Dinamika Hubungan Jepang – Korea Selatan dalam Perdagangan dari Kerjasama Menuju Konflik

Hubungan yang terjalin antara Jepang dan Korea Selatan sudah dimulai sejak lama dimana pada saat itu, Chosun, mendirikan Kingdom of Great Chosun (Korea). Jepang dan Korea Selatan yang memiliki kesamaan nilai dan budaya dengan letak geografis yang berbatasan. Hubungan antar kedua negara tersebut diawali dengan persebaran budaya dimana memanfaatkan semenanjung Korea sebagai jembatan kultural untuk menyebarkan seni budaya. Akan tetapi, sejarah juga mencatat banyak hal-hal kelam pemicu konflik diantara kedua negara tersebut. Dalam era perang, kemenangan Jepang menjadikan kekuatan baru di Asia Timur dan menambah ekspansinya ke beberapa negara termasuk Korea Selatan. Semenanjung Korea pada tahun 1910 telah menjadi wilayah jajahan Jepang (Nugroho & Bahri, 2019). Hal ini menjadi pemicu konflik antar kedua negara di kawasan Asia Timur dengan banyaknya kebijakan dibuat yang merugikan Korea Selatan seperti, larangan penggunaan bahasa Korea, wanita Korea yang dipaksa menjadi wanita penghibur (comfort women), dan juga banyak pekerja yang dieksploitasi oleh Jepang. Perlakuan Jepang ini meninggalkan bekas yang sangat kelam bagi warga Korea Selatan. Sejarah kelam ini membuat pemerintah Korea Selatan menuntut Jepang membayar kompensasi kepada mantan pekerja paksa yang merupakan orang Korea Selatan. Sejarah kelam tersebut tidak menutup kemungkinan normalisasi hubungan kedua negara. Jepang dan Korea Selatan telah menandatangani perjanjian atas normalisasi hubungan bilateral kedua negara tersebut. Akan tetapi, Jepang dan Korea Selatan tidak sepenuhnya berdamai meskipun perjanjian normalisasi hubungan sudah ditandatagani. Hal ini disebabkan dengan munculnya kembali permasalahan sejarah yang kelam dan meningkatnya nasionalis di wilayah tersebut.

Terlepas dari ketegangan yang terjadi, Jepang – Korea Selatan dalam berbisnis menjadi pendorong utama hubungan perdagangan terjalin. Kebutuhan Korea Selatan dalam modal dan investasi Jepang mendorong normalisasi diplomatik di tahun 1965. Dalam perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan kemungkinan penting untuk memperkuat hubungan politik, diplomatic, maupun ekonomi antara Jepang dan Korea Selatan (Nugroho & Bahri, 2019). Jepang melihat FTA sebagai cara untuk meningkatkan perekonomian dalam memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara Asia lainnya. Bagi Korea Selatan, Jepang merupakan sumber penting barang modal dan teknologi untuk industri manufakturnya. Begitu pun Jepang yang menikmati surplus perdagangan yang besar dengan Korea Selatan dan menyediakan pasar ekspor untuk produk Korea Selatan. Korea Selatan dan Jepang merupakan mitra dagang yang penting baik dalam ekspor maupun impor secara global (Sheen, 2003). Akan tetapi, ketegangan mulai memanas kembali pada pertengahan 2019 dengan adanya sengketa perdagangan. Pemerintah Jepang pada 1 Juli 2019, mengumumkan retriksi ekspor beberapa material kimia yang dalam pembuatan semikonduktor ke korea selatan berlaku efektif mulai 4 Juli 2019. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan keamanan nasional. Keamanan nasional sebagai bentuk pengawasan terhadap ekspor serta pemenuhan kewajiban internasional guna menjaga ketat alih teknologi tertentu yang dapat digunakan dalam bidang keamanan ataupun militer (Asih & Suksmonohadi, 2019). Pemberlakuan hambatan non-tarif yang disebabkan oleh pembatasan ekspor. Pemerintah Jepang juga mengharuskan para eksportir untuk mendaftar terlebih dahulu sebelum mengekspor bahan baku semikonduktor ke Korea Selatan. Impor Korea Selatan dan ekspor Jepang dialihkan dengan adanya sengketa perdagangan. Dengan pembatasan ekspor, impor Korea Selatan dialihkan dari Jepang ke negara lain. Hal ini berdampak pada Jepang yang kehilangan pasar ekspor di Korea Selatan. Kebijakan Jepang tersebut menjadi pukulan bagi perusahaan-perusahaan besar di Korea Selatan. Dengan demikian, hubungan Jepang – Korea Selatan memanas kembali sejak kebijakan perdagangan tersebut diumumkan. Merespons tindakan restriksi oleh Jepang, Korea Selatan meretaliasi dengan mengeluarkan Jepang dari preferred trading partner pada September 2019 dan pada Agustus 2019 Korea Selatan juga melakukan pemutusan perjanjian kerjasama militer kedua negara (Asih & Suksmonohadi, 2019). Korea Selatan juga berencana mengadukan hal ini ke world trade organization (WTO) atas yang dilakukan Jepang dalam kebijakan perdagangannya. Selain itu juga warga Korea Selatan telah menarik produk-produk hasil buatan Jepang yang dijual di Korea Selatan. Jika hal ini berlanjut akan berdampak bagi kedua negara dan tidak akan mendapatkan keuntungan apapun. Perang dagang ini diperkirakan akan menambah tekanan ekonomi kedua negara, dan juga akan berpotensi membawa dampak negative bagi dunia global. Jepang memasok sebagian besar bahan untuk semikonduktor ke dunia. Korea memproduksi sebagian besar chip memori dunia. Gerakan boikot yang dilakukan Korea Selatan memunculkan masalah ekonomi lain baik bagi Korea Selatan maupun Jepang. Dikarenakan, Jepang – Korea Selatan memiliki ketergantungan ekonomi yang saling terkait satu sama lain dan menjadi salah satu hal penting dalam dunia internasional. Hal ini juga dapat berdampak pada munculnya masalah baru bagi stabilitas keamanan kawasan (Nugroho & Bahri, 2019).

Kedua negara tersebut disarankan untuk bekerja sama dan merevitalisasi hubungan stategis yang sedang kritis. Namun, hal ini masih abu-abu dengan ketegangan yang dialami Jepang – Korea Selatan sangat mudah memanas kembali karena belum tuntasnya penyelesaian sejarah yang kelam antar kedua negara tersebut. Akan tetapi, Jepang – Korea Selatan telah berupaya untuk membangun kembali kerja sama bilateralnya. Dalam upaya memulihkan Hubungan, kedua negara tersebut meningkatkan pertemuan bilateral dan Korea Selatan menujuk perwakilan negaranya untuk Jepang. Pada Novemeber 2020, pemerintah Korea Selatan melalui presiden Moon Jae-in yang memilih Kang Chang-il sebagai duta besar untuk Jepang mewakili Korea Sealtan. Beliau merupakan mantan anggota dari parlemen Partai Demokrat yang berkuasa selama empat periode (“Pulihkan Hubungan”, 2020). Dalam kemajuan diplomasinya sebagai inisiatif pemerintah kedua negara, Hubungan antara Jepang dan Korea Selatan kemungkinan tidak akan mulus. Hal ini disebabkan kedua negara yang masih menghadapi tantangan besar dari masalah di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Seperti sengketa dagang, sejarah kelam, ancaman nuklir Korea Utara, maupun perjanjian perdagangan bebas (FTA).

Daftar Pustaka

Pulihkan Hubungan, Korsel Tunjuk Dubes Baru Untuk Jepang. (2020, 23 November). Republika.co.id. https://republika.co.id/berita/qk90hm107281017/pulihkan-hubungan-korsel-tunjuk-dubes-baru-untuk-jepang

Asih, K. & Suksmonohadi, M. (2019). Ketegangan Jepang-Korea Selatan dan Dampaknya Pada Perekonomian. Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional, Edisi 3, 113-117. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ekonomi-keuangan-kerjasama-internasional/Documents/8.Bab_5_Artikel.3.19.pdf

Nugroho, F. & Bahri, M. (2019). History and Japanese South Korea Trade Wars. Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture, 2(1), 46-59. https://doi.org/10.33633/jr.v2i1.3353

Sheen, S. (2003). Japan – South Korea Relations Slowly Lifting The Burden of History (Occasional Paper). The Asia-Pacific Center for Security Studies (APCSS). https://apcss.org/Publications/Ocasional%20Papers/OPJapanSouthKoreaRelationsSheen(final-10.26.03).pdf

Author: Citra Natasya

34 thoughts on “Dinamika Hubungan Jepang – Korea Selatan dalam Perdagangan dari Kerjasama Menuju Konflik

  1. Artikelnya sangat menarik dan mudah dipahami pembaca baik HI maupun non HI, sangat membantu menambah wawasan juga, ditunggu yaa artikelnya selanjutnya👍🏻

  2. Sayang sekali kerja sama Jepang dan Korea Selatan tidak berjalan dengan mulus. Thank’s for your information Citra! Pembahasan yang menarik

  3. Pingback:carding shops
  4. Pingback:lenovo servis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *