Apa narasi besar dari ekonomi hijau di Taiwan?

Akibat krisis ekonomi global tahun 2008, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan perhatiannya kepada konsep ekonomi hijau. Melalui The United Nations Environmental Programme (UNEP 2008) PBB menyatakan bahwa inisiatif dari ekonomi hijau ini adalah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, menjamin pemerataan keadilan sosial, serta menghindari keberlangsungan penggunaan sumber dayaalam secara terus menerus, dan mengontrol risiko lingkungan (UNEP, 2011).

Sehubungan dengan kesulitan ekonomi akibat krisis ekonomi global, PBB berharap melalui inisiatif ekonomi hijau tidak hanya mengatasi kesulitan ekonomi, namun juga sedikit banyak mampu mengatasi isu – isu yang berkaitan dengan perubahan iklim, terbatasnya sumber mata air, serta kekurangan makanan yang menjadi tantangan dari isu-isu lingkungan, yang kemudian PBB membuat peraturan “Global Green New Deal (GGND)” (UNEP,2009).

 Perkembangan dari ekonomi hijau sejalan dengan regulasi atau peraturan mengenai lingkungan yang memiliki potensi besar untuk memastikan negara-negara di dunia mampu menerapkan model perkembangan dari ekonomi hijau ini. Global Green New Deal (GGND) mendefinisikan ekonomi hijau sebagai fasilitas dari kemajuan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, dengan secara bersamaan pula menurunkan pemberlakuan kegiatan ekonomi yang mengancam keamanan lingkungan.

Berdasarkan laporan dari UNEP mengenai ekonomi hijau pada tahun 2012, “The Regeneration Project” yang melakukan wawancara kepada masyarakat sejumlah 16.000 orang yang berasal dari 17 negara yang berbeda, serta melakukan kuesioner di 117 negara. Hasil dari wawancra tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 70% para informan mereka percaya bahwa ekonomi hijau akan mampu melindungi lingkungan dan menjamin generasi selanjutnya menjadi generasi yang lebih baik sebesar 68%, kemudian kurang lebih sebesar 61% responden percaya bahwa ekonomi hijau dapat meningkatkan kualitas hidup dan mampu menghadapi tantangan perubahan iklim (UNEP, 2012).

Jika dibandingkan dengan perkembangan pasar besar di Eropa, Amerika dan beberapa negara maju lainnya, pasar doestik di Taiwan relatif kecil dan terbatas. Hanya jika pemerintah mampu menguatkan kebijakan atau kesadaran terhadap lingkungan yang akhir-akhir ini semakin marak digencarkan di berbagai pasar maju, maka permintaan untuk kebutuhan barang dan jasa akan meningkat di pasar. Dengan kata lain, regulasi tentang lingkungan dan kesadaraan akan lingkungan adalah dua faktor yang saling berkesinambungan.

Taiwan adalah salah satu negara jajahan Jepang yang mendapatkan kesempatan cukup besar untuk mempelajari kemajuan suatu negara dari negara sakura. Selama masa pejanjahannya, Jepang sedikit banyak membangun negara Taiwan dengan menerapkan peraturan yang sama dengan negaranya. Salah satu bukti nyata hasil jajahan Jepang adalah perusahaan tenaga listrik yang ada di Taiwan, Taipower. (Ker-shuan, 2019)

Ekonomi Taiwan sangat bergantung pada ekspor barang manufaktur, terutama produk komponen untuk perangkat elektronik, menyediakan energi terbarukan yang cukup akan memastikan bahwa barang ekspor Taiwan tetap kompetitif dipasar Eropa dan lainnya (Ker-shuan, 2019). Melalui pemerintah Tsai, Taiwan membuat peraturan mengenai perubahan sistem energi yang diperkirakan akan mampu membantu perekonomian Taiwan. Dengan adanya tujuan kemajuan suatu negara maka akan berusaha untuk mengikuti peraturan atau strategi yang juga dilakukan oleh negara maju.

Taiwan saat ini sedang dalam tahap awal untuk mempromosikan pengembangan dan kebutuhan energi yang berkelanjutan reformasi dalam pembuatan kebijakan dan legislatif, untuk mematahkan ketergantungan dan konstruksi jalurnya mekanisme transisi energi yang inovatif. Mengingat tuntutan dari lingkungan dan ekonomi, transisi energi pada masa pemerintahan Tsai di Taiwan membuat komitmen bahwa sumber daya yang tinggi untuk mempromosikan energi hijau sebagai salah satu industri pilar di Taiwan transformasi ekonomi. Di “Five Plus Two” kebijakan industri inovatif utama diumumkan di 2016, energi hijau dipromosikan sebagai salah satu dari tujuh sektor – sektor utama yang diharapkan dapat menggeser Taiwan basis industri jauh dari manufaktur kontrak, menggerakkannya menuju model bisnis bernilai tambah tinggi (Ker-shuan, 2019). Melalui Taipower pemerintah Taiwan berusaha untuk memaksimalkan perubahan energi di negaranya.  Dengan melakukan transisi energi dan menjalankan ekonomi hijau, Taiwan dapat mempertahankan keberadaannya di dunia internasional.

Transisi energi yang dilakukan Taiwan baru-baru ini adalah pemberdayaan tenaga angin lepas pantai sebagai salah satu alternatif untuk sumber daya listrik. Dalam keadaan tersebut, teknologi hijau sering dijadikan investasi oleh negara sebagai dorong, yang bertujuan untuk menanggapi masalah penurunan ekonomi, pada saat yang sama mengatasi masalah lingkungan dengan menggabungkan kembali “lingkungan” dan wajah dari kegiatan industri ke dalam mekanisme pasar (McCarthy et al., 2004).

Keinginan kuat untuk intervensi negara tidak hanya didorong oleh tujuan ekonomi namun juga untuk mendorong industri baru yang menguntungkan. Sebaliknya, ini adalah narasi besar dari transisi energi yang terkait dengan penghentian pembangkit nuklir dan tujuan ekonomi untuk mendorong industri baru yang membuat langkah – langkah pembangunan. Dalam pengertian ini, sebagai contoh proyek pengembangan angin lepas pantai yang dilakukan oleh Taiwan tidak hanya merupakan kebijakan industri tetapi juga misi kemasyarakatan yang disepakati oleh para pelaku dengan kepentingan yang berbeda. Dengan kata lain, dengan memperlakukan pengembangan tenaga angin lepas pantai sebagai misi sosial dari ekonomi hijau, negara dengan demikian dapat bersatu kembali dorongan pembangunannya untuk pertumbuhan dengan meningkatnya permintaan lingkungan untuk transisi energi, mempertahankan peran dominannya dalam ekonomi hijau yang sedang berkembang.

           

Daftar Pustaka

Ker-shuan, C. (2019). Pacing for Renewable Energy Development: The Developmental State in Taiwan’s Offshore Wind Power. Annals of the American Assosiation of Geographers, 110(3), 1-15. https://doi: 10.1080/24694452.2019.163024

McCarthy, J., & Prudham, S. (2004). Neoliberal nature and the nature of neoliberalism. Geoforum 3 (3):275–83. https://doi: 10.1016/j.geoforum.2003.07.003.

United Nation Environment Programme. (2009). Global Green New Deal. https://sustainabledevelopment.un.org/index.php?page=view&type=400&nr=670&menu=1515

United Nation Environment Programme. (2011). Towards a Green Economy: Pathways to Sustainable Development and Poverty Eradication. https://sustainabledevelopment.un.org/index.php?page=view&type=400&nr=126&menu=35 

United Nation Environment Programme. (2012). New Global Poll : Green Economy Will Boot Jobs and Economic Growth. https://globescan.com/wpcontent/uploads/2012/06/TheRegenerationProject_UNEP_GreenEconomyPoll_Release_1June2012.pdf

23 thoughts on “Apa narasi besar dari ekonomi hijau di Taiwan?

  1. Pingback:lenovo servis
  2. Pingback:Svenskt körkort
  3. Pingback:home for sale
  4. Pingback:다시보기

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *