Peningkatan Populasi Lansia: Akankah Menjadi Ancaman Bagi Perekonomian Jepang?

Jepang yang biasa dikenal sebagai Negara Matahari Terbit merupakan salah satu negara maju yang memiliki etos kerja dan semangat yang amat tinggi. Dapat dilihat pada masyarakatnya yang lebih memilih untuk bekerja ketimbang berkeluarga dan memiliki anak. Namun, hal ini malah menjadi kekhawatiran untuk pemerintah Jepang sendiri. Mengapa demikian?

Di Jepang dikenal istilah fenomena shoushika yang telah terjadi sejak tahun 1975. Masahiro Yamada (2007, hlm. 3) dalam bukunya yang berjudul Shoushika Shakai Nihon dalam  Fenomena Shoushika Di Jepang: Perubahan Konsep Anak mengatakan bahwa, shoushika adalah suatu kondisi atau keadaan menurunnya jumlah anak yang dilahirkan (Widiandari, 2016). Hal ini disebabkan karena perubahan cara pandang generasi muda di Jepang yang tidak ingin melakukan pernikahan dan memiliki anak. Biaya hidup yang mahal dan waktu bekerja yang sangat padat menjadi salah satu penyebab generasi muda enggan untuk memiliki anak, yang pada akhirnya penurunan angka kelahiran di Jepang terus merosot setiap tahunnya. Dengan cara pandang generasi muda yang seperti ini, menjadikan bangsa Jepang sebagai suatu generasi yang semakin menua dan terus meningkat jika tidak diimbangi dengan angka kelahiran yang meningkat pula. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran pemerintah Jepang.

Peningkatan Populasi Lansia

Jepang sebagai negara maju yang memiliki lingkungan bersih dan gaya hidup yang sehat membuat angka harapan hidup di Negeri Sakura menempati peringkat tertinggi di dunia berdasarkan data statistik WHO (World Health Organization) pada tahun 2010. Mengutip Asia-Pacific Development Journal, usia rata-rata penduduk Jepang telah meningkat dan separuh penduduk Jepang pada tahun 2050 akan berusia di atas 53 tahun. Dengan begitu, populasi lansia akan terus mengalami peningkatan (Horlacher, & MacKellar, 2003). Adanya peningkatan populasi lansia berarti pemerintah harus siap menggelontorkan dana yang lebih besar untuk perawatan kesehatan dan tunjangan jaminan sosial. Pengeluaran yang semakin meningkat namun pendapatan yang malah menyusut akibat kurangnya tenaga kerja usia produktif menjadi sebuah ancaman bagi pertumbuhan perekonomian Jepang, dimana tenaga kerja merupakan faktor utama dalam produksi.

Dampaknya Terhadap Perekonomian Jepang

Menurut Katagiri (2012), seorang ekonom di International Monetary Fund, menunjukkan bahwa meningkatnya populasi lansia telah menyebabkan guncangan pada struktur permintaan Jepang yang menyebabkan beberapa tekanan deflasi, peningkatan tingkat pengangguran, dan penurunan PDB riil dari awal 1990-an hingga 2000-an. Dengan berkurangnya tingkat tenaga kerja juga dapat menghambat investasi yang berdampak pada penurunan savings rate. Horioka (1989) dalam Population Ageing In Japan: Policy Lessons For South-East Asia memprediksi savings rate Jepang akan mengalami penurunan antara 10 persen sampai -20 persen pada awal abad ke-21 (Horlacher, & MacKellar, 2003). Melihat realita yang ada mengharuskan pemerintah Jepang untuk mengambil kebijakan yang tepat dalam mengatasi hal tersebut dan juga dapat mempertahankan tingkat produksinya agar tidak kehilangan posisinya sebagai negara maju dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia.

Kebijakan Pemerintah Jepang

Dalam artikel The Diplomat yang berjudul “How Does Japan’s Aging Society Affect Its Economy?” mengungkap bagaimana strategi dan langkah pemerintah dalam mengatasi tantangan perekonomian Jepang untuk meningkatkan produktivitas juga melindungi kesehatan lansia agar tetap sehat dan bisa bekerja, sehingga ini akan mengurangi pengeluaran untuk biaya jaminan sosial dan tingkat produksi yang lebih efektif (Walia, 2019).

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk dapat mengatasi ancaman terhadap pertumbuhan perekonomian Jepang agar tidak semakin melemah akibat dari krisis penuaan dan penurunan populasi yang terjadi hingga saat ini. Kebijakan Re-contract atau mempekerjakan kembali para lansia yang sudah habis masa kerjanya dengan memperpanjang usia pensiun (Isworo, 2019). Pemerintah Jepang telah berupaya untuk memperbolehkan usia pensiun hingga 65-70 tahun yang telah diberlakukan pada April 2020 dan akan diwajibkan pada 2021 mendatang bagi perusahaan-perusahaan Jepang.

Selain itu, Abe juga membuat program untuk mendukung pasangan muda yang mau menikah dan membesarkan anak dengan memberikan bantuan uang tunai demi meningkatkan angka kelahiran di Jepang yang akan dimulai pada April 2021. Pemerintah Jepang telah menentukan target pada 2025 untuk dapat meningkatkan angka kesuburan kembali stabil (Walia, 2019).

Daftar Pustaka

Horlacher, D., & MacKellar, L. (2003). Population Ageing In Japan: Policy Lessons For South-East Asia. Asia-Pacific Development Journal, 10(1), 98-107.

Isworo, W. (2019). Kebijakan Pemerintah Jepang Masa Shinzo Abe Dalam Merespon Permasalahan Penduduk yang Menua Melalui Penaikan Batas Usia Pensiun dan Re-contract. Departemen Ilmu Hubungan Internasional. Universitas Gajah Mada.

Katagiri, M. (2012). Economic Consequences of Population Aging in Japan: effects through changes in demand structure. Institute for Monetary and Economic Studies Bank of Japan.

Walia, S. (2019, November 13). How Does Japan’s Aging Society Affect Its Economy?. The Diplomat. https://thediplomat.com/2019/11/how-does-japans-aging-society-affect-its-economy/.

Widiandari, A. (2016). Fenomena Shoushika Di Jepang: Perubahan Konsep Anak. Ejournal Undip, 5(1), 32.

Author: Ema Nurhikmah

50 thoughts on “Peningkatan Populasi Lansia: Akankah Menjadi Ancaman Bagi Perekonomian Jepang?

  1. Aging society merupakan permasalahan yang menjadi momok bagi Jepang, untuk itu diperlukan kebijakan yang dapat mengurangi permasalahan tersebut. Artikel ini telah memberikan informasi mengenai tindakan pemerintah terhadap penuaan yang terjadi di Jepang, terimakasih artikel yang sangat informatif dan beredukasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *