Kebijakan Energi Nuklir Jepang Pasca Insiden Fukushima

Negara Jepang merupakan negara industri yang paling maju di wilayah Asia, walaupun Jepang merupakan negara yang maju, namun Jepang memiliki sumber daya alam yang sangat terbatas, dan dengan segala keterbatasan sumber daya alamnya membuat Jepang mencari berbagai cara untuk melakukan penerapan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya sehingga Jepang menjadi negara yang mampu mencukupi kebutuhan energi di negaranya. Pada Maret 2011, Jepang mengalami insiden Fukushima, insiden ini disebabkan karena adanya gempa bumi yang berkekuatan besar sehingga terjadinya tsunami. Hal ini, menyebabkan terjadinya kebocoran zat radioaktif hingga radius puluhan kilometer dan ratusan ribu penduduk Jepang di sekitar lokasi harus di evakuasi. Terjadinya insiden Fukushima ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Jepang terhadap sistem keselamatan reaktor nuklir, dan hal ini juga menyebabkan dukungan masyarakat terhadap pengembangan program nuklir terlihat mengalami penurunan, sehingga pemerintah Jepang harus mengambil kebijakan untuk mengevaluasi setiap aspek sistem keselamatan reaktor terhadap semua PLTN yang ada di Jepang (Hermawan, 2012).

Dampak dari insiden Fukushima ini tentu saja berpengaruh terhadap perekonomian. Selain itu juga merusak sarana industri, perkantoran, maupun tempat-tempat aktivitas Jepang lainnya. Berdasarkan Starr (2012) menyatakan bahwa “total kerugian akibat dari insiden tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$ 309 miliar atau setara 25 miliar Yen.” Bencana alam yang terjadi di Jepang, dianggap sebagai bencana yang menyebabkan kerugian terbesar di dunia, termasuk pada kegiatan perikanan dan perdagangan baik secara dometik maupun internasional dan kejadian ini pun juga menjadi perhatian dunia internasional yang dimana negara-negara lain untuk sementara waktu menghentikan kegiatan perdagangannya dengan Jepang.

Jepang mulai menjalankan program nuklir modern pada tahun 1954 yang kemudian di tahun selanjutnya yaitu pada tahun 1955 undang-undang mengenai energi atom di perkenalkan dan pada tahun 1973, Jepang juga berkomitmen dengan cara mengembangkan energi nuklir, Three Laws for Electric Power Resources Sites, yaitu undang-undang penyesuaian wilayah yang berdekatan dengan fasilitas pembangkit listrik, promosi pengembangan tenaga listrik, pajak, dan hukum undang-undang khusus untuk promosi tenaga listrik yang diadopsi pada tahun 1974 (Shadrina, 2012).

Insiden Fukushima menyebabkan dampak sosial yang luas bagi masyarakat yang dimana ketidakjelasan informasi yang didapat dari pemerintah, media, maupun ilmuwan membuat masyarakat Jepang mengalami kepanikan dan menyebabkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah sehingga masyarakat Jepang berinisiatif untuk mencari informasi dan mempelajari mengenai nuklir dari berbagai media seperti internet, buku, maupun surat kabar. Sejak masyarakat Jepang mencari informasi mengenai nuklir, hal tersebut menjadi pemahaman baru bagi masyarakat Jepang dan membuat sebagian masyarakat Jepang menganggap bahwa energi nuklir bukan sebagai energi yang aman dan mengenai pemerintah dalam penanganan insiden nuklir Fukushima tersebut mendorong masyarakat Jepang untuk melindungi diri terhadap ancaman nuklir. Beberapa strategi yang dilakukan masyarakat adalah dengan cara melakukan aksi protes, demonstrasi massal, dan juga melakukan negosiasi untuk menuntut pemerintah Jepang untuk menghentikan pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi Jepang (Sarjiati, 2018).

Menurut Sarjiati (2014) bencana nuklir Fukushima ini mendorong pemerintah Jepang untuk mengubah kebijakan energi. Pada bulan September yang dimana pemerintah dibawah Partai Demokrat Jepang (DPJ) menggagas pemberhentian penggunaan energi nuklir di tahun 2039. Namun, kebijakan tersebut di evaluasi ketika Jepang di bawah pemerintahannya Perdana Menteri Shinzo Abe yang berasal dari Partai Demokrat Liberal (LDP). Perdana Menteri Shinzo Abe menganggap bahwa nuklir merupakan sumber energi yang penting dalam menjaga stabilitas ketersediaan energi dan kebijakan energi ini merupakan identitas yang berpengaruh bagi perubahan kepentingan yang dimana Perdana Menteri Shinzo Abe melakukan pengurangan penggunaan energi nuklir secara bertahap. Perdana Menteri Shinzo Abe juga berencana untuk melakukan kegiatan ekspor teknologi nuklir ke beberapa negara seperti Turki, Yordania, Vietnam, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Indonesia. Kegiatan ekspor teknologi ini bertujuan untuk memanfaatkan teknologi yang ada dan sebagai strategi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jepang dari sektor infrastruktur.

Pada tahun 2015, Jepang menghidupkan kembali reaktor nuklir untuk pertama kalinya sejak Insiden Fukushima pada tahun 2011 lalu dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan bahwa reaktor nuklir dihidupkan kembali setelah melalui beberapa prosedur keselamatan. pengoperasian reaktor nuklir yang dijalankan ini melakukan penerapan sistem keselamatan yang baru disetujui oleh Badan Regulasi Nuklir pada September 2014 lalu, namun beberapa pakar memperingatkan bahwa reaktor nuklir yang sudah tidak dipakai selama bertahun-tahun akan mengalami masalah ketika dioperasikan kembali. Mendengar kabar ini, masyarakat Jepang merasa khawatir dalam pengoperasian tenaga nuklir yang akan mendatangkan ancaman. Maka dari itu, masyarakat Jepang melakukan aksi demonstrasi di depan PLTN selama beberapa hari, masyarakat Jepang melakukan aksi ini karena mereka takut dan khawatir insiden Fukushima ini terulang lagi seperti pada tahun 2011 yang lalu.

Oleh karena itu, pemerintah Jepang berupaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat maupun dunia dengan cara pemerintah membantu menyelesaikan masalah seperti membangun kembali infrastruktur yang rusak, mendirikan pusat evakuasi, merestorasi industri maupun tempat kerja. Pada Maret 2020, pemerintah Jepang membuka kembali bagian kota Futaba seluas 2,4 km dan masyarakat Jepang juga telah mendapatkan pekerjaan baru disekitar tempat pengungsian seperti kota Kazo, bagian utara Tokyo (“Sebagian Kota Futaba Dibuka Usai Radiasi PLTN Fukushima”, 2020) dan hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah Jepang melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

Daftar Pustaka

Shadrina, E. (2012). Fukushima Fallout: Gauging the Change in Japanese Nuclear Energy Policy. International Journal of Disaster Risk Science, 3(2), 69-83. https://doi.org/10.1007/s13753-012-0008-0

Starr, S. (2012, 31 Oktober). Costs and Consequences of the Fukushima Daiichi Disaster. Physicians For Social Responbility. https://www.psr.org/blog/resource/costs-and-consequences-of-the-fukushima-daiichi-disaster/

Sarjiati, U. (2018). Risiko Nuklir dan Respon Publik Terhadap Bencana Nuklir Fukushima di Jepang. Jurnal Kajian Wilayah, 9(1), 46-61. https://doi.org/10.14203/jkw.v9i1.785

Sarjiati, U. (2014). Resiko, Bencana dan Modernitas di Jepang: Sebuah Lesson Learned bagi Indonesia (Policy Brief No. 09). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://psdr.lipi.go.id/publications/policy-papers/item/impact-and-market-economy-in-rrc-6-copy-2.html

Hermawan, N. T. E. (2012). Tantangan Kebijakan Energi Nuklir Jepang Pasca Insiden Fukushima Daiichi. Pusat Pengembangan Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional. http://digilib.batan.go.id/ppin/katalog/file/1979-1208-2012-027_A04_NANANG_TRIAGUNG_INSIDEN_FUKUSHIMA.pdf

Sebagian Kota Futaba Dibuka Usai Radiasi PLTN Fukushima. (2020, 05 Maret). CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200304143309-113-480458/sebagian-kota-futaba-dibuka-usai-radiasi-pltn-fukushima

Author: Riny Marchelawati

International Relation Student

47 thoughts on “Kebijakan Energi Nuklir Jepang Pasca Insiden Fukushima

  1. Woah pembahasan nuklir memang selalu menarik apalagi kali ini diambil dari kasus fukushima, pilihan yang Bagus dengan isi yang cukup informatif, good job author

  2. Bocornya reaktor nuklir pada tragedi fukushima merupakan peristiwa terburuk setelah Bencana Chernobyl yang juga merupakan insiden nuklir terburuk di dunia. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa tragedi fukushima ini memberikan mimpi buruk bagi jepang dan juga warganya. Ribuan jiwa manusia dikhawatirkan akan terkontaminasi dikarenakan radiasi-radiasi yang ditumbulkan akibat bocornya reaktor. Peristiwa ini juga membuat Jepang mengalami krisis energi, Jepang terus berupaya memulihkan kembali kepercayaan masyarakatnya dan mulai perlahan-lahan kembali ke energi nuklir meskipun kebijakan tersebut mendapat respon beragam dari warga setempat.
    Artikel yang menarik^^ terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *