Kebijakan Moneter Hong Kong pada Era Kependudukan Jepang

Selama Perang Asia Pasifik yang terjadi pada 7 Desember 1941 – 2 September 1945 Jepang melakukan serangan kependudukan terhadap Hong Kong dari strategi diplomatik hingga strategi militer. Serangan yang dilakukan oleh Jepang selama kependudukannya di Hong Kong terlihat dari kebijakan dan perintah yang dikeluarkan oleh otoritas Jepang dan asosiasi mereka dengan bangsawan Tiongkok di Hong Kong yang berhasil menguasai kota. Strategi diplomatik dan strategi militer Jepang disebut dengan nanshiron. Kedudukan Jepang di kawasan Asia Tenggara melihat dari potensi Sumber Daya Alam di kawasan tersebut. Mata uang militer Jepang atau yang disebut gunpyo dan adanya larangan penggunaan dolar Hong Kong hingga menyebabkan masalah besar di dalam kota (Miyahira, 2017).

Dalam konsep “Developmental State” terdapat dua pandangan mengenai ruang lingkup kewenangan negara. Pandangan minimalis, mengenai negara dengan membatasi tindakannya pada beberapa fungsi yang tidak mungkin dilakukan oleh entitas lain selain negara. Serta pandangan lain mengenai negara sebagai pemikul tugas dalam pembangunan ekonomi dan manusia dari semua warganya. Sehingga terdapat perdebatan antara konsep pada dasarnya dalam struktur otoriter dan konsep lain yang menginginkan negara untuk bertanggung jawab kepada sebagian besar warganya dari segala tindakannya. Konsep “Developmental State” atau pembangunan negara membutuhkan konstruksi birokrasi rasional dan perluasan sayap negara atas semua warga negara tersebut. Di sebagian negara, hal ini terjadi setelah adanya kepergian kekuatan kolonial, pendisiplinan anggota kelas penguasa, dan beberapa proyek untuk membangun negara berkembang yang dipandang sebagai upaya baru untuk mendisiplinkan negara tersebut (Bagchi, 2004, hlm. 3-10).

Jepang memperluas perkembangan negaranya dengan konsep “Developmental State” menggunakan doktrin nanshiron di kawasan Asia Pasifik. Menurut Alexander (2001, hlm. 124) dalam publikasi penelitian yang berjudul Japan and the Pasific Island Countries, dalam sejarahnya Jepang memiliki keterlibatan dengan kawasan Pasifik. Ketertarikan tersebut menjadi besar pada akhir abad ke-19, ketika pulau-pulau di selatan dipandang sebagai wilayah yang berpotensi untuk ekspansi kolonial. Seorang intelektual pada teori militer tentang ekspansi ke selatan yang disebut dengan nanshiron berfokus pada rute ‘dalam’ ke selatan. Dari Okinawa ke Taiwan, Hong Kong, Indo-China, dan ke selatan. Hongkong, sebagai salah satu negara yang mempunyai relasi kerja sama ekonomi dan penerapan konsep “Developmental State” dalam proses pembangunan di Hong Kong dengan melakukan pendudukan yang berlangsung selama Perang Asia Pasifik terjadi.

Kebijakan dan perintah yang dikeluarkan oleh Jepang ketika melakukan pendudukan di Hong Kong salah satunya ialah mata uang militer Jepang atau yang disebut dengan gunpyo hingga larangan mata uang dolar Hong Kong. Selama masa pendudukan Jepang, Jepang mengubah sistem Administrasi distrik organisasi Hong Kong dan sistem kalender era umum diganti dengan periodisasi Era Jepang. Pada 20 April 1942, otoritas Jepang mendirikan 12 kantor lingkungan di bawah kendali kantor distrik Pulau Hong Kong, Sembilan di bawah Kowloon kantor distrik dan tujuh di bawah kantor distrik New Territories. Kantor lingkungan tersebut merupakan tempat di mana orang-orang dapat menukar Dolar Hong Kong mereka dengan yen militer Jepang.

Pemerintah Jepang kemudian mempromosikan “Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” dan catatan militer dengan diterbitkannya mata uang lokal yang akan digunakan dengan Dolar Hong Kong. Pada tahun 1943, mata uang Dolar Hong Kong sepenuhnya digantikan menjadi uang kertas tersebut menyebabkan masalah besar di dalam kota  (The Hong Kong University of Science and Technology, 2018). Hingga terjadi peristiwa besar pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, militer Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pada akhir Agustus 1945, pasukan Inggris kembali ke Hong Kong, hingga pada keesokan harinya Laksamana Muda Inggris, CHJ Harcourt, mulai menjabat sebagai Gubernur Hong Kong dan mendirikan Administrasi Militer, hal tersebut menandakan berakhirnya pendudukan Jepang di Hong Kong.  (Three Years and Eight Months: Hong Kong during the Japanese Occupation, 2018).

Akan tetapi, pada tahun 2015 seperti yang dilansir dari South China Morning Post banyak aktivis Hong Kong dan masyarakat Hong Kong yang menuntut agar Jepang memberikan kompensasi uang militer Jepang. Pada tahun 2015, 20 anggota Asosiasi Reparasi Hong Kong menuntut Jepang untuk merefleksikan kejahatan perangnya di Hong Kong. Setelah pengunjuk rasa menyerahkan petisi mereka ke perwakilan konsulat, lima perwakilan asosiasi mengadakan pertemuan tertutup dengan pihak Bank of Tokyo-Mitsubishi. Hasil dari pertemuan tersebut bahwa Mitsubishi setuju untuk memberikan kompensasi kepada pekerja paksa di Hong Kong secara pribadi tanpa ada bantuan dari pemerintah Jepang (Au-yeung, 2015).

Daftar Pustaka

Alexander, R. (2001). Japan and the Pacific Island Countries. Contemporary Challenges in the Pacific: Towards a New Consensus, (1), 124. https://www.wgtn.ac.nz/law/research/publications/about-nzacl/publications/special-issues/hors-serie-volume-i,-2001/Alexander.pdf

Au-yeung, A. (2015, 14 Agustus). Hong Kong activists demand compensation from Japan on 70th anniversary of end to war. SCMP. https://www.scmp.com/news/hong-kong/politics/article/1849456/hong-kong-protesters-demand-compensation-japan-70th

Bagchi, A. K. (2004). The Developmental State in History and in the Twentieth Century. Regency Publications.

Miyahira, K. (2017). The Japanese Occupation of Hong Kong: The Strategic Importance of Hong Kong and the Details of the Japanese Military Rule. 3-30. [Doctoral thesis, The London School of Economic]. Academia.edu. https://www.academia.edu/36385704

Three Years and Eight Months: Hong Kong during the Japanese Occupation. (2018). Library.ust.hk. https://library.ust.hk/exhibitions/japanese-occupation/

60 thoughts on “Kebijakan Moneter Hong Kong pada Era Kependudukan Jepang

  1. Hongkong dan Jepang dilihat dari sejarahnya saja sudah menarik ditambah dengan membaca artikel ini semakin menambah pengetahuan tentang hubungan kedua negara tersebut. Such a well-written article!

  2. Ternyata saat amerika menjatuhkan bom atom di hiroshima dan nagasaki juga berpengaruh terhadap kependudukan jepang di hongkong, wawasan baru dari artikel ini. Great Job Author

  3. Artikelnya sangat bermanfaat menambah wawasan dan menarik, terima kasih yaa ayuandny keren banget, ditunggu artikel lainnya👍🏻

  4. Setelah saya baca sangat positif sekali yang di sampaikan, semoga dapat memberikan pengetahuan untuk semua khusus generasi muda. Thank u andiny

  5. Politik dan strategi dalam peperangan memang memiliki point yang menarik untuk ditelusuri dan dipelajari. Terlebih serangan kependudukan Jepang terhadap negara-negara yg sebelumnya sudah diduduki dan dikuasai oleh negara-negara conquerer dari belahan Eropa, memiliki strategi tersendiri yg menarik untuk ditelaah. Artikel ini sangat informatif, menarik, dengan narasi yang simple sehingga mudah dicerna oleh pembaca yg minim informasi sekalipun. Bravo !!

  6. Pingback:naiste pidzaamad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *