Letak Strategis Wilayah Hong Kong Bagi Jepang

Dalam dunia internasional, ketika peristiwa Perang Dunia II antara Amerika Serikat dan sekutu dengan pasukan kubu poros terdapat beberapa negara yang ingin melakukan percobaan untuk merebut wilayah kekuasan terhadap suatu negara yang hendak ingin dikuasai. Berbicara mengenai Hong Kong, kota administrasi bagi Tiongkok tersebut sempat diduduki oleh Inggris yang di mana Inggris menjadikan Hong Kong sebagai simbol Inggris Raya yang luar biasa di Asia Timur. Sehingga, hal tersebut memicu kepada salah satu negara yang ingin melakukan invasi kepada kota Hong Kong saat itu, yaitu Jepang. Pada 18 Desember 1941 untuk pertama kalinya Jepang melakukan pendudukan terhadap kota Hong Kong yang di mana masih dikuasai oleh Inggris. Hal tersebut tidak membuat Jepang gentar atas tekadnya untuk melakukan invasi di wilayah administrasi Tiongkok saat ini, yaitu Hong Kong.

Atas tekadnya, Jepang mengirimkan seorang utusan asal negerinya untuk bertemu kepada Gubernur Hong Kong yang berasal dari Inggris, yaitu S. Mark Young agar segera pergi dari kota Hong Kong dan memberikan kesempatan bagi Jepang untuk mendapatkan wilayah Hong Kong yang tentunya menjadi bekas jajahan Inggris. Namun, hal tersebut ditolak oleh pihak Inggris yang berada di wilayah Hong Kong. Menurut Miyahira (2017), Inggris menempati Hong Kong atas dasar kemenangan Inggris atas Tiongkok karena kekalahan perang pada tahun 1800-an yang membuat Inggris berhasil merebut Pulau Hongkong pada tahun 1842 silam. Hal tersebut tidak membuat Jepang menyerah begitu saja, justru semakin membuat Jepang terus melakukan tindakan agresif terhadap Inggris.

Jepang akhirnya menyerahkan pasukan mereka untuk menyerang wilayah kekuasaan Inggris yang berada di wilayah Hong Kong. Pasukan Jepang melakukan eksekusi terhadap pasukan Inggris bahkan society Tiongkok yang berada di wilayah Hong Kong pun terkena imbasnya. Jepang menggunakan senjata artileri yang di mana senjata tersebut merupakan senjata yang sangat efektif untuk mematikan musuh dalam melakukan penyanderaan ataupun kegiatan eksekusi mati. Jepang terus memberikan mandat kepada pasukan militernya untuk menyerang pasukan Inggris dan menguasai tiap sudut wilayah Hong Kong.

Pada 25 Desember 1941, akhirnya Jepang berhasil menguasai kota administratif Hong Kong secara penuh atas tekadnya dalam mengusir Inggris pada saat itu. Dan kekuasan Jepang atas Hong Kong berhasil dikuasai selama kurang dari 4 tahun sebelum akhirnya Jepang harus menyerahkan wilayah Hong Kong kepada sekutu karena sekutu berhasil menang pada Perang Dunia II. Namun, di balik itu semua tindakan Jepang atas pendudukan Hong Kong membuat perspektif negatif terhadap dunia internasional lantaran sikap Jepang yang tidak terhormat dalam menyatakan perang atas Inggris saat melakukan invasi di Hong Kong. Sehingga serangan Jepang tersebut dianggap sebagai bukti dari pelanggaran hukum internasional, bahwasanya jika suatu negara ingin melakukan kegiatan perang atas negara lain hendaknya harus menyatakan sebuah deklarasi terhadap negara yang bersangkutan. Jepang melakukan tindakan invasi kepada Hong Kong karena hal itu merupakan kebijakan dari bidang politiknya yang selalu terkoordinasi.

Kebijakan politik Jepang yang membuat berhasilnya menguasai wilayah Hong Kong lantaran Jepang ingin menunjukkan kepada dunia internasional jika Jepang benar-benar ingin membuat persatuan yang makmur dan solid antar negara Asia Timur Raya dengan mengusir bekas penjajah termasuk kolonial Inggris tersebut. Selain itu, wilayah Hong Kong dianggap oleh Jepang sebagai salah satu kota yang dapat digunakan untuk kegiatan basis ekonomi dan politik bagi kekaisaran Jepang pada saat itu. Hong Kong juga dijadikan sebagai tempat pelabuhan bagi Jepang untuk kegiatan politik-ekonominya Jepang dalam mencapai kepentingan nasional Jepang. Menurut Wong (2004), pasukan kubu poros pun Jepang menjadikan wilayah Hong Kong sebagai tempat perlindungan bagi Jepang bahwasanya Hong Kong merupakan benteng militer bagi Jepang yang penting saat berlindung dari musuh saat melakukan kegiatan perang dengan pasukan sekutu.

Jepang juga melihat letak strategis wilayah Hong Kong karena memiliki kesinambungan untuk dijadikan mitra kawasannya sebagai tempat pemulihan ekonomi bagi Jepang. Terbukti hingga saat ini ketika Hong Kong berhasil menjadi salah satu kota administratif yang muncul sebagai kekuatan ekonomi yang terbaik di Asia. Wilayah administratif Hong Kong merupakan pusat kegiatan usaha maupun bisnis dalam mencapai perdagangan internasional, sehingga hal itu mendukung adanya peran kota yang strategis bagi Jepang (Chan, 1982). Di lain hal, jika kita melihat letak kestrategisan wilayah Hong Kong bagi Jepang karena tentu terdapat kepentingan Jepang dalam memajukan kemakmuran ekonomi dan kohesi sosial yang didasarkan pada istilah “one country, two system”. Sejatinya bahwa Jepang dalam keadaan society di negerinya telah dibebani oleh sekelompok populasi yang menua dan perluasan layanan sosial sehingga akan membuat keadaan ekonomi Jepang menjadi mundur. Namun, hal itu tidak menjadi masalah dan dapat teratasi lantaran terdapat sekitar 1.400 perusahaan Jepang yang berada di Hong Kong dan hal tersebut menunjukkan bukti keberhasilan Jepang dalam sektor perekonomian dan menjaga stabilitas di wilayah Hong Kong.

Dalam ilmu hubungan internasional, pernyataan diatas dapat dianalisa dengan determinan politik luar negeri. Perilaku politik luar negeri merupakan tindakan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku politik luar negeri adalah faktor internasional, faktor dalam negeri, dan faktor individu dalam pembuat keputusan (Charles & Gregory, 2010). Pendekatan analisa politik luar negeri yang berbasis perspektif struktural adalah realisme.

Dengan ini realisme masih dianggap sebagai pendeketan yang sah dalam menganalisa sebuah politik luar negeri. Realisme berasumsi bahwasanya politik luar negeri dapat dianalisa dengan mengandaikan bahwa negara adalah aktor tunggal yang rasional, sehingga negara dengan hati-hati menghitung untung dan rugi dan pilihan tindakannya dalam memaksimalkan hasil yang diharapkannya (Koehane, 1989). Dengan letak kestrategisan Hong Kong bagi Jepang dan berhasil menduduki serta menguasai wilayah Jepang tentu sudah diamati secara matang oleh kekaisaran Jepang pada saat itu, yaitu Kaisar Hirohito. Kekuatan power yang dimiliki Jepang pada saat itu membuktikan negerinya bahwa dapat diakui kehebatannya dan berhasil mencapai pada kepentingan nasional Jepang. Kaum realis pun menjawab bahwa pengejaran terhadap power merupakan fakta yang tidak dapat terbantahkan. 

Daftar Pustaka

Chan, K. K. (1982). The Organizational Structure of Traditional Chinese Firm and its Modern Reform. Business History Review.

Charles, K., & Gregory, R. (2010). The Global Future: A Brief Introduction to World Politics. Wadsworth.

Koehane, R. (1989). International Institute and State Power: International Relations Theory. Westview Press.

Miyahira, K. (2017). The Japanese Occupation of Hong Kong. The Strategic Importance of Hong Kong and the Details of the Japanese Military Rule. [Doctoral thesis, The London School of Economics]. Academia.edu. https://www.academia.edu/36385704

Wong, J. (2004). The Adaptive Developmental State in East Asia. Journal of East Asian Studies, 4(3), 345-362. https://www.cambridge.org/core/journals/journal-of-east-asian-studies/article/adaptive-developmental-state-in-east-asia/772491D441064B9620CA2F973C397181



Author: Leo Gusanda

108 thoughts on “Letak Strategis Wilayah Hong Kong Bagi Jepang

  1. pembahasan yang bagus! Hong Kong memang terbukti menjadi pusat bisnis dan perdagangan, serta menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia Timur

    1. “Kaum realis pun menjawab bahwa pengejaran terhadap power merupakan fakta yang tidak dapat terbantahkan”.

      Penulis perlu menganalisa lebih lanjut tentang paragraf diatas,
      Ditunggu artikle selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *