pertama regionalisme dan proteksionisme konsekuensial dimitigasi dengan upaya untuk liberalisasi perdagangan multilateral. (Mikova, 2017)

Lalu gelombang yang kedua Gelombang kedua penurunan ekonomi ini telah diikuti olehmeningkatnya kecenderungan proteksionisme yang mencapai puncaknya pada tahun 1990-andengan menandatangani FTA baru atau meningkatkan FTA yang sudah ada. Yang terakhir gelombang ketiga ialah kemerosotan ekonomi menyebabkan gelombang ketiga yang menyebabkan proteksionisme. Liberalisasi multilateral yang tidak berfungsi sebagai mekanisme penyeimbang proteksionisme menyebabkan merajalela penyebaran perjanjian perdagangan regional setelah 1999.

Dengan adanya regionalisme ini berpengaruh terhadap perilaku China dalam Free Trade Agreement di kawasan ASEAN. Republik Rakyat Tiongkok telah menjadi lebih dekat dengan bursa perdagangan negara-negara maju, dan telah berdampak besar pada perekonomian Tiongkok dengan melonggarkan kendali negara dan mendorong investasi asing. Namun, baru pada milenium baru China menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain atau anggota WTO untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di tahun yang sama ketika China melakukan reformasi ekonomi, Deng Xiaoping mengunjungi Thailand, Malaysia dan Singapura dan menyatakan kesediaannya untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara ASEAN.

Di tahun berikutnya, krisis keuangan Asia membawa tantangan baru dan mekanisme konsultasi baru antara China dan negara-negara ASEAN. Negara-negara lain di kawasan akan segera bekerja sama untuk memperkuat kerja sama. Negara-negara Asia Timur yang bergolak kecewa dengan ketidaksesuaian bantuan yang diberikan oleh lembaga keuangan internasional. Hal ini menghasilkan proposal untuk versi alternatif lembaga mata uang Asia yang dapat memenuhi kebutuhan negara-negara Asia. Selain komitmen bersama negara-negara Asia Timur terhadap stabilitas kawasan, China dan ASEAN terus mengikuti jejak kerja sama kawasan masing-masing.

Dua tahun setelah krisis meletus, gagasan pembentukan perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dan China telah menimbulkan perdebatan akademis. Para pemimpin kedua negara menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja Keanggotaan Ekonomi Komprehensif China-ASEAN untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi China, mempercepat reformasi ekonomi negara, dan membantu menarik lebih banyak investasi asing. Meskipun sangat bergantung pada ekspor ke pasar dunia, terutama ke negara-negara maju, sebelum krisis keuangan, proporsi perdagangan dengan negara-negara lain di kawasan ini selalu sangat penting bagi China, dan sejak saat itu kepentingannya terus meningkat.

China menggunakan konstitusi ekonomi sebagai alat untuk memperoleh sumber daya ekonomi dan mengkonsolidasikan posisinya di kawasan untuk mengimbangi pengaruh Jepang dan Amerika Serikat. China beralih ke regionalisme di negara-negara ASEAN untuk menyeimbangkan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Argumen keamanan dan motivasi politik terutama didukung oleh premis realis inti bahwa motivasi utama China adalah untuk memastikan kelangsungan hidup dan memperluas kekuasaan dalam lingkungan keamanan yang terus berubah. Interpretasi dari standar ekonomi Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN menunjukkan bahwa pergeseran China sebelumnya ke strategi perdagangan regional dan integrasi ke dalam perdagangan global melalui aksesi ke WTO telah menjadi perhatian utama. Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN mencerminkan perlunya kerja sama yang lebih erat di kawasan karena konsekuensi negatif dari krisis keuangan Asia dan mengikuti logika proteksionisme perdagangan.

Daftar Pustaka

Fawcett, H. (1995). Regionalism in World Politics; Regional Organization and International Order. Oxford University Press.

Miková, I. (2017). Causes of Regionalism. How ASEAN-China FTA Fits the (New) Wave of Regionalism?. Slovak Journal of Political Sciences, 17(1). 66-94. https://doi.org/10.1515/sjps-2017-0004

Nye, J.S. (1972). The Strength of International Regionalism. Dalam Günter H. (Eds), Transnational Industrial Relations (51-64). Palgrave Macmillan.

Author:

21 thoughts on “Regionalisme dalam ASEAN dan China Free Trade Agreement

  1. Artikel ini mengulas mengenai kerja sama reginol ASEAN dengan China dalama naungan FTA sehingga menambah pengetahuan mengenai pembahasan tersebut. Artikel juga dikemas dengan baik dan mudah di mengerti, thankyou author, good job

  2. Artikel yang menarik mengenai kerja sama ASEAN dan China, menjelaskan mengenai kepentingan China dalam hubungan dengan ASEAN. Terimakasih Author

  3. artikel yang menambah wawasan, dengan kerjasama regional China-ASEAN akan memperkuat China dan dapat mengimbangi pengaruh AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *