Ketidakseimbangan Hubungan Perdagangan Korea Selatan dan Jepang Pasca Perang

Dalam hubungan diplomatik antar dua negara, sejarah hubungan antar keduanya sering menjadi masalah. Pada hubungan Korea Selatan dan Jepang ini berdasarkan survei oleh Yomiuri Shimbun (2015), sekitar 81% masyarakat Jepang merasa bahwa permintaan maaf dari Perdana Menteri mereka terdahulu sudah cukup untuk memperbaiki hubungan kedua negara. Sebaliknya masayarakat Korea Selatan menuntut lebih dari sekedar permintaan maaf dari Jepang, hal ini mengacu pada kurang konsistensi dan keikhlasan pada permintaan maaf Jepang (Kim et.al, 2015).

Hal tersebut berdasarkan 11,6% masyarakat Korea Selatan yang mempercayai bahwa politisi Jepang banyak yang tidak begitu menyesali masa lalu negaranya daripada mereka yang menyesali masa lalu negaranya. Sebanyak 30% masyarakat Korea Selatan mengatakan hal yang serupa mengenai masyarakat Jepang yang tidak begitu menyesali masa lalu negaranya.

Setelah hubungan yang penuh dengan perseteruan antara Korea Selatan dan Jepang, pada 1965 kedua negara akhirnya menormalisasi hubungan diplomasi mereka dengan menandatangani Treaty on Basic Relations between the Republic of Korea (ROK) and Japan untuk menanamkan kerja sama antara kedua negara. Dalam pandangan Realis, hubungan kedua negara in disebut dengan natural-allies dikarenakan persamaan politik dan sistem ekonomi hingga persamaan dalam sekutu yaitu Amerika Serikat (Cooney & Scarbrough, 2008).

Normalisasi hubungan kedua negara tidak dapat dihindarkan dan kedua kepala negara percaya bahwa hubungan ini akan memberikan keuntungan untuk masing-masing negara (Ko, 1972). Keputusan untuk normalisasi ini juga merupakan salah satu cara Korea Selatan untuk dapat membangun negaranya yang mengalami guncangan politik besar-besaran dan hancur karena perang. Lewat normalisasi ini Jepang memberikan bantuan keuangan untuk Korea Selatan sebagai bentuk kompensasi dari penjajahan Jepang di Korea Selatan. Bantuan ini berupa grant aid sebesar $300 juta, bantuan pinjaman sebesar $200 juta dan pinjaman komersial sebesar $300 juta.

Sejak 1965 modal Jepang masuk ke Korea Selatan secara besar-besaran, begitu juga dengan barang dan jasa. Tidak dapat dihindari bahwa dengan bantuan dan modal dari Jepang ini yang membantu Korea Selatan dalam membangun kembali negaranya terutama pada sektor ekonomi yang penting seperti pada proyek irigasi, pembuatan kapal hingga macam-macam tipe tanaman, dan lainnya.

Seiring berjalannya kerja sama kedua negara ini, terjadi ketidakseimbangan perdagangan di antara kedua negara, dimana Korea Selatan ketergantungan terhadap impor besar-besaran yang dilakukan Jepang hingga membuat Korea Selatan menjadi negara pengutang. Bahkan ketika ODA (Official Development Assistance) Jepang untuk Korea sudah berakhir, sekitar 30% impor di Korea masih berasal dari Jepang. Perusahaan otomotif, industri kimia dan elektronik Korea pada saat ini mengadopsi teknologi dari Jepang atau bahkan mendirikan perusahaan joint venture dengan Jepang (Kim, 2017).

Faktanya Korea Selatan tidak pernah mencapai surplus dalam hubungan perdagangan dengan Jepang semenjak ditandatanganinya Treaty on Basic Relations between the Republic of Korea (ROK) and Japan. Korea Selatan pada tahun 1974 mengalami defisit lebih dari $1 juta dan meningkat pada angka $10 miliar pada tahun 1994 bahkan pada 2004 defisit Korea Selatan mencapai $20 sampai $30 miliar (Kim, 2017). Ketidakseimbangan hubungan perdagangan Korea Selatan dengan Jepang dikarenakan kondisi pada sektor manufaktur di Korea Selatan, terutama pada mesin, material dan komponennya yang tidak dapat bersaing dengan Jepang.

Walaupun modal yang dikeluarkan Jepang untuk Korea Selatan cukup besar pada awalnya, tetapi dalam waktu singkat Jepang dapat memperoleh lebih dari modal yang dikeluarkan dari penerimaan surplus perdagangan Baik Korea Selatan dan Jepang telah melakukan upaya untuk mengatasi hal ini, tetapi belum pernah berhasil.  Bahkan ketidakseimbangan ini justru semakin meningkat (Ko, 1972).

Jepang sendiri berjanji kepada Korea Selatan akan membuat sistem yang membebaskan tarif impor atas bahan baku Jepang yang diproses di Korea Selatan. Upaya yang dilakukan pemerintah Korea Selatan untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan ini yaitu pada tahun 1986 dengan mengumumkan ‘Rencana Lima Tahun Pertama untuk Koreksi Ketidakseimbangan Perdagangan dengan Jepang’, dalam rencana ini dikemukakan untuk mengganti impor untuk produk-produk seperti  mesin, material dan komponen dan disaat yang bersamaan juga mempromosikan ekspor untuk memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan yang terjadi antara Korea Selatan dan Jepang.

Rencana Lima Tahun Kedua untuk Mesin, Material dan Komponen diumumkan pemerintah Korea Selatan pada tahun 1992, pada rencana ini pemerintah Korea Selatan memberikan pendanaan kepada Perusahaan di Korea Selatan untuk kepentingan lokalisasi sekitar 4.000 komponen dan material. Upaya Pemerintah Korea Selatan dalam menangani ketidakseimbangan perdagangan sejak tahun 1980-an ini belum menemui hasil yang memuaskan bahkan dianggap kurang efektif. Defisit sebesar 80% dari perdagangan Korea Selatan dengan Jepang berasal dari material dan komponen di sektor manufaktur. Walaupun begitu Korea Selatan menemui surplus perdagangan pada tahun 2014 dari material dan komponen sebesar $100 miliar. Korea Selatan mengekspor produk akhir ke negara ketiga dari bahan yang mereka impor dari Jepang.

Daftar Pustaka

Cooney, K.  & Scarbrough, A. (2008). Japan and South Korea: Can These Two Nations Work Together?. Asian Affairs, 35(3), 173-192. http://www.jstor.org/stable/30172693

Kim, G., P. (2017). Korea’s Economic Relations with Japan. Korea’s Economy, 31, 23-29. http://keia.org/sites/default/files/publications/kei_koreaseconomy_2016_170606.pdf

Kim, J., Lee, J., & Kang, C. (2015). In Troubled Waters: Truths and Misunderstandings about Korea-Japan Relations, 23-28. Asan Report. https://www.jstor.org/stable/resrep20687.6

Ko, S. (1972). South Korean-Japanese Relations since the 1965 Normalization Pacts. Modern Asian Studies, 6(1), 49-61. http://www.jstor.org/stable/311986

Author: Anisa Salaswati

34 thoughts on “Ketidakseimbangan Hubungan Perdagangan Korea Selatan dan Jepang Pasca Perang

  1. Pandangan negatif masyarakat Korea Selatan terhadap Jepang memang sepertinya akan sulit untuk dihilangkan. Nice article, good job Anisa👍

  2. Pingback:mega888

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *