Kebijakan Energi Jepang Pasca Bencana Nuklir Fukushima di Jepang

Jepang adalah negara industri paling maju di kawasan Asia, namun dalam segi sumber daya alam Jepang memiliki keterbatasan jumlah. Hal tersebut menjadikan Jepang memutar otak untuk dapat memenuhi kebutuhan energinya, dan strategi Jepang adalah dengan menggunakan inovasi yang memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Energi merupakan salah satu faktor yang penting bagi negara untuk menjadi penggerak pembangunan ekonomi sebuah negara. Permintaan terhadap energi pun semakin meningkat pada setiap negara, namun dapat kita ketahui bahwa sumber daya energi merupakan sumber daya yang terbatas dan lambat laun akan habis sehingga dapat meningkatkan ketergantungan negara kepada energi. Hal tersebut menjadi isu penting bagi setiap negara guna menjaga ketahanan energinya masing-masing. Perhatian Jepang terhadap ketahanan energi meningkat dikarenakan krisis minyak yang terjadi di Timur Tengah, dimana Arab Saudi melakukan embargo minyak. Embargo tersebut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan terjadinya peningkatan harga listrik di Jepang. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya ketergantungan energi bagi Jepang.

Sehingga kebutuhan energi merupakan salah satu isu yang penting dalam ekonomi politik internasional, dan energi nuklir dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi sebuah negara. Dalam jurnalnya, Robertua (2017) menjelaskan bahwa Jepang adalah negara yang memiliki reaktor nuklir terbanyak setelah Perancis yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dan dikembangkan dalam berbagai bidang seperti bidang industri, kedokteran, arkeologi, pertanian, dan lain sebagainya. Jepang pun semakin yakin untuk meningkatkan ketergantungannya pada energi nuklir karena secara tidak langsung dengan penggunaan energi nuklir dapat berkontribusi bagi upaya Jepang untuk mengatasi pemanasan global. Dapat dilihat pula dari reaktor nuklir yang dimiliki oleh Jepang yang semakin meningkat jumlahnya, diketahui pada tahun 2010 reaktor yang dimiliki Jepang mencapai 54 buah dan sudah berkontribusi 30% produksi listrik Jepang (Sarjiati, 2014). Dalam Strategic Energy Plan 2010 Jepang pun menetapkan target yakni pembangunan 9 pembangkit listrik tenaga nuklir pada tahun 2020 dan 14 pembangkit listrik tenaga nuklir  pada tahun 2030.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa Jepang memiliki letak geografis yang sangat rawan bencana alam, berada dalam zona gunung berapi Pasifik yang memiliki ratusan gunung berapi aktif. Salah satu bencana alam yang sering terjadi di Jepang sendiri adalah gempa bumi. Salah satu gempa yang sangat berefek pada sumber energi nuklir Jepang yakni gempa bumi yang terjadi di Tohoku pada tahun 2011. Gempa bumi Tohoku memberikan dampak terhadap reaktor nuklir milik PLTN Tokyo Electric Power Co (TEPCO) yang berada di daerah Fukushima, gempa yang terjadi mengakibatkan kebocoran reaktor nuklir tersebut (Robertua, 2017). Kejadian tersebut sering dikenal dengan bencana nuklir Fukushima, tiga reaktor nuklir mengalami krisis.

Sebelum bencana nuklir Fukushima terjadi, energi nuklir memiliki citra yang cukup baik bagi masyarakat di Jepang yakni sebagai energi yang aman, bersih, dan dapat diandalkan. Walaupun menurut Sarjiati (2018) terdapat ahli nuklir dari Universitas Kyoto yang mengungkapkan bahayanya energi nuklir, namun citra baik masih lebih mendominasi. Namun setelah bencana tersebut terjadi semakin memperlihatkan bahayanya energi nuklir. Kebocoran reaktor tersebut menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pada keamanan manusia dan keamanan lingkungan. Setelah terjadinya bencana tersebut, gerakan anti nuklir menyebar semakin luas di Jepang (Robertua, 2017). Kurang transparannya informasi yang diberikan baik dari pemerintah maupun pihak PLTN atas dampak radiasi yang ditimbulkan menyebabkan masyarakat berada pada kondisi yang tidak pasti. Sehingga terjadilah penurunan dukungan terhadap pengembangan program nuklir tersebut. Namun dengan banyaknya kecaman dan reaksi negatif dari masyarakat maupun dunia internasional, Jepang menggunakan alasan keamanan energi. Ketergantungan Jepang dengan sumber energi luar negeri dan stagnasi ekonomi dapat menjadi faktor kembalinya legitimasi energi nuklir bagi Jepang (Hayashi & Hughes, 2013).

Kebijakan energi Jepang setelah terjadinya bencana nuklir Fukushima ini adalah dengan tetap mempertahankan energi nuklir yang dimiliki namun untuk sedikit meredam kecaman yang didapatkan dari masyarakat anti nuklir, Jepang telah berencana untuk melakukan upgrade pada reaktor tersebut agar dapat digunakan kembali dengan jaminan keamanan yang lebih tinggi. Hal tersebut dilakukan karena Jepang tidak dapat sepenuhnya menghentikan reaktor nuklir tersebut, walaupun pada awalnya sempat terbersit untuk melakukan penghentian penggunaan energi namun tak lama dari itu dilakukanlah evaluasi. Sehingga pemerintah Jepang melakukan akan menutup sebagian tenaga nuklir diimbangi dengan pengembangan agar terciptanya lingkungan yang stabil untuk mengoperasikan kembali tenaga nuklir. Hal ini dilakukan guna membangun hubungan kepercayaan yang kuat terhadap masyarakat, lingkungan dan komunitas internasional. Menurut Sarjiati (2014), pemerintah Jepang juga berupaya untuk melakukan ekspor teknologi nuklir ke beberapa negara yang bertujuan untuk memanfaatkan teknologi yang telah dimiliki dan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari sektor infrastruktur. Jepang pun melakukan pengembangan energi terbarukan serta memperkuat kerjasama internasional dalam bidang energi terutama dengan Amerika Serikat. Hal tersebut cukup memiliki pengaruh besar karena kita ketahui bahwa Amerika Serikat sendiri merupakan negara adidaya dan dapat memperbaiki krisi legitimasi energi nuklir di Jepang. Jepang tidak hanya melakukan kerjasama dengan Amerika Serikat namun juga dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk bekerjasama menemukan langkah-langkah keamanan yang akan dikembangkan (Shadrina, 2012).

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa Jepang menggunakan alasan keamanan dan kebutuhan energi negaranya untuk tetap dapat mempertahankan penggunaan energi nuklir dan dapat melakukan upgrade terhadap keamanan reaktor tersebut. Pemerintah Jepang juga mencoba membuat citra baik agar masyarakat anti nuklir dapat merubah pandangan dan asumsinya. Namun pemerintah Jepang tidak menutup kemungkinan akan melakukan pengembangan energi terbarukan seperti energi matahari, angin, dan geothermal. Tantangan pun harus dihadapi oleh pemerintah Jepang yakni kepercayaan dari masyarakatnya sendiri, karena dengan telah terjadinya bencana tersebut kepercayaan masyarakat atas keamanan penggunaan energi nuklir pun akan menurun ditambah lagi dengan adanya sejarah tragedi bom Hiroshima dan Nagasaki yang akan menambah sulit  menanamkan kepercayaan terhadap penggunaan energi tersebut.

Daftar Pustaka:

Hayashi, M. & Hughes, L. (2013). The Fukushima Nuclear Accident and Its Effect on Global Energy Security. Energy Policy, 59, 102-111. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2012.11.046

Robertua, V. (2017). Krisis Legitimasi Energi Nuklir Dalam Ekonomi Politik Internasional: Studi Kasus Fukushima. Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi, 7(1), 47-62.

Sarjiati, U. (2014). Resiko, Bencana dan Modernitas di Jepang: Sebuah Lesson Learned bagi Indonesia (Policy Brief No. 09). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://psdr.lipi.go.id/publications/policy-papers/item/impact-and-market-economy-in-rrc-6-copy-2.html

Sarjiati, U. (2018). Risiko Nuklir dan Respon Publik Terhadap Bencana Nuklir Fukushima di Jepang. Jurnal Kajian Wilayah, 9(1), 46-61. https://doi.org/10.14203/jkw.v9i1.785

Shadrina, E. (2012). Fukushima Fallout: Gauging the Change in Japanese Nuclear Energy Policy. International Journal of Disaster Risk Science, 3(2), 69-83. https://doi.org/10.1007/s13753-012-0008-0

Author: Apria Rahma

Mahasiswa Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik jurusan Hubungan Internasional

41 thoughts on “Kebijakan Energi Jepang Pasca Bencana Nuklir Fukushima di Jepang

  1. pemerintah Jepang harus transparan mengenai hal tersebut, kelebihan dan kekurangan harus dipertmbangkan, karena kesehatan masyarakat adalah yang utama.
    Artikelnya bagus, memberikan informasi yang menarikkkkk

  2. Dari artikel ini kita dapat melihat jepang memiliki kepentingan nasionalnya demi menjaga energinya yakni energi nuklir, namun kurang melihat dari segi keamanan bagi warga negaranya sendiri

  3. Artikel yang sangat informatif membuat Pembaca ingin menggali lebih dalam lagi persoalan Kebijakan Energi Nuklir Jepang pasca peristiwa Fukushima. Good job!

  4. Lumayan menambah pengetahuan, singkat padat jelas dan sangat mudah di pahami, semoga kedepannya bisa ditingkatkan lagi. Good job👏👏

  5. Pingback:Ventilatie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *