Isu Comfort Women dalam Perang Dagang Jepang dengan Korea Selatan

Asia Timur merupakan salah satu kawasan yang terdiri dari negara-negara berpengaruh serta kawasan paling strategis dalam dunia internasional. Sebut saja Tiongkok yang diprediksi akan menempati urutan pertama dengan tingkat perekonomian atau pendapatan domestik bruto (PDB) tertinggi di dunia pada tahun 2024 (Buchholz, 2020) berdasarkan survei atau data dari IMF serta World Bank, serta Jepang dengan kemajuan dibidang teknologi serta industri otomotifnya yang saat ini digemari oleh banyak negara di dunia. Lalu Korea Selatan yang tidak hanya maju dibidang perekonomiannya tetapi juga melebarkan sayapnya dalam sektor kebudayaan yang dikenal dengan “korean wave” yang melegenda hingga saat ini. Selain itu, terdapat negara saudara dari Korea Selatan yakni Korea Utara yang tak luput dari pandangan dunia internasional dimana merupakan salah satu negara paling disegani di kawasan Asia Timur ini karena kepemilikan senjata nuklir serta sikap negaranya yang terlalu tertutup terhadap dunia luar.

Kedekatan geografis diantara negara-negara di kawasan Asia Timur ini tidak semata-mata menjadikan kawasan ini hidup dengan damai satu dengan yang lainnya, melainkan kawasan ini merupakan salah satu kawasan yang rawan akan konflik. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mayoritas dilatarbelakangi oleh konflik daerah perbatasan diantara negara-negara tersebut dan juga rasa saling curiga yang muncul demi menjaga keamanan serta kedaulatan negaranya, tetapi yang paling mengkhawatirkan yakni persoalan hubungan di masa lampau yang belum selesai hingga saat ini. Dendam masa lalu yang menjadikan suatu negara tidak dapat melupakan hal yang pernah menimpa negaranya sehingga persoalan tersebut tetap akan dikenang karena hal ini menyangkut citra dan harga diri suatu negara.

Seperti halnya dengan kedua negara besar ini yakni Jepang dan Korea Selatan, persoalan yang terjadi di masa lalu menjadikan kedua negara ini yang sebenarnya memiliki kedekatan dari sisi geografis maupun kesamaan akan nilai dan budaya ini sering terlibat konflik. Kejadian tersebut bermula saat Koloni Jepang resmi menjadikan Semenanjung Korea menjadi bagiannya pada tahun 1910. Kependudukan Koloni Jepang di Semenanjung Korea ini berlangsung cukup lama yakni dari 1910-1945 atau selama 35 tahun. Pada masa kolonialisme Jepang inilah membuat masyarakat Korea merasa hidup dalam belenggu Jepang karena Jepang menerapkan beberapa kebijakan yang sangat merugikan bagi mereka seperti pelarangan yang terjadi tidak hanya untuk masyarakat umum melainkan pada sekolah-sekolah di Korea untuk tidak menggunakan bahasa nasionalnya serta menggantinya dengan bahasa Jepang. Selain itu, yang membuat perselisihan diantara kedua negara ini masih memanas yakni pada saat penjajahan tersebut Jepang menjadikan wanita-wanita di Korea sebagai alat pemuas nafsu untuk tentara-tentara mereka yang dikenal sebagai comfort women. Tragedi inilah yang membuat masyarakat serta kalangan muda Korea masih belum bisa melupakannya, meskipun sesungguhnya mereka tidak merasakannya secara langsung pada saat ini. Terlepasnya semenanjung Korea dari belenggu kolonialisme Jepang ditandai dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki yang menjadi titik kekalahan Jepang pada masa Perang Dunia II (PD II).

Kerja sama diplomatik bilateral antara Jepang dengan Korea Selatan yang pada awalnya didorong oleh penyebaran budaya, dan Semenanjung Korea berfungsi sebagai jembatan kultural untuk menyebarkan seni budaya dari China Daratan menuju ke Kepulauan Jepang menjadi tidak mudah. Faktor ini disebabkan oleh munculnya kembali permasalahan sejarah dan meningkatnya nasionalis di wilayah tersebut (Ando et.al, 2014). Sejarah masa lalu inilah yang mejadikan hubungan kerja sama bilateral antara Jepang dengan Korea Selatan kurang bersahabat hingga saat ini. Masyarakat Korea Selatan menuntut kejelasan dari pemerintah Jepang bahwa mereka membenarkan terjadinya isu comfort women pada masa kependudukan Jepang di Semenanjung Korea.

Kerja sama kedua negara semakin memburuk saat terjadinya perang dagang diantara keduanya pada tahun 2019. Jepang memutuskan untuk membatasi ekspor beberapa alat-alat elektronik ke Korea Selatan. Hal ini dilakukan menyusul dengan Jepang yang tidak setuju dengan keputusan dari pemerintah Korea Selatan yang meminta beberapa perusahaan Jepang yang diindikasi melakukan kerja paksa dengan memberikan kompensasi terhadap korban serta yang termasuk pula korban comfort women di Korea Selatan. Pembatasan ekspor ini berujung pada dihapusnya Korea Selatan dari daftar negara yang diberikan pembebasan prosedur ekspor oleh Jepang (Gracellia, 2020).

Respon yang diberikan oleh masyarakat Korea Selatan makin mempertegas bahwa hubungan kedua negara tersebut masih jauh dari kata perdamaian. Hal ini terlihat dari digaungkannya gerakan “No Japan” di Korea Selatan. Gerakan ini bertujuan untuk memboikot produk-produk yang berasal dari Jepang secara nasional. Beberapa dampak yang ditimbulkan dari pemboikotan produk Jepang ini diantaranya yaitu penurunan penjualan mobil produksi Jepang, penutupan gerai mode terkenal dari Jepang yakni Uniqlo, serta adanya tuntutan bahwa artis Jepang yang berkarir sebagai idol di Korea Selatan diminta untuk kembali ke negara asalnya. Permaslahan ini sangat merugikan tidak hanya satu pihak saja tetapi kedua negara tersebut jelas merasakan dampak yang ditimbulkan dari permasalahan yang tak kunjung usai ini.

Berbagai isu yang dianggap dapat mengancam kelangsungan hidup suatu unit tertentu akan dipandang sebagai ancaman yang eksistensial (Syahrin, 2018). Isu comfort women yang menjadi sejarah kelam diantara kedua negara ini menimbulkan dampak yang sangat signifikan dalam terjalinnya hubungan kerja sama yang ingin diciptakan oleh keduanya. Oleh karena itu, diperlukannya ketegasan dari kedua belah pihak dalam penyelesaian kasus ini atau lambat laun dapat memperburuk hubungan kerja sama bukan hanya diantara kedua negara yang terlibat konflik tetapi berdampak pula pada negara-negara disekitar kawasan tersebut.

Daftar Pustaka

Gracellia, J. (2020). The Impact of Resolving Comfort Women Issue to Japan and South Korea Relations During 2015-2019. International Relations Journal, 11(21), 44-55. http://dx.doi.org/10.19166/verity.v11i21.2451

Syahrin, M. N. A. (2018). Keamanan Asia Timur: Realitas, Kompleksitas, dan Rivalitas. Komojoyo Press.

Ando, M, Chou, W. C, & Fujita, A. (2014). Developing Future Partnership between Japan and South Korea for Regional Stability in East Asia (Policy Brief). German Marshall Fund of the United State. http://www.jstor.com/stable/resrep18729

Buchholz, K. (2020, 13 Juli). Continental Shift: The World’s Biggest Economies Over Time. Statista. www.statista.com/chart/amp/22256/biggest-economies-in-the-world-timeline/

Author:

59 thoughts on “Isu Comfort Women dalam Perang Dagang Jepang dengan Korea Selatan

  1. Pemilihan tema pembahasan yang amat sangat menarik untuk dibaca dan diulik lebih lanjut lagi, isu yg baru pertamakali saya dengar. good job dhea for bringing something new yet really important to know especially for us IR students.
    Dan saya amat berharap akan ada kelanjutan dari artikel ini.

    Makasih Dhea, semangat terus yaaa🤗😘

  2. Tema yang diangkat sangat menarik karena jarang yang memerhatikan isu yang walau terlihat kecil tapi berdampak signifikan pada hubungan dua negara tersebut, Bagus sekali, informatif, good job author!

  3. Soo proud of youuu dheee!!! Seruuu.. pembahasannya ringan berasa lagi nonton drama kolosal versi artikel.. bisa buat contoh yg lain dari yg awalnya suka drama korea atau serial jepang bisa angkat kesukaan menjadi suatu yg bermanfaat kaya ginii.. nice artikel.. soo kedepannya di tunggu pembahasan yg lebih seru lg

  4. Sentimen masa lalu suatu negara mampu memberikan dampak yang besar di masa sekarang. Isu comfort women ini salah satu yang terkena dampaknya yang pada dasarnya isu tersebut harus segera diselesaikan diantara kedua negara yaitu Korea Selatan dan Jepang. Terima kasih Dhea atas artikelnya. Good job

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *