Hubungan Kerjasama Keamanan Jepang-AS

Sejak Jepang dinyatakan kalah oleh pihak sekutu dalam Perang Dunia II tahun 1945, hubungan pertahanan dan keamanan antara Jepang dan AS telah terjalin. Adapun puncak kekalahan Jepang yaitu saat Hiroshima dan Nagasaki diserang militer AS dengan bom atom sebagai bentuk upaya pembalasan terhadap penyerangan Jepang ke pangkalan militer AS, yang terletak di Pearl Harbour, kepulauan Hawaii. Sehingga kehancuran yang dialami Jepang membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain menyerah kepada pihak sekutu. Sejak itulah kekalahan Jepang menjadi awal masuknya intervensi kontrol AS terhadap Jepang. AS memerintahkan Supreme Commander for the Allied Powers (SCAP) yakni sekutu militer untuk segera menduduki Jepang sehabis dua minggu setelah Perang Dunia II berakhir. Adapun pembuatan Pasal 9 Konstitusi Baru Jepang yang menjadi pengaruh kuat dari kontrol AS melalui SCAP.

Pasal 9 Konstitusi Baru Jepang tersebut berisi pasifisme dalam militer Jepang, dimana yang sebelumnya militer Jepang dinila aktif yang terkenal akan tindakan offensive dan agresif seperti pada saat ekspansi wilayah di kawasan Asia Pasifik, berbagai perang seperti Sino-Japanese War, Russo-Japanese War, dan tergabung dengan tentara aliansi pada perang Dunia I, serta puncaknya saat dalam Perang Dunia II. Menurut Roza (2013) Pasal 9 Konstitusi Baru Jepang ini yang pada akhirnya menjadi pedoman dalam pembuatan kebijakan di Jepang. Masuk pada tahun 1950 pecah perang Korea atau Korean War dimana Uni Soviet yang notabennya sebagai rival AS selama Perang Dingin menyebarkan pengaruh ideologinya di Korea. Sebagai upaya menangani pengaruh Uni Soviet di Korea, hingga AS mengirimkan pasukannya yang berada di Jepang ke Korea. Sebagai upaya membendung pengaruh Uni Soviet di Korea, Amerika Serikat berniat mengirimkan pasukannya yang berada di Jepang ke Korea. Berdasarkan Tsuciyama (2000) dikatakan bahwa Amerika Serikat tidak ingin melepaskan kontrol dan pengaruhnya di Jepang begitu saja, sehingga sebelum meninggalkan Jepang, Amerika Serikat melalui SCAP memberikan perintah kepada Jepang untuk membuat pasukan keamanan sendiri yakni National Police Reserve (NPR) atau Pasukan Keamanan Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Self Defense Forces (SDF) atau Pasukan Bela Diri. Walaupun akhirnya Jepang memiliki SDF sebagai sekutu militernya, Jepang dan AS juga membuat dua perjanjian lainnya sebagai bentuk  komitmen perdamaian dan kesepakatan untuk tidak saling menyerang pada tahun 1951. Adapun dua perjanjian tersebut adalah:

  1. San Fransisco Treaty yaitu perjanjian damai antara AS dan Jepang.
  2. Japan-US Security Treaty yaitu titik awal kerjasama keamanan antara AS dan Jepang.

 Di dalam Japan-US Security Treaty, AS diizinkan untuk menempatkan pangkalan militernya lengkap dengan pasukan serta persenjataan di wilayah Okinawa, Jepang. Sebaliknya  keamanan eksternal Jepang ditanggung oleh militer AS. Maka dengan berdasarkan kesepakatan keduanya itulah bahwasannya AS sudah memiliki hak untuk mempertahankan kekuatannya di darat, laut dan udaranya di Jepang. Adapun kekuatan ini dapat dipergunakan sebagai berikut:

  1. untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan di Timur Jauh tanpa konsultasi terlebih dahulu;
  2. setelah berkonsultasi, AS dapat melakukan tindakan untuk mempertahankan Jepang dari serangan pihak luar.

Dinamika Jepang dan AS terus berlanjut hingga munculnya kesepakatan keduanya terkait panduan dalam kerjasama keamanan yaitu Japan-US Defense Guidelines pada 27 November 1978. Adapun panduan tersebut berisikan penjelasan lebih detail terkait hak dan kewajiban yang harus dilakukan antara SDF Jepang dan US Forces dalam berjalannya kerjasama pertahanan situasi pada saat Jepang diserang atau mendapat ancaman dari kekuatan eksternal. Adapun panduan kerjasama ini dibuat untuk melanjutkan mekanisme kerjasama yang sebelumnya telah disepakati dalam Japan-US Security Treaty. Hubungan AS dan Jepang semakin menguat lewat adanya penandatanganan Join Declaration on Security pada tahun 1996 dilakukan antara Presiden AS yang dipimpin oleh presiden Bill Clinton dan Perdana Menteri Jepang yaitu Hosokawa. Selanjutnya pada tahun 1997, Jepang dan AS bersepakat untuk merevisi Japan-US Defense Guidelines 1978. Dimana panduan kerjasama yang diperbarui ini ditujukan guna memperluas mekanisme kerjasama pertahanan bilateral antara SDF Jepang dan US Forces pada situasi di area sekitar Jepang.

Pada tahun berikutnya, Jepang dan AS melakukan proses revisi terhadap Japan-US Defense Guidelines yang disepakati oleh kedua belah pihak menjadi panduan terbaru pada tahun 2015. Hasil revisi tersebut yang disepakati untuk dijadikan sebagai panduan dalam hubungan kerjasama militer antara kedua negara tersebut. Proses revisi tersebut dilakukan dengan melibatkan Menteri Luar Negeri AS dan Menteri Pertahanan AS serta Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Jepang. Adapun revisi tersebut berisikan kekuatan bersenjata Jepang diperbolehkan berperan lebih ofensif di kawasan global, selain itu jangkauan bantuan dari SDF Jepang diperluas tidak hanya terbatas di dalam kawasan sekitar Jepang. Berdasarkan panduan kerjasama yang telah direvisi pada tahun 2015 itu, mekanisme kerjasama pertahanan antara Jepang dan AS berada dalam bentuk kerjasama keamanan kolektif (collective security cooperation) yang digunakan untuk menghadapi situasi keamanan global yaitu mencakup sekitar wilayah Jepang, kawasan Asia Timur, kawasan Asia Pasifik dan lainnya. Dalam revisi tersebut pembagian kerja dari masing-masing negara dalam panduan terbaru tersebut lebih jelas. Sebagai respon atas perubahan yang terjadi, keputusan Jepang sepakat untuk merevisi Guidelines 2015 sebagai upaya meningkatkan pertahanan Jepang dan menghadapi tantangan isu keamanan baru di kawasan melalui penguatan kerjasama dengan AS.

Daftar Pustaka :

Roza, R. (2013). Implikasi Amandemen Pasal 9 Konstitusi Jepang terhadap Kawasan. Info Singkat Hubungan Internasional, 5(20), 6-7.

Tsuciyama, J. (2000). Ironies in Japanese Defense and Disarmament Policy. Palgrave.

Author:

22 thoughts on “Hubungan Kerjasama Keamanan Jepang-AS

  1. meskipun sudah cukup banyak yang membahas mengenai pembahasan artikel ini, namun artikel ini tetap informatif dan mengedukasi. terimakasih penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *