Pengaruh Masa Lalu Terhadap Hubungan Ekonomi Korea Selatan dan Jepang

Korea Selatan dan Jepang merupakan dua negara yang saling berdekatan secara geografis karena berada di satu kawasan Asia yaitu Asia Timur. Kedekatan letak geografis ini memberikan beberapa persamaan nilai dan budaya antar dua negara tersebut. Selain adanya kesamaan nilai dan budaya, hal yang tidak bisa dilepaskan adalah sejarah yang dimiliki antara Korea Selatan dan Jepang. Sejarah merupakan sebuah peristiwa masa lalu telah memberikan dinamika tersendiri bagi hubungan bilateral diantara kedua negara. Pada tahun 1910, semenanjung Korea yang saat itu belum terbagi menjadi bagian Korea Utara maupun Korea Selatan berhasil diduduki kepemimpinan Jepang. Hal ini mengakibatkan banyak kebijakan-kebijakan yang diterapkan lebih menguntungkan bagi pihak Jepang dibandingkan win win solution. Pelarangan penggunaan bahasa resmi Korea hingga menjadi wanita penghibur atau dengan istilah “comfort woman” menjadi salah satu kenangan pahit yang dimiliki Korea atas perilaku Jepang kala itu. Menurut Bell (dalam Adityani, 2018), untuk mengetahui pentingnya suatu kejadian di masa lalu dalam menjelaskan keadaan saat ini diperlukan konsep memory, war, and world politics. Tidak dapat dipungkiri jika kenangan pahit Korea atas sikap Jepang telah membekas dan memberikan stigma buruk bagi Korea sehingga menimbulkan anti Jepang bagi kalangan muda yang notabene tidak ikut secara langsung merasakan kenangan pahit masa lalu tersebut. Hubungan bilateral Korea Selatan dan Jepang mengalami normalisasi kembali ditandai dengan adanya hubungan ekonomi pada tahun 1965. Hubungan ekonomi ini pun semula berjalan dengan sistem dependency yakni adanya sebuah ketergantungan ekonomi yang terjadi dari Korea Selatan kepada Jepang. Saat terjalinnya hubungan ekonomi di tahun 1965, GDP yang diperoleh Korea Selatan hanya sebesar 10% dari GDP perkapita yang dimiliki oleh Jepang dan ini menandakan adanya ketertinggalan kemajuan ekonomi yang dimiliki Korea Selatan jika dibandingkan dengan Jepang (Kim, 2017). Meskipun hubungan ekonomi sudah terjalin antar kedua negara, namun hal ini menuai kontroversi dari pihak Korea Selatan mengingat goresan luka masa lalu yang telah diberikan Jepang begitu membekas. Di sisi lain, Korea Selatan dilanda dilema mengingat kondisi perpolitikan dalam negerinya sendiri yang bergejolak hingga hancur total akibat Perang Korea. Normalisasi hubungan ini menjadi dua mata pisau bagi Korea Selatan, tidak dapat dipungkiri dimana ada keinginan untuk memperbaiki kondisi dalam negerinya tetapi juga ada kenangan masa lalu yang masih sangat membekas dalam ingatan.

Keputusan normalisasi hubungan Korea Selatan dengan Jepang tidak hanya sebatas perjanjian hitam diatas putih saja tetapi Jepang juga memberikan bantuan ekonomi berupa uang bagi Korea Selatan yang kala itu sedang dalam masa pembangunan negara pasca perang. Berdasarkan Kim (2017), pada Korean-Japan Basic Treaty diketahui bahwa masing-masing pihak telah menyetujui untuk Jepang memberikan bantuan kepada Korea Selatan sebesar $300 juta bantuan hibah, $200 juta bantuan pinjaman, $300 juta pinjaman komersial. Bantuan ekonomi yang diberikan oleh Jepang ini juga merupakan salah satu bentuk dari kompensasi terhadap perlakuan Jepang kepada Korea Selatan di masa lalu. Jepang yang dapat dikatakan sebagai negara lebih unggul perekonomiannya dibandingkan Korea Selatan ini memberikan dampak ketergantungan ekonomi bagi Korea Selatan dengan terjalinnya hubungan bilateral kedua negara tersebut. Pada tahun 1980, sebesar 30% Official Development Assistant (ODA) dari Jepang ini dialokasikan Korea Selatan untuk mengimpor teknologi Jepang dan mendirikan perusahaan-perusahaan yang mengadopsi teknologi dari Jepang sehingga dapat melakukan kerja sama serta mendirikan usaha bersama dengan teknologi tingkat tinggi (Kim, 2017). Pohang Steelworks merupakan salah satu perusahaan pemuat baja dari Korea Selatan yang bekerja sama dengan perusahaan Jepang bernama Yawata Steel. Berdasarkan Kim (2017), dengan terjalinnya kerja sama antar perusahaan dua negara ini membuat Badan Promosi Jepang yaitu Bank Ekspor-Impor asal Jepang memberikan suntikan dana sebesar $500 juta yang dapat digunakan Korea Selatan untuk mengimpor mesin dan pabrik industri dari Jepang. Sangat jelas terlihat bagaimana perilaku baik yang ditunjukkan Jepang namun tanpa disadari memberikan dampak negatif bagi Korea Selatan yaitu situasi dan kondisi ketergantungan kepada Jepang.

Terjalinnya kerja sama yang dibangun antara Korea Selatan dan Jepang tidak lepas dari adanya rasa kekhawatiran pada kondisi ketidakseimbangan perdagangan yang mengakibatkan kerugian. Rasa kekhawatiran ini tidak muncul begitu saja melainkan dilihat sejak disepakatinya Korean-Japan Basic Treaty, Korea Selatan tidak pernah mengalami surplus perdagangan. Pada tahun 1974, Korea Selatan mengalami defisit perdagangan sebesar $1 juta dan terus meningkat setiap tahunnya (Kim, 2017). Kondisi perekonomian berubah, Korea Selatan mendapatkan angin positif dari perdagangannya dimana memperoleh surplus untuk pertama kalinya pada tahun 1986 yang dilatarbelakangi oleh “Rencana Lima Tahun Pertama untuk Koreksi Ketidakseimbangan Perdagangan dengan Jepang” dan Korea Selatan melakukan kembali “Rencana Lima Tahun ke-2 untuk Pelokalan Mesin, Material, dan Komponen”. Keadaan dunia yang bersifat dinamis telah  memberikan suasana baru di tahun 1997 dimana pada saat itu terjadi krisis mata uang Asia. Situasi ini memberikan angin segar bagi Korea Selatan dimana dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk mempercepat reformasi struktural dalam negerinya yang mengakibatkan perekonomian Korea Selatan mengglobal. Tahun 2000 menjadi bukti konkrit kemajuan Korea Selatan dimana perusahaan-perusahaan asal Korea Selatan dapat bersaing secara global dengan perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki kemajuan teknologi. Hubungan yang semula bersifat dependency kini berubah menjadi interdependency antara Korea Selatan dan Jepang. Kemajuan perekonomian Korea Selatan selaras dengan perkembangan dunia yang pada saat itu sedang mengalami tingginya permintaan sumber energi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan bagi Korea Selatan dan Jepang untuk bekerja sama guna mencukupi kebutuhan pasar. Tahun 2003 menjadi tahun bagi Korea Selatan dan Jepang untuk melakukan kerja sama dalam bidang pembangunan pembangkit listrik. Selain itu, Korea Selatan dan Jepang juga melakukan kerja sama di negara ketiga untuk mencukupi pasokan permintaan sumber energi bagi pasar dunia. Keuntungan bagi Korea Selatan dan Jepang dimana pada tahun 2009, harga minyak dunia sedang tinggi dan ini memberikan kekhawatiran baru bagi negara ketiga karena melihat dari pertumbuhan perekonomian di negara ketiga yang melambat. Perkembangan hubungan bilateral ekonomi yang saling menguntungkan ini tidak bisa lepas dari sejarah masa lalu yang dimiliki Korea Selatan dan Jepang. Menurut Adityani (2018), Korea Selatan dibawah kepemimpinan Park Geun-hye mengatakan untuk  Jepang secara tulus meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada para korban “comfort women” dan Jepang yang pada saat itu masih dipimpin Shinzo Abe mulai mengubah posisinya yaitu dengan meminta maaf dan memberikan kompensasi bagi para korban yang ditandai dengan disepakati secara bersama perjanjian mengenai “comfort women” pada tahun 2015.

Daftar Pustaka

Adityani, F. D. (2018). Memori dan Trauma dalam Hubungan Internasional: Pengaruh Isu “Comfort Women” terhadap Kerjasama Keamanan Jepang dan Korea Selatan. Journal of International Relations, 4(1), 22-30. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jihi/article/view/19038/18096

Kim, G., P. (2017). Korea’s Economic Relations With Japan. Korea Economy, 31, 23-29. http://keia.org/sites/default/files/publications/kei_koreaseconomy_2016_170606.pdf

Author: Qisthy Vidia

58 thoughts on “Pengaruh Masa Lalu Terhadap Hubungan Ekonomi Korea Selatan dan Jepang

  1. Hubungan ekonomi kasawan di Asia Timur memang kompleks banget sih, karena pertarungan ideologi politik, peristiwa masa lalu, dan persaingan perusahaan-perusahaan multinasional di masing-masing negara. Terlepas dari peristiwa yang mendera Jepang dan Korea pada masa lalu, toh perusahaan teknologi raksasa yang berbasis di Korea Selatan seperti Samsung, LG, SK Hynix, dan Hyundai, masih sangat bergantung pada Jepang sebagai negara pemasok bahan kimia global.

  2. Pembahasannya sangat menarik dan dikemas dengan bahasa yang lugas, sehingga poin penting dalam artikel mampu dipahami dengan baik. Terima kasih Author

  3. Pingback:private hottie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *