Long-Term Care: Jawaban Untuk Memfasilitasi Aging Society di Jepang?

Aging Society merupakan kondisi dimana populasi masyarakat di suatu negara telah mengalami penuaan, populasi masyarakat lansia relatif tinggi dan tidak dibarengi dengan angka regenerasi populasi baru. Modernisasi yang melanda dunia mengakibatkan perubahan pola pikir serta gaya hidup masyarakat, hal tersebut dapat dilihat dari rendahnya angka keinginan untuk menikah dan memiliki anak bagi wanita dikarenakan keinginan untuk berkarier lebih besar dari hal tersebut. Negara yang tengah dilanda permasalahan aging society adalah Jepang, negara tersebut dihadapkan dengan tingginya populasi lansia serta rendahnya angka kelahiran di negaranya.

Aging society Jepang dipicu dengan adanya baby boomer yang terjadi pada tahun 1947-1949 serta pada tahun 1970-an yang saat ini tengah mencapai usia lanjut, hal tersebut terjadi paska Perang Dunia II. Adapun faktor pemicu lainnya, yaitu angka kesuburan penduduk Jepang terus mengalami penurunan sejak tahun 1950 dan pada tahun 1990 tercatat bahwa The Fertility Rate (TFR) di Jepang hanya mencapai angka 1,57 kelahiran per wanita. Modernisasi yang terjadi pada masa pemerintahan Meiji meningkatkan teknologi pada bidang kesehatan yang mengakibatkan adanya perubahan pada komposisi penduduk Jepang, dimana terjadi penurunan pada angka kematian yang dialami oleh ibu dan anak. Tingginya angka keberlangsungan hidup wanita diimplikasikan pada penekanan terhadap jumlah anak bagi wanita dengan usia produktif, hal tersebut didasari dengan alasan bahwa angka kelahiran yang tinggi pada wanita pada usia produktif cenderung menimbulkan permasalahan pada kualitas parenting mereka. Opini tersebut justru menimbulkan keinginan untuk menunda pernikahan serta memiliki keturunan dengan alasan meminimalisir risiko terhadap pengasuhan anak, hal tersebutlah yang memicu penurunan angka kelahiran Jepang, hingga pada tahun 1975 angka tersebut terus menurun dan masyarakat lebih memilih untuk menikah pada usia diatas 30 tahun bahkan tanpa memiliki keturunan ataupun lebih memilih untuk tidak melakukan pernikahan sama sekali. Gaya hidup pada wanita generasi muda yang memilih untuk lebih aktif pada usia produktifnya, yaitu dengan bekerja daripada menikah dan memiliki keturunan mengakibatkan angka kelahiran semakin menurun. (Iskandar, 2020, hlm.18-20)

Tingginya angka populasi lansia tidak diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk mengasuh keluarganya yang berada pada usia lanjut. Minat wanita generasi muda pada pekerjaan menimbulkan kurangnya perhatian atau pengawasan pada orang tua mereka yang tengah berada pada usia lanjut dan memerlukan perawatan. Hal tersebut mengakibatkan masyarakat lanjut usia tidak dapat menjalani aktivitas mereka dengan baik karena tidak ada orang yang dapat membantu mereka untuk beraktivitas pada kehidupan sehari-hari. Menanggapi permasalahan aging society, Jepang menghadirkan program Long-Term Care Insurance Act yang bertanggungjawab untuk memfasilitasi masyarakat lanjut usia yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Dalam Child Care and Family Care Leave Act bertujuan untuk membantu pekerja yang memiliki orang tua dengan usia lanjut dan dalam kondisi membutuhkan perawatan, dimana orang tua mereka akan mendapatkan perawatan selagi mereka bekerja dan tidak dapat mengawasi orang tua mereka. (Inamori, 2017)

Long-Term Care Insurance merupakan fasilitas publik yang menjamin layanan perawatan jangka panjang, dimana asuransi tersebut berlaku bagi masyarakat yang berada di kotamadya dan berusia 65 tahun atau lebih serta mereka yang diasuransikan oleh asuransi kesehatan publik yang memiliki kisaran usia dari 40 tahun sampai dengan 64 tahun. Dana Long-Term Care Insurance bersumber dari orang yang memiliki asuransi serta para pemberi pekerjaan (pemesan jasa). Pemberian fasilitas pelayanan perawatan jangka panjang disesuaikan dengan pembayaran paket jasa yang dilakukan para pemilik asuransi. Penerima kesejahteraan yang berumur dibawah 65 tahun dibebaskan dari asuransi kesehatan nasional serta tidak perlu berkontribusi dalam Long-Term Care Insurance. Sistem yang berlaku pada perawatan jangka panjang tidak selalu memenuhi kebutuhan perawatan orang yang membutuhkan, untuk itu masih dibutuhkan bantuan yang berasal dari keluarga itu sendiri ataupun pelayanan perawatan pribadi diluar dari Long-Term Care Insurance. (Inamori, 2017).

Dengan diberlakukannya program Long-Term Care Insurance, pemerintah Jepang berharap hal tersebut dapat membantu untuk memfasilitasi aging society yang menjadi salah satu permasalahan yang berada di negara tersebut. Pelayanan perawatan bagi masyarakat lanjut usia dilakukan untuk membantu warga yang tidak dapat hadir untuk merawat keluarganya yang membutuhkan perawatan dengan alasan bekerja. Asuransi tersebut didapatkan dengan mewajibkan masyarakat lanjut usia untuk memiliki asuransi perawatan jangka panjang, dimana mereka perlu untuk melakukan kontribusi berupa pembayaran berkala yang disesuaikan dengan paket perawatan yang pilih oleh orang yang bersangkutan tersebut.

Kebijakan Long-Term Care Insurance Jepang tidak lepas dari adanya berbagai tantangan atau permasalahan yang muncul akibat dari diberlakukannya kebijakan tersebut. Permasalahan baru muncul saat kebijakan tersebut berjalan, masalah tersebut muncul di sektor pekerja perawatan jangka panjang. Angka  penuaan populasi Jepang terus meningkat seiring berjalannya waktu, tercatat pada tahun 2016 warga dengan usia diatas 65 tahun telah mencapai persentase hingga 27,3%. Peningkatan angka warga lanjut usia menimbulkan lonjakan permintaan terhadap jasa pelayanan perawatan jangka panjang, yang menjadi permasalahan adalah tidak terpenuhinya permintaan tersebut yang diakibatkan dari kurangnya tenaga kerja pelayanan perawatan tersebut. Minat warga lokal untuk menjadi perawat jangka panjang tidak menunjukkan angka yang memuaskan, hal tersebut dikarenakan pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang menyulitkan, dimana pekerja dihadapkan dengan jam kerja yang relatif panjang dan tidak beraturan serta memiliki kemungkinan yang cukup tinggi untuk menyebabkan para pekerja mengalami permasalahan pada kesehatan psikis serta mental mereka akibat dari tekanan dalam melakukan pengasuhan pasien lanjut usia yang menderita penyakit demensia. Kurangnya minat juga diakibatkan dari upah yang dirasa tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan oleh para perawat, sehingga hal tersebut tentu saja memberatkan bagi para pekerja. Alasan tersebut menyulitkan Jepang untuk memenuhi kuota pekerja pelayanan jangka panjang untuk warga lanjut usia yang membutuhkan fasilitas perawatan tersebut. (Iwagami & Tamiya, 2019, hlm. 67-69)

Permasalahan yang timbul pada pemberlakuan Long-Term Care Insurance terfokus pada permasalahan tenaga kerja, hak-hak yang seharusnya dinikmati seperti cuti kerja atau hak terhadap pemberlakukan jam kerja malam sering kali tidak dapat dinikmati oleh para pekerja. permasalahan tersebut akan mengganggu proses pendistribusian fasilitas perawatan pada masyarakat lanjut usia yang membutuhkan perawatan tersebut, sehingga pengimplementasian dari Long-Term Care Insurance menjadi terhambat. Permasalahan hak ketenagakerjaan sebaiknya diberlakukan dengan baik sehingga pekerja dapat memberikan fasilitas yang maksimal bagi warga lanjut usia yang merupakan populasi yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah itu sendiri.

Daftar Pustaka

Inamori, K. (2017). Current Situation and Problems of Legislation on Long-Term Care in Japan’s Super-Aging Society. Kyoto University. https://www.jil.go.jp/english/JLR/documents/2017/JLR53_inamori.pdf

Iwagami, M., & Tamia, N. (2019). The Long-Term Care Insurance System in Japan: Past, Present, and Future. JMA Journal, 2(1), 67-69. http://doi.org/10.31662/jmaj.2018-0015

Iskandar, K. (2020). Japan Aging Issues, Long Term Care Insurance (LRCI) and The Migration of Indonesian Nurse to Enter Japan Labor Market. Journal of Strategic and Global Studies, 2(2), 18-20. http://doi.org/10.7454/jsgs.v2i2.1020

Author: Rika Rahmadani

Jepang dan Negara Industri (C)

71 thoughts on “Long-Term Care: Jawaban Untuk Memfasilitasi Aging Society di Jepang?

  1. tingkat kelahiran yang rendah memang menjadi permasalahan serius di Jepang, artikel ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan seputar aging society. thanks author!

  2. Baru tau tentang aging society secara lengkap di sini. Tadinya cuman sering denger aja kalo orang Jepang pada males punya keturunan. Sekarang di sini udah kejawab. Terima kasih, artikelnya bermanfaat sekali

  3. artikelnya bagus dan bermanfaat banget nih , jadi tau kenpaa angka kelahiran dijepang rendah dan nambah wawasan juga tentang aging society.

  4. Artikel yang sangat menarik, jadi tau sisi lain dari negara jepang itu sendiri dan banyak manfaat yang bisa diambil dari cerita tersebut, terimakasih penulis telah menceritakan cerita yang sangat bermanfaat ini jd menambah ilmu dan wawasan saya sebagai pembaca👍

    1. Selama ini hanya sekedar tau kalau masyarakat jepang enggan/menunda menikah dan mempunyai anak tanpa mengetahui alasan yg mendasar mengapa mereka melakukan itu, tapi denga article ini bisa membantu menjawab rasa penasaran saya. Terima kasih kepada penulis!

  5. Penjelasan permasalahan dan konsep penyelesaian yang menarik Author!
    Kira-kira, adakah peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia dari permasalahan Jepang ini?

    1. Terimakasih atas tanggapannya, dari permasalahan aging society yang memunculkan kebijakan berupa Long-term care, dimana dari kebijakan tersebut menimbulkan permaslahan baru yang berupa kurangnya tenaga kerja untuk memenuhi kuota dalam memberikan perawatan pada masyarakat lansia yang membutuhkan perawatan. Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk bekerjasama dengan Jepang dalam pendistribusian tenaga kerja lokal untuk dikirimkan ke Jepang sebagai tenaga kerja dalam proyek Long-term care tersebut. Terimakasih

  6. Informatif sekali artikelnya, bisa menambah wawasan untuk orang yang belum tau tentang Aging Society dan juga salah satu kebijakannya yaitu Long-Term Care Insurance. Thank you author!

  7. Dengan membaca artikel ini saya jadi mengetahui tentang “Aging Society” yang terjadi di Jepang, sangat informatif dan mudah dicerna, good job!!

  8. Artikel yang disajikan sangat menambah pengetahuan mengenai permasalahan agjng society di Jepang serta usahan pemerintah untuk menanganinya

  9. Dengan adanya kebijakan long term care dapat membantu dalam memfasilitasi para lansia di jepang, akan tetapi masih diperlukan penanganan yang lebih baik dalam hal ketenagakerjaan. Terimakasih author telah menyajikan artikel yang menarik.

  10. Artikelnya bagus jadi nambah pengetahuan yang selama ini belum tau. Selama ini saya cuma tau kalau warga jepang tingkat menikah dan melahirkannya sangat rendah dikarenakan biaya hidup yang tinggi dan mereka lebih mengejar karier. Tapi dari artikel ini saya mengetahui pemerintah Jepang membuat solusi untuk mengatasi permasalahan Aging Society. Thank you and good job Author.

  11. Selama ini saya hanya tau bahwa masyarakat di negara Jepang menjadikan keturunan tidak sebagai prioritas dalam hidup tanpa tau apa penyebab hal tersebut, setelah banyak artikel ini saya baru memahami apa alasan masyarakat Jepang jarang ingin mempunyai keturunan.

  12. Artikel yang menarik dan menyajikan penjelasan mengenai permasalahan aging society serta penanganannya. Permasalahan juga timbul dari kebijakan yang ditetapkan oleh permasalah baru dengan kurangnya tenaga kerja. Good job author telah memberikan artikel yang menambah wawan dan sangat informatif

  13. Dengan artikel ini saya jadi memahami bagaimana permasalahan agung society terjadi serta penanggulangan terhadap masalah tersebut. Artikel yang sangat bermanfaat dan mengedukasi

  14. Sebelumnya cuma tau soal masyarakat jepang yang mengalami populasi penuaan,tapi dari artikel ini jadi lebih tau sisi lain dari permasalahannya itu gimana. Nice article and good job author

  15. Dalam artikel telah memuat mengenai bagaimana aging society menjadi suatu permaslaahan bagi Jepang sehingga membutuhkan suatu kebijakan yang dapat menguragi dampak yang terjadi dari permasalahan tersebut, Jepang menghadirkan kebijaka long-term care sebagai jawaban dari permasalahan aging society, akan tetapi hal tersebut menimbulkan masalah baru bagi negra tersebut, yaitu mengenai masalah tenaga kerja. Setiap kebijakann pasti terdapt konsekuensi yang darus diterima selagi kebijakan tersebut diterapkan. Artikel yang sangat membantu untuk memahami permasalahan yang tengah terjadi di Jepang.

  16. Keren artikel nya… Memberi tau kalau negara maju pun punya permasalahannya sendiri… Klo ga salah info juga, di jepang klo melahirkan malah dikasih uang sama pemerintah… Terimakasih utk info bacaannya…

  17. Artikel berisi pesan yang informatif, menyajikan data yang komperhensif mengenai budaya pernikahan masyarakat jepang dan dampaknya kepada praktisi kesehatan khususnya tenaga perawat. Terima kasih atas infonya, semangat terus buat penulis

  18. Pingback:elojob

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *