Kebangkitan Jepang di Kawasan Asia Tenggara

Jepang merupakan salah satu negara yang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Amerika Serikat mengakhiri perlawanan Jepang dengan menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Pada tahun 1945 Jepang memasuki periode pendudukan Amerika Serikat. Dasuki (1963) mengatakan “Kekalahan Jepang pasca perang membuat Jepang mengalami keterpurukan dan melemahnya reputasinya di Asia Tenggara akibat dari munculnya aktor baru yaitu Amerika Serikat”. Jepang sendiri merasakan pemberian Official Development Assistance (ODA) dari AS untuk rekonstruksi kota-kotanya yang hancur. Situasi Perang Dingin mengubah sikap AS yang kemudian menjadikan Jepang sebagai sekutu strategis di Asia Timur untuk melawan Uni Soviet dan China, yang telah dikuasai oleh komunis (Varma, 2006). Setelah kembali mendapatkan kedaulatannya, Jepang berupaya untuk memperbaiki hubungannya dengan negara-negara bekas jajahannya, termasuk di antaranya negara-negara kawasan Asia Tenggara.

Lahirnya Doktrin Yoshida yang menjadi landasan kebijakan luar negeri Jepang sampai saat ini menjadi titik pergeseran kekuatan Jepang dari militer ke ekonomi. Penawaran ganti rugi perang kepada negara-negara Asia Tenggara adalah kebijakan ekonomi pertama Jepang dalam memuluskan normalisasi hubungannya, yang menjadi pintu gerbang kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dan penanaman pengaruh ekonominya di kawasan. Kehadiran Jepang di Asia Tenggara juga meringankan beban Amerika Serikat dalam upayanya membendung kebangkitan komunisme. Dinamika hubungan Jepang dengan negara-negara Asia Tenggara, terutama ASEAN, mengalami perubahan setelah mundurnya Amerika Serikat dari kawasan setelah kalah perang di Vietnam.

Naiknya Takeo Fukuda menjadi Perdana Menteri pada 1976 berhasil meyakinkan negara-negara Asia Tenggara untuk mau menerima tawaran kerjasama ekonomi dengan Jepang dan menjaga citra positifnya. Lewat doktrin yang ia sampaikan pada pidato di Manila, Filipina, Fukuda menekankan bahwa Jepang bukan lagi Jepang saat perang dunia. Fokus Jepang paling utama adalah ekonomi dan perdamaian, dan Jepang tidak akan membangkitkan kekuatan militernya lagi, meyakinkan negara-negara Asia Tenggara bahwa Jepang bukan lagi ancaman bagi mereka, Jepang bersedia untuk berperan dalam pembangunan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Kebijakan luar negeri Jepang dilandaskan pada doktrin pendahulunya, yaitu Doktrin Shigeru Yoshida. Doktrin tersebut diadopsi oleh para penerusnya dan menjadi acuan dalam pengambilan keputusan.

Salah satu poin dari doktrin tersebut adalah penekanan pendekatan ekonomi dalam menjalin kerjasama dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara di Asia Tenggara. Kebijakan Jepang di Asia Tenggara lahir dari kepentingan Jepang dalam mengejar pertumbuhan perekonomiannya pasca perang, serta situasi Perang Dingin dimana Jepang menjadi partner Amerika Serikat dalam menjaga pengaruhnya dan mencegah komunisme di Asia Tenggara. Jepang tidak menggunakan pendekatan militer sama seperti AS, karena tidak ingin hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara terhambat oleh memori kelam saat perang dunia. Jepang menggunakan kekuatan ekonominya sebagai metode kebijakan luar negerinya di Asia Tenggara, dengan ikut membantu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di kawasan yang dapat menjaga kepentingan Jepang. Kebijakan yang berbasis pada pendekatan ekonomi ini kemudian menjadi warisan bagi para Perdana Menteri selanjutnya.

Kebangkitan Jepang ditandai oleh meningkatnya pengaruh ekonomi Jepang di kawasan lewat Official Development Assistance (ODA) dan Foreign Direct Investment (FDI). Tujuan dari ODA sendiri adalah membangun infrastruktur di negara penerima, dan pembangunan infrastruktur yang dilakukan akan mengundang FDI, yaitu investasi dari perusahaan donatur untuk menanamkan modalnya di negara penerima. Pembangunan infrastruktur di negara-negara ASEAN yang dilakukan Jepang lewat ODA telah membuka jalan bagi banyak perusahaannya untuk berinvestasi di Asia Tenggara. Pemerintah Jepang sendiri juga memberikan insentif sebagai dukungan kepada perusahaan-perusahaan mereka untuk menanamkan investasi asingnya. Indonesia, Singapura, dan Thailand adalah tiga negara teratas penerima FDI Jepang (De Miguel, 2013). Periode 80-an adalah periode berjayanya perekonomian Jepang secara global. Sohn & Pempel (2019) mengatakan “Peningkatan jumlah ODA pasca pemerintahan Fukuda membuat gelombang investasi dari perusahaan-perusahaan Jepang memasuki Asia Tenggara”.

Keterlibatan Jepang di Asia Tenggara bertujuan untuk menciptakan kawasan yang damai dan aman, karena dengan kondisi tersebut Jepang dapat menjaga kepentingan ekonominya di kawasan. Berakhirnya Perang Dingin dan masih adanya kekhawatiran akan kehadiran Jepang di kawasan karena faktor historis membuat Jepang ingin menunjukkan kesiapannya untuk mengatasi isu keamanan melalui cara damai, dan kerja sama multilateral dengan ASEAN merupakan cara terbaik. Jepang juga menginginkan terciptanya sebuah forum dimana ASEAN dan para negara mitra dapat bertukar pendapat demi kepentingan bersama, dimana ASEAN juga mendukung forum tersebut, karena diyakini dapat mengurangi konflik antar anggota dan mewujudkan hubungan baik dengan atau di antara negara-negara kuat. Maka dapat disimpulkan kebangkitan Jepang di Asia Tenggara sangat signifikan dan masih terus berlangsung.

Daftar Pustaka

Dasuki. (1963). Sejarah Jepang. Balai Pendidikan Guru.

De Miguel, E. (2013, May). Japan and Southeast Asia: From the Fukuda Doctrine to Abe’s Five Principles (Discussion Papers No. 32). Universidad Complutense de Madrid. https://www.redalyc.org/pdf/767/76727454005.pdf

Sohn, Y., & Pempel, T. (2019). Japan and Asia’s Contested Order: The Interplay of Security, Economics, and Identity. Palgrave MacMillan.

Varma, L. (2006). Japan’s Policy Towards East and Southeast Asia: Trends in Re-Asianization. International Studies, 43(33), 33-49. https://doi.org/10.1177/002088170504300102

Author:

88 thoughts on “Kebangkitan Jepang di Kawasan Asia Tenggara

  1. Saya setuju, kehadiran Jepang di kawasan Asia memang sudah terlihat kembali. Dan peranannya mengambil alih penting bagi masa depan Asia, terkhusus Asia Tenggara.

    1. artikelnya bagus dan menarik. Juga mengandung informasi” kehadiran Jepang di Indonesia. Thankyouu penulis. Semoga bisa menulis artikel lebih banyak lgi

  2. Saya setuju, kehadiran Jepang di kawasan Asia memang sudah terlihat kembali. Dan peranannya mengambil alih penting bagi masa depan Asia, terkhusus Asia Tenggara.

  3. Saya setuju, kehadiran Jepang di kawasan Asia memang sudah terlihat kembali. Dan peranannya sangat signifikan bagi masa depan Asia, terkhusus Asia Tenggara.

  4. artikel yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan saya sebagai mahasiswa HI, terimakasih rere ditunggu artikel-artikel menarik lainnya.

  5. Artikel ini sangat bagus sekali untuk baca, menceritakan bagaimana negara Jepang tumbuh setelah kekalahannya di perang dunia. Dan kembali unjuk gigi ke dunia sebagai negara yang mendukung perdamaian di wilayah Asia dan mendukung pertumbuhan ekonomi .

  6. artikel yang informatif, Jepang dengan Flying Geese concept-nya memang membuat negara-negara ASEAN sangat dekat dengan Jepang dibidang kerja sama ekonomi. informatif, thank you for sharing.

  7. Menarik artikelnya. Cukup menggambarkan juga mengenai perkembangan Jepang di Asia tenggara melalui pemaparan historis hingga situasi kontemporer serta metode atau pendekatan ekonomi yang dilakukan.

    Tetapi akan lebih komprehensif kalau dieksplorasi lebih luas lagi terkait data-data kerjasama antara negara di kawasan Asean dengan jepang, selain pembangunan infrastruktur. Lalu juga, akan lebih dalam jika dapat dijelaskan peran kawasan Asean bagi kerangka ekonomi Jepang.

    Terlepas dari masih adanya yang harus ditambahkan, gue melihat artikel lo cukup bagus. Kayaknya lo punya bakat menjadi seorang penulis hebat deh, re. Haha

  8. Waah menarik juga ya, historisnya menambah wawasan dan ternyata jepang berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi indonesia. tak salah pemerintah membuat KEK (kawasan ekonomi khusus) di beberapa kota dan daerah di indonesia yang mempermudah investor asing dan lokal untuk berinvestasi. Semoga investasi jepang yang datang ke indonesia tidak salah dalam pelaksanaannya dan selalu berpedoman pada uu yang ada.
    Di tunggu artikel selanjutnya.

  9. Sektor Primer adalah kegiatan Ekonomi yang mengandalkan pertanian dan perkebunan sebagai sumber mata pencaharian. Di negara-negara berkembang termasuk Indonesia sektor primer merupakan kegiatan ekonomi yang dominan. Hal ini berbeda dengan negara maju seperti Singapura, Amerika Serikat, Jerman dan bahkan Malaysia, mereka lebih mengutamakan sektor Sekunder (jasa seperti perbankan, Industri ) dan sektor Tersier (Teknologi Komunikasi, perakitan komputer, perangkat lunak dan internet) sehingga mereka jauh lebih maju dibandingkan dengan Indonesia. Salah satu penyebab Indonesia masih bergantung pada sektor primer adalah karena masih kurangnya SDM yang unggul di negeri ini.

  10. Bagus banget artikelnya, sangat membantu dan menambah wawasan^^. Jepang memang terlihat optimis sejak dulu yaa, mereka cepat bangkit dan semangat kembali meskipun pernah terourik…

  11. Pembahasan menarik dan pengemasan kontennya juga pas, pembaca menjadi lebih mudah memahami fenomena dengan bahasa yang digunakan penulis! untuk author semangat memperkaya penulisan, kita siat menungguuuu karya2 lainnya!

  12. Tidak diragukan dalam hal ini jepang mencoba untuk menjalankan strategi nya sebagai pemimpin di wilayah asia dalam paradigma the flying geese, artikel sangat informatif ,semoga bermanfaat bagi pembaca

  13. Pingback:World Market URL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *