Peran ASEAN Dalam Mengatasi Masalah Terorisme di Asia Tenggara

Di Asia Tenggara, masalah terorisme bukan merupakan isu baru. Berdasarkan serangkaian aksi terorisme yang memiliki jaringan internasional pasca peristiwa WTC, Asia Tenggara diidentifikasikan sebagai daerah yang paling tidak aman di dunia (Connie, 2007, hlm.65). Mayoritas penduduk di Asia Tenggara beragama muslim, sehingga diindikasikan adanya jaringan-jaringan terorisme yang masih terhubung dengan kelompok teroris Al-Qaida (Aretha, 2020). Al-Qaida merupakan kelompok teroris yang bertanggung jawab atas peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat. Selain Al-Qaida, terdapat sejumlah kelompok teroris yang “bersarang” di Asia Tenggara seperti ISIS-associated Jemaah Anshorut (JAD), Jaringan Islamic State of Iraq and ash-Sham (ISIS), Jemaah Islamiyah (JI), Abu Sayyaf Group (ASG), Communist Party of the Philippines/New People’s Army (CPP/NPA), dll. Kelompok-kelompok teroris ini bertanggung jawab terhadap sejumlah peristiwa terorisme di Asia Tenggara. Hal ini membuat Asia Tenggara digadang-gadang menjadi tempat yang subur bagi para kelompok teroris untuk berkembang. Menurut laporan kementrian luar negeri Amerika Serikat taun 2017, Asia Tenggara termasuk kawasan “safe heavens” bagi teroris (Yolanda, 2020, hlm.2)

Sebenarnya ASEAN telah melakukan upaya untuk menangani masalah terorisme bahkan sebelum peristiwa 11 September 2001 terjadi di Amerika Serikat. Namun, perkembangan kegiatan dan aktivitas terorisme di Asia Tenggara dan asumsi Asia Tenggara sebagai kawasan subur bagi para kelompok teroris  mendorong ASEAN sebagai organisasi regional di kawasan Asia Tenggara untuk mulai fokus membahas dan mencari solusi untuk menangani masalah terorisme.

Peran ASEAN dalam Mengatasi Masalah Terorisme di Asia Tenggara.

ASEAN Regional Forum. Sesuai dengan namanya, ASEAN Regional Forum dibentuk oleh ASEAN pada tahun 1994. ARF dibentuk sebagai sebuah wadah dialog dan konsultasi menganai isu atau hal yang berkaitan dengan politik dan keamanan kawasan. Selain itu, ARF juga dibentuk untuk membahas dan menyamakan pandangan antara negara-negara peserta ARF. Dengan demikian, pembentukan ARF ini diharapkan dapat memperkecil ancaman terhadap stabilitas dan keamanan di kawasan. Adapun terdapat 27 negara yang menjadi peserta ARF. 10 negara ASEAN, 10 negara Mitra Wacana ASEAN; Amerika Serikat, Canada, China, Jepang, Korea Selatan, Russia, Selandia Baru, dan Uni Eropa. Kemudian terdapat juga dari beberapa negara di kawasan, yaitu Papua Nugini, Mongolia, Korea Utara, Pakistan, Timor-Leste, Bangledesh, dan Sri Lanka.

ASEAN Convention on Counter Terorism (ACCT). Negara anggota ASEAN menyepakati ASEAN Convention On Counter Terorism di Brunei Darussalam pada tahun 2001 sebagai respon dalam menanggapi terorisme sebagai ancaman keamanan kawasan. Kesepakatan ini merupakan landasan politik awal dari berbagai kerjasama antar di negara di ASEAN dalam mengatasi terorisme di kawasan Asia Tenggara. Kemudian, ACCT tentang pemberantasan terorisme yang ditandatangani pada KTT ASEAN yang ke-12 di Filipina tahun 2008 memberikan dasar hukum untuk peningkatan kerjasama ASEAN dalam menangani masalah terorisme. Dibanding dengan konvensi lainnya, ACCT memiliki nilai tambah karena bersifat komprehensif yang meliputi aspek pencegahan, penindakan, dan program rehabilitasi)

ASEAN Summit. ASEAN Summit ke-8 di Phnom Penh, 4 November 2002, ASEAN mengeluarkan sebuah deklarasi terkait dengan masalah terorisme. ASEAN menyatakan dukungan penuh terhadap segala tindakan yang dapat memberantas terorisme. Kemudian, pada bulan Januari 2003 di Jakarta, negara-negara anggota ASEAN beserta penegak hukum di Asia Tenggara sepakat bahwa setiap negara anggota ASEAN akan membuat satuan tugas anti terorisme dalam rangka memperkuat kerja sama di bidang terorisme.

Selain itu, ASEAN juga mengadakan banyak bentuk kerjasama juga konferensi lainnya dalam upayanya mengatasi masalah terorisme di kawasan seperti Kerjasama ASEAN+3 dengan Jepang, Korea Selatanm dan China, Konferensi ASEAN Chiefs of Police (ASEANAPOL), Kerjasama ASEAN dengan Amerika Serikat dalam memberantas terorisme, Kerjasama ASEAN dan Uni Eropa terkait teorisme, dan masih banyak lagi. Semua bentuk kerja sama dalam upaya mengatasi masalah terorisme, dilakukan ASEAN dengan prinsip non kekerasan dan non intervensi.

Masalah yang dihadapi ASEAN dalam Menangani Masalah Terorisme.

Meskipun, ASEAN telah membentuk dan melaksanakan berabagi konferensi dan kerjasama untuk mengatasi masalah terorisme, namun peran ASEAN pada masalah terorisme ini belum terlalu kuat dan belum secara signifikan menangani masalah terorisme yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. Prinsip non intervensi yang menjadi landasan ASEAN dalam melakukan sebuah kerjasama mengakibatkan fokus kerjasama keamanan di ASEAN lebih difokuskan pada kerjasama ekonmi dan sosial budaya (Kanan, 2020). Prinsip non intervensi ini membatasi ruang gerak ASEAN menangani masalah terorisme. Jika suatu negara “tidak meminta bantuan” kepada ASEAN terkait masalah terorisme, maka ASEAN tidak bisa bergerak. Maka, dalam hal ini, setiap negara anggota ASEAN diharapkan memiliki kesadaran untuk mengoptimalkan keberadaan ASEAN sebagai organisasi regional untuk mengatasi masalah terorisme.

ASEAN juga terlalu fokus pada pengadaan forum dan kerjasama yang membahas terorisme sehingga tidak fokus pada keamanan individu. Keamanan individu di ASEAN juga menjadi salah satu faktor kemunculan IISIS di Asia Tenggara (Suryadi, 2018).  Dampaknya adalah adanya celah pada pengamanan di wilayah perbatasan sehingga mobiltas masyarakat yang melintasi perbatasan menjadi tidak terkendali. Hal ini dapat menciptakan celah bagi teroris untuk keluar masuk wilayah Asia Tenggara. Oleh karena itu, ASEAN perlu miningkatkan keamanan individu khususnya di wilayah perbatasan.

Daftar Pustaka.

Bakrie, C. R. (2007). Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal. Yayasan Obor Indonesia.

Aretha, I. (2020, November). Peran Aktif ASEAN dalam Mencegah dan Menangani Kasus Terorisme di Kawasan Asia Tenggara. ResearchGate. https://www.researchgate.net/deref/http%3A%2F%2Fdx.doi.org%2F10.1016%2Fj.carbpol.2013.02.055%3E

Kanan, N. N., & Nuradhawati, R. (2020). Optimalisasi Sentralitas ASEAN Dalam Rangka Menghadapi Isu Keamanan Kawasan Saat Ini Dan Di Masa Depan. Jurnal Academia Praja3(02), 305-321. https://doi.org/https://doi.org/10.36859/jap.v3i2.171

Suryadi, M. (2018). Fronting the Return of Foreign Terrorist Fighters: the Rise and Fall of ASEAN Border Cooperation to Combat Non-Traditional Threats. Jurnal Internasional, 7(1), 69-80. https://doi.org/10.18196/hi.71126

Yolanda, M. (2020). Organisasi Internasional. Inteligensia Media.

Author: Theresia Dewi Ekaristi

International Relation Student

63 thoughts on “Peran ASEAN Dalam Mengatasi Masalah Terorisme di Asia Tenggara

  1. Wah, selama ini taunya ASEAN itu cuma fokus ke ekonomi aja. Ternyata, perannya sangat luar biasa buat menyelesaikan permasalahan terorisme, ya. Artikelnya memberikan pengetahuan baru untuk saya. Terima kasih banyak, ya.

  2. Saya setuju dengan author, bahwa ASEAN perlu meningkatkan keamanan individu khususnya di wilayah-wilayah perbatasan. Artikel yang sangat informatif, terima kasih author!

  3. keberadaan teroris dalam sebuah negara memang sulit buat dideteksi, terlebih lagi jika negara itu sendiri tidak tegas dalam membasmi langsung dari sumbernya.

  4. Selama ini kiranya ASEAN gak berperan besar buat terorisme, ternyata banyak juga yang dilakuin ya 😄 Thankyou artikelnya nambah wawasan banget!

  5. Well…i just knew that our country’s relations are so much more wow, shout out to you writer. You did a great job and i look forward to hear more of your knowledge and research. Goodluck.

  6. Informatif artikelnya, jadi semakin tau ya kalo asean itu safe heaven nya teroris. Ini bisa meningkatkan awareness kita bahwa harus hati-hati juga, kita sebagai individu gak boleh jadi ikut-ikutan. Negara mungkin udah bikim banyak forum tentang terorisme, walaupun memang masih kurang signifikan, kita sebagai individu juga harus bantu upaya anti terorisme.

  7. Rata rata di Asean adalah negara bukan liberal dan sekuler, jadi terorismu berkedok agama mendapat tempatnya,
    artijel yg menarik

  8. Terorisme tidak memiliki agama. Agama dijadikan kedok untuk pembenaran atas aksi teror yang dilakukan. Padahal tidak ada agama yang mengajarkan terorisme.

    Artikel ini menarik, bahasanya renyah dan mengalir. Artikel ini sangat mungkin utk dikembangkan dalam artikel-artikel selanjutnya. Salah satunya dapat berfokus pada perang kepentingan dibalik aksi-aksi terorisme, dapat juga diulik tentang peran negara adikuasa dalam persoalan terorisme apakah aktif atau pasif dan apakah dampaknya konstruktif atau justru destruktif (aktif-konstruktif, aktif-destruktif, pasif-konstruktif, pasif-desstruktif)

  9. Article yg keren, dan memang tidak bs dipungkiri bahwa khususnya di Indonesia dn Asia merupakan daerah dimana terorisme bisa berkembang dgn jaringan2 nya yg terus dijaga oleh jaringan internasional. utk itu program deradikalisme hrs terus digalakkan. utk bisa mengembalikan mind set org2 yg sdh tercuci otaknya.

  10. Artikel yang cukup singkat tetapi padat informasi yang berguna bagi saya yang tertinggal dalam hal ini, terima kasih

    Jangan berhenti menulis berbagai hal menarik dan informatif ya, karna akan berguna bagi orang lain

  11. Pengamatan dan sudut pandang yang cukup tajam, dan yang terpenting tetap memiliki dasar yang baik, sukses dan terus menulis agar tidak kembali tumpul seperti saya

  12. Pingback:touring Miami
  13. Pingback:PubHTML5
  14. Pingback:elojob

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *