Jepang dan Strategi Abenomics

Perang Dunia II membawa dampak yang mengerikan bagi berbagai pihak, salah satunya adalah Jepang. Dengan hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki akibat bom atom, Jepang mengalami kelumpuhan di berbagai bidang. Bahan pangan terbatas, angka pengangguran meningkat, dan Jepang kehilangan pasar luar negerinya. Baru pada tahun 1950-an perekonomian Jepang kembali stabil karena Perang Korea dan juga berkat sponsor dari Amerika. Akhirnya pasar luar negeri yang hilang berhasil mereka kuasai kembali. Bahkan pada dekade 1960-an, Jepang disebut telah mendapatkan keajaiban karena rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahunnya menjadi yang tertinggi yang pernah dialami oleh sebuah negara di waktu itu. Akademisi menilai hal ini terjadi karena kebijakan perdagangan internasional Jepang dan juga budaya para pekerja Jepang yang sangat baik.

Bubble Economy

Pada 1985 Jepang diminta Amerika untuk menaikkan nilai tukar yen terhadap dolar melalui Perjanjian Plaza yang ditandatangani oleh Amerika Serikat, Jepang, Jerman Barat, Inggris, dan Perancis. Salah satu kesepakatan dari perjanjian ini adalah Jepang melakukan reformasi pada sektor keuangannya dengan merevaluasi nilai yen terhadap dolar Amerika. Dengan adanya perjanjian ini maka nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang menurun (Helleiner, 1994). Setelahnya banyak investor asing masuk karena mengharapkan keuntungan dari kenaikan nilai yen. Selain itu masyarakat Jepang juga berlomba lomba membeli aset seperti real estate untuk investasi. Dalam artikel yang ditulis oleh Tsutsui dan Mazzotta (2015), pakar real estate menilai harga 240 mil persegi lahan di Tokyo melebihi harga dari gabungan semua lahan di Amerika pada waktu itu.

Namun Perjanjian Plaza juga membuat perekonomian Jepang mengalami depresi akibat inflasi yen. Bank sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ) memilih kebijakan moneter untuk mengatasi masalah tersebut. Namun sayangnya kebijakan tersebut justru membawa masalah baru. Ledakan spekulatif pada sektor real estate dan ekuitas tak dapat dihindari dan inilah yang disebut sebagai bubble economy.

The Lost Decade

Setelah semua kemakmuran yang dirasakan oleh masyarakat Jepang, pada dekade 1990-an keadaan menjadi berbanding terbalik. Investor dan pemilik tanah Jepang kehilangan asetnya. Pengamat menggambarkan tahun 1990-an sebagai periode “hilangnya kekayaan Jepang”. Krisis yang berawal dari pasar keuangan dan real estate memberi efek domino ke seluruh perekonomian. Tingkat pertumbuhan ekonomi turun. Perusahaan mencoba memotong pengeluaran dengan merumahkan karyawannya, sehingga angka pengangguran Jepang meningkat drastis. 

Abenomics

Shinzo Abe adalah Perdana Menteri Jepang yang diangkat pada 26 Desember 2012. Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, namun pada awal masa jabatan Abe perekonomian Jepang sangat mengkhawatirkan. Pertumbuhan PDB Jepang bersifat negatif, yakni -4,3%, kegiatan ekspor Jepang menurun ditambah juga fakta bahwa masyarakat Jepang bukanlah orang-orang konsumtif, hal ini memperburuk keadaan karena tidak ada perputaran uang. Jepang akhirnya berada di ambang resesi besar. Abe bertekad menghidupkan kembali perekonomian Jepang agar terlepas dari deflasi. Akhirnya Abe mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang disebut Abenomics. Abenomics bertujuan untuk meningkatkan PDB Jepang dan tingkat inflasi hingga menjadi 2% (Rehesa, 2015). Abenomics terdiri dari kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan juga reformasi struktur (Hausman dan Wieland, 2014). Dan menurut legenda di Jepang, ketiga komponen tersebut dikenal dengan tiga panah (Eichengreen, 2013).

Anak panah pertama, yaitu kebijakan moneter yang lebih ekspansif. Langkah pertama yang diambil Abe adalah dengan mengganti presiden Bank of Japan, dari Masaaki Shirakawa ke Haruhiko Kuroda yang merupakan Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) dan juga seorang kritikus konservatisme ekonomi BOJ. BOJ terus mencetak uang agar bisa digunakan masyarakat. Mungkin ini terdengar aneh karena terlalu banyak uang yang beredar bisa mengakibatkan inflasi, namun memang itu lah yang menjadi tujuan Abe. Abe menginginkan kenaikan inflasi hingga menjadi 2%. Dan berdasarkan laporan Bank Dunia (2020a), tingkat inflasi Jepang sempat mencapai 2% pada tahun 2014 namun kembali merosot di tahun berikutnya dan baru meningkat kembali pada tahun 2019 tetapi hanya mencapai 0,5%.

Abe juga menerapkan kebijakan suku bunga 0% bahkan negatif. Hal ini dilakukan agar nasabah tidak menyimpan uangnya di bank karena menabung tidak memberi keuntungan. Selain itu agar masyarakat meminjam uang dari bank, jadi perputaran uang bisa tetap berjalan.

Yang menjadi panah kedua adalah kebijakan fiskal. Abe memutuskan untuk meningkatkan pengeluaran fiskal Jepang menjadi 2% dari total PDB. Stimulus fiskal juga dikeluarkan sebesar 10 triliun dalam bentuk supplementary budget dan program lainnya untuk mendukung program dana pensiun masyarakat (Nezu, 2013). Abe membangun berbagai infrastruktur dan dari pembangunan tersebut akan terserap tenaga kerja yang diharapkan akan membelanjakan upah yang mereka dapat. Dan kebijakan Abe untuk mengatasi tingginya angka pengangguran bisa dinilai berhasil. karena berdasarkan laporan Bank Dunia (2020b), angka pengangguran terbukti semakin berkurang setiap tahunnya. pada awal pemerintahan Abe tahun 2012, angka pengangguran mencapai hingga 4,3% dari jumlah angkatan kerja, namun pada tahun 2019 jumlahnya berkurang menjadi 2,3%.

Panah terakhir adalah reformasi struktural. Abe meningkatkan angka partisipasi wanita dalam dunia kerja demi mendukung kegiatan industri karena Jepang menghadapi krisis pekerja akibat aging population. Abe juga mendorong masyarakat Jepang untuk memiliki anak dengan cara berinvestasi pada lembaga penitipan anak, lembaga pendidikan, dan juga pemberian insentif pajak. Abe ingin membuat Jepang menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak sehingga Jepang dapat terhindar dari peristiwa krisis pekerja di masa depan. Abe juga turut serta dalam negosiasi Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang akan membuka perdagangan dan juga investasi.


Daftar Pustaka

Eichengreen, B. (2013). Japan Rising?. Milken Institute Review.

Hausman, J. K. dan Wieland, J. F. (2014). Abenomics: Preliminary Analysis and Outlook. Brookings Papers on Economic Activity. https://10.1353/eca.2014.0001

Helleiner, E. (1994). States and the Reemergence of Global Finance: From Bretton Woods to the 1990s. Cornell University Press.

Nezu, R. (2013, 10 Januari). Abenomics and Japan’s Growth Prospects. Friedrich-Ebert-Stiftung. https://japan.fes.de/news-list/e/abenomics-and-japans-growth-prospects

Rehesa. (2015). Kepentingan Jepang Bekerja Sama dengan Tiongkok dalam Abenomics Tahun 2013. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 2(1), 1-13. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/5000

Tsutsui, W. M. dan Mazzotta, S. (2015) The Bubble Economy and the Lost Decade: Learning from the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective, 9(6), 57-74. https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1164&context=jgi

World Bank. (2020a). Inflation, GDP Deflator (Annual %) – Japan. https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.DEFL.KD.ZG?end=2019&locations=JP&start=2012

World Bank. (2020b). Unemployment, Total – Japan. https://data.worldbank.org/indicator/SL.UEM.TOTL.ZS?end=2020&locations=JP&start=2012

Author: Hanni Shabrina

34 thoughts on “Jepang dan Strategi Abenomics

  1. Artikelnya sangat menarik dan mudah dipahami, terima kasih Hanni untuk artikel yg informatif ini ditunggu artikel selanjutnya 👍🏻

  2. Ga ngerti lagi Jepang bisa se-tepat dan se-efektif itu dalam menangani masalah di negaranya. ini bisa jadi contoh untuk Indonesia, barangkali. Terima kasih, artikelnya informatif banget. Masyarakat butuh artikel berbobot seperti ini lebih banyak.

  3. Pingback:Visit Your URL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *