Kompleksitas Keamanan di Asia Tenggara Pasca Perang Dingin

Setelah perang dingin kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan yang memiliki sifat bipolar yang setelah Perang Dunia kedua. Thailand Yang merupakan Kawasan Maritim Asia Tenggara Dalam Kebijakan Luar Negeri memiliki pandangan anti komunis dan telah mengangkat pandangan pro-barat. Thailand dan negara maritim lainnya telah beranggapan bahwa ancaman yang paling utama bagi keamanan dalam negeri adalah pemberontakan komunis. Kemudian pada tahun 1970-an dan 1980-an sampai dengan runtuhnya perang dingin, dikoordinasikan melalui ASEAN Asia Tenggara membuat kebijakan kerjasama kebijakan eksternal. Sementara itu di Indonesia situasi politik yang berbeda. Untuk menjadi merdeka para nasionalis berjuang dan saling terkait dengan ideologi revolusioner komunisme. Uni Soviet dan Tiongkok yang mendapat dukungan dari moral dan materi dari partai komunis Indochina telah mengkoordinasikan perjuangan kemerdekaan. Akhir dari perang Indochina diikuti dengan cepat oleh perang kedua yang melibatkan Kamboja dan juga Laos dengan kesetaraan kolonialisme Prancis di Uni Indochina (Ganesan, 2001).

Secara ideologis Asia Tenggara menjadi penentang antara ujung Indochina yang pro-komunis dan anti barat. Kemudian terlibatnya kekuatan eksternal di Indonesia semakin memperburuk terjadinya konflik. Pada tahun 1962 hingga akhir 1980-an Burma mengalami kudeta militer dan telah mengadopsi kebijakan netralitas berupa mengisolasi diri dan isolasionisme dari hubungan internasional Asia Tenggara.

Asia tenggara memiliki dua kompleks keamanan yang telah dipuji oleh para akademisi konvensional yang berasal dari interaksi historis dan kedekatan geografis. Kompleks pertama yaitu kepulauan melayu yang dimana Indonesia menjadi kekuatan hegemoni dan dominan, yang telah mengelompokan lima negara maritim Asia Tenggara (Rachmat & Arthur, 2016). Pada tahun 1955 Asia-Afrika sebagai penyelenggara KTT di Bandung dan juga anggota pendiri gerakan non-blok, pada tahun 1950-an dan 1960-an Indonesia mengklaim atas dasar Kepemimpinan Dunia Ketiga (Ganesan, 2001). Pada tahun 1965 Singapura yang sempat membuat resah Malaysia dan Indonesia mengabaikan dari Federasi Malaysia. Kompleks kedua yang dimainkan oleh Vietnam dan Thailand untuk mengelompokan lima negara di Asia Tenggara. Dalam komplek kedua ini yang menjadi kekuatan dominan dengan ambisi hegemonik yaitu Vietnam. Sedangkan yang menjadi kekuatan tengah yang mampu menangkis ancaman dari Vietnam yaitu Thailand.

Sejak pertengahan 1980-an yang dilambangkan dengan hancurnya tembok Berlin dan juga pada tahun 1991 runtuhnya Soviet yang pada akhirnya telah mengubah struktur dinamika bipolar, yang akan berefek pada perubahan struktur sub-sistemik perang dingin. Runtuhnya kompleks keamanan Indochina di Asia Tenggara telah menjadi efek pengurangan tekanan paling signifikan. Thailand dan Malaysia merupakan negara yang memiliki akar sejarah permasalahan.

Secara tradisional Malaysia memiliki fungsi baik pada kepulauan Melayu. Untuk maritim Asia Tenggara sendiri yang ditujukan yaitu pola tradisional interaksi. Komunitas islam Melayu telah menganggap Asia Tenggara maritim adalah rumah baginya. Bahwa dapat dilihat perbedan antara Malaysia dan Thailand setelah perang dunia II yaitu kurangnya interaksi. Dinamika kawasan perang dingin merupakan hasil dari keterkaitannya Thailand dengan ASEAN dan Asia Tenggara maritim. Kemudian dapat dilihat adanya peran baru pasca perang dingin, yaitu Thailand telah membuka hubungan rel dan jalan dengan Laos. Akhirnya, masyarakat bangga mengakui bahwa mereka memiliki keunggulan budaya daripada pesaing daratan Asia Tenggara mereka.

Untuk menunjukkan bahwa tidak adanya ketegangan bilateral terhadap negara yaitu Thailand dengan Malaysia dan juga terhadap gravitasi alami dataran Asia Tenggara yang terjadi baru-baru ini.  Saparatisme dan juga pemberontak lah yang menjadi salah satu pengganggu dalam hubungan ini. Ketegangan kedaulatan Thailand ini berasal dari empat negara bagian sebelumnya yaitu, pada perjanjian Anglo-Prancis 1896 dan bagian Melayu Utara yang sebelumnya merupakan ketentuan dari Thailand.

Daftar Pustaka:

Ganesan, N. (2001). Hubungan Thailand dengan Malaysia dan Myanmar di Asia Tenggara Pasca Perang Dingin. Jurnal Ilmu Politik Jepang, 2(01), 127-146. http://journals.cambridge.org/abstract_S1468109901000160

Rachmat, N., Y., Arthur, J., & MA, (IR). (2016). Anomali Keamanan di Asia Tenggara Pasca Perang Dingin [Thesis S2, Universitas Gajah Mada]. perpustakaan Universitas Gajah Mada. http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/98286

44 thoughts on “Kompleksitas Keamanan di Asia Tenggara Pasca Perang Dingin

  1. Sangat menarik, pergolakan antara komunisme dan pro barat di Asia Tenggara sangat jarang diulas, namun dikupas tuntas dalam artikel ini. Good Job Bela!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *