Perubahan Pola Hubungan Ekonomi Korea Selatan Dan Jepang

Jika menilik dari sejarahnya, Korea Selatan sudah lama memiliki hubungan dengan Jepang mengingat Korea Selatan merupakan negara bekas jajahan dari Jepang. Selain hubungan politik karena kolonialisme Jepang, keduanya juga memiliki hubungan ekonomi. Dalam hubungan ekonomi ini, Korea Selatan lebih banyak melakukan ekspor ke Jepang, ekspor tersebut yaitu berupa komoditas utama seperti beras, gandum, buah, kacang-kacangan, ikan, batu bara, biji besi, dan masih banyak lagi, lalu juga ada barang manufaktur seperti bahan kimia, produk minyak bumi, produk logam, makan dan minuman olahan, tekstil dan lain lain. Perdagangan dengan Jepang menyumbang lebih dari 80% ekspor dan impor selama dekade 1930-an. Selama pendudukan kolonial, secara bertahap beberapa industri ringan dikembangkan dan pada awal tahun 1930-an, barang-barang manufaktur mencakup sekitar 20% ekspor (Hong, 1979).

Namun hubungan keduanya ini sempat terputus pasca Perang Dunia II yang juga menandai berakhirnya kolonial Jepang atas Korea Selatan. Hubungan keduanya mulai terjalin kembali saat terjadinya Perang Korea yang mendorong terciptanya perdagangan antara Korea Selatan dengan Jepang. Hubungan keduanya pun mulai membaik pada awal 1960-an yang ditandai dengan terjalinnya kembali perdagangan antara Korea Selatan dan Jepang. Kemudian di tahun 1962 Korea Selatan dan Jepang telah mencapai kesepakatan yaitu dengan Jepang yang memberikan hibah senilai $300 juta kepada Korea Selatan. Kesepakatan tersebut bernama The Treaty on Basic Relations (Perjanjian Hubungan Dasar) antara Korea Selatan dan Jepang. Selain hibah yang diberikan oleh Jepang, di dalam kesepakatan ini juga disepakati dengan Jepang yang memberikan bantuan pinjaman kepada Korea Selatan sebesar $200 juta, dan juga pinjaman komersial dari $300 juta.

Hubungan yang mulai membaik ini lebih terlihat jelas lagi setelah dilakukannya normalisasi hubungan diplomatik pada tahun 1965. Keputusan Korea Selatan untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Jepang pada awalnya mendapatkan kritik karena mengingat sejarah luka lama akan kolonialisme yang dilakukan oleh Jepang dan ditambah dengan status Jepang yang pada saat itu sebagai negara yang kalah dalam Perang Dunia II (Kim, 2017). Namun kondisi Korea Selatan pada saat itu yang hancur akibat dari Perang Korea membuatnya memungkinkan untuk mengambil keputusan tersebut. Korea Selatan pun menjadi ketergantungan (dependensi) terhadap Jepang, terutama akan impor dan teknologi dari Jepang.

Korea Selatan yang tidak pernah mencapai surplus perdagangan dengan Jepang dan mengalami defisit perdagangan yang terus meningkat secara signifikan pada akhirnya melakukan ‘Rencana Lima Tahun Pertama untuk Koreksi Ketidakseimbangan Perdagangan dengan Jepang’ pada tahun 1986. Korea Selatan mengganti impor untuk lokalisasi produk-produk yang dinilai tidak seimbang dan tidak dapat bersaing dengan Jepang seperti manufaktur mesin, material, dan komponen. Dan tidak lupa juga untuk mempromosikan ekspornya. Usaha Korea Selatan ini pada akhirnya membuahkan hasil dan untuk pertama kalinya Korea Selatan mencapai surplus perdagangan. Selanjutnya pada tahun 1967-1971 Korea Selatan melakukan ‘Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun yang kedua’ yang pada akhirnya membuat pembangunan ekonominya meningkat dengan pesat. Selain itu, normalisasi hubungan diplomatik yang terjadi tahun 1965 juga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Korea Selatan melalui Official Development Assistence (ODA) Jepang ke Korea Selatan, ekspansi perdagangan, dan Foreign Direct Investment (FDI) oleh perusahaan Jepang. Ketidakseimbangan yang sebelumnya terus-menerus terjadi antara  Korea Selatan  dengan Jepang inilah yang pada akhirnya membuat Korea  Selatan terus berusaha mengejar ketinggalannya dengan Jepang. Namun, hubungan ekonomi Korea Selatan dengan Jepang juga tidak selalu mengalami ketidakseimbangan. Seperti pasca terjadinya krisis mata uang Asia pada tahun 1997 dimana Korea Selatan berkomitmen untuk melaksanakan reformasi struktural domestiknya yang membuat kemajuan dalam globalisasi ekonominya dengan menyelesaikan banyak FTA secara bersamaan dan juga membuat perusahaan global bermunculan di Korea Selatan secara bertahap. Selain itu, pada tahun 1999 pemerintah Korea Selatan juga telah menghapuskan larangan impor dari Jepang. Keputusan yang diambil pemerintah Korea dalam bidang ekonomi globalisasi membuat perusahaan Korea Selatan berusaha keras untuk bersaing dengan perusahaan Jepang. Menurut OECD (dalam James, 2001), saham Jepang keluar dari FDI pada tahun 1996 mencapai $ 259 miliar hampir sembilan kali lipat dari $ 30 miliar. Korea Selatan memiliki saham FDI keluar sekitar $ 14 miliar pada tahun 1996 naik dari hanya $ 0,6 miliar pada tahun 1986. Pembatasan Korea Selatan pada inward-FDI dari Jepang (dan negara lain) mungkin telah membatasi kemampuannya untuk menembus pasar Jepang melalui perdagangan intra-industri. Oleh karena itu, defisit bilateral dengan Jepang diperburuk di sisi permintaan oleh permintaan Korea yang tinggi untuk pabrik dan peralatan serta input perantara dari Jepang dan di sisi pasokan oleh pembatasan inward-FDI oleh perusahaan multinasional Jepang.

Lama kelamaan pola hubungan ekonomi keduanya pun berubah dari yang awalnya bersifat ketergantungan (dependensi) kemudian berubah menjadi (interdependensi). Hubungan yang menjadi saling ketergantungan ini terlihat ketika Tiongkok muncul dengan perekonomiannya yang berkembang pesat. Yang mana kemunculan Tiongkok ini membuat aliran perdaganagan Korea Selatan yang pada awalnya ke Jepang, kemudian beralih menjadi ke Tiongkok. Jepang yang sejak tahun 1988 merupakan mitra impor terbesar Korea Selatan kemudian posisinya digantikan oleh Tiongkok pada tahun 2010. Pola hubungan Korea Selatan dan Jepang yang saling ketergantungan ini juga terlihat pada kerja sama kedua negara tersebut di negara ketiga seperti yang terjadi pada tahun 2003 yaitu kerja sama antara Korea Selatan dan Jepang dalam bisnis pembangunan pabrik pembangkit listrik Tihama di Arab Saudi. Kemudian pada tahun 2009 pada saat harga minyak internasional meningkat yang pada akhirnya menciptakan kesempatan bagi perusahaan Korea dan Jepang untuk bekerja sama di negara ketiga yang dirasa menawarkan keuntungan.

Referensi:

Hong, W. (1979). Trade, Distortions and Employment in Korea. Korean Developmental Institute.

James, W., E. (2001). Trade Relations of Korea and Japan: Moving From Conflict to Cooperation? (East-West Center Working Paper No. 11). East-West Center. https://www.eastwestcenter.org/sites/default/files/private/ECONwp011.pdf

Kim, G., P. (2017). Korea’s Economic Relations With Japan. Korea’s Economy, 31, 23-30.  http://keia.org/sites/default/files/publications/kei_koreaseconomy_2016_170606.pdf

Author: Zhafira Anandita

Jepang dan Negara Industri

101 thoughts on “Perubahan Pola Hubungan Ekonomi Korea Selatan Dan Jepang

  1. Artikel yg sangat menarik dan mudah dipahami. Dengan penjelasan yg sedemikian rupa tapi bisa membuat pembaca mudah memahami dan mengerti. Penulisan artikelnya pun sangat rapi dan rinci. Sanget kreatif. Banyak menambah wawasan bagi pembacanya.. terimakasih untuk pembuat artikel ka zhafira anandhita . Semoga sukses dan selalu mempersembahkan artikel artikel lain yg lebih menarik lagi dengan penulisan dan detail yg mudah dipahamin oleh pembaca. Terimakasih ❤❤❤

  2. Artikelnya bagus banget, bahasanya juga gampang di cerna. Baik sekali untuk nambah wawasan
    Terima kasih untuk pembuat artikel Zhafira Anadhita semoga sukses selalu👍♥

    1. Artikel yang sangat bagus dan menarik untuk dapat dipahami karena pembahasannya sangat menarik minat untuk para pembacanya. Terimakasih untuk pembuat artikel . Sukses terus untuk Zhafira .

  3. Seperti yg kita tau sekarang perekonomian korea selatan berkembang sangat pesat sebelum adanya wabah virus covid 19. Korea selatan salah satu negara yg bertahan dari jajahan jepang dan juga korea utara. Untuk Artikelnya mudah di pahami dan di mengerti oleh pembacanya, thanks artikelnya dapat menambah wawasan.

  4. Sangat menarik artikelnya, dapat menambah wawasan dan bisa diambil pelajaran bagi kita masyarakat indonesia, dimana negara kita sedang menuju ke negara maju, yang juga bekas jajahan jepang.

  5. Artikel menarik dan sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang dunia. semoga nilai-nilai baiknya dapat jadi inspirasi untuk indonesia agar bisa maju dan bersaing dengan dunia dan benua asia khususnya.

  6. Artikelnya sangat informatif dan edukatif, saya senang membacanya dan overall sudah menjelaskan mengenai hubungan ekonomi Korea Selatan dan Jepang, thanks for the article Zap🤗

    1. Artikelnya cukup bagus dalam pembahasannya alangkah lebih baik lagi dikasih flowchart alur dari penelitian ini, dan semoga penulis untuk terus belajar dan berkembang menjadi orang yang lebih baik lagi

  7. Artikel yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang per-ekonomi-an dunia. Padahal kalau dilihat dari sejarah korea dan indonesia sama-pernah dijajah jepang, tapi dari segi ekonomi korea bisa lebih maju lebih dulu. Semoga nilai-nilai baiknya dapat jadi inspirasi untuk indonesia agar bisa maju dan bersaing dengan dunia dan benua asia khususnya.

  8. Dengan penjelasan yg sedemikian rupa tapi bisa membuat pembaca mudah memahami dan mengerti. Penulisan artikelnya pun sangat rapi dan rinci.

  9. Artikelnya menarik juga informatif, begitu juga beberapa data yang dijabarkan cukup memperkuat artikel, dan dapat menambah wawasan Mahasiswa HI yang mencari kasus ini, Bagus.

  10. Artikel yg menarik membahas mengenai perekonomian korea dan jepang..
    Terimakasih zhafira sudah menambah wawasan saya dari artikel ini 😊

  11. Seperti yg kita tau sekarang perekonomian korea selatan berkembang sangat pesat sebelum adanya wabah virus covid 19. Korea selatan salah satu negara yg bertahan dari jajahan jepang dan juga korea utara. Untuk Artikelnya mudah di pahami dan di mengerti oleh pembacanya, thanks artikelnya dapat menambah wawasan.

  12. Wowww artikelnya sangat menarik, hubungan 2 negara ini memang selalu menarik untuk diteliti, terima kasih banyak author karna membuat artikel yg informatif seperti ini, ditunggu tulisan lainnya yg menarik👍🏻👍🏻👍🏻

  13. Wowww artikelnya sangat menarik, hubungan 2 negara ini memang selalu menarik untuk diteliti, terima kasih banyak author karna membuat artikel yg informatif seperti ini, ditunggu tulisan lainnya yg menarik👍🏻👍🏻👍🏻

  14. Artikel ini sangat baik dan mudah di pahami. Serta artikel ini di angkat dari data dan fakta yang ada..semoga terus berkembang memberikan artikel artikel yang menambah wawasan

  15. Pola ekonomi yang saling ketergantungan tersebut menjadikan hubungan antar kedua negara semakin erat, hal ini akan memungkinkan bahwa Korea Selatan dan Jepang juga memiliki hubungan lain selain perihal ekonomi. Hubungan simbiosis mutualisme ini menimbulkan dampak yang cukup positif agar kedamaian dunia ini semakin terjaga. Dan Tiongkok, sebagai negara kompetitor harus bisa menyeimbangkan kondisi perekonomian dunia, karena penduduknya yang banyak dan bisa menjadi target pasar yang bagus.

  16. Artikelnya bagus dan mudah untuk di pahami pembaca dan semoga tetap terus mengembangkan artikel lain untuk menambah wawasan 🤗

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *