ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)

ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) merupakan salah satu perjanjian dalam bidang ekonomi yang disetujui oleh 10 negara anggota ASEAN dengan Cina. Pada awalnya, tepatnya tahun 2010 hanya terdapat 6 negara anggota ASEAN yang terlibat perjanjian dengan Cina, lalu pada 2015 barulah terdapat 10 negara anggota ASEAN yang menjalin kerja sama dengan Cina. ACFTA ini sendiri dibuat sesuai dengan prinsip-prinsip WTO. Tongzon (2005) melihat bahwa struktur ekspor Cina mirip dengan struktur ekspor Negara-Negara ASEAN dalam banyak hal. Dia melihat bahwa industri ekspor utama Cina yang menyumbangkan 84 persen dari total ekspornya juga merupakan industri ekspor utama ASEAN. Dalam perjanjian yang telah disepakati terdapat tiga sektor yang diutamakan yaitu, sektor barang, jasa dan investasi. Hal ini bertujuan agar percepatan aliran tiga sektor tersebut di antara negara-negara yang bergabung sehingga menjadi sebuah kawasan perdagangan bebas. Perlakuan ini juga menjadi salah satu keuntungan jika bergabung sebagai anggota karena mendapatkan perlakuan khusus dibanding negara non anggota. Selain itu, perjanjian ini tentunya disepakati untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif maupun non-tarif dan juga meningkatkan aspek kerja sama ekonomi yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian anggota ASEAN dan juga Cina.

Untuk mencapai kesepakatan perjanjian ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) dimulai dengan diselenggarakannya pertemuan antar kepala negara dari negara-negara ASEAN dan juga Cina pada tanggal 6 November 2001 di Bandar Seri Begawan, Brunei yang setelahnya disahkan melalui penandatanganan “The Framework Agreement of Southeast Asian Nations and The People’s Republic of China (ACFTA)” pada tanggal 4 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja. Perjanjian ini berisi tentang berbagai tujuan yang menguntungkan negara-negara anggota, yaitu untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, investasi serta perdagangan antar negara, mencari dan menciptakan area baru juga mengembangkan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan, serta membantu Negara anggota baru ASEAN untuk melakukan integrasi ekonomi dengan lebih efektif (Setiawan, 2012). Chirathivat (2002) melihat bahwa baik ASEAN maupun Cina harus mendapatkan keuntungan dengan terjalinnya ACFTA dengan menciptakan banyak perdagangan daripada pengalihan perdagangan.

Resminya, ACFTA pertama kail dirilis sejak penandatanganan Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism Agreement pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Laos setelah melalui berbagai negosiasi. Persetujuan–persetujuan lainnya juga telah ditandatangani seperti Persetujuan Jasa ACFTA yang ditandatangani pada Januari 2007 pada pertemuan ke-12 KTT ASEAN di Cebu, Filiphina dan Persetujuan Investasi ASEAN yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2009, di Bangkok, Thailand melalui pertemuan ke-41 Tingkat Menteri Ekonomi ASEAN.

Dalam kerangka kerja sama ACFTA dilaksanakan Penurunan Tarif yang sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani. Penurunan Tarif ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yang pertama adalah Early Harvest Program (EHP), lalu yang kedua adalah Normal Track serta yang terakhir adalah Sensitive Track.

Pemerintah Negara-Negara Anggota ASEAN dan Cina secara bersama telah sepakat untuk mendorong peningkatan fasilitasi dengan menciptakan kondisi investasi yang baik, disertai dengan berbagai upaya untuk meningkatkan serta mendorong promosi arus investasi dan kerja sama. Selain itu, Anggota yang bergabung secara kolektif akan memperbaiki aturan investasi menjadi lebih kondusif dan transparan agar terdapat peningkatan arus investasi dan juga, ASEAN dan Cina sudah sepakat untuk sama-sama memberikan perlindungan berinvestasi.

Selain itu, berdirinya one stop center yang disepakati dua belah pihak untuk menyediakan jasa konsultasi bagi sektor bisnis juga termasuk memfasilitasi pengajuan perizinan dari sisi investor yang tentunya memberikan banyak efek positif bagi Negara-Negara yang telah bergabung, misalnya mendapatkan jaminan perlakuan yang setara untuk investor asal ASEAN ataupun Cina dalam hal manajemen, operasi dan juga likuidasi, lalu adanya pedoman yang jelas menyangkut kompensasi kerugian dan transfer serta repatriasi keuntungan dan juga terdapat kesetaraan untuk perlindungan investasi dalam hal prosedur hukum serta administratif. Jadi, apabila terjadi sebuah sengketa yang timbul antar investor atau salah satu pihaknya, maka persetujuan ini memberi cara penyelesaian yang lebih rinci dengan adanya kesepakatan dari semua pihak untuk terus berusaha menjamin perlakuan yang setara.

Daftar Pustaka

Chirathivat, S. (2002). ASEAN–China Free Trade Area: background, implications and future development. Journal of Asian Economics, 13(5), 671–686

Setiawan, S. (2012). ASEAN-China FTA: Dampaknya terhadap Ekspor Indonesia dan Cina. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan6(2), 129-150. https://doi.org/10.30908/bilp.v6i2.97

Tongzon, J. (2005). ASEAN–China Free Trade Area: a bane or boon for ASEAN countries?. World Economy, 28(2), 191–210.

Author: Fitria Syani

40 thoughts on “ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)

  1. Very interesting topic…. Thankyou Syani for sharing with us and augment our knowledge. Keep up the good work, stay healty, safe, sane, and God Bless🌻

  2. Kerja sama yang cukup memengaruhi pereekonomian negara2 ASEAN. Terima kasih banyak untuk artikel luar biasanya. Saya jadi tahu lebih dalam soal ACFTA

  3. Well done Syani, it’s very informative and interesting. Thank you for sharing and augment our knowledge. Keep up the good work, stay healthy, safe, and sane. God bless you 🌻

  4. Pingback:프라그마틱
  5. Pingback:Ivy_Kinsley

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *