Upaya ASEAN Way dalam Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok Selatan

ASEAN pertama kali dibentuk pada sebuah deklarasi tahun 1967 atau yang biasa kita kenal dengan Deklarasi Bangkok, awalnya ASEAN merupakan suatu organisasi regional yang berusaha berintegrasi dalam sebuah institusi berdasarkan pada kerja sama fungsional. Karenanya ASEAN kemudian menjadi organisasi regional non politik yang berfungsi dalam berbagai bidang, diantaranya yaitu bidang ekonomi, bidang teknik, bidang keilmuan, bidang sosial dan bidang kebudayaan. Tujuan utama dari dibentuknya ASEAN adalah bagaimana cara membuat suatu institusi regional tanpa mengancam kedaulatan nasional masing – masing negara anggota namun tetap saling menguntungkan satu sama lain. ASEAN sendiri merupakan organisasi regional yang telah mengalami berbagai macam perkembangan yang signifikan dari masa ke masa sesuai dengan tujuan dari masing – masing para pendiri ASEAN untuk menjalin persahabatan dan kerja sama dalam menciptakan wilayah yang aman, damai dan makmur bagi negara – negara kawasannya.

ASEAN Way merupakan suatu norma dan prinsip-prinsip non intervensi atau penyelesaian sengketa yang dilakukan secara damai, tindakan non konfrontatif terhadap suatu konflik, dan menekankan penyelesaian suatu masalah dengan cara musyawarah dan mufakat. Dalam menjalankan tugasnya, ASEAN sendiri memiliki norma universal yang dikenal dengan ASEAN Way. ASEAN, yang terdiri atas banyak negara – negara anggota dengan kebudayaan dan norma yang berbeda satu sama lain, bukan tidak mungkin akan menyebabkan perselisihan internal diantara masing – masing anggota. Di sinilah ASEAN Way mengambil  perannya sebagai norma universal antar negara – negara anggota ASEAN. ASEAN Way adalah suatu norma non intervensi, non penggunaan angkatan bersenjata, mementingkan kepentingan otonomi regional, dan menghindari collective defense (pertahanan kolektif) yaitu salah satu cara penyelesaian yang bisa dipakai untuk negara – negara anggota ASEAN (Khoo, 2004).

Laut Tiongkok Selatan merupakan lautan yang memiliki jalur paling sibuk ke dua, laut ini merupakan salah satu bagian dari samudra pasifik, yang panjangnya dimulai dari selat karimata, selat malaka hingga sampai ke selat taiwan dengan luas lautan kurang lebih 3.500.000km persegi. Laut ini memiliki potensi yang bagus dan memiliki letak yang sangat strategis karena sepertiga kapal di dunia banyak melintasi laut ini. Laut ini juga memiliki makhluk hidup yang berlimpah yang mampu menopang kebutuhan pangan bagi jutaan masyarakat di Asia Tenggara sekaligus memiliki cadangan minyak dan gas alam yang besar. Laut Tiongkok Selatan adalah lautan yang sangat penting secara geopolitik. Dimana laut ini merupakan jalur air tersibuk nomor dua di dunia. Menurut tonase kapal kargo tahunan dunia, lebih dari 50% kapal kargo melewati jalur selat malaka, selat sunda, dan selat lombok. Lebih dari 10 juta barel minyak mentah per hari pasti melewati selat malaka. Meski sering terjadi berbagai macam laporan pembajakan laut di wilayah laut selatan ini, tetap tidak mengurangi kesibukan yang selalu terjadi di wilayah ini.

Namun karena pentignya Laut Tiongkok Selatan saat ini, menyebabkan laut ini seperti ladang emas yang tengah diperebutkan berbagai pihak, yang mana banyak membuat wilayah kawasan laut ini tidak pernah sepi dari berbagai macam konflik. Dimana Ada setidaknya enam negara pemain di jaringan kompleks klaim wilayah yang tumpang tindih di Laut Tiongkok Selatan ini. Diantaranya yaitu, Tiongkok, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam yang memilik masing – masing versi sejarah yang berbeda-beda untuk mendukung pernyataan kedaulatan mereka. Karenanya, disini ASEAN sebagai institusi regional pun mengambil perannya.

Seperti misi yang akan dicapai oleh ASEAN sesuai yang dinyatakan pada tujuan pembentukannya dalam Deklarasi Bangkok 1967 yaitu, ASEAN dibentuk untuk menciptakan kawasan Asia tenggara dalam suasana yang penuh rasa persahabatan, kedamaian dan kemakmuran. Negara – negara anggota ASEAN harus bersama – sama meningkatkan kemajuan dalam perekonomian dan pembangunan dalam semua bidang yang ada, meningkatkan pertahanan keamanan nasional negaranya masing – masing serta regionalnya, dan juga menjaga kestabilan politik negaranya masing – masing maupun regional menurut Deklarasi Bangkok dalam ( Kementrian Luar Negeri RI, 2015).

Dari apa yang diatur dalam instrument regional diatas Dapat dilihat bahwa prinsip non intervensi menjadi prinsip utama yang melandasi kerjasama negara – negara anggota ASEAN. Prinsip non intervensi sendiri sampai saat ini masih dipegang teguh oleh para negara – negara anggota ASEAN dalam kebijakan regionalnya, disamping itu terdapat juga prinsip – prinsip lain seperti saling menghormati, konsensus, dialog dan konsultasi. (Katsumata 2004).

Dalam melekukan kerja sama dan penyelesaian masalah atau konflik di kawasan Asia Tenggara yang berlandaskan prinsip non intervency diplomacy, negara – negara anggota harus saling menghormati, dialog dan konsultasi, juga di larangan menggunakan kekerasan bersenjata dalam penyelesaiannya ini biasa kita kenal dengan  sebutan ASEAN Way. ASEAN Way merupakan suatu metode dan norma yang digunakan oleh organisasi ASEAN jika menghadapi situasi konflik di kawasan Asia Tenggara (Goh, 2003). Metode tersebut biasa kita kenal dengan nama ASEAN Way karena memang ASEAN memiliki cara pandangnya tersendiri dalam menangani permasalahan – permasalahan yang terjadi dalam kawasannya.

ASEAN Way. Prinsip non intervensi yang menjadi salah satu landasan kerja sama ASEAN merupakan prinsip yang berasal dari hukum internasional. Prinsip non intervensi adalah prinsip yang menyatakan bahwa suatu negara tidak memiliki hak  to interfere (mencampuri) urusan atau pemasalahan dalam negera – negara lain secara diktaktor. Oleh karena prinsip inilah ASEAN tidak dapat mencampuri keputusan – keputusan yang di ambil negara anggota. ASEAN Way hanya dapat menyediakan wadah dan mengawasi berjalannya perundingan permasalahan laut Tiongkok Selatan agar tetap berlangsung secara aman, damai dan kondusif. Namun, Apabila menurut ASEAN suatu masalah atau konflik yang terjadi disuatu negara sudah mengancam stabilitas, perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Tenggara, maka wajib hukumnya bagi ASEAN untuk merespon, dan mengambil tindakan untuk meminimalisir korban juga memulihkan situasi yang mengancam stabilitas, perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Tenggara.

Cara ASEAN way sendiri dalam melakukan penyelesaian konflik di ASEAN harus dipertahankan sebagai salah satu jati diri ASEAN yang tidak boleh hilang. ASEAN tetap harus memiliki mekanisme sendiri dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara agar tidak  mudah di dikte kekuatan – kekuatan luar yang justru bisa memperkeruh suasana. ASEAN lah yang paling memahami kondisi negara – negara anggotanya.

Oleh karena itu penyelesaian konflik Laut Tiongkok Selatan yang terjadi di antara negara – negara anggota biasanya diselesaikan melalui musyawarah di anatara kedua negara tanpa melibatkan pihak manapun, agar tidak ada pihak yang memperkeruh suasana musyawarah ini.

Daftar Pustaka

Goh, G. H. L. (2003). The ASEAN Way Non-Intervention and ASEAN’s Role in Conflict Management. Stanford Journal of East Asian Affairs. 3(1), 27-28. https://www.academia.edu/3988485/113Gillian_Goh_Stanford_Journal_of_East_Asian_Affairs_GreaterEastAsia_The_ASEAN_Way_Non_Intervention_and_ASEAN_s_Role_in_Conflict_Managementin_conflicts_in_Haiti_and_Nicaragua_and_between?source=swp_share

Katsumata, H. (2004). Why is ASEAN diplomacy changing? From “Non-interference” to “Open and Frank discussions”. Asian Survey 44(2), 237-254. https://doi.org/10.1525/as.2004.44.2.237

Kementrian Luar Negeri RI. (2015). Sejarah dan Latar Pembentukan ASEAN. https://kemlu.go.id/portal/id/read/980/halaman_list_lainnya/sejarah-dan-latar-pembentukan-asean

Khoo, N. (2004). Deconstructing the ASEAN security community: a review essay. International Relations of the Asia-Pacific 4(1), 35-46. https://doi.org/10.1177/2347797015586126

Author: Reni Pratama

International Relations'17

50 thoughts on “Upaya ASEAN Way dalam Penyelesaian Sengketa Laut Tiongkok Selatan

  1. Pembahasan tentang topik yang masih berlangsung adalah salah satu yang langkah yang baik untuk menambah wawasan bagi semua , terima kasih reni 🙂

  2. Isu pada artikel memang amat kompleks, namun pembawaan atau penulisan pada artikel sangat mudah dipahami, informasi yg disampaikanpun lengkap bisa saya lihat dari materinya mulai dari pembahasan masalah LCS, sejarahnya dan juga konteks ASEAN ways nya, hal ini sangat menjelaskan judul yg diangkat dan hal ini ditulis dengan singkat namun jelas pada intinya.

    such a good artcle, sangat relevan dengan keadaan dan permasalahan di Asia tenggara.

    Good job Reni
    It’s been a tough semester but I know you can survive
    SEMANGAT 💪💪💪

  3. Isu yg diangkat pada artikel ini sangat kompleks dari segala aspek, dan penulis menjabarkannya dengan mudah dipahami. Thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *