Peran Jepang Dalam Mengatasi Perubahan Iklim Melalui Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca

Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman dalam isu lingkungan yang cukup krusial bagi masyarakat dunia. Perubahan iklim diartikan sebagai perubahan rata-rata sekurang-kurangnya satu elemen cuaca di daerah tertentu (Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional, 2017). Yang dimaksud dengan elemen cuaca dalam perubahan iklim yaitu terdiri dari kelembaban udara, sinar matahari, awan, angin, curah hujan, tekanan udara, serta suhu dan temperatur. Sedangkan secara istilah perubahan iklim dalam skala global merupakan perubahan iklim dengan acuan wilayah bumi secara keseluruhan. Salah satu fenomena perubahan iklim yaitu adalah pemanasan global, yang terjadi karena perubahan temperatur dimana ini akan memberikan dampak yang berpengaruh besar terhadap aktivitas manusia. Perubahan pada suhu di bumi dapat mengubah kondisi lingkungan yang pada tahap selanjutnya akan berdampak pada tempat kita tinggal, bagaimana dan dimana kita dapat menanam bahan makanan, dan organisme apa yang akan mengancam.

Konvensi PBB dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) tentang kerangka kerja perubahan mendefinisikan perubahan iklim dapat disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga melakukan perubahan struktur dari variabilitas iklim alami dan atmosfer global pada rentang waktu yang dapat diperbandingkan. Maksud dari komposisi atmosfer global ialah komposisi yang terdiri dari material atmosfer bumi yaitu gas rumah kaca (GRK). Ada beberapa hal yang menyebabkan efek rumah kaca yaitu meningkatnya emisi gas-gas seperti diniktrooksida (N2O), Karbondioksida (CO2), Chlorofluorocarbons (CFC), metana (CH4), dan lainnya. Dalam hal ini negara-negara industri maju memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Dikarenakan negara-negara industri maju merupakan penghasil terbesar limbah di dunia yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global khususnya dalam efek rumah kaca ini.

Maka dari itu negara-negara industri maju mulai sadar akan pentingnya efek rumah kaca ini, karena jika tidak ditangani akan memicu pemanasan global ekstrim dimana kemungkinan terjadinya pulau kecil akan tenggelam di negara-negara kepulauan, mencairnya es di kutub, gangguan terhadap permukiman penduduk dan produktivitas pertanian, dan masih banyak lagi. Negara-negara besar yang menyadari akan pentingnya lingkungan membuat beberapa kebijakan serta upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ini yaitu seperti contohnya Jepang yang merupakan negara industri maju.

Akhir tahun 1980-an, menjadi titik balik dalam perubahan pendekatan Jepang dalam perlindungan lingkungan global. Salah satu penyebab utama dari perubahan ini adalah tumbuhnya kesadaran internasional mengenai kepunahan spesies dan atmosfer bumi yang sedang rusak (Schreurs, 2004). Pada Desember 1997 negara-negara membuat kebijakan tentang pengurangan emisi gas rumah kaca ini dengan mengadakan pertemuan dan membuat kebijakan yaitu Protokol Kyoto. Dalam pertemuan ini negara-negara industri seperti Jepang, Rusia, negara-negara Uni Eropa setuju untuk mengurangi emisi Greenhouse Gas(GHG). Dalam protokol tersebut jenis emisi yang menjadi target pengurangan kadarnya meliputi CO2, N2O, PFCs, SF6, CH4,HFCs. Kemudian pada Protokol Kyoto ini terdapat juga undang-undang pencegahan pemanasan global yang menguraikan langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di Jepang dan diberlakukan pada tahun 1998. Selain itu, pada industri baja dunia terdapat 12 negara yang memproduksi 90% produksi baja di dunia, sedangkan Tiongkok, Negara-negara Eropa dan Jepang memproduksi 50% dari total produksi dunia. Di tahun 2005, Jepang dan Tiongkok telah menggagas kerjasama industri, Dimana dalam hal ini pihak industri Jepang menyediakan teknologi untuk mengurangi atau mereduksi emisi yang akan dimanfaatkan oleh 180 pabrik di Tiongkok. Hal ini dilakukan Jepang untuk memangkas hingga membuang 6% emisi gas sampai tahun 2012 (Muryani, 2018).

Jepang secara aktif juga menangani isu perubahan iklim dengan 15 memimpin negosiasi internasional, dan target jangka menengahnya yang ambisius untuk bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dan juga melakukan “Inisiatif Hatoyama” untuk mendukung negara-negara berkembang. Upaya lain yang dilakukan Jepang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah pada KTT PBB mengenai Perubahan Iklim, yang diadakan pada 22 September 2009 di New York, Jepang mengumumkan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 25% pada tahun 2020. Untuk mencapai sasaran pada target ini, pemerintah Jepang melakukan upaya pengurangan emisi di dalam negeri dan juga melalukan kegiatan pengurangan emisi di luar negeri melalui proyek pemerintah dan pihak swasta Jepang (Hindarto et al., 2018). Inisiatif hatoyama juga memberikan ODA bagi negara-negara berkembang guna mengurangi emisi gas rumah kaca serta bagi mereka yang terkena dampak negatif perubahan iklim ini, Di bawah Inisiatif ini Jepang akan memberikan bantuan keuangan sekitar ¥ 1,75 triliun (sekitar $ 15 miliar), termasuk keuangan publik dan swasta, di mana keuangan publik terdiri sekitar ¥ 1,3 triliun (sekitar $ 11 miliar).

Jepang dan Indonesia memulai melakukan upaya pendekatan untuk implementasi penurunan GRK pada tahun 2010. Pada tahun 2013 Jepang dan Indonesia setuju untuk bekerja sama dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Kedua negara menandatangani skema kerja sama bilateral Joint Crediting Mechanism (JCM) pada tanggal 7 Agustus di Tokyo dan pada tanggal 26 Agustus di Jakarta. Di tahun yang sama Japan’s Federation of Electric Power Companies, perusahaan energi yang ada telah menargetkan untuk mengurangi emisi karbon per 1 kw listrik dijual ke sekitar 0,37 kg pada 2030, turun 35% dari 0,57 kg pada 2013 (Issetiabudi, 2015). Pada tahun 2020 Jepang juga meluncurkan proyek carbon storage dimana hal ini juga menjadi upaya Jepang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Pipa gas dengan panjang sekitar 4km akan dipasang di antara lapangan gas dan lokasi penyimpanan karbon dioksida, di mana operator proyek akan menggali lubang hingga kedalaman sekitar 3,6 km untuk mencapai akuifer bawah tanah (Asmarini, 2020).

Upaya yang dilakukan oleh Jepang dalam mereduksi emisi gas rumah kaca secara bertahap memang masih belum optimal, namun sampai saat inipun Jepang masih terus melakukan inovasi dan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca walaupun di tengah kritik internasional bahwa Jepang tidak cukup mampu berbuat untuk melawan pemanasan global. Tapi setidaknya Jepang sudah membuktikan di tahun 2018 Jepang tercatat sebagai negara dengan emisi gas rumah kaca terendah, Emisi gas rumah kaca Jepang memang telah mengalami penurunan sejak lima tahun yang lalu. Penurunan emisi pada Maret tahun 2018 tercatat hanya sebesar 11,8 persen dari angka yang didapat pada 2013 (Yolanda, 2019).

Daftar Pustaka

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. (2017). Antasena: Bahana Berita Sains dan Teknologi Atmosfer. Pusat Sains Dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional, 2(2). http://psta.lapan.go.id/files_uploads/buletin/Vol.2_No.2_Jul-Des2017.pdf

Muryani. (2018). Produksi Bersih dan Model Kerjasama Sebagai Upaya Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca Pada Sektor Industri. Jurnal Sosiologi Dialektika, 18(1), 57. http://dx.doi.org/10.20473/dk.v13i1.2018.48-65

Schreurs, M. A. (2004). Assessing Japan’s Role as a Global Environmental Leader. Policy and Society, 23(1), 93. https://doiorg/10.1016.S1449- 4035(04)70028-4

Hindarto, E. D., Permana, V., & Atika, R. (2018). Empat Tahun Implementasi Skema Joint Crediting Mechanism di Indonesia. JCM Publishing. http://jcm.ekon.go.id/en/uploads/files/Document%20JCM/Media/Booklet_Empat_Tahun_Implementasi_Skema_JCM_di_Indonesia_Februari_2018.pdf

Asmarini, W. (2020, 21 September). Wow, Jepang Luncurkan Proyek Carbon Storage Perdana di RI. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200921195140-4-188362/wow-jepang-luncurkan-proyek-carbon-storage-perdana-di-ri

Yolanda, F. (2019, 30 November). Emisi Gas Rumah Kaca Jepang Raih Rekor Terendah pada 2018. Republika. https://nasional.republika.co.id/berita/q1rqks428/internasional/asia/19/11/30/q1rldm370-emisi-gas-rumah-kaca-jepang-raih-rekor-terendah-pada-2018

Issetiabudi, D. E. (2015, 03 Juli). Jepang Targetkan Tekan Sepertiga Gas Rumah Kaca Pada 2030. Ekonomi Bisnis. https://ekonomi.bisnis.com/read/20150703/44/449991/jepang-targetkan-tekan-sepertiga-gas-rumah-kaca-pada-2030

92 thoughts on “Peran Jepang Dalam Mengatasi Perubahan Iklim Melalui Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca

  1. artikelnyaa menarik. upaya Jepang dalam menangani gas rumah kaca juga terbilang bagus dan sudah terbukti juga hasilnya bagi negara Jepang sendiri

  2. Artikel yg bagus untuk menyadarkan kita pentingnya menjaga bumi..Karena dampaknya Bukan hanya untuk kita saat ini, tapi untuk generasi dimasa depan ..Bravo Desti 👍

  3. artiket yg sangat bagus sekali membuat kita lebih sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup demi generasi kita selanjutnya…nice and good job

  4. bagus artikelnya, bisa menambah pengetahuan ttg efek rumah kaca, tp kalo boleh ditambah sedikit ttg kerjasama jepang dan indonesia ttg rumah rumah kaca, yg dipaparkan baru dari sisi jepang, indonesianya blm msk, kalo ditambah itu, makin ok artikelnya. Di indonesia sendiri dampaknya apa dari kerjasama itu.

    1. Informatif dan menarik, menambah wawasan dan pesan kalau kita harus lebih aware dengan lingkungan untuk kesehatan bumi dan isinya.
      Nice artikel!

  5. Wah artikelnya sangat menarik dan mudah dipahami, ternyata Jepang juga berpengaruh ya bagi pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia jadi menambah wawasan pembaca. Terima kasih banyak desti ditunggu artikel selanjutnya😊

  6. Pemanasan global menjadi salah satu masalah besar di dunia, tidak semua negara menyadari pentingnya menyelesaikan masalah itu secara serius, dengan inisiasi dari Jepang menjadi bukti bahwa kepedulian itu perlu dibangun dari diri sendiri, khususnya dari negara sendiri, untuk itu dengan adanya artikel ini seharusnya semakin banyak orang yang sadar dan peduli dengan berpartisipasi menyeleaikan masalah ini, tx desti…

    1. iyaa bener banget, isu lingkungan sudah seharusnya menjadi perhatian penting bagi negara-negara khususnya negara industri maju yang memang banyak menyumbang dampak bagi lingkungan dalam hal ini Jepang sudah berusaha untuk memperbaiki isu lingkungan dengan cara mereduksi emisi gas rumah kaca bersama dengan negara-negara lainnya

  7. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author🙏

  8. Wah ternyata peran jepang dalam mengatasi perubahan iklim sudah banyak ya, artikelnya menarik dikemas dengan bahasa yang bagus dan mudah di mengerti. Good job desti!

  9. Artikel yang sangat menarik, menambah ilmu pengetahuan. Semoga lebih banyak lg anak bangsa yg berinisiatif untuk menulis dan membuat artikel seperti ini 👍

  10. Artikel yang menarik 👍 sangat bagus ni untuk menjadi ilmu pengetahuan bagi anak² bangsa ,lanjutakan ,dan teruskan menulis artikel seperti ini 👍👍, ditunggu artikel selanjutnya ya 👍👍👍

  11. Artikelnya sangat menarik. Isunya sangat bagus untuk diangkat kembali setelah pembahasan tentang perubahan iklim semakin tidak diperdulikan lagi oleh pemerintah maupun media dan masyarakat…

  12. Teori yang digunakan sebagai kerangka berpikir penulis sudah cukup baik. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika teori yang digunakan tidak hanya sebatas definisi saja, melainkan hal-hal penting lainnya seperti indikator keberhasilan pengurangan GRK, mengapa GRK perlu di atasi, dan lainnya. Hal ini akan berpengaruh pada analisis yang dapat di perdalam lagi oleh penulis. Lebih lanjut, secara substantif, histori dari upaya yang dilakukan oleh Jepang dalam mengatasi pemanasan global melalui pengurangan efek GRK terlalu mendominasi bahasan. Program yang perdalam pun adalah program-program yang cukup lama. Lebih baik apabila penulis bisa mempertajam bahasan mengenai program-program terbaru yg dilakukan dan dapat di aplikasikan oleh negara lainnya.

  13. Terimakasih ka dachlan atas masukannya sangat bermanfaat dan akan jadi evaluasi lagi buat saya kedepannya tapi memang bahasan saya lebih fokus ke peran jepang mengenai isu lingkungan global dan disini saya berfokus kepada peran jepang dalam mereduksi gas rumah kaca, untuk menjawab mengenai program-program terbaru yang di inisiasi oleh Jepang adalah proyek carbon storage yang diluncurksn pada tahun 2020 dimana dalam proyek ini pipa gas akan menyimpan karbon dioksida guna mengurangi emisi gas rumah kaca itu sendiri. terimakasih😊

  14. Mantap artikelnya sangat menambah wawasan apalagi buat saya anak manajemen yang kurang paham tentang isu dunia internasional, semoga ke depannya masalah iklim di dunia dapat teratasi agar mengurangi pemanasan global

  15. Mantap desti artikelnya mudah dipahami buat para pembacanya gak terlalu berat tapi juga bermanfaat menambah wawasan, ditunggu artikel selanjutnya des👍

  16. Artikel berisi informasi yang lengkap dengan tata bahasa yang mudah dipahami untuk menambah wawasan, ditunggu artikel selanjutnya 👍

  17. Ulasan dan referensinya cukup lengkap.Pembaca bisa menangkap informasi ttg kebijakan dan langkah/actionnya yg dilakukan Jepang. Namun alangkah baiknya kl dikaitkan dgn apa yg bisa dilakukan oleh Indonesia…dgn menggunakan metode ” benchmarking “. Issue aktual dlm enviromental policies negara berkembang adl ” carbon trade “. Demikian utk jadi bhn pertimbangan …sehingga tulisannya menjadi lebih komprehensif dan terkait dgn issue di dalam negeri.

  18. artikelnya menarik, yang berfokus pada langkah jepang mengurangi pemanasan global.
    ditunggu artikel selanjutnya tentang langkah negara berkembang terhadap pemanasan global

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *