Jepang Dalam Proses Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan

Hubungan ekonomi yang terjalin antara Korea Selatan dengan Jepang mulai terbentuk sejak kedua negara melakukan normalisasi hubungan diplomatik pada tahun 1965. Menurut Kim (2017) normalisasi kedua negara ini terjadi karena kondisi politik dan ekonomi Korea Selatan saat itu sedang tidak stabil setalah terjadinya Perang Korea, dengan melakukan normalisasi maka Jepang akan memberikan bantuan finansial atas nama kompensasi yang dilakukan oleh kolonial Jepang terdahulu. Perkembangan ekonomi Korea Selatan tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Jepang, bisa dikatakan Jepang memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi Korea Selatan. Dengan penandatanganan perjanjian Basic Relations diantara keduanya membuat pemerintah Jepang harus memberikan bantuan finansial kepada  Korea Selatan termasuk di dalamnya adalah bantuan hibah sebesar $ 300 juta, bantuan pinjaman sebesar $ 200 juta, dan pinjaman komersial sebesar $ 300 juta. Bantuan yang diberikan ini kemudian diinvestasikan oleh pemerintah Korea Selatan dalam konstruksi Pohang Steelworks yang merupakan pembuat baja terkemuka di Korea Selatan. Selain itu perkambangan ini juga didukung dengan adanya penetapan Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun yang kedua, yaitu dari tahun 1967 sampai 1971.

Hubungan perdagangan antara Korea Selatan dan Jepang mulai berkembang di awal tahun 1960-an. Melalui Official Development Assistence (ODA) Jepang ke Korea Selatan membuat ekspansi dari perdagangan serta Investasi Asing Langsung (FDI) oleh perusahaan Jepang semakin meluas. Hal itu menunjukan bahwa bantuan Jepang ke Korea Selatan menjadi dasar bagi perkembangan ekonomi Korea Selatan dengan fokus pada pembangunan di sektor manufaktur. Namun, Kim (2017) dalam jurnalnya di sisi lain hal ini juga meningkatkan ketergantungan perekonomian Korea Selatan terhadap Jepang. Setalah normalisasi terjadi impor Korea Selatan dari Jepang mencapai angka $166 juta, dengan pola ini ini bias dikatakan membuat Korea Selatan mengalami ketergantungan dengan Jepang sampai akhir dari tahun 1980-an. Sama halnya dengan perkembangan Korea Selatan dibidang elektronik yang juga bergantung kepada perusahaan-perusahaan teknologi Jepang di tahun 1980-an. Maka dapat dikatakan bahwa FDI dari perusahaan-perusahaan Jepang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Korea Selatan.

Menurut James (2001) para ahli di Jepang mempercayai bahwa perluasan dari pangsa produk dari Korea Selatan akan menjadi fenomena dan konsisten dengan keuntungan komparatif yang berkembang di kedua negara. Foreign Direct Investment (FDI) yang dilakukan Jepang ke negara-negara berkembang di Asia seperti Korea Selatan juga diyakini akan mempercepat proses restrukturisasi industri Jepang dan Korea Selatan sehingga memungkinkan untuk perusahaan menjadi lebih efisien dan kompetitif. Meskipun hubungan perdagangan terus berlanjut semenjak normalisasi namun, nilai impor Korea Selatan selalu lebih besar dari pada nilai ekspor ke Jepang. Karena alasan ini akhirnya pada awal tahun 1960-an, presiden Korea Selatan saat itu mulai mengimplementasikan reformasi ekonomi diantaranya seperti nilai tukar dan kelonggaran terhadap kontrol pertukaran, kebijakan dalam liberalisasi impor juga diterapkan. Antara tahun 1962 dan 1970 nilai impor Korea Selatan dari Jepang tumbuh leih cepat daripada impor dari dunia, namun ekspor Korea Selatan di dunia tumbuh lebih cepat daripada nilai ekspor ke Jepang. Selain itu, pertumbuhan ekspor secara keseluruhan hampir mencapai dua kali lipat pertumbuhan impor selama periode 1962-1970.

Jepang banyak mengimpor barang-barang modal ke Korea Selatan seperti mesin, dengan ini Korea Selatan dapat mendirikan atau memperluas pabrik-pabriknya sekaligus memodernisasi pabrik tersebut. Korea Selatan telah berusaha dengan sangat gigih untuk mengejar ketertinggalannya di dunia internasional. Dalam prosesnya ini Korea Selatan tentu membutuhkan pertumbuhan riil yang tinggi dengan didorong oleh investasi dan pengembangan industri yang berorientasi ekspor. Korea Selatan juga melakukan eksperimen dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat dan seringkali defisit dialami oleh Korea Selatan dengan tujuan untuk mendorong tingkat investasi yang tinggi dibandingkan dengan tingkat tabungan nasionalnya.

Dalam jurnal James (2001) Korea Selatan kemudia melalukan dua pendekatan untuk mengurangi defisit perdagangannya dengan Jepang. Yang pertama dilakukan oleh Korea Selatan adalah dengan ekspansi ekspor oleh Korea Selatan ke pasar Jepang, skema Generalized System of Preferences (GSP) yang dimulai pada tahun 1973 merupakan skema dimana ekspor Korea Selatan dan negara-negara berkembang lainnya berada di bawahnya. Skema ini secara efektif bergantung pada kerja sama antara pemerintah Jepang. Namun, skema ini membuat ketidakseimbangan perdagangan justru semakin memburuk. Akhirnya, Korea Selatan berhasil keluar dasi skema GSP pada tahun 1998 dan harus kembali bersaing di pasar OECD secara non-prefensial. Pendekatan kedua yang dilakukan oleh Korea Selatan adalah dengan membatasi impor melalui berbagai cara termasuk lokalisasi atau  melakukan skema konten lokal dan pembatasan impor secara selekttif. Lalu, pada tahun 1992 Korea Selatan meluncurkan rencana untuk memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan yang terjadi dengan Jepang, dengan melakukan pengurangan tehadap hambatan ekspor Korea Selatan di Jepang pada barang-barang tertentu dengan tarif tinggi atau pembatasan kuantitatif.

Dari penjelasan di atas hubungan ekonomi antara Korea Selatan dan Jepang terjadi pasang surut tapi dapat di lihat bahwa Jepang memang memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi Korea Selatan. Karena untuk bangun dari keterpurukan pasca Perang Korea, Korea Selatan bergantung pada bantuan dan investasi yang berasal dari Jepang. Bahkan Jepang menjadi salah satu importir terbesar ke Korea Selatan, terutama dalam barang modal seperti mesin, membuat industri Korea Selatan bergantung pada teknologi yang berasal dari Jepang.

Daftar Pustaka

Kim, G., P. (2017). Korea’s Economic Relations With Japan. Korea’s Economy, 31, 23-29. http://keia.org/sites/default/files/publications/kei_koreaseconomy_2016_170606.pdf

James, W., E. (2001, Januari). Trade Relations of Korea and Japan: Moving from Conflict to Cooperation? (East-West Center Working Papers, Economics Series, No. 11). https://www.eastwestcenter.org/sites/default/files/private/ECONwp011.pdf

Author:

54 thoughts on “Jepang Dalam Proses Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan

  1. Artikel yang sangat menambah wawasan tentang Developmental State Korea Selatan, terima kasih terisna artikelnya sangat bagus dan informatif👍

  2. Artikelnya sangat bagus dan memberikan informasi tentang perkembangan ekonomi antar dua negara tersebut kepada pembaca, good job 👍😊😉

  3. Artikel yang sangat menambah wawasan tentang Developmental State Korea Selatan, terima kasih terisna artikelnya sangat bagus dan informatif👍

  4. this article very informative from this page I know why south korea being called developed countries, thank you for packaging this information very nice then the reader would be understand

  5. Artikel yang sangat bermanfaat serta informatif dan untuk materinya sangat menarik untuk dibahas kembali untuk berdiskusi.

    Terima kasih, ditunggu artikel selanjutnya

  6. Pas bgt ini materi yang sedang saya cari buat tugas saya tentang ekonomi politik asia timur, pembahasannya juga kaga bertele tele jd gampang dingartiin dah

  7. judul yg simple namun ternyata pembahasannya cukup complex. Pada pembahasannya sangat jelas dan tepat seperti judul namun tidak lupa sejarahnya juga dibahas sehingga terlihat dinamika keterkaitan Jepang pada Korea Selatan, dan hal ini menjadikan artikel sangat informatif dan edukatif.

    You nailed it Ter, thanks for the article btw😘

    Semangat terus 💪💪

  8. artikel nya sangat bagus dan memberi pengetahuan bagi yg membaca, terima kasih terisna atas infonya! ditunggu artikel berikutnya😉

  9. Pingback:sa game
  10. Pingback:pic 5678
  11. Pingback:go right here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *