Perkembangan Ekonomi Jepang Pasca PD II Menuju Bubble Economy

Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II menimbulkan dampak yang sangat signifikan bagi Jepang, pasca terjadinya ledakan Bom dikota Hiroshima dan Nagasaki Jepang mengalami keterpurukan dari berbagai Bidang, ini disebabkan karena dampak dari bom tersebut menyebar luas ke seluruh kota-kota yang ada di Jepang termasuk Tokyo, akibatnya Jepang mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar karena tingginya angka pengangguran, terbatasnya persediaan makanan, merosotnya hasil produksi pertanian, serta Jepang kehilangan pasar luar negri untuk kegiatan ekspornya. Keterpurukan yang terjadi di Jepang ini tidak berlangsung lama, pada tahun 1950 keadaan ekonomi Jepang mulai terlihat kembali stabil, sponsor yang diberikan oleh Amerika Serikat pada saat itu sangat membantu Jepang dalam menstabilkan kembali ekonomi mereka, dan juga  terjadinya Perang Korea menjadi hal yang signifikan dalam perkembangan perekonomian Jepang.

Perkembangan ekonnomi  ini ditandai dengan bertumbuhnya Pendapatan Nasional Jepang pada tingkat rata-rata 9,1% per tahun pada akhir 1950-an, puncaknya pada tahun 1954 terjadi kemajuan yang sangat signifikan dalam menstabilkan perekonomiannya, hal ini  menyebabkan jepang menyatakan bahwa “periode pasca perang telah berakhir” dan ditahun 1960-an ekonomi Jepang disebut-sebut mengalami keajaiban karena pertumbuhan ekonominya mencapai rata-rata 10% pertahun. Perjalanan Jepang dalam mencapai kemakmuran ini dipengaruhi oleh berbagai elemen yang ada, hal ini dipengaruhi oleh kontribusi dari sumber daya manusia Jepang, dengan adanya para pekerja yang berdedikasi para manager yang berbakat dan anggota serikat koperasi, serta kebijakan perdagangan internasional Jepang yang bergantung pada pasar tertutup di dalam negeri dan dorongan ekspor yang agresif ke luar negeri. Sistem perdagangan internasional yang terbuka pasca terjadinya perang memberikan keuntungan bagi Jepang dalam melakukan proses ekspor, sistem perdagangan ini memberikan akses yang mudah bagi negara Jepang  untuk mengirimkan bahan mentah essensial, dan teknologi baru ke pasar Internasional.

Kecepatan pertumbuhan ekonomi Jepang saat itu dipengaruhi oleh peran penting dari struktural dari ekonomi Jepang yang pada dasarnya merupakan suatu cara dalam meningkatkan ekonomi Jepang yang dapat mendukung ekspansi industri yang sangat cepat, salah satu ciri ini menjadi peran yang menonjol dari birokrasi pemerintah nasional dalam kehidupan ekonomi Jepang pasca perang.  Johnson (1982) mencatat aktivisme ekonomi birokrat Jepang dan menggambarkan Jepang sebagai negara berkembang, sangat mirip dengan prototipe jenis pemerintahan yang telah mencirikan ekonomi Asia yang tumbuh tinggi seperti, Singapura, Korea Selatan,Taiwan dan China di beberapa tahun terakhir. Institusi lainnya yang mempengaruhi berkembangnya ekonomi Jepang yang sangat pesat adalah “Sistem Ketenagakerjaan Jepang” yang mana terdiri dari praktik kerja seumur hidup di perusahaan besar, gaji dan promosi senioritas, dan serikat perusahaan yaitu keiretsu.

Setelah terjadinya ketegangan baik dalam domestik maupun Internasional, pada tahun 1970-an, Jepang mengalami kenaikan ekonomi yang sangat signifikan di tahun 1980-an menjadi tahun yang sangat mengembirakan bagi Jepang lonjakan ekonomi Jepang terjadi terutama setelah tahun 1985, lonjakan ekonomi Jepang ini disebut sebagai Bubble Economy, ini ditandai dengan ledakan real estate yang terjadi di Jepang, beberapa perusahaan dan raksasa keuangan di Jepang melakukan pembelian di luar negeri seperti: $80 juta untuk Van Gogh, $850 juta untuk Rockefeller Center, $3 miliar untuk Columbia Pictures, dan $900 juta untuk Lapangan Golf Pebble Beach. Lembaga keuangan Jepang adalah yang terbesar di dunia. Pabrikan Jepang seperti Toyota dipuji (dan ditiru secara luas secara global) untuk inovasi manajerialnya, para ahli real estate menyimpulkan bahwa beberapa hektar dari istana Kekaisaran Tokyo bernilai lebih dari gabungan semua tanah di Kanada, dan lahan seluas 240 mil persegi di Tokyo dikatakan bernilai lebih dari gabungan semua tanah di Amerika Serikat. namun kemakmuran Jepang yang dibangun saat itu memiliki fondasi yang paling goyah,Perjanjian Plaza ini merupakan perjanjian yang disepakati guna untuk memperbaiki surplus perdagangan kronis Jepang dengan melemahkan dolar dan memperkuat yen. Pada saat itu Bank of Japan (Boj) melakukan kebijakan moneter ekspansif untuk mencegah  resesi (Mazzota,2015).

Kebijakan ekspansif ini menyebabkan ledakan spekulatif dalam real estate dan ekuitas, yang kemudian menimbulkan persaingan ketat di sektor perbankan, yang pada gilirannya memicu praktik pemberian pinjaman yang gegabah. Hal ini diperburuk oleh perubahan dalam sistem keuangan perusahaan. Pada tahun 1980-an, perusahaan Jepang tumbuh terlalu cepat untuk membiayai semua kebutuhan modalnya dari pinjaman bank sehingga semakin banyak perusahaan seperti Toyota menemukan pembiayaan mereka di pasar obligasi Tokyo dan juga di New York. Hal ini berarti bank-bank besar Jepang kehilangan beberapa pelanggan terbesar mereka dan mati-matian mencari tempat baru untuk menginvestasikan uang mereka dan hal ini seringkali berakhir dengan peminjam berisiko dalam kesepakatan real estate yang dipertanyakan. Singkatnya, ledakan ekonomi Jepang pada akhir 1980-an benar-benar tidak lebih dari sekedar finansial kartu, keuntungan yang palsu dari uang kertas, dan kemudian ini dikenal sebagai “gelembung ekonomi”.

Daftar Pustaka

Mazzota, W. M. (2015). The Bubble Economy and Lost Decade: Learning from the JapaneseEconomic Experience. Journal of Global Initiatives : Policy, Pedagoy, Perspective ,9(6)57-74.

Johnson, C. (1982). MITI and the Japanese Miracle: The Growth of Industrial Policy. Stanford University Press.

Author:

35 thoughts on “Perkembangan Ekonomi Jepang Pasca PD II Menuju Bubble Economy

  1. dari penjabaran saudara diatas, muncul satu pertanyaan bagi saya.
    dalam masa pemulihan perekonomian setelah di bomnya nagasaki dan hiroshima oleh sekutu(pasca PD II), langkah apa yang telah diambil pemerintahan jepang dalam upaya pemulihan perekonomian negaranya ? diluar bantuan dari negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *