Dampak Dinamika Demografi di Negara Jepang Terhadap Aspek Pembangunan di Negaranya

Pasca Perang Dunia II Jepang mengalami banyak perubahan. Seiring dengan berjalannya waktu Jepang terus berkembang hingga pada tahun 1980-an Jepang mengalamai kemajuan, ditandai dengan berkembangnya industri Jepang diberbagai bidang. Hal tersebut merubah Jepang dari negara agraris menjadi negara industrialis. Dapat dilihat dengan terjadinya modernisasi di Jepang sehingga pertumbuhan dan kemajuan yang dialami oleh Jepang menyebabkan banyak konsekuensi yang harus di tanggung, termasuk transformasi dan pergeseran yang harus dihadapi oleh Jepang dalam banyak aspek. Fenomena tersebut menggiring Jepang kepada perubahan di berbagai aspek diantaralainnya adalah berkurang ikatan keluarga, bergesernya nilai-nilai masyrakat menjadi individualisme, munculnya hegemoni kapitalisme, kepekaan sosial yang berkurang hingga turunnya angka kelahiran. Fenomena ini sering disebut dengan populasi aging.

Masalah populasi saat ini merupakan fenomena yang dialami oleh hampir semua negara maju. Jepang merupakan salah satu negara Asia yang memiliki tingkat penuan yang tinggi.  Jepang mengalami penurunan populasi yang menimbulkan kekhawatiran pemerintah Jepang terhadap pudarnya dinamika ekonomi dalam kesanggupan untuk membiayai pensiunan dan kesehatan penduduk lanjut usia.  Para pengusaha sama halnya dengan pemerintah memiliki ketakutan akan kehilangan pelanggan dan karyawan. Sebagian alasannya adalah bahwa kaum muda tidak terlalu tertarik untuk memiliki keluarga, yang berdampak pada rendahnya angka kelahiran. Dengan angka kelahiran yang rendah, jumlah penduduk yang memasuki usia tua juga meningkat pesat sehingga menimbulkan ketimpangan penduduk.

Populasi Jepang akan mengalami penurunan jangka panjang dan telah mendekati puncaknya. Dari jurnal Asia Pasific Development memprediksi bahwa di tahun 2050 terjadi peningkatan rata-rata usia penduduk Jepang bahkan di tahun tersebut rata-rata usia penduduk di atas 53 tahun (Horlacher & Mackellar, 2003). Hal ini dikarenakan tingkat kesuburan Jepang saat ini. Populasi muda Jepang hanya menyumbang 15% dari total populasi dan akan terus menurun setiap tahun. Hal ini akan berdampak pada penurunan kelompok usia muda dan penurunan kelompok usia kerja, sehingga menempatkan beban penduduk yang berat di masa depan. Faktor lainnya adalah berubahnya cara berfikir perempuan di Jepang mengenai pernikahan dan memiliki keturunan, sehingga mereka memilih untuk berkarir untuk menggapai cita-citanya dibandingkan untuk menikah. Pada tahun 2000, sekitar 40% pekerja di Jepang mendapat dukungan dari pekerja perempuan. Wanita Jepang dari usia 50-an hingga 60-an telah berkembang menjadi tren. Di antara pekerja perempuan tersebut, 56,9% berstatus menikah dan 33,1% belum menikah.

Kemudian terdapat beberapa permasalahan yang menyebabkan penurunan angka kelahiran di Jepang, yaitu perubahan persepsi anak. Yang di mana pada awalnya membagi konsep anak dalam tiga bagian, yaitu anak sebagai sarana produksi, anak sebagai barang konsumsi, dan anak sebagai sumber kenyamanan. Kondisi demikian merupakan cerminan dari masyarakat tradisional Jepang yang umumnya membutuhkan tenaga kerja yang berasal dari anggota keluarga. Pada masa tradisional anak dapat menjadi sumber ekonomi, namun akibat modernisasi nyebabkan berubahnya konsep tersebut menjadi lebih mementingkan karir dibandikan harus berkeluarga.

Penurunan populasi di Jepang menyumbang konsekuensi di beberapa bidang seperti sosial, ekonomi ketersediaan tenaga kerja, kesehatan. Di bidang sosial seperti yang sudah di paparkan sebelum bahwa terdapat perubahan sudut pandang, kebudayaan, dan karena modernisasi. Banyak faktor yang berkontribusi pada tantangan demografis Jepang. Segmentasi pasar tenaga kerja bersama dengan masalah dengan keseimbangan kehidupan kerja adalah sumber yang besar di dalamnya. Jika di sisi ekonomi terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB), Katagiri, seorang ekonom di International Monetary Fund, menunjukkan bahwa penuaan populasi telah menyebabkan guncangan pada struktur permintaan Jepang yang pada gilirannya menyebabkan beberapa tekanan deflasi, peningkatan tingkat pengangguran, dan penurunan PDB riil dari awal 1990-an hingga 2000-an (Katigiri, 2012). Namun, karena meningkatnya penduduk lanjut usia di Jepang berdampak terhadap tingginya tingkat tabungan Jepang. Dampak akhir dari penuaan populasi masih dalam keseimbangan, yang akan bergantung pada pengurangan investasi domestik relatif terhadap pengurangan tabungan. Namun, di satu sisi, pengurangan tenaga kerja akan mendorong permintaan akan investasi hemat tenaga kerja. Di sisi lain, penurunan harga tenaga kerja dan suku bunga tinggi akan menghambat investasi.

Terjadi penurunan tenaga kerja sejak tahun 2000. Rata-rata setiap lima tahun, tingkat partisipasi angkatan kerja remaja berusia 20 tahun dan pria di atas usia pensiun menurun secara signifikan. Namun, dibandingkan dengan semua kelompok umur, tingkat partisipasi angkatan kerja secara keseluruhan menurun dengan cepat. Hal tersebut berdampak terhadap kekhawatiran para pemilik usaha karena kurangnya tenaga kerja. Di tahun 2016 pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan Womenomics disebabkan rendahnya tenaga kerja perempuan, namun hal tersebut berdampak cukup besar terhadap turunnya anka kelahiran.

Dalam hal kesehatan, perlunya rumah sakit meningkatkan perawat karena tingginya jumlah penduduk usia tua di Jepang. Bahkan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan menyatakan bahwa Jepang perlu menambah satu juta perawat dan paramedis pada tahun 2025 untuk mengatasi masalah ini (Sigurðsson, 2017). Rencana pensiun dan asuransi kesehatan sangat penting bagi penduduk lansia Jepang dan juga merupakan penentu utama surplus atau defisit akuntansi pemerintah. Jika ada defisit di masa depan, tingkat tabungan nasional dapat sangat dikurangi.

Pemerintah Jepang berupaya dalam menangani masalah ini dengan cara di tahun 2009 upaya untuk mengatasi masalah angka kelahiran, seperti pemberian reward untuk setiap kelahiran anak yang disebut “Cash for Kids“, dan setiap anak akan mendapatkan tunjangan bulanan sebesar 26.000 yen atau sekitar US $ 280 (Nakamura, 2009). Lalu Pemerintah Jepang akan memberikan bantuan tunai 600.000 yen atau Rp 84.000.000 kepada warga negara yang ingin menikah dan memulai hidup baru untuk meningkatkan jumlah kelahiran warganya. Program ini akan dimulai pada April 2021 (“Susah Nikah, Jepang Tawarkan Uang Rp84 Juta pada Warganya”, 2020). Salah satu upaya untuk mengatasi penduduk yang menua di Jepang adalah imigrasi. Masuknya tenaga kerja asing muda yang berniat untuk menetap tidak hanya akan membantu meningkatkan populasi dan meningkatkan angka kelahiran, tetapi juga meringankan masalah langsung yang disebabkan oleh kurangnya perawatan lansia. Dengan tidak adanya imigrasi internasional berskala besar ke Jepang, hampir dapat dipastikan bahwa rasio ketergantungan berbagai rencana pensiun dan perawatan kesehatan akan meningkat pesat pada paruh kedua abad ini. Satu-satunya cara untuk mengurangi penduduk usia kerja di masa depan adalah dengan meningkatkan produktivitas mereka. Pemerintah Jepang juga mengedepankan konsep membangun Jepang menjadi “masyarakat bebas usia, ” memperlakukan lansia di atas 65 sebagai lansia karena mereka akan didorong untuk tetap sehat dan dapat terus bekerja. Ini menjadi tantangan terhadap ekonomi Jepang, namun dapat diredam dengan perubahan teknologi yang meningkatkan tenaga kerja dan memperpanjang kehidupan kerja para lansia dengan melindungi kesehatannya (Walia, 2019).

Daftar Pustaka

Horlacher, D., E., & Mackellar, L. (2003). Population Ageing in Japan: Policy Lessons For South-East Asia. Asia-Pacific Development Journal, 10(1). https://www.unescap.org/sites/default/files/apdj10-1-5-horlacher-mackellar.pdf

Katagiri, M. (2012). Economic Consequences of Population Aging in Japan: Effects through Changes in Demand Structure. Institute for Monetary and Economic Studies, Bank Japan, (12). https://www.imes.boj.or.jp/research/papers/english/12-E-03.pdf

Sigurðsson, E., Ö. (2017). Impacts of Population Aging in Modern Japan and Possible Solutions for the Future. Háskóli Íslands. https://skemman.is/bitstream/1946/26688/1/BA%20thesis%20-%20Eggert%20-%20Final.pdf

Walia, S. (2019, 13 November). How Does Japan’s Aging Society Affect Its Economy?. The Diplomat. https://thediplomat.com/2019/11/how-does-japans-aging-society-affect-its-economy/

“Susah Nikah, Jepang Tawarkan Uang Rp84 Juta pada Warganya”. (2020, 21 September). WartaEkonomi.co.id. https://www.wartaekonomi.co.id/read305120/susah-nikah-jepang-tawarkan-uang-rp84-juta-pada-warganya

Nakamura, D. (2009, September 16). Cash for kids in Japan. Pri: The World. https://www.pri.org/stories/2009-09-16/cash-kids-japan

Author: Syifa Fahira

98 thoughts on “Dampak Dinamika Demografi di Negara Jepang Terhadap Aspek Pembangunan di Negaranya

  1. Saya baca dari awal, pertengahan dan akhir ini benar2 sangat memberikan informasi yang bagus mengenai perilaku Jepang. Terima kasih Kak Syifaa!

  2. Pingback:Svenskt körkort

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *