Dominasi Ekonomi China Di Asia Tenggara melalui Belt and Road Initiative (BRI)

Kebangkitan ekonomi China dimulai saat masa kepemimpinan Deng Xiaoping yaitu pada tahun 1982 setelah Revolusi Kebudayaan terjadi. Deng Xiaoping merupakan pemimpin yang membuat China bangkit dari keterpurukan pada masa Revolusi Kebudayaan. Dalam memulihkan China setelah keterpurukan ini, Deng Xiaoping membuat kebijakan-kebijakan baru. Salah satunya adalah Market Socialism. Market Socialism ini menjadi dasar pembangunan China karena pada masa tersebut keadaan China sangat jauh dari sosialisme. Sebelum kepemimpinannya China sangat tertutup terhadap dunia internasional, Deng Xiaoping berpikir bahwa sosialisme tidak membawa orang kepada kemiskinan. Mengin,m,gat bahwa China memiliki potensi ekonomi yang sangat kaya seperti tarif perdagangan yang kompetitif, jenis biaya transaksi yang rasional, iklim investasi yang kondusif.

Deng Xiaoping pun mulai membuka China kepadda dunia internasional dan menerapkan kebijakan Market Socialism. Kebijakan-kebijakan tersebut yaitu dengan memberi para petani tanggung jawab penuh dalam produksi dan keuntungan mereka. Deng Xiaoping juga mengajak para petani untuk terlibat dalam kewirausahaan agar mereka mendapat pendapatanan yang lebih. Deng Xiaoping melakukan kebijakan ini karena melihat China yang pada saat itu mempunyai potensi yang cukup besar dalam bidang pertanian. Dan dengan kebijakan tersebut produksi pertanian China dapat meningkat. Lalu Deng Xiaoping juga membuat kebijakam untuk mewajibkan setiap individu dalam pembuatan keputusan ekonomi dengan memberikan kebebasan kepada perusahaan dari kendali pemerintah pusat dan memberi kewenangan pada pemilik pabrik untuk meningkatkan produksi dan keuntungannya masing-masing. Namun, pemerintah tetap mengawasi dan mengatur jalannya pasar. Selain itu dalam kebijakan luar negeri, Deng juga membuat China lebih membuka diri kepada dunia yaitu dengan melakukan hubungan dagang dengan negaranegara barat yang bertujuan agar investor asing dapat menanamkan modalnya dan masuknya teknologi baru di China. Deng juga membuat kebijakan dalam keluarga berencana yang dinamakan kebijakan satu anak yang bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk di China. Dengan kebijakan-kebijakannya tersebut Deng Xiaoping dapat memajukan China hingga sampai saat ini, beberapa kebijakannya pun masih digunakan walaupun sudah beberapa kali berganti pemimpin. Salah satu bukti kekuatan ekonomi China yang baru adalah dibentuknya Belt and Road Initiative (BRI).

Istilah Belt and Road Initiative dicetuskan oleh China pada akhir tahun 2013. Setelah berakhirnya perang dingin, terdapat banyak upaya untuk menghidupkan kembali jalur sutera di darat yang sebelumnya terputus dari system global lainnya (Chan, 2019). BRI memiliki dua komponen utama yaitu The Silk Road Economic Belt, sebagai jalur darat bertujuan menghubungkan provinsi tertinggal bagian barat Tiongkok dengan Eropa melalui Asia Tengah, dan The 21st Century Maritime Silk Road, sebagai jalur laut bertujuan menghubungkan provinsi pesisir Tiongkok yang kaya dengan kawasan Asia Tenggara hingga Afrika melalui pelabuhan dan jalur kereta api. Dengan menghubungkan Tiongkok dengan berbagai negara di belahan dunia maka Xi Jinping memimpikan sebuah jalan sutera besi bagi Tiongkok berserta kepentingannya. Lowy Institute (2017), di sisi lain, mendefiniskan BRI sebagai kebijakan luar negeri dan ekonomi paling ambisius dari Presiden Xi Jinping untuk meningkatkan kerja sama dan konektivitas regional pada skala lintas benua dimana sekitar 70 negara bergabung dalam kebijakan BRI. Sementara itu, beberapa akademisi dan media (Habova, 2015; Shen & Chan, 2018; Guardian, 2018; Forbes, 2018) juga mendiskusikan BRI sebagai ‘Chinese Marshall Plan’, yang serupa dengan program ekonomi Marshall Plan AS pasca Perang Dunia II. Namun, pemerintah China menolak analogi tersebut karena BRI, berdasarkan ukuran dan ambisinya, berbeda dengan Marshall Plan AS (Korwa, 2019).

Presiden Xi Jinping dalam mewujudkan kebijakan BRI adalah untuk melakukan pembangunan infrastruktur yang nantinya akan menghubungkan daerah perbatasan China yang kurang berkembang dengan negara – negara tetangga. Kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) juga merupakan sebuah program dari pemerintah China untuk menggunakan simpanan devisa China, yang kemudian simpanan devisa ini digunakan untuk memberi pinjaman dana kepada negara-negara berkembang. Pinjaman tersebut kemudian ditranslasikan menjadi proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang melibatkan perusahaan-perusahaan China. Dengan demikian cadangan devisa menjadi lebih produktif, industri China dan skema produksi memiliki pasar baru yang kemudian akan meningkatkan pertumbuhan GDP dalam jangka panjang. Melalui bantuan besar yang diberikan oleh China dalam pembangunan infrastruktur, perdagangan, dan investasi dari BRI negara-negara anggota BRI, terutama Asia Tenggara pun dapat memakmurkan negaranya. Namun, ini merupakan salah satu motif China dalam menemukan pasar baru dan memperlebar pengaruhnya dengan negara kawasan. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangi Amerika Serikat yaitu dengan mendominasi perekonomian di Asia Tenggara sebagai kawasan regional terdekat. Selain itu, ini juga merupakan salah satu kepentingan perekonomian China dimana negara-negara di Asia Tenggara cepat atau lambat akan mengumpulkan hutang karena tidak mampu membayar bantuan yang diberikan oleh China melalui BRI, sehingga ini akan menguntungkan China karena pembangunan tersebut akan jatuh ketangan mereka sebagai konsekuensi dari hutang tersebut yaitu dengan cadangan devisa untuk pembangunan jangka panjangnya (Suprapto, 2019). Dominasi China di kawasan Asia Tenggara membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara bergantung kepada China, sehingga negara-negara tersebut ragu untuk menolak klaim China terhadap Laut China Selatan karena mereka menerima bantuan dari China.

Kebangkitan perekonomian China hingga menjadi kekuatan perekonomian baru dengan membentuk Belt and Road Initiative yang mampu memakmurkan negara-negara anggota BRI tersebut dengan memberi pinjaman dana untuk pembangunan infrastruktur, jalur perdagangan, dan investasi (“Hegemoni China di Asia: keuntungan dan Bahaya di Balik ‘Belt and Road'”, 2018). Namun, kepentingan nasionalnya membuat BRI tidak hanya sebagai kerjasama saja. Dominasi ekonomi China terhadap kawasan Asia Tenggara dapat menyeimbangi AS. Selain itu, ketergantungan Asia Tenggara dengan bantuan yang diberikan China membuat mereka tidak satu suara terhadap klaim China di Laut China Selatan. Asia Tenggara sebagai negara berkembang pun tidak bisa menolak atau menghindari bantuan dari China karena mereka membutuhkan dana tersebut untuk pembangunan negaranya.

Daftar Pustaka

Korwa, J., R. (2019). Kebangkitan China melalui Belt and Road Initiative dan (Re)konstruksi Hubungan Internasional dalam Sistem Westphalia. Jurnal Hubungan Internasional, 8(1). 1-11

Chan, M., H., T. (2018). The Belt and Road Initiative – the New Silk Road: a research agenda. Journal of Contemporary East Asia Studies, 7(2), 104-123.

Suprapto, H. (2019, 26 Desember). Ambisi Cina Dominasi Asia Tenggara. Viva. https://www.google.com/amp/s/www.viva.co.id/amp/berita/dunia/1193547-ambisi-cina-dominasi-asia-tenggara

Hegemoni China di Asia: Keuntungan dan Bahaya di Balik ‘Belt and Road’. (2018, 27 Juli). Mata Mata Politik. https://www.matamatapolitik.com/hegemoni-china-di-asia-keuntungan-dan-bahaya-di-balik-belt-road/

Author:

25 thoughts on “Dominasi Ekonomi China Di Asia Tenggara melalui Belt and Road Initiative (BRI)

  1. Pingback:cvvshop
  2. Pingback:W88

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *