Pembangunan Turbin Angin Lepas Pantai di Taiwan Mendapat Pengaruh Dari Jepang

Kehidupan yang dijalani oleh manusia berkesinambungan dengan sumber energi dari alam, layaknya bahan bakar fosil. Namun, bahan bakar fosil adalah bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui dalam artian suatu saat akan habis. Akan hal ini maka dibuatlah transisi energi dimana kemunculan ini menjadi suatu pembangkitan adanya energi baru. Transisi energi digunakan Taiwan untuk menggerakkan perekonomian namun tetap mengedepankan kelestarian lingkungan dengan memabngun turbin angin lepas pantai. Fenomena tersebut merupakan konsep ekonomi hijau. Konsep ekonomi hijau muncul setelah krisis keuangan global sebagai peluang bagi sebuah negara untuk menghidukan perekonomian dengan investasi dalam teknologi energi terbarukan.

Dalam melakukan transisi energi, Taiwan melakukan kerja sama dengan Taipower. Taipower adalah perusahaan dibawah naungan negara dengan tugas pembangkit listrik, transmisi, dan distribusi listrik di Taiwan. Taipower memiliki sistem yang dapat menjaga energi Taiwan stabil dan terjangkau bagi bisnis lokal. Dalam pelaksanaannya Taipower mengandalkan fasilitas listrik besar dan terpusat, khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir dan bahan bakar fosil. Sedangkan Taiwan memiliki misi pada tahun 2025 sudah menjadi negara bebas nuklir, dan berencana membuat 20 persen dari total pembangkit listrik Taiwan terbarukan (Ker-hsuan, 2019). Berdasarkan hal tersebut Taiwan melakukan transisi energi dengan membuat transisi energi tenaga angin.

Transisi energi tenaga angin dilakukan untuk membentuk peluang bisnis baru bagi perusahaan lokal Taiwan dalam industri energi terbarukan. Peluang yang dilakukan berupa penawaran untuk menstimulasi investasi, serta dapat melaksanakan kerja sama antara perusahaan internasional dan lokal, serta meningkatkan peluang dalam energi tenaga angis lepas pantai domestik. Dengan peluang tersebut perusaan lokal dapat bersaing dengan perusahaan internasional seperti Siemens Gamesa, Vestas, Goldwind, dan GE yang sudah lebih dari dua puluh tahun terjun di bidang tenaga angin lepas pantai (Ker-hsuan, 2019). Pemerintah Taiwan menetapkan FiT guna meningkatkan investasi pembangunan pembangkit tenaga angin lepas pantai. FiT bertujuan untuk memberikan pasar khusus kepada teknologi energi terbarukan. Dengan ditetapkan FiT yang tinggi semua pengembang dari negara lain tertarik untuk bergabung dalam lelang lading angin lepas besar pertama di Taiwan pada 2018, pelelangan tenaga angin lepas pantai ini melibatkan Taipower dan perusahaan dari China yaitu China Steel Cooperation (Ker-hsuan, 2019).

Selain FiT Taiwan juga menerapkan LCR. Local content requirements adalah kebijakan yang mengharuskan perusahaan internasional menggunakkan presentase yang sudah ditetapkan dari bahan serta komponen yang telah di produksi dalam negeri (suatu negara) (Dewanti, 2012). Dengan itu  LCR dapat meningkatkan kegiatan industri suatu negara yang menetapkannya. LCR yang ditetapkan Taiwan dapat menjamin bahwa pemasok lokal dapat diuntungkan dalam kerja sama pembangunan tenaga angin lepas pantai.

Transisi energi di Taiwan dilakukan berdasarkan konsep ekonomi hijau dan pengaruh dari Jepang. Jepang memberikan pengaruh baik kepada Taiwan karena telah memberikan pengetahuan baru kepada Taiwan untuk menjadi negara yang mampu memproduksi barang yang dapat memasok kebutuhan industri Jepang. Nilai kebudayaan dari Jepang yang diadopsi oleh Taiwan diaplikasikan dengan strategi Taiwan dengan melibatkan pemasok lokal sebagaimana jepang mengubah negaranya pada masa restorasi meiji. Restorasi meiji melibatkan pemasok lokal agar mereka mendapat keuntungan dari setiap pembangunan atau kerja sama yang dilakukan perusahaan internasional dengan negaranya. Dengan selalu melibatkan pemasok lokal, mereka akan mendapatkan bekal untuk memproduksi tenaga angin lepas pantai sendiri dan dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan internasional yang sudah terlebih dahulu memproduksi turbin angin lepas pantai dalam pasar global. Persaingan tersebut dapat mengantarkan Taiwan menjadi negara yang berkembang dalam sektor perokonomian yang akan berdampak dalam kemajuan negara Taiwan.

Pembangunan negara di Taiwan melalui transisi energi dengan pembangunan turbin angin lepas pantai menjadikan negara sebagai aktor utama atau aktor yang paling dominan. Hal tersebut selaras dengan konsep kapitalis development state yang beranggapan bahwa negara memiliki peran dan urgensi dalam pasar yang akan membuat penumpukan modal dalam suatu negara sebagai lembaga yang memiliki kedaulatan serta kekuasaan (Ismayatun, 2016). Negara dapat menyelaraskan ketiga aspek yaitu pertumbuhan perekonomian, kelestarian lingkungan dan pembangunan negara di Taiwan. Dengan itu, pembangunan turbin angin lepas pantai sesuai dengan konsep developmental state.

DAFTAR PUSTAKA

Dewanti, E. H. (2012). Persyaratan Kandungan Lokal (Local Content Requierments) Di Indonesia & Kaitannya Dengan Perjanjian Internasional Di Bidang Investasi. Yuridika, 27(3), 203-216. http://dx.doi.org/10.20473/ydk.v27i3.300

Ismayatun. (2016). Pengembangan Kluster Industri Militer India Dari Sudut Pandang Developmental State Theory. Jurnal Hubungan Internasional, 5(2). 147-160. https://doi.org/10.18196/hi.5293

Ker-hsuan, C. (2019). Pacing for Renewable Energy Development: The Development State in Taiwan’s Offshore Wind Power. Annals of The American Association of Geographers, 110(3). 1-15. https://doi.org/10.1080/24694452.2019.1630246

38 thoughts on “Pembangunan Turbin Angin Lepas Pantai di Taiwan Mendapat Pengaruh Dari Jepang

  1. Pingback:dark0de
  2. Pingback:track with pin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *