Peran dan Partisipasi Jepang Dalam Isu Terorisme Global: Kerjasama Kontra-Terorisme dengan Amerika

Jepang merupakan negara dengan historical culture sangat kuat yang menjadi jembatan bagi Jepang menuju modernitas seperti hari ini. Sebelum meleburnya nilai nilai Restorasi meiji dan kemudian mengantarkan Jepang menjadi sebuah negara yang terbuka dengan nilai nilai barat Jepang dulunya adalah negara yang menganut sistem kasta dan mempercayai pandangan bahwasannya yang kuatlah yang memimpin.

Hubungan dan kedekatan dengan barat pada dasarnya cenderung mendeskripsikan bagaimana hubungan simbiosis mutualisme yang terjalin antara Jepang dengan Amerika. Hadirnya globalisasi sebagai bentuk perubahan zaman yang didorong oleh modernitas dan teknologi membuat hubungan interaksi kedua negara ini semakin kian intens dan kompleks seiring dengan berjalannya waktu yakni tidak hanya sebatas kepada mentransfer nilai nilai ideologis, namun juga kerja sama dalam ekonomi, politik, hingga militer. Dengan demikian, sejak semula AS sudah menjadi mitra dan sekutu yang dekat bagi Jepang sebagai salah satu negara maju di Asia. Historis yang terbangun antara Jepang dan Amerika ini menjadi tolak ukur yang turut menggambarkan bagaimana peran dan arah kebijakan Jepang dalam konstelasi terorisme global walaupun Jepang tidak termasuk negara dengan intensitas pergerakan terorisme yang masif.

Selain popularitasnya melejit di kawasan eropa dan Amerika pasca tragedi 9/11, Terorisme juga terjadi di tengah tengah konflik sosial politik, yang bercampur dengan isu keagamaan sebagaimana yang terjadi di Nigeria, Somalia, Libya, Maroko, Mesir, Irak, Suriah dan Yaman. Konflik konflik tersebut kemudian melebar ke negara-negara lain seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Lebanon di Timur Tengah, Afghanistan, Pakistan, India di Asia Selatan, Indonesia, Filipina dan Thailand di Asia Tenggara (Yunanto, Sri. Dkk). Menyebarnya isu terorisme hingga ke Asia menimbulkan indikasi ancaman terorisme di kawasan bagi Jepang. Sebagaimana menurut Zarate (2015) bahwa implikasi keamanan yang disebabkan adanya terorisme mempengaruhi setiap negara, terutama negara yang memiliki jejak global dalam menghadapi terorisme serta masuknya paham-paham yang berseberangan dengan nilai dan norma internasional. Oleh karenanya dibutuhkan kerja sama internasional baik secara multilateral maupun bilateral untuk menghadapi berbagai macam ancaman terorisme dalam mengantisipasi tumbuhnya bibit terorisme baru di masa depan. Dalam lingkungan keamanan ini, negara-negara yang mempunyai power seperti Jepang yang beraliansi dekat dengan Amerika misalnya, perlu berkoordinasi lebih intensif untuk menghadapi ancaman yang berkembang dan menemukan cara untuk saling melengkapi kemampuan dan keunggulan dalam perang melawan terorisme.

Sejatinya securitization concern antara Jepang dan Amerika sudah terjalin sejak lama bahkan sebelum adanya “war on terror campaign” yang digaungkan AS pasca tragedi 9/11. Menurut Zarate (2016) pada 1951, kedua negara telah mendeklarasikan adanya perjanjian keamanan antara AS-Jepang dalam upaya meletakkan dasar bagi kemitraan yang memanfaatkan kekuatan relatif masing-masing negara untuk berkontribusi pada perdamaian dan keamanan internasional. Hal ini tentunya mencirikan bagaimana Jepang sejak lama memang memiliki andil serta menaruh perhatian terhadap isu terorisme dilihat dari upayanya dalam menjaga stabilitas keamanan dengan adanya perjanjian keamanan  dengan AS tersebut.

Sebagai negara yang menyandarkan sistem militerisasinya terhadap AS, tragedi 9/11 pada tahun 2001 membuat Jepang turun tangan dengan mengirimkan pasukan SDF (Self-Defence Force) serta bantuan finansialnya kepada Irak dan Afghanistan yang tengah berperang, terdapat  Sekitar 1.400 personel SDF dikirim ke Irak antara tahun 2003 dan 2009 (Mariko, 2012). Sebab, persepsi ancaman bahwasannya Asia merupakan kawasan yang rentan terorisme membuat Jepang harus bertindak sebagai bagian dari masyarakat Asia yang merupakan kawasan integritas Jepang.

Bentuk kerjasama lainnya antara Jepang-AS adalah bantuan operasional Jepang dalam pembentukan pangkalan militer asing dalam upaya memberantas pembajakan lintas batas yang menjadi langkah strategis Jepang di kawasan, salah satunya di kawasan Djibouti. Tindakan ini menggambarkan langkah besar yang diambil Jepang dalam semangat anti-pembajakan global (Ministry of Foreign Affairs of Japan, n.d.). Amerika Serikat dan Jepang melihat manfaat kerja sama dalam anti-pembajakan karena kepentingan perdagangan bersama kedua negara, yang mana dapat terancam oleh eksploitasi jalur perdagangan laut oleh perompak atau teroris yang beroperasi dalam jaringan kriminal ini. Kehadiran fisik pasukan Jepang di wilayah tersebut memungkinkan koordinasi terintegrasi pasukan SDF dan AS dalam kegiatan pengawasan pembajakan, yang menghasilkan peningkatan kapasitas militer nasional dan respons darat yang lebih kuat dan efektif. 

Selain itu, Amerika Serikat dan Jepang telah mengambil sejumlah tindakan yang sangat penting termasuk penerbitan strategi keamanan nasional pertama Jepang, pembentukan Dewan Keamanan Nasional (NSC), peningkatan anggaran pertahanan, dan pengesahan undang-undang keamanan kerjasama yang lebih erat dengan Amerika Serikat. Amerika Serikat telah menyatakan niat untuk menyeimbangkan kembali perhatian strategis AS dan kekuatan militer menuju kawasan Asia-Pasifik. Kedua negara-negara telah menyimpulkan Pertahanan bilateral yang diperbarui Pedoman untuk kerjasama keamanan yang lebih dekat dan memiliki mencapai kesepakatan untuk kerjasama ekonomi yang lebih luas dan lebih dalam melalui Trans-Pasifik Kemitraan (TPP).

Selain kerja sama keamanan yang intensif dengan Amerika, pada tahun 2010 Jepang merilis sebuah National Defense Guideline (NDG) yang baru dan telah disetujui oleh security council and the cabinets pada 17 Desember 2010. Dengan kehadiran NDPG ini akan merangkul kebijakan pertahanan Jepang yang lebih proaktif. Disamping itu NDPG baru memfokuskan peran Jepang di kawasan Asia Pacific yang lebih proaktif didukung oleh adanya Ground Self-Defense Force, Air Self-Defense Force, dan Maritim Self-Defense Force sebagai satu opsi atas suatu keadaan kawasan yang dapat dikatakan mengancam Jepang.  Serta menekankan bahwa Jepang akan terus meningkatkan dan mengembangkan kemampuan pertahanan dengan bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam meningkatkan kemampuan militerisasi Jepang (Ministry of Foreign Affairs of Japan, n.d)

Meski Jepang bukan merupakan negara utama tujuan pelaku terorisme, secara geographical aspect Jepang yang berada di kawasan Asia Pacific membuatnya harus memiliki concern yang sama dalam rangka turut membantu menjaga stabilitas keamanan kawasan dan memperkuat komitmen terhadap norma dan hukum internasional bahwasannya setiap negara harus berpartisipasi dalam menjaga keamanan dan perdamaian dunia.

Daftar Pustaka 

Yunanto, S. dkk. (2017). Ancaman dan strategi penanggulangan terorisme di dunia dan Indonesia. Institute For Peace and Security Studies.

Zarate, J., C. (2018). The Japan-U.S. Counterterrorism Alliance In an Age of Global Terrorism. CSIS. https://www.csis.org/people/juan-c-zarate 

Ministry of Foreign Affairs of Japan. (n.d.). Present State of the Piracy Problem and Japan’s Efforts. https://www.mofa.go.jp/policy/piracy/problem0112.html

Ministry of Foreign Affairs of Japan. (n.d.). Treaty of mutual cooperation and security between Japan and The United States of America. https://www.mofa.go.jp/region/n-america/us/q&a/ref/1.html

Mariko, O. (2020, 6 Desember). Japan’s contradictory military might. BBC, http://www.bbc.com/news/world-asia17175834

83 thoughts on “Peran dan Partisipasi Jepang Dalam Isu Terorisme Global: Kerjasama Kontra-Terorisme dengan Amerika

  1. Penulisan artikelnya sangat bagus dan mudah dimengerti. Menambah wawasan dan pengetahuan baru juga mengenai strategi kontraterorisme Jepang. You did a good job👍

  2. Excellent well-written article!! This gave me a new insight. Great Job Yolaaa. Thank you for sharing with us🖤 Stay healthy, safe, sane, and God Bless☀️🌻

  3. All the best sister, and this blog is very motivated me about this story,

    But i am sorry mau lenguage not very great than you sister, hihiji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *