Pengaruh Isu Comfort Women terhadap Dinamika Hubungan Bilateral Jepang dan Korea Selatan

Comfort Women atau dalam istilah bahasa Jepang dikenal sebagai Jugun Ianfu merupakan istilah yang digunakan untuk kelompok wanita yang terlibat dalam perekrutan secara paksa untuk menjadi pekerja seks bagi tentara Jepang. Kelompok wanita ini ditempatkan di rumah bordil atau yang disebut sebagai comfort stations yang didirikan oleh Jepang kepada tentaranya yang berada pada wilayah jajahannya ketika perang Asia Pasifik berlangsung.Korban comfort women berjumlah hingga 50.000-200.000 orang. Permasalahan comfort women mulai terjadi sejak tahun 1932 dan akibatnya terus memberi implikasi yang kuat kepada hubungan bilateral yang terjalin antara Jepang dengan Korea Selatan.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh kedua belah pihak, diantaranya Jepang memberi Kono Statement yang merupakan pernyataan atas pengakuan pemerintah Jepang bahwa militer Jepang pada perang dunia ke-2 terlibat dalam pengelolaan rumah bordil dan korban-korban wanita comfort women hidup dalam kesengsaraan dan dalam keadaan terpaksa memberikan jasanya (Ministry of Foreign Affairs of Japan, 1993). Adapun upaya-upaya yang dilakukan pihak Korea Selatan (Fauzia, 2017), berupa; Pertama, pemunculan isu comfort women sebagai isu nasional negara Korea Selatan. Kedua, menggerakkan massa Korea Selatan yang dikenal sebagai Wednesday demonstation. Ketiga, membangun patung comfort women didepan kantor kedutaan besar Jepang di Korea Selatan. Keempat, memberi ancaman pemutusan hubungan diplomatic Korea Selatan kepada Jepang. Pada September 2013, Korea Selatan dan Jepang bersama China berhasil menyepakati perundingan Free Trade Agreement (FTA). Dengan adanya FTA ini menciptakan efek positif terhadap hubungan bilateral Korea Selatan dan Jepang, kedua negara memilih untuk memprioritaskan saling ketergantungan ekonomi daripada konflik politik (Ando, 2014). Hingga pada tahun 2015, kedua negara berhasil menandatangani perjanjian Agreement on Comfort Women dan menyatakan permasalahan comfort women telah berhasil diselesaikan. Perjanjian tersebut berisi permintaan maaf secara resmi oleh Perdana Menteri Shinzo Abe serta pemerintah Jepang membayar 8,5juta USD atau Rp 121 Miliar untuk mendirikan yayasan khusus bagi korban dan keluarga korban comfort women (Ministry Foreign Affairs of Japan, 2015). Pemerintah Jepang juga menginginkan patung comfort women yang berada di depan kantor kedutaan Jepang disingkirkan.

Namun, perjanjian Agreement on Comfort Women secara luas dikecam oleh korban dan kelompok pendukung comfort women karena dinilai gagal melibatkan suara dari para korban dan tidak memenuhi tuntutan korban. Struktur masyarakat Korea Selatan yang homogen, nasionalisme dan saling memiliki menjadi faktor yang dapat menjelaskan bagaimana opni publik dapat mempengaruhi pembatalan kerjasama antara Korea Selatan dengan Jepang (Adityani, 2018). Akibatnya, perjanjian tersebut tidak sepenuhnya mengubah hubungan kedua negara. Memburuknya hubungan kedua negara menimbulkan beberapa implikasi yang menjadi masalah baru bagi hubungan Jepang dan Korea Selatan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa permasalahan comfort women ini memberi tiga implikasi bagi hubungan Jepang dan Korea Selatan, yaitu;

  1. Perang Dagang antara Jepang dengan Korea Selatan pada tahun 2019

Perang dagang dimulai pada Juli 2019, Jepang meningkatkan kontrol atas kegiatan ekspor terhadap tiga macam produk ke Korea Selatan, yaitu fluorinated polyimide yang digunakan untuk pembuatan layar ponsel, photoresists dan hydrogen fluoride yang digunakan dalam bahan pembuatan semi konduktor (Ma, 2019). Kegiatan ekspor ketiga bahan baku ini memerlukan izin yang diajukan eksportir dimana prosesnya memakan waktu 90 hari. Keputusan ini berlanjut dengan kebijakan Jepang menghapus Korea Selatan dari whitelist pada Agustus 2019 (Sugihara, 2019). Whitelist adalah daftar negara yang mendapat pembebasan prosedur ekspor tambahan untuk semua produk. Kebijakan ini kemudian dibalas Korea Selatan dengan hal serupa, yaitu menghapus Jepang dari daftar mitra terpercaya. Perang dagang ini memberi efek buruk bagi kedua negara dengan menurunnya ekspor Jepang ke Korea Selatan hingga 8,1% dan memungkinkan memberi pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sekitar 2% (“Economist Warns on Larger Ripple Effect of Japan-South Korea Trade War”, 2019).

2. Korea Selatan melakukan penarikan dari General Security of Military Information Agreement  (GSOMIA)

Pada November 2016,  Korea Selatan dengan Jepang menandatangani perjanjian GSOMIA yang telah dinegosiasikan sejak tahun 2011. Kesepakatan GSOMIA antara kedua negara akan memberi landasan bagi kerangka kerja diplomatik berdasarkan ancaman bersama, terutama yang berkaitan dengan Korea Utara (Ando, 2014). Perjanjian ini memuat kesepakatan untuk berbagi informasi intelijen antar kedua negara yang berfokus pada informasi sensitif mengenai perkembangan nuklir dan rudal yang memiliki klasifikasi kelas 2 atau lebih rendah milik Korea Utara. Keputusan Korea Selatan dengan menarik diri dari GSOMIA membahayakan keamanan regional Asia Pasifik.

Implikasi akibat isu comfort women menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kedua negara dan stabilitas regional. Keamanan dan pertahanan merupakan hal yang paling berperan penting dalam menjaga kestabilan sebuah negara. Oleh karena itu, dalam hubungan internasional, negara-negara mengumpulkan lebih banyak kekuatan demi tercapainya kepentingan nasional terutama kepentingan keamanan nasional. Stabilitas kawasan juga diperlukan untuk terlaksananya hubungan antar-negara kawasan guna mencapai kepentingan nasionalnya. Untuk mencapainya, negara kawasan perlu bekerjasama dalam ketahanan regional yang mendukung terbentuknya stabilitas kawasan.

3. Pemboikotan produk-produk Jepang yang dilakukan oleh masyarakat Korea Selatan.

Solidaritas masyarakat Korea Selatan dalam mengawal isu ini sangat terlihat. Bukan hanya dari pemerintah Korea Selatan, masyarakat Korea Selatan juga melakukan pemboikotan produk Jepang sebagai respon atas ketidaksetujuan atas pembatasan ekspor oleh Jepang yang berakibat terjadinya perang dagang. Isu comfort women telah menimbulkan persepsi negatif masyarakat Korea Selata terhadap Jepang dan opini publik tersebut terus bertahan. Sehingga pukulan yang dirasakan Jepang bukan hanya dipersulitnya akses ekpor ke Korea Selatan, namun tingkat penjualan produk Jepang mengalami penurunan. Masyarakat Korea Selatan memulai gerakan boikot secara nasional dengan slogan I Will Not Buy, I Will Not Go and I Will Not Wear. Kampanye “No Japan” juga dilakukan melalui aplikasi dan situs internet yang menunjukan produk atau merk Jepang (Kasulis, 2019). Mereka memboikot produk-produk Jepang, seperti bir, pakaian, mobil, film dan kunjungan liburan, yang berpengaruh pada perekonomian Jepang. 

Isu comfort women telah membawa implikasi yang besar bagi Jepang dan Korea Selatan. Kesalahan militer Jepang saat terjadi perang dunia ke-2 ternyata membawa pengaruh hingga sekarang dalam hubungan bilateral antara Jepang dan Korea Selatan. Walaupun telah mencapai kesepakatan pada tahun 2015, namun dapat terlihat bagaimana besarnya kekuatan opini publik sehingga dapat mempengaruhi kebijakan dan arah politik sebuah negara. Persepsi negatif yang telah meluas membawa hubungan kedua negara lebih buruk. Bagi Jepang dan Korea Selatan, sektor industri merupakan sektor yang paling penting bagi perekonomian negara. Implikasi yang ditimbulkan dari isu comfort women juga membawa pengaruh terhadap kepentingan nasional kedua negara, berupa isu kestabilan regional yang mana terdapat ancaman nuklir dari Korea Utara dan sektor perekonomian industri kedua negara. Apabila perselisihan Jepang dengan Korea Selatan masih berlanjut maka memungkinkan membawa dampak yang lebih buruk, bukan hanya bagi kedua negara tetapi regional. Kestabilan dan kemanan regional merupakan hal penting untuk menjaga roda perekonomian negara agar dapat berjalan baik, sehingga Korea Selatan dan Jepang perlu menemukan solusi atas permasalahan politik negara mereka. Dengan begitu, Korea Selatan dan Jepang dapat mengumpulkan kekuatan untuk membendung ancaman nuklir Korea Utara.

Daftar Pustaka

Adityani, F., D. (2018). Memori dan Trauma dalam Hubungan Internasional: Pengaruh Isu “Comfort Women” terhadap Kerjasama Keamanan Jepang dan Korea Selatan. Journal of International Relations, 4(1), 25-26. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jihi/article/view/19038/18096

Fauzia, R, & Pakpahan, Saiman. (2017). Diplomasi Korea Selatan Mendesak Jepang Menandatangani Agreement on Comfort Women Tahun 2011-2015. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 4(1), 1-15. https://www.neliti.com/publications/186547/diplomasi-korea-selatan-mendesak-jepang-menandatangani-agreement-on-comfort-wome#cite

Ando, M., Wei, C., & Aoi F. (2014). Developing a Future Partnership between Japan and South Korea for Regional Stability in East Asia (Policy Brief).  The German Marshall Fund Of the United State. https://www.jstor.org/stable/resrep18729

Kasulis, K. (2019, 12 Agustus). South Korea’s ‘No Japan’ boycott is new. But the wounds are old. Pri.org. https://www.pri.org/stories/2019-08-12/south-korea-s-no-japan-boycott-new-wounds-are-old

Ma, A. (2019, 24 Juli). South Korea and Japan are having their own trade war. Business Insider. https://www.businessinsider.sg/south-korea-japan-trade-war-gas-stations-decades-long-tensions-2019-7/?r=US&IRT

Ministry Foreign Affairs of Japan. (2015, 28 Desember). Announcement by Foreign Ministers of Japan and the Republic of Korea at the Joint Press Occasion. https://www.mofa.go.jp/a_o/na/kr/page4e_000364.html

Ministry of Foreign Affairs of Japan. (1993, 4 Agustus). Statement by the Chief Cabinet Secretary Yohei Kono on the result of the study on the issue of “comfort women” [Press Statement]. https://www.mofa.go.jp/policy/women/fund/state9308.html

Sugihara, J. (2019, 28 Agustus). Japan officially ousts South Korea from export whitelist. Nikkei Asia. https://www.asia.nikkei.com/Spotlight/Japan-South-Korea-rift/Japan-officially-ousts-South-Korea-from-export-whitelist

Economist Warns on Larger Ripple Effect of Japan-South Korea Trade War. (2019, 28 September). The Japan Times. https://www.japantimes.co.jp/news/2019/09/28/business/economist-warns-larger-ripple-effect-japan-south-korea-trade-war/#.XZhRQeczZmA

Author:

25 thoughts on “Pengaruh Isu Comfort Women terhadap Dinamika Hubungan Bilateral Jepang dan Korea Selatan

  1. Isu yang diangkat sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut, sejarah masa lalu Jepang dan Korea Selatan dalam isu comfort women ini tidak kunjung mendapatkan titik terang, isu yang kemudian “merembet” ke berbagai isu seperti ekonomi yang memengaruhi hubungam kedua negara. Keren sekali artikelnya. Good job

  2. Pingback:Scott Schulte

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *