Fenomena Shoushika: Implikasinya Terhadap Tenaga Kerja Jepang

Penulis: Reffy Stevanus

Jepang merupakan salah satu negara maju yang berada dalam dunia internasional, kemajuan Jepang tidak terlepas dari nilai kebudayaan dalam masyarakat mereka dan juga kekuatan ekonomi yang mereka miliki. kekuatan ekonomi yang cukup kuat dengan jaringan perusahaan-perusahaan Multinational Company atau MNC mereka seperti: Honda, Yamaha, Toyota dan Nissan. Dengan perusahaan-perusahaan MNC yang dimiliki Jepang serta budaya yang dimiliki masyarakatnya, jepang dapat membangun jaringan yang sangat luas dan mendongkrak perekonomian mereka menjadi negara industri yang besar dalam perekonomian internasional saat ini.

Namun kesuksesan dan juga keberhasilan jepang dalam membangun perekonomian mereka memiliki satu masalah yang sangat harus mendapatkan perhatian yaitu fenomena Shoushika atau lebih sering disebut dengan population aging. Populasi Jepang akan mendekatinya puncaknya dan akan terus mengalami penurunanan yang berkepanjangan, usia rata-rata penduduk jepang akan terus meningkat dan pada tahun 2050 separuh penduduk jepang akan berusia diatas 53 tahun (Horlacher & Mackellar, 2003). Fenomena rendahnya jumlah anak pada Jepang ini, dikenal menggunakan kata shoushika. Sejak berakhirnya Perang Dunia ll, jumlah kelahiran pada masyarakat Jepang sudah mengalami naik dan turun, dan kemudian sejak tahun 1970an penurunan angka kelahiran anak di Jepang terus terjadi dan tidak mengalami pertumbuhan atau peningkatan sampai tahun 2003 ini. Dengan angka kelahiran rendah, berarti jumlah populasi anak-anak berkurang, dan hal ini akan terus berdampak terhadap berkurangnya jumlah populasi tenaga kerja atau usia produktif, yang berarti bahwa jumlah populasi produktif di Jepang pun akan terus mengalami penurunan.

Perubahan cara berfikir generasi muda Jepang kini, dan terutama kaum perempuan, dalam mengartikan dan menginterpretasikan pernikahan, berkeluarga, dan memiliki anak, adalah salah satu faktor penting pada perkembangan fenomena shoushika. Wanita Jepang saat ini khususnya, telah enggan untuk melakukan pernikahan. Dan sudah tidak menganggap hal tersebut menjadi suatu keharusan, melainkan menjadi suatu pilihan, sebagai akibatnya mereka bebas untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Hal ini juga dikarenakan kesulitan yang dihadapi perempuan-perempuan Jepang yang ingin berkarir jika mereka memiliki keluarga dan juga memliki anak hal tersebut akan menghambat karir mereka. Selain itu, faktor ekonomi merupakan sebagai salah satu faktor penyebab berkembangnya shoushika, lantaran perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat pada Jepang, cara hidup dan kebudayaan bangsa Jepang juga mengalami perubahan karena terbawa arus globalisasi saat ini. Sedangkan, dampak yg disebabkan oleh semakin berkembangnya shoushika, tidak hanya berimplikasi pada aspek demografi, namun pula mempengaruhi aspek ekonomi, pendidikan, sosial, dan banyak sekali segi kehidupan bangsa Jepang, namun aspek ekonomi adalah aspek yang paling besar terkena dampak dari fenomena ini. Oleh sebab itu, fenomena shoushika yang terjadi pada Jepang saat ini adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup dan eksistensi bangsa Jepang pada masa depan. Semakin menurunnya jumlah kelahiran dan jumlah populasi anak-anak pada Jepang, akan mengakibatkan Jepang menjadi suatu negara yang didominasi oleh generasi yang sudah tidak produktif kedepanya, tanpa kehadiran generasi yang produktif sebagai penerus yang menggantikan generasi-generasi tua jepang dan juga melanjutkan semangat pembangunan jepang tentu hal ini akan menjadi masalah yang cukup serius.

Kemajuan ekonomi jepang sangat tidak terlepas dari perusahaan-perusahaan multinasional yang mereka miliki, karena pada era globalisasi saat ini, korporasi adalah salah satu actor utama dalam perekonomian suatu negara. Hertz (2003) mengatakan “Tangan pemerintah seperti terikat dan semakin bergantung pada perusahaan, bisnis dan perusahaan-perusahaan ada di kursi pengemudi yang menentukan arah dan aturan mainya dan sedangkan pemerintah hanya mnejadi wasit untuk menegakkan aturan yang ditetapkan”. Seperti yang dikatan oleh Hertz di era globalisasi saat ini korporasi adalah pemeran utama dalam ekonomi suatu negara terutama Jepang dengan fokus sektor industri mereka, sehingga fenomena shoushika ini adalah permasalahan yang sangat berdampak besar terhadap ekonomi Jepang dan harus diselesainkan oleh pemerintah Jepang, karena Jepang sangatlah bergantung akan kegiatan industri mereka dan tentunya tenaga kerja merupakan hal terpenting yang harus mereka miliki. Jepang mengalami penurunan kelahiran yang signifikan sejak tahun 1970 hal ini mengakibatkan sedikitnya angka tenaga kerja akibat terus berkurangnya penduduk dengan usia produktif (Hewitt, 2003).

Dalam survey departemen Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang menyebutkan, di tahun 2016 angka pekerja berdasarkan kelompok usia sebanyak 270.000 pekerja adalah usia 15-64 tahun, sedangkan jumlah pekerja di atas 65 tahun sebesar 370.000. Terus meningkatnya kebutuhan tenaga kerja disebabkan mulai pulihnya perekonomian Jepang. Berdasarkan Nikkei Asian Review  ketersediaan lapangan kerja di Jepang pada tahun 2016 berada di angka 1,36, naik 0,16 poin dari tahun-tahun sebelumnya.peningkatan ini terjadi selama tujuh tahun berturut-turut. Pesatnya pertumbuhan penduduk lansia di Jepang tersebut mendorong kebutuhan Jepang akan buruh kerja mereka, berdasarkan survey yang ada menjelaskan bahwa sebanyak 67,9% perusahan-perusahaan di Jepang mampu memenuhi target rekruitmen mereka, sedangkan 32,1% lainnya gagal memenuhi target (Yohei, 2014). Dari data diatas menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja di Jepang dalam fase yang sulit dikarenakan tingginya usia tua dan kurangnya usia produktif dalam menggantikan peran usia tua, jika fenomena ini terus berlanjut berarti tenaga kerja jepang kedepanya mungkin akan habis dan tidak dapat mengimbangi permintaan tenaga kerja perusahan-perusahaan yang di Jepang dan hal ini akan berimplikasi langsung terhadap ekonomi mereka dan mengganggu eksistensi mereka sebagai negara maju yang berorientasi pada sektor industri.

Dengan adanya permasalahan Shoushika atau Aging Population ini tentunya akan mengganggu Jepang dalam perekonomian mereka, dengan perekonomian yang relatif tinggi dan sangat mengandalkan SDM sebagai tenaga kerja dan penggerak perekonomian negara. Jepang akan akan menjadi negara rentan jika jumlah penduduk dan jumlah usia produktif SDM mereka rendah. Ketika populasi usia produktif terus meningkat, penduduk tersebut hanya akan menjadi beban bagi Jepang, karena pemerintah harus tetap menanggung mereka tanpa adanya regenerasi tenaga kerja. Kelebihan usia yang kurang produktif juga akan mempengaruhi produktivitas Jepang, karena tenaga kerja yang sudah tua atau tidak produktif tentu akan tidak akan memberikan kinerja yang optimal yang berdampak terhadap sektor industri dan ketenagakerjaan Jepang dan hal ini akan berdampak langsung terhadap perekonomian Jepang dimasa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Hewitt, J. (2003). Dyadic Processes and International Crises. Journal of Conflict Resolution, 47(5), 669-692. https://doi.org/10.1177/0022002703252973

Hertz, N. (2003). The Silent Takeover: Global Capitalism and The Death of Democracy. Harper Collings Publisher inc.

Horlacher, D.E dan Mackellar, L. (2003). Population Ageing in Japan: Policy Lesson for South-East Asia. Asia-Pacific Development Journal, 10(1), 97-122. https://doi.org/10.18356/d7718c06-en

Yohei, T. (2014, 22 September). Japan’s Labor Shorstages in Perspective. Nippon. http://www.nippon.com/en/currents/d00137/

Author:

51 thoughts on “Fenomena Shoushika: Implikasinya Terhadap Tenaga Kerja Jepang

  1. artikel yang menarik! masalah populasi memang sangat mempengaruhi masalah ketenagakerjaan dan perekonomian Jepang, sehingga pemerintah Jepang harus mengupayakan berbagai kebijakan untuk mengatasi masalah populasi ini

  2. Artikel yang sangat menarik untuk dibahas dan dikaji lebih dalam lagi. Penggunaan bahasa yang lugas membuat poin penting dalam artikel ini sangat membantu Pembaca untuk memahami fenomena Shoushika di Jepang ini. Good job!

  3. Pembahasan yang amat penting bagi kajian Wilayah Jepang. Artikel yang singkat, padat dan jelas pembahasannya, tidak bertele-tele namun isi kontennya sangat informatif dan amat relevan dengan judul artikel. Data-data yang ada didalamnya lengkap sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti situasi dari fenomena Shoushika di Jepang saat ini. Dan saya setuju dengan analisis singkat yang diberikan penulis pada paragraf terakhir.

    Bagus reff, thanks for the article 👍

  4. Ngebuka wawasan banget di tengah senternya isu soal jepang yang satu ini di media luas. Dilanjut dong Fy, jangan krn tugas lagi hahaha

  5. Pingback:buy keycaps
  6. Pingback:Hp Sunucu destek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *