Realisasi ASEAN Way

Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) sebagai organisasi regional di wilayah Asia Tenggara memiliki mekanisme sendiri untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang disebut sebagai ASEAN Way. Terminologi ASEAN Way ini juga diakui oleh sekutu ASEAN. Melalui layout regionalnya, ASEAN dapat membangun hubungan yang baik dengan partner luar wilayah seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, yang mana bergabung dalam pendekatan regionalism yang dipimpin ASEAN. (Singh, 2017). Melihat sejarahnya, negara-negara anggota ASEAN memiliki budaya yang cukup similar satu sama lain dengan masa lalu yang sama dalam menjadi negara bekas jajahan koloni. Tidak mengherankan jika negara-negara anggota ASEAN menggunakan konsep ASEAN Way sebagai cara untuk menyelesaikan konflik.

ASEAN sebagai satu kesatuan, memiliki internal struggle yang terjadi sampai saat ini, yaitu menguatkan unity dari negara-negara anggota ASEAN sendiri. To reunite, merupakan salah satu alasan utama terminologi ASEAN Way ini muncul. Namun sebenarnya terminologi ASEAN Way merupakan prinsip-prinsip yang ada dalam ASEAN. Negara-negara anggota ASEAN telah menyepakati prinsip-prinsip yang berlaku, yang merupakan seperangkat working guidelines yang mengatur tata cara pengelolaan konflik diatur oleh Asosiasi, meliputi prinsip-prinsip mencari kesepakatan dan harmoni, prinsip kepekaan, kesopanan, non-konfrontasi dan musyawarah mufakat, serta prinsip tenteram (Goh, 2003). Penting untuk dicatat bahwa rangkaian prinsip ini menggambarkan how to act daripada hasil akhirnya nanti. Artinya, prinsip-prinsip ini tidak mengidentifikasi tujuan khusus dari kebijakan seperti pelestarian integritas teritorial. Sebaliknya, itu mengatur cara di mana negara-negara anggota harus mengelola urusan mereka dan berinteraksi satu sama lain dalam konteks ASEAN.

Selain itu, ada lagi dua prinsip utama ASEAN yaitu menghargai kedaulatan dan integritas territorial yang diberlakukan untuk semua negara-negara anggota ASEAN, non-intervensi dalam urusan internal negara masing-masing, penyelesaian masalah secara damai, serta penolakan atas ancaman atau penggunaan kekerasan apapun. Prinsip-prinsip yang diberlakukan ini, sangatlah berbeda dengan realitanya. Beberapa kali ASEAN menggunakan prinsip-prinsip ini untuk membantu turun tangan dan menyelesaikan suatu konflik. Keyakinan berbasis budaya dalam melakukan sesuatu mendasari bagaimana mengatur tindakan ASEAN yang membentuk ASEAN Way yang sebenarnya. Beberapa konflik yang mana ASEAN ikut serta dalam menyelesaikannya ialah kasus Kamboja, dan yang paling baru yaitu bagaimana ASEAN berperan dalam menghadapi kasus di Laut Tiongkok Selatan sesuai dengan prinsip-prinsip ASEAN, atau dengan ASEAN Way.

Satu yang ditekankan lagi dan lagi oleh ASEAN adalah sikap non-intervensinya terhadap kasus-kasus internal yang terjadi dalam negara-negara anggotanya. Prinsip ini sebenarnya lebih mengarah kepada menciptakan mutual respect and understanding antara negara-negara anggota. Namun dalam suatu kasus yang terjadi, yang jelas sudah memberikan dampak yang buruk, memang sudah seharusnya ASEAN sebagai organisasi nasional yang exist dan berpeluang, membantu dalam menyelesaikan kasus yang terjadi. Tetap pada pendirian, ASEAN pada realitanya akan bertahan pada prinsipnya untuk tidak ikut campur. Hal ini dinilai akan menimbulkan ‘retakan’ terhadap hubungan yang sudah dibangun oleh negara-negara anggota ASEAN ini, yang mana merujuk pada timbulnya pertimbangan dalam ASEAN untuk menentukan pijakan memilih Amerika Serikat atau Tiongkok.

Dalam argumentasi Singh (2017), terlihat bahwa dilema yang melanda ASEAN untuk berpihak pada sisi Amerika Serikat atau Tiongkok, dikarenakan berkurangnya solidaritas atau unity antara negara-negara anggota yang saat ini mulai terpecah karena besarnya pengaruh Tiongkok yang mulai masuk negara-negara anggota ASEAN dan mempengaruhi negara-negara anggota untuk membuat keputusan pasti. Hal ini dikarenakan wilayah ASEAN ini sangat lekat dengan Laut Tiongkok Selatan dan sangatlah berpengaruh keputusan ASEAN as a whole untuk membantu menyelesaikan sengketa ini, karena Laut Tiongkok Selatan merupakan bagian dari teritori negara-negara anggota ASEAN. Tidak melupakan peran Amerika dalam ASEAN, Amerika sendiri memulai menjalin hubungan dengan ASEAN sejak 1977 sebagai dialogue partner. Peran Amerika juga besar dalam perkembangan ekonomi ASEAN mengingat kembali kerja sama yang dilakukan ASEAN dengan Amerika beragam mulai dari pendidikan, sampai berfokus pada perdagangan dan investasi yang berlangsung sampai saat ini.

Maka itu, dalam Joint Communique of the 53rd ASEAN Foreign Ministers Meeting pada 9 September lalu, ASEAN mengumumkan untuk memilih jalur diplomatik untuk melibatkan kemampuannya untuk balance, hedge and bandwagon antara Tiongkok dan Amerika. ASEAN menyeimbangi antara Amerika dan Tiongkok melalui kerja sama ekonomi yang dilakukan itu hanya sesuai perjanjian seperti Amerika dengan ASEAN yang relasinya merupakan jembatan untuk perdagangan internasional dan Tiongkok dengan ASEAN fokus ke dalam perkembangan infrastruktur melalui BRI. Keputusan ini lah yang bisa dibilang dengan merealisasikan ASEAN Way ini. ASEAN tidak berpihak ke sisi manapun justru tetap berada dalam grey area dan memilih jalur diplomasi untuk menjaga ketentraman dan stabilitas keamanan yang muncul di wilayah Asia ini karena sengitnya permasalahan sengketa Laut Tiongkok Selatan.

Daftar Pustaka

Beeson, M. (2016). Can ASEAN Cope with China?. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 35(1), 5-28. https://doi.org/10.1177%2F186810341603500101

Corbacho, A. & Peiris, S. J. (2018). The ASEAN Way. International Monetary Fund.

Goh, G. H. L. (2003). The “ASEAN Way”: Non-Intervention and ASEAN’s Role in Conflict. Stanford Journal of East Asian Affairs, 3(1), 27-28. https://www.academia.edu/3988485/113Gillian_Goh_Stanford_Journal_of_East_Asian_Affairs_GreaterEastAsia_The_ASEAN_Way_Non_Intervention_and_ASEAN_s_Role_in_Conflict_Managementin_conflicts_in_Haiti_and_Nicaragua_and_between?source=swp_share

Singh, B. “Japan-ASEAN Relations: Challenges, Impact and Strategic Options.” Panorama: Insights into Asian and European Affairs, no. 1 (2017): 95-106. https://www.rsis.edu.sg/staff-publication/japan-asean-relations-challenges-impact-and-strategic-options/

Author:

31 thoughts on “Realisasi ASEAN Way

  1. Artikelnya menarik dan penjelasannya juga sistematis sehingga mudah dipahami, sangat bermanfaat👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  2. Artikel yang menarik untuk dibahas atau mungkin didebatkan lebih lanjut karena memang ASEAN Ways amat rumit untuk direalisasi apabila menyangkut Tiongkok dan AS. Artikel ini menunjukan secara sederhana namun lengkap bahwasanya pengaruh dari negara-negara seperti AS dan Tiongkok dapat membuat goyah negara ASEAN untuk kukuh menjalankan ASEAN Ways mereka terutama terkait isu LCS.

    Great job cinnnn
    Ditunggu artikel lanjutannya ya. 😉😉

  3. ASEAN Way juga yang menjadikan politik antar kawasan stabil karena negara yang berkonflik akan dibantu mediasi oleh pihak lain yang juga anggota ASEAN, nice artikel

  4. Pingback:Discover More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *